Home

Rabu, 06 Mei 2026

Syekh Abdurrauf - Syiah Kuala

 


 




Oleh: T.A. Sakti

TAHUN  1976 saya melakukan alih aksara Kitab‘Umdatul Muhtajin ila Suluki Maslakal Mufridin. Kini, hanya tinggal lima lembar lagi hasil alih akasara itu. Sejak saat itu ketahuilah saya bahwa Syekh Abdurrauf atau Syiah Kuala adalah ulama Aceh yang amat alim dan sangat tinggi ilmu beliau.

Abdurrauf As Singkili bin Ali  Al Fansuri,  diperkirakan lahir pada tahun 1024 H/ 1615 M di Singkil. Ayahnya bernama Syekh Ali Al Fansuri  merupakan keturunan Arab yang menikahi wanita Fansur yang tinggal di Singkil, dari pernikahan tersebut melahirkan  Abdurrauf.

  Abdurrauf kecil  mendapat pendidikan dasarnya di desa kelahirannya  terutama dari ayahnya.. Setelah menamatkan pendidikan dasar, Abdurrauf  melanjutkan pendidikannya di Fansur. Fansur merupakan pusat pendidikan penting dan tempat yang mempertemukan  kaum  muslim Melayu dengan  kaum muslim Asia Barat dan Asia Selatan.

Abdurrauf juga belajar kepada Syekh  Syamsuddin  As – Samatra-i di Banda Aceh..

Belajar ke  Arabia

Abdurrauf berangkat ke negeri Arab pada  tahun 1052/1642 untuk melanjutkan pendidikannya. Selama di negeri  Arab  beliau belajar kepada 19  guru yang mengajarkannya tentang berbagai cabang disiplin ilmu dalam Islam dan 27 ulamanya lainnya yang ikut membimbingnya.

 Syekh Abdurrauf  belajar di sejumlah tempat yang tersebar di sepanjang jalan rute haji, dari Duha di wilayah teluk Persia, Yaman, Jeddah dan akhirnya Makkah dan Madinah.

. Pertemuannya dengan ulama-ulama hebat telah memberikan  inspirasi dan terbentuknya wawasan  sosio intelektualnya yang lebih luas. Sebagian besar ulama yang menjadi gurunya  di Makkah  termasuk dalam jaringan ulama yang hebat.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Makkah, ia melanjutkan perjalannya ke Madinah untuk menuntut ilmu di sana. Di kota ini,  dia berguru kepada Ahmad Al Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurani.

Syekh Abdurrauf juga menceritakan tentang pendidikannya sendiri pada bagian penutup kitab ‘Umdatul Muhtajin ila Suluki Maslakal Mufridin, yang saya alih aksarakan dari huruf Jawi-Jawoe ke aksara Latin tahun 1976 itu.  Beliau menjelaskan bahwa selama di negeri Arab ia menuntut ilmu pada lima belas orang ulama. Yaitu:

1.         Abdul Kadir Maurir di Mokha

2.         Imam Ali Thabari di Makkah

3.         Abdul Kadir Barkhali di Jeddah

4.         Abdul Wahid Khusyairi di ‘Ujail

5.         Ibrahim Abdullah Ja’man. Syekh Abdurrauf sangat lama belajar pada ulama ini, serta mendapat surat kesanggupan untuk menuntut ilmu pada  Ahmad Qusyasyi di Baitul Faqih ibnu ‘Ujail.

6.         Ahmad Janah di Baitul Faqih ibnu ‘Ujail

7.         Kadhi Ishak Muhammad Ja’man, ahli hadist di Zabid

8.         Muhammad Sati Bati di Zabid

9.         Abdurrahim di Zabid

10.       Siddiq Mazjaji di Zabid

11.       Abdullah Adani, qari dari Yaman, di Zabid

12.       Kadhi Muhammad di Luhaiyah

13.       Kadhi Umar Mahyiddin di Mawza

14.       Ahmad Qusyasyi di Madinah

15.       Burhanuddin Maula Ibrahim al Kurani di Madinah

 

 

Kembali Ke  Aceh

Selama sultan Iskandar Tsani memerintah, beliau menunjukan Nurudin Ar Raniry sebagai Mufti kerajaan Aceh.

 

Pengangkatan Nurudin Ar Raniri  sebagai Mufti Kerajaan Aceh menyebabkan terjadinya pergolakan antara pengikut aliran Wujudiyyah dengan pengikut Nurudin Ar Raniri sehingga terjadinya pemburuan pengikut Hamzah Fansuri dan pengikut Syamsuddin As Samatra-i  dan pembakaran kitab-kitab yang dikarang oleh dua ulama tersebut karena dianggap sebagai aliran sesat di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

 

Perlu saya tambahkan, menurut buku Daftar Katalog Kitab-Kitab di Dayah Tanoh Abee, Seulimuem, Aceh Besar, bahwa sebagian kitab  karya Syekh Hamzah Fansury dan Syekh Syamsuddin As-Sumatra-i (Syekh Syamsuddin Pasai) masih tersimpan di Pustaka Dayah Tanoh Abee itu.

Akibat tak punya jaringan ke sana, saya tak berkesempatan melacaknya!.

 

Pergolakan antara dua golongan tersebut terus berlanjut sampai pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675).

 

Di awal masa pemerintahan Sultanah telah terjadi pertukaran Mufti (Qadhi Malikul Adil) dari Syekh Ar Raniry  kepada Syekh Saiful Rijal, seorang ulama Wujudiah yang baru pulang ke Aceh.

 Melihat kondisi masyarakat yang makin hari semakin bingung dengan perdebatan tersebut, akhirnya Sultanah Safiyatuddin Syah memilih Saiful Rijal sebagai Mufti Kerajaan Aceh dan menyebabkan Ar Raniry  pulang ke negeri asalnya Gujarat,  India

 

 Pada saat itulah Syekh Abdurrauf  pulang ke Aceh setelah mengembara mencari ilmu ketanah Arab  selama 19 tahun. Beliau pulang ke Aceh sekitar tahun 1661 setelah mendapatkan Ijazah dari gurunya  Syaikh Ibrahim Al Kurani.

 

Setelah  selesai penyelidikan,  Sultanah  mengangkat  Syekh Abdurrauf  untuk menduduki jabatan Kadhi Malikul Adil atau Mufti yang bertanggung jawab atas  masalah-masalah keagamaan.

 

Jabatan tersebut dipangkunya berturut-turut pada masa pemerintahan para Ratu di Aceh (Ratu Safiatuddin, Ratu Naqiyatuddin, Ratu Zakiatuddin, dan Ratu Kamalat Syah). Pada hakikatnya pada saat pemerintahan tiga ratu yang terakhir di Aceh Syekh Abdurrauf merupakan orang yang memegang kendali pemerintahan.

 

Selama menjabat Kadhi Malikul Adil atau Mufti Kerajaan Aceh Darussalam, Syekh Abdurrauf telah menulis 22 judul kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

 

Tarikat Syattariah

Tarekat Syattariah pertama kali muncul di India pada abad ke-15 M. Nama Tarekat Syatariah dinisbahkan kepada seorang tokoh pendirinya yaitu Abdullah asy- Syattar.

Tarekat Syattariah disebarluaskan di kota Madinah dan Makkah oleh dua orang syekh yang sangat terkenal dikota Haramayn, yaitu  Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim Al Kurani. Sedangkan Tarekat Syattariah disebarkan ke Nusantara  oleh Syekh Abdurrauf.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Syekh Abdurrauf  merupakan seorang tokoh penengah antara pertentangan dua golongan, yaitu golongan Wujudiah pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatra-i  serta golongan Syuhudiah Nuruddin Ar Raniry.

Mengingat begitu ‘hausnya beliau terhadap ilmu pengetahuan” serta agungnya jasa, wibawa atau kharisma Syekh Abdurrauf atau Syiah Kuala semasa hidupnya, alangkah pantasnya beliau diberi gelar “Bapak Pendidikan Aceh” serta diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

 

 

Delegasi Syarif Makkah Datang Ke Aceh

Pada tahun 1096 H/1683M, Sultanah menerima suatu delegasi dari Syarif Makkah.. Kedatangan delegasi dari Mekkah disambut dengan gembira oleh sultanah Zakiyattudin Syah. Penduduk Kerajaan Aceh banyak memberikan hadiah-hadiah dan sedekah antara lain sebuah patung yang terbuat dari emas yang diambil dari reruntuhan istana dan Mesjid Baitur Rahman disebabkan oleh musibah kebakaran yang terjadi pada masa pemerintahan Sultanah Naqiyyatudin.

Tetapi ketika delegasi tersebut sampai ke kota Makkah terjadi pertikaian antara sesama putra-putra almarhum Syarif Barakat dalam pembagian hadiah-hadiah dari Kerajaan Aceh. Pertikaian dalam memperebutkan hadiah antara keluarga Syarif Barakat ditulis dengan rinci oleh Ahmad Dahlan ahli Sejarah dan ulama terkemuka di kota Makkah.

Kunjungan yang dilakukan oleh delegasi Makkah merupakan sebuah kehormatan bagi Sultanah. Kunjungan tersebut menjadi sebuah kesempatan bagi masyarakat Aceh untuk menanyakan tentang bagaimana hukumnya dalam Islam, apakah seorang wanita diperbolehkan menjadi sultan atau raja.

Delegasi Makkah juga tidak  memberikan jawaban langsung ketika mendapatkan pertanyaan tersebut dari masyarakat Aceh, tetapi mereka membawa permasalahan  tersebut ke sidang para ulama Haramayn. Jawaban dari sidang para ulama Haramayn baru sampai ke istana Aceh pada masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah (1098-1109 H/ 1688-1699). Ketika surat itu datang, Syekh Abdurrauf telah meninggal beberapa tahun sebelumnya (1693).

. Berdasarkan hasil fatwa tersebut maka diputuskan Sultanah Kamalat Syah diturunkan dari tahta dan digantikan oleh Umar bin Ibrahim dengan gelar Sultan  Badrul Alam Syarif Hasyim. Beliau yang kemudian mendirikan dinasti Arab Jamalullail di Aceh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau

Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau Silat perisai menjadi Warisan Budaya Tak Benda {WBTB) asal Riau yang telah lolos di s...