Home

Sabtu, 06 Juni 2026

Seni Pertunjukan Palebat

Seni Pertunjukan Palebat

Tari pelebat ini merupakan tari pedang yang mengambarkan semangat ketangkasan, kecekatan rayat Aceh Tenggara dalam mengahapi musuh dan mendidik mental kepahlawanan dalam mempertahankan Bangsa dan Negara. Kata “Pelebat” berasal dari kata “Khubat” yakni suatu perkelahian yang menunjukkan keperkasaan dan kelihaian seseorang menggunakan senjata berupa benda tajam seperti pisau Mekhemu atau pedang. Karena pedang hanya digunakan untuk melawan musuh, terutama saat peperangan, dalam kesenian Pelebat tidak dibenarkan menggunakan pedang sungguhan. Penggantinya berupa sebilah bambu yang sudah diraut.

Kesenian ini biasanya dipertunjukkan saat acara perkawinan, yaitu saat penjemputan mempelai laki-laki dari rumah mempelai perempuan. Kegiatan ini disebut dengan Nipengembunan. Kedua belah pihak akan mempersiapkan pemain andalannya dalam memperagakan Pelebat tersebut. Pelebat juga sering dihelat pada saat menjamu tamu-tamu kehormatan yang datang dari luar. Akan tetapi pelebat dewasa ini sudah sangat jarang dihelat, “entah apa sebabnya walaupun setiap tahunnya ada saja yang melaksanakan pernikahan tetapi jarang sekali masyarakat melaksanakannya.

Cara memainkan Pelebat, dijelaskan Mario mengutip beberapa sumber, dalam langkah ningcini, mata pemain mencari kelengahan lawan dengan gerak cepat melomcat dengan langkah menerkam, memukul lawan seirama dengan pemukulan canang yang ditabuh dengan posisi duduk dan berdiri. pemain menyepak, memukul dan menangkis. Peserta terbanyak melakukan pukulan dianggap menang begitu juga sebaliknya. Karena seru, penonton bersorak-sorai menyaksikan permainan ini

  

Tarian Asyik…

 



Kabupaten Kerinci yang berada di propinsi Jambi, terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Selain daerah yang sejuk, kabupaten Kerinci juga memiliki seni budaya yang unik dan menarik, salah satunya adalah seni tari.

 

Seni tari yang berkembang di daerah ini sebagian besar merupakan peninggalan tradisi pada zaman nenek moyang, yang tentunya masih berkembang sampai saat ini. Seni tari tersebut diantaranya: tari Rangguk, Sikapur Sirih, Asyek, Iyo-Iyo, Rentak Kudo dan masih banyak lagi. Di samping itu, terdapat juga tari kreasi baru yang berkembang di daerah ini. Hal ini dapat dilihat banyaknya seniman baru yang berkembang saat ini. Mereka berupaya mengembangkan dan melestarikan tari tradisi yang ada, dengan cara mengolah kembali ke dalam bentuk tari kreasi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, diantara tarian tersebut ada satu tarian yang sangat unik yaitu tari Asyek.

 

Masyarakat daerah Kerinci menyebutnya dengan tari Asyek, Asik atau Asaik. KataAsyek berasal dari kata asik. Jenis tari Asyek ini adalah salah satu tari tradisi yang dulunya digunakan sebagai tari dalam upacara yang berkaitan dengan pemujaan roh-roh nenek moyang dan memiliki unsur magis. Tari Asyek memiliki bermacam-macam jenisnya sesuai dengan tujuan upacara yang dilakukan. Jenis tari Asyek yang masih berkembang saat ini adalah tari Niti Naik Mahligai, Mahligai Kaco, Tolak Bala, Gagah Harimau, Mandi Taman, Mintak Lamat, Mandi malimau dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Tari Niti Naik Mahligai yang merupakan jenis tari Asyek berkembang di daerah kecamatan Gunung Kerinci tepatnya di desa Siulak Mukai Tengah. Tari Niti Naik Mahligai termasuk jenis tari tradisional yang mengutarakan “kehendak” dan bersifat magis. Menurut Eva Bram (2006) saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Naik Mahligai, menjelaskan bahwa tari Niti Naik Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan mahligaiadalah tahta atau istana. 

 

Tari Niti Naik mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adatbilan salih. Menurut Muchtar Hadis (2006) salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakanbilan salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki. Upacara penobatan bilan salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : (1) sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; (2) sarana komunikasi kepada masyarakat; (3) sarana penyembuhan; (4) sarana pengungkapan rasa syukur; dan (5) sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.

 

Namun, seiring dengan kemajuan zaman upacara ini ditinggalkan oleh masyarakat Kerinci. Hal ini disebabkan karena faktor ideologi, teknologi, letak geografis, sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat Kerinci yang berubah. Karena faktor-faktor tersebut maka, tari ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk penyajiannya. Seperti yang kita ketahui juga bahwa pada hakekatnya karya seni itu harus berkembang sejalan dengan arus perubahan zaman. Perubahan bentuk dan penyajian tari Niti Naik Mahligai di lakukan oleh masyarakat pendukung tari ini, mereka menata tari ini sedikit demi sedikit. Selanjutnya pada tahun 1999 bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci bidang kesenian menata kembali tari ini menjadi tari Niti Naik Mahligai yang berkembang saat ini.

 

Secara keseluruhan tari Niti Naik Mahligai, masih memiliki bentuk penyajian yang sederhana, seperti gerak, musik, pola lantai, property, tata rias dan tata busana. Kesederhanaan bentuk penyajian tari ini merupakan ciri khas yang dimiliki tari tradisional kerakyatan pada umumnya. Selain itu, tari ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung. 

 

Atraksi tersebut diantaranya:

1. Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca.

2. Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang pisang yang diatasnya diletakkan telur.

3. Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah di tata.

4. Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.

5. Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor.

6. Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas.

 

Menurut Eva Bram (2006) menjelaskan bahwa, keseluruhan atraksi tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri. Selain itu, sebelum melaksanakan pertunjukan para penari diwajibkan untuk melakukan ritual yaitu berupa persembahan terhadap nenek moyang. Agar mereka mendapat perlindungan dan diharapkan pertunjukan dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada saat pementasan mereka jarang yang mengalami cidera.

 

Di samping, atraksi yang unik, para penari tari Niti Naik Mahligai menggunakan kostum tari yang unik juga yaitu pakaian adat daerah Kabupaten Kerinci yang berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning pada dada. Sedangkan untuk hiasan kepalanya menggunakan kuluk atau sungkun yang berwarna hitam dan dihiasi dengan manik-manik dan bunga sebagai penghias. Para penari menggunakan kain sebagai bawahan yang biasa di sebut dengan tahhap, kain yang digunakan adalah kain songketyang berwarna merah. Tentunya kostum yang digukan semuanya memiliki makna simbolis.

 

Pada saat ini tari Niti Naik Mahligai telah mulai dikenali banyak masyarakat, bukan hanya saja masyarakat di daerah Kerinci saja namun masyarakat di luar kabupaten Kerinci pun sudah mulai mengenal tari ini. Hal ini ditunjukkan dengan penampilan pertunjukan tari Niti Naik Mahligai ke beberapa daerah seperti di Taman Mini Indonesia Indah dan di daerah lainnya. Sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan promosi produk wisata baik negeri maupun luar negeri tari Niti Naik Mahligai mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci. 

 

Seperi diadakan iven Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci yang menjadi agenda rutin daerah Kerinci. Sebagai peneliti dan penulis, penulis berharap banyak kepada masyarakat dan pemerintah untuk dapat mempertahankan, mengembangkan dan melestarikan seni tradisi yang kita miliki, sebagai warisan dari nenek moyang dan untuk anak cucu kita

 

 

 

Upacara Kenduri Sko

 


Upacara Kenduri Sko

 

Kenduri sko merupakan sebuah rangkaian acara adat pengukuhan gelar suku atau kepala adat. Upacara ini selalu diiringi dengan upacara kenduri pusaka yaitu upacara membersihkan benda pusaka peninggalan nenek moyang.

Suku Kerinci tidak hanya sebuah kelompok masyarakat yang mendiami wilayah kerinci tapi juga masyarakat tradisional yang hidup erat dengan adat istiadat dan budaya warisan leluhur.

Mereka masih mempertahankan kebudayaan warisan nenek moyang sampai saat ini. Walaupun mayoritas masyarakatnya telah memeluk agama Islam, masyarakat suku kerinci masih melakukan ritual-ritual adat seperti halnya nenek moyang mereka.

 

Upacara kenduri sko sendiri adalah sebuah rangkaian acara adat dalam menentukan kepala adat. Kata kenduri berarti selamatan dan sko bermakna perbuatan atau peraturan yang berlaku turun temurun.

Kata sko berasala dari kata saka yang bermakna keluarga atau nenek moyang dari pihak ibu. Dalam konteks adat sko bermakna pusaka yang berasal dari pihak ibu. Sko terdiri dari Sko tanah boleh di-ico (diolah,digarap,dimanfaat) dan Sko gelar boleh dipakai–sko gelar itu dihibahkan oleh ibu kepada mamak (saudara laki-laki dari pihak ibu) sebagai penerima mandat.

Masyarakat adat Kerinci mengenal sistem sko tiga takah. Sko tiga takah adalah bentuk struktur pelapisan sosial yang terdapat pada masyarakat Suku Kerinci. Sistem sko tiga takah itu diantaranya adalah Depati atau setingkat Depati, Permenti atau Ninik Mamak dan Tengganai atau anak jantan.

 

Depati dan Ninik Mamak adalah tingakatan tertinggi pada struktur lapisan sosial masyarakat Suku Kerinci. Kenduri Sko merupakan acara adat yang dilakukan untuk mengukuhkan gelar Sko pada Depati atau Ninik Mamak yang telah dipih oleh anak jantan yang memenuhi syarat.

Gelar Sko Mamak Kelebu merupakan gelar pusaka turun temurun yang disandang oleh kepala suku atau pemimpin adat. Pelaksanaan Kenduri Sko selalu diiringi dengan Kenduri Pusaka.

Pelaksanaan Upacara Kenduri Sko

Dalam rangkaian upacara ini semua benda pusaka peninggalan nenek moyang dikeluarkan dari tempat penyimpanannya untuk disucikan atau dibersihkan oleh para kepala adat yang telah dikukuhkan disaat Kenduri Sko dan disaksikan oleh seluruh masyarakat suku kerinci.

Proses pelaksanaan upacara Kenduri Sko ini terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan taha penutupan. Dalan tahap persiapan ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum acara dilaksanakan seperti perlengkapan-perlengkapan berupa tenda atau taruk berukuran besar yang didirikan diatas Tanah Mendapo (tempat berlangsungnya Upacara adat Kenduri Sko).

Umbul-umbul atau bendera warna-warni yang dipasang di sekitar tempat upacara, bendera merah putih berbentuk segitiga siku-siku berukuran besar (Karamtang) yang dipasang ditempat terbuka pada ketinggian mencapai 30 meter yang puncaknya digantunngkan Tanduk kerbau.

 

Bendera ini berfungsi sebagai undangan bagi masyarakat untuk datang mengahdiri upacara dan isyarat keberadaan Kenduri, pakaian adat, keris, dan tongkat yang dipakai oleh para Pemangku adat, pakaian adat para Dayang (Lita dan Kulok), pedang Hulubalang untuk keperluan Pencak Silat, sesajian (beras kuning, kemenyan, dan adonan sirih nan sekapur – rokok nan sebatang) dan gong, gendang dan rebana untuk keperluan kesenian daerah yang akan ditampilkan dalam rangkaian prosesi upacara.

Pelaksanaan Upacara biasanya dilakukan pada pukul 08.00. Pada waktu ini biasanya masyarakat kerinci sudah berkumpul di tanah Mendapo untuk menyaksikan beberapa rangkaian acara yaitu pertunjukan seni Pencak Silat yang merupakan seni bela diri dengan menggunakan dua mata pedang.

Tari Persembahan yang merupakan tari untuk menyerahkan sekapur sirih kepada para petinggi-petinggi daerah yang hadir dan juga menyerahkan sekapur sirih kepada calon Depati, Ngabi, Permanti dan Mangku yang akan dinobatkan menjadi pemangku adat yang baru.

Tarian asyeak yang merupakan tarian upacara yang berunsur magis karena ada bagian dimana penari mengalami kesurupan. Tari Massal yang merupakan tarian yang memebntuk konfigurasi keadaan geografis kerinci.

Tari Rangguk yang dilakukan untuk menerima kedatangan Depati (tokoh adat Kerinci), tamu dan para pembesar dari luar daerah. Kemudian beranjak ke acara penurunan pusaka (kenduri pusaka), prosesi ini dilakukan oleh para sesepuh adat.

 

Dalam prosesi ini pusaka-pusaka dari rumah Gedang dibawa ke Tanah Mendapo lalu dibersihkan di hadapan masyarakat yang menonton sambil menceritakan sejarah pusaka tersebut. Acara intinya adalah penobatan para pemangku adat.

Pada prosesi ini semua calon Depati , Ngabi dan Ninik Mamak dipanggil naik ke atas pentas secara bergantian lima orang sambil dipanggil namanya seraya menjatuhkan Gelar Sko pada para bangsawan tersebut.

Dalam prosesi ini juga dikenal juga acara pidato adat yang disebut deto talitai yang merupakan rangkaian pidato adat yang disampaikan dalam bahasa berirama. Deto Talitai berbentuk prosa berirama dan didalamnya terdapat pepatah petitih.

Pidato ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang menjabat Pemangku, Ninik Mamak, Depati atau setingkat depati. Setelah Deto Talitai diikuti dengan maklumat Sumpah Karangsetio yang merupakan peringatan keras pada pemimpin adat terpilih.

Dalam upacara ini para Depati dan Ninik Mamak terpilih memakai pakaian adat khusus yang memilki makna tertentu. Para Depati biasanya memakai seluk, kain sarung lurus dan pakaian berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning di dada sementara Ninik Mamak memakai Lita, kain sarung miring dan pakaian berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning di dada.

Warna-warna dalam pakaian tersebut mengandung makna khusus seperti misalnya warna hitam yang melambangkan rakyat banyak berarti kekuatan Depati dan Ninik Mamak dan warna kuning yang melambangkan kekuasaan berarti berundang berlembago, arinya Depati dan Ninik Mamak melaksanakan kekuasaan berdasarkan undang-undang dan lembago.

sumber : http://www.wacana.co/2012/08/upacara-kenduri-sko-suku-kerinci/

Cerita Lancang Kunin

 

Cerita Lancang Kunin

gambar Sinopsis Cerita Rakyat Riau Lancang Kuning

SINOPSIS LANCANG KUNING

Lancang kuning berasal dari kata “lancang” (perahu kebesaran kerajaan) dan "kuning” (warna kebesaran kerajaan). Lancang Kuning adalah nama perahu besar kerajaan yang digunakan sebagai kendaraan air oleh raja-raja Melayu Riau. Adapun legenda atau cerita rakyat Lancang Kuning ini diangkat dari nama itu, karena legenda ini menceritakan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan kerajaan.

Suatu hari, Datuk Laksamana pemimpin Bukit Batu Bengkalis di Riau, memanggil dua panglimanya, yaitu Panglima Umar dan Panglima Hasan menghadap ke istana untuk diberi tugas ke Tanjung Jati menumpas perompak atau lanun yang selalu mengganggu kawasan tersebut di Senggoro kawasan mana tempat mata pencarian nelayan Bukit Batu. Dengan ketaatannya, Panglima Umar langsung berangkat melaksanakan tugas ini, meskipun harus meninggalkan istrinya yang cantik bernama Zubaidah. Sementara itu Panglima Hasan tidak ikut berangkat melaksanakan tugas itu, karena ternyata berita adanya perompakan di Tanjung Jati itu hanyalah rekayasa siasat Panglima Hasan sendiri agar Panglima Umar jauh dari isterinya Zubaidah dan Datuk Laksamana.

Selama kepergian Panglima Umar, diam-diam Panglima Hasan berusaha merayu Zubaidah agar mengkhianati suaminya dan menjanjikan kehidupan lebih baik, namun Zubaidah bertahan dengan kesetiaan dan marwahnya. Situasi ini membuat hati Panglima Hasan semakin marah dan brutal. Panglima Hasan mencari akal menghabisi Zubaidah. Bertepatan ketika peluncuran Lancang Kuning Kerajaan ke air, tiba-tiba Lancang Kuning berhenti tidak bergerak sama sekali, maka Panglima Hasan memutuskan mengambil Zubaidah sebagai tumbal untuk galangan lancang. Dengan bergalangan tubuh Zubaidah, maka lancang tersebut berhasil diluncurkan ke laut dan Zubaidah pun mengakhiri hidupnya di bawah lancang.

Tak lama setelah kematian Zubaidah, Panglima Umar yang baru pulang dari Tanjung Jati mendapat fitnah yang dibuat oleh Panglima Hasan sendiri, bahwa Datuk Lasemana lah yang membunuh Zubaidah dengan menjadikan tubuh Zubaidah sebagai tumbal galangan lancang. Hasutan Panglima Hasan ini termakan oleh Panglima Umar dan membuat Panglima Umar menjadi kalap dan amat marah. Tanpa pikir panjang Panglima Umar menyerang Datuk Laksemana. Datuk Laksemana memberi sumpah kepada Panglima Umar, bahwa apabila Panglima Umar melewati Tanjung Jati, akan tenggelam bersama kapalnya.

Setelah itu barulah Panglima Umar sadar akan fitnah itu, pertikaian dengan Panglima Hasan pun terjadi, dan berakhir dengan kematian Panglima Hasan yang tragis di ujung keris Panglima Umar.

Panglima Umar pun pergi menjalankan kutukan dari Datuk Laksemana, berlayar ke perairan Tanjung Jati dan tenggelam. Sejak saat itu pulau Bengkalis dikenal daerah yang berkembang dibawah kepemimpinan Datuk Laksamana.

 

Dabus Seni Dari Kesultanan Indragiri

 

Dabus Seni Dari Kesultanan Indragiri - Warisan Budaya Tak Benda Riau



Dabus menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau asal Indragiri Hulu yang disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2016


Dabus - (Debus) Seni Tari Bersenjata Tajam Dari Kesultanan Indragiri
Dabus atau debus merupakan sebuah pertunjukan seni tarian yang biasanya menggunakan senjata tajam, dipadukan dengan nyanyi-nyanyian dalam bahasa Arab. Debus dalam bahasa Indonesia juga dikenal sebagai Dabus di Malaysia. Tarian Dabus di Riau bisa kita temukan di daerah Indragiri (Inhu dan Inhil) serta daerah Provinsi Kepulauan Riau. Debus Kesultanan Indragiri dibawa oleh Syeh Ali Al Idrus (bangsa Arab asal Hadratul Maut). Pada masa kerajaan Indragiri tersebut, Debus menjadi sarana media penyampaian dakwah Islam oleh masyarakat Arab pada daerah Indragiri. Pada awalnya, lirik-lirik lagu yang dinyanyikan pada pertunjukan Debus, murni merupakan puja-puji kebesaran Allah dengan menggunakan bahasa Arab dan tanpa menggunakan kekuatan magis. Namun seiring dengan perkembangan waktu, tradisi Dabus ini sendiri disesuaikan dengan tradisi tempatan, baik secara bahasa maupun kreativitas yang lain.

Untuk melestarikan tradisi tersebut, saat ini Dabus telah menjadi pertunjukan yang bisa kita saksikan pada acara-acara khalayak seperti pernikahan, khitan dan acara-acara kedaerahan lainnya di Indragiri.

Pertunjukan Dabus memiliki nilai kepahlawanan. Permainan ini menuntut pelakunya untuk memiliki ketangkasan, kecerdasan, keperwiraan dan keceriaan dalam bermain. Beberapa jenis senjata tajam yang biasa digunakan pada pertunjukan ini seperti anak debus, keris, pisau, belati, kapak, batu giling dan tali.

Dabus Indragiri berkembang di Desa Rantau Mepesai di Kecamatan Rengat, dan banyak dijumpai diberbagai daerah di Indonesia misalnya di Banten yang disebut Debus, di Aceh disebut Daboh, di Ambon disebut Dabus atau di Bugis disebut Dabus. Seni ini juga dikenal di daerah Kepulauan Riau maupun Perak Malaysia.

Pertunjukan Seni Dabus Indragiri
Pertunjukan seni Debus biasanya beranggotakan kisaran 22 orang, yang terdiri dari para penari Dabus maupun pemain musik Dabus. Diantara peserta, ada satu orang yang bertindak sebagai khalifah, tugasnya adalah menjaga keselamatan para pemain dari hal-hal yang berasal dari gangguan seperti makhluk halus. Sebelum pertunjukan ditampilkan, sang khalifah meresapkan air atau merenjiskan air ke seluruh tempat pementasan, para pemain, pemusik hingga anak dabus atau peralatan yang digunakan. Tujuan meresapkan air ini untuk melindungi para pemain dari gangguan makhluk halus atau keisengan orang yang menyaksikan untuk menguji kekebalan para pemain. Khalifah juga bertindak menyadarkan para pemain yang kesurupan tak sadarkan diri akibat menikam lengannya sendiri dengan senjata tajam.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, ada beberapa pantang larang sebelum pertunjukan debus tersebut ditampilkan, diantaranya adalah tempat dan badan para pemain hendak lah dalam keadaan yang bersih, seluruh tim permainan tidak boleh berkata-kata kotor, senjata anak dabus yang dipakai tidak boleh dilangkahi atau pun menyentuh tanah sebelum digunakan, orang luar yang bukan pemain dabus dilarang menyentuh peralatan yang digunakan.

Tarian Dabus diyakini dibawa oleh Said Ali Al Idrus yang datang dari Hadral Maut kawasan Arab Selatan yang menyiarkan agama Islam yang diutus Raja Aden sekitar abad 17. Kerajaan Indragiri berada di Kota Lama. Warisan kesenian dalam bentuk tarian ini menggunakan besi yang ditajamkan serupa Carum dan diberi giring-giring yang menimbulkan bunyi mengikut Rebana.

Tahapan Pertunjukan Dabus
Langkah pertama pada pertunjukan ini dimulai dengan keluarnya para pemain secara berpasangan baik itu laki-laki dengan perempuan, perempuan dengan perempuan, atau laki-laki dengan laki-laki, lalu kemudian para pemain ini memberi hormat pada para penonton. Gerak tarian yang dimainkan biasanya ada tiga jenis, yakni susunan sirehayam tanjak dan helang sawah. Biasanya sebuah pertunjukan akan dimulai dengan gerakan susunan sireh. Gerakan dimulai dengan melangkah tiga kali, lalu duduk dan membuat gerakan menyembah. Seorang penari akan memegang anak dabus sambil menari mengikut alunan musik. Seorang penari akan keluar untuk menari, lalu setelah selesai ia akan digantikan oleh penari lainnya, demikian seterusnya hingga tarian tamat.

Keunikan dari tarian dabus ini adalah apabila tarian sudah mulai rancak. Hal ini ditandai dengan para pemain yang mulai tak sadarkan diri akibat kesurupan makhluk halus. Pemain bisa menusukkan senjata tajam yang dibawanya ke lengan. Hampir mirip dengan pertunjukan kuda kepang di pulau Jawa, tetapi pertunjukan ini menggunakan benda tajam. Ada pula pemain yang melemparkan batu giling ke paha mereka. Dalam kondisi di bawah pengaruh makhluk harus, para pemain ini tidak merasakan sakit. Khalifah yang akan membantu mengeluarkan makhluk halus dari para pemain atau menyadarkannya. Biasanya meskipun tidak cidera, sedikit rasa sakit atau pegal-pegal juga akan dirasakan oleh para pemain.




Pertunjukan ini juga memiliki mantra yang diucapkan misalnya :

  •  

Besi tua besi muda
Besi datang daripada Allah
Hendak makan sifat Muhammad
Takut ditimpa si kalammullah
Hullillah haillallah
Nabi Muhammad pesuruh Allah
Ingat semuanya kepada Allah
Bukannya salah permainan ini
Turun temurun semula jadi
Luar dan dalam semuanya diisi


Dalam pertunjukan Dabus ini biasanya juga ada nyanyi-nyanyian yang diambil dari Hadi (Chorus) dalam bahasa Arab, kemudian dijawab dengan ‘jawab’ yang menggunakan bahasa Melayu. Contohnya sebagai berikut:
Jawab :
He Allah he Allah hoya Allah
Hodal hema le keyai maulai
He Allah he Allah la le mahbud
Sewa Allah


Hadi :
Bishahrin rabie
Qad bawa nuruhul a'la
Faya hab baz badru
Biza kal hema yujla


Jawab :
Mura disin, Allah mura disin
Kamala izin Allah muradin
Mura diya Allah mura diya
Kamala izin Allah muradin


Berbagai senjata yang digunakan :

  1. Anak Dabus (sejenis besi yang tajam)
  2. Pisau
  3. Parang
  4. Belati
  5. Kapak
  6. Batu Giling
  7. Tali


Pakaian Pertunjukan Dabus
Pakaian yang digunakan untuk pertunjukan Debus ini terbagi tiga, meliputi pakaian khalifah, pakaian penari dan pakaian pemain musik. Ketiganya biasanya menggunakan pakaian yang berbeda. Pakaian para penari biasanya menggunakan corak-corak kepahlawanan, dengan warna hitam yang menyimbolkan kekebalan para pahlawan. Celana panjang dipadukan dengan baju teluk belanga, sehelai selempang serta tanjak yang gagah. Ini pakaian untuk penari laki-laki, sementara untuk perempuan biasanya sejenis pakaian untuk srikandi, puteri perak. Pakaian baju kurung cekak musang. Untuk para pemusik biasanya menggunakan pakaian melayu sedondon yang dilengkapi dengan songkok.

Sementara untuk pakaian khalifah, biasanya menggunakan warna hitam dengan ikat kepala. Warna hitam menjadi symbol kekebalan dalam pertunjukan. Warna-warna ini merupakan warna asal dari sebuah pertunjukan Debus di masa lampau. Seiring dengan perkembangan waktu dan fungsi Debus yang hanya sebagai pertunjukan seremoni biasanya, baik para penari, pemain musik atau khalifah sudah banyak yang menggunakan warna-warna cerah dalam sebuah pertunjukan.

Jampi-Jampi dan Tepung Tawar
Dalam sebuah pertunjukan Debus, biasanya tidak terlepas dari penggunaan jampi-jampi dan tradisi tepung tawar. Sebelum pertunjukan dimulai, air yang direnjiskan pada seluruh tempat pertunjukan, peralatan dan para pemain adalah air tepung tawar yang biasanya juga dipadukan dengan kemenyan yang sudah dibakar. Aroma kemenyan ini memberi kesan magis tradisional pada pertunjukan seni dabus. Air tawar biasanya dibuat dari campuran aneka daun-daun pilihan, beras kunyit, bertih yang direndamkan ke dalam mangkok berisi air.

Ada juga dikenal air penawar bisa. Air ini digunakan untuk memulihkan para pemain yang hilang kesadaran akibat kerasukan makhluk halus pada saat pertunjukan. Air ini dibuat dari campuran umbut pisang, daun sirih, daun setawar serta batang sirih yang dimemarkan. Baik air tepung tawar maupun air penawar bisa, sebelum digunakan biasanya telah diberi jampi-jampi lebih dulu oleh khalifah yang memimpin pertunjukan.


[RiauMagz | Wisata Riau | Warisan Budaya Tak Benda Riau ]

 

Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau

 

Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau


Menumbai Madu Sialang merupakan kegiatan mengambil madu dari pohon sialang, yakni sejenis pohon tertentu yang tinggi dan besar, disenangi oleh lebah untuk tinggal dan menghasilkan madu. UU Hamidy (1983), menyebutkan ”menumbai” berasal dari kata “tumbai” atau “umbai”, yang artinya “turun” atau juga “menurunkan” dengan menggunakan tali dan bakul. Arti ini juga menggambarkan gerak menurunkan sarang lebah memakai timba bertali. Kegiatan menumbai ini dilakukan di malam hari, pada saat kondisi gelap gulita.

Sialang bukanlah nama sebuah pohon. Tetapi nama pohon apa saja yang bisa dihuni oleh lebah dalam menghasilkan madu. Jenis lebah yang bersarang tersebut adalah Apis dorsata binghami, yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Pohon yang dihuni oleh lebah ini lebarnya bisa mencapai dua kali pelukan orang dewasa, tinggi dan licin sehingga tidak sembarang orang bisa mengambil madu yang dihasilkan lebah di atasnya. Oleh karena itulah, tradisi menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak benda di tingkat nasional.

 

Temukan lebih banyak

SENI

Seni & Desain Visual

seni

Home / Kebudayaan / Pelalawan / Riau / Warisan Budaya Tak Benda

Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau

By Riau Magazine  September 03, 2017



Salah satu Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau yang sudah diresmikan asal Pelalawan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015 adalah tradisi Menumbai Madu Sialang.


Mengenal Tradisi Menumbai Madu Sialang
Menumbai Madu Sialang merupakan kegiatan mengambil madu dari pohon sialang, yakni sejenis pohon tertentu yang tinggi dan besar, disenangi oleh lebah untuk tinggal dan menghasilkan madu. UU Hamidy (1983), menyebutkan ”menumbai” berasal dari kata “tumbai” atau “umbai”, yang artinya “turun” atau juga “menurunkan” dengan menggunakan tali dan bakul. Arti ini juga menggambarkan gerak menurunkan sarang lebah memakai timba bertali. Kegiatan menumbai ini dilakukan di malam hari, pada saat kondisi gelap gulita.

Sialang bukanlah nama sebuah pohon. Tetapi nama pohon apa saja yang bisa dihuni oleh lebah dalam menghasilkan madu. Jenis lebah yang bersarang tersebut adalah Apis dorsata binghami, yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Pohon yang dihuni oleh lebah ini lebarnya bisa mencapai dua kali pelukan orang dewasa, tinggi dan licin sehingga tidak sembarang orang bisa mengambil madu yang dihasilkan lebah di atasnya. Oleh karena itulah, tradisi menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak benda di tingkat nasional.


Kegiatan menumbai biasanya dipimpin oleh seseorang yang disebut Juragan Tuo, dibantu dengan beberapa Juru Panjat lainnya yang disebut dengan Juragan Mudo. Ada juga orang yang menyambut di bawah atau yang disebut Tukang Sambut. Juragan Tuo bertindak sebagai pimpinan kelompok yang bertanggung jawab terhadap keselamatan anggotanya dari berbagai resiko pengerjaan. Ancaman utama yang dihadapi para juragan mudo adalah gigitan lebah, ancaman binatang buas yang menghuni pohon hingga makhluk-makhluk ghaib yang ada di sekitar.

Inilah yang menjadi pertanggung jawaban Juragan Tuo. Jika diperlukan, ia bisa juga memanjat pohon membantu Juragan Mudo. Banyaknya jumlah Juragan Mudo yang diperlukan dalam setiap pengerjaan bergantung pada jumlah pohon yang akan dipanjat. Sebelum memulai menumbai, biasanya anggota kelompok membersihkan lebih dulu semak-semak di sekitar pohon. Membuat pondok untuk berjaga, lalu membuat tali berbentuk tangga untuk memanjat pohon. Pohon sialang sangat tinggi, bisa mencapai hingga 30-40 meter. Oleh sebab itulah keselamatan para pemanjat sangat penting diperhatikan.

Orang Petalangan yang merupakan suku asli yang bermukim di Pelalawan lah yang menjaga tradisi menumbai tersebut. Mereka hidup dari hasil ekonomi menumbai lebah, oleh karena itulah tradisi ini terus diajarkan turun temurun di masyarakat daerah tersebut. Untuk melakukan kegiatan menumbai madu, dilakukan beberapa serangkaian ritual adat dan kepercayaan masyarakat Petalangan.

Menumbai tidak bisa dikerjakan setiap saat. Biasanya dalam setahun hanya 2 hingga 3 kali saja bisa dilakukan untuk hasil yang maksimal. Sebab menurut orang Petalangan, lebah bersarang di pohon sialang hanya empat kali dalam setahun, yakni musim bunga jagung, musim bunga padi, selepas menuai, dan semasa menebang menebas ladang. Madu yang paling diminati dari keempat musim tersebut adalah madu di musim bunga padi, yakni madu berwarna putih.

Peralatan Menumbai Madu Sialang
Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk proses Menumbai Madu Sialang tersebut diantaranya adalah:

  1. Timba, timba atau timbo diberi tali dan dibawa naik oleh juragan muda ke atas pohon, dahulu timba ini terbuat dari kayu, namun saat ini sudah digunakan timba yang terbuat dari plastik. Timba ini nantinya diisi dengan sarah lebah yang diturunkan lalu disambut oleh tukang sambut, untuk selanjutnya dibawa ke ubo.
  2. Ubo merupakan tempat memeras lilin atau sarang lebah untuk mendapatkan madu.
  3. Tunam, merupakan sejenis obor yang dibuat dari kulit kayu untuk dipakai sebagai alat penerang di malam hari. Tunam ini dibawa oleh juragan muda ke atas sewaktu memanjat untuk menyapu kerumunan lebah yang ada di sarangnya. Sekaligus digunakan sebagai satu-satunya alat penerang selama proses berlangsung. Kerumunan lebah jatuh ke bawah mengikuti percikan api.


Tahapan Proses Menumbai
Beberapa tahapan berikut dilakukan orang Petalangan sebelum memulai tradisi menumbai lebah sialang:

 

  1. Pelangkahan, merupakan proses pembacaan mantera dalam hati dan menunggu reaksi batinnya setelah dibacakan mantera tersebut. Hal ini dilakukan sebelum berangkat menuju ke tempat pohon sialang, biasanya dilakukan pada petang hari, meskipun pengambilan madu dilakukan pada malam hari saat gelap gulita. Tradisi ini biasa dilakukan suku tradisional Melayu sebelum melakukan hal-hal yang beresiko.
  2. Menuo sialang, setelah sampai di lokasi pohon sialang, juragan tuo biasanya melakukan menuo sialang, yakni berdiri di depan pohon sialang untuk menuakan atau menghormati sialang. Ia membaca mantera dalam hati dengan tujuan meminta izin kepada roh-roh halus penunggu pohon sialang.
    Mantra :
    Bismilahirrohmanirrohim
    Assalamualaikum ibuku bumi, bapakku langit
    aku bemohon kepado nabi kayu
    nabi lilit
    nabi ake
    nabi lie
    nabi kayu
    nabi putih mogang kayu
    antu kayu samo kayu
    bukan aku yang punyo kayu
    Atuk Gu’u nan punyo kayu
    Kun! mohon kayu iko
    Kun! duo sialang kayu.

    Mbat menghembat ake gadung
    Mbat mai di ate tanggo
    Kalau iya sialang ini
    Lingkaran tedung dan nago
    Tetaplah juo di banie kayu
  3. Menepuk pohon, tanda bertamu merupakan langkah selanjutnya setelah menuo sialang yang dilakukan juragan tuo adalah dengan menepuk bagian pangkal pohon sebanyak tiga kali untuk memberi tanda kepada lebah bahwa ia sudah berada di halaman rumah lebah untuk bertamu. Yang diharapkan dari proses ini adalah lebab berdengung menandakan ia mengetahui kehadiran orang di bawahnya. Jika dengung tidak ada, maka proses ditunda.



 


Mantra :
Mengombang ke mano alu
Puting beliung samo tonga
Tabik aku dahan joambang
Aku nak lalu ke balai tonga

Balai Tonga balai duoeto
Tigo balai telendak bumi
Letak bandan poning kepalo
Menengok cantiknyo balai ini

  1. Pasu, cara melenakan lebah: sebelum para juragan mudo memanjat pohon, yang dilakukan selanjutnya adalah pasu. Yakni pembacaan mantera khusus yang ditujukan untuk menghipnotis lebah agar lebah terbang dan tidak menyengat.
    Mantra :
    Papat-papat tanah ibul
    Mai papat di tanah tombang
    Nonap-nonap Cik Dayangku tidou
    Juagan mudo di pangkal sialang
    (Cik Dayang yang dimaksud adalah lebah yang bersarang diatas pohon sialang).

    Popat-popat tanah mayang ibual
    Dipopat tanah tombang
    Nonap-nonap cik Dayang tidou
    Konai doa pasung terbang

    Pinjam tukual pinjam landean
    Tompat manukual kalakati
    Pinjam dusun pinjam laman
    Tompat main malam ini

    Apo kejadian lobah
    Lalat putih so’i majnun
    Apo kejadian songat
    Ja’um patah siti fatimah

    Lobah jangan dibagi moamuk
    Lobah jangan dibagi monyongat
    Songat engkau di aku
    Monyongat kataku
    Ba’u engkau monyongat
    Kini songat engkau di aku

    Aku tahu kejadian engkau
    Ampo padi kejadian engkau
    Nan bone tinggal di aku
    Nan ampo jatuh melayang
    Ke langit nan katujuh
    Awan gemawan
    Di situlah engkau
    Kemano aku su’u
    Ke situlah engkau po’i
    Engkau jangan menyulap kepada aku iko
    Engkau pulang ke asal engkau mulo jadi
    Aku pulang ke asalku mulo jadi
  2. Memanjat: pada saat memanjat tangga, para juragan mudo berhenti dan membacakan mantera khusus, lalu ia naik lagi. Sampai di dahan pertama, dibacakan lagi mantera khusus, ia lalu mengamati sarang-sarang lebah yang ada, membacakan mantera sambil mendekatkan obor pada sarang yang masih banyak lebahnya. Tidak semua sarang lebah yang ada berisi madu, dan terkadang juga lebah tak mau pergi dari sarangnya. Jika sudah didapati sarang lebah yang sarat madu, barulah di masukkan ke timba dan dibawa turun.
  3. Melepas pasu: setelah juragan mudo turun, selanjutnya dilakukan proses melepas pasu atau menyadarkan lebah yang dilakukan juragan tuo.
    Mantra :
    Temasu kayu di imbo
    Dibuat papan belarik
    Tubonsu jungan baibo-ibo
    Isuk kolam naik balik
    Amoramo si kumbang janti
    Duo ancak ketigo ancang
    Jangan lamo dayangku poi
    Duo bulan ketigo lah datang
    Antu kayu taogu-ogu
    Dahan panjang tenanti-nanti
    Menanti kau datang

 


Betapa sulit dan beresikonya menumbai madu, sehingga tak heran jika harga madu cukup mahal di pasaran. Tradisi ini harus terus dipelihara untuk bisa mendapatkan madu-madu alam dari daerah Riau sendiri.

Selain ancaman regenerasi seni budaya menumbai madu sialang ini, ada beberapa teknik modern dalam memanen madu sialang dan juga ekspansi lahan perkebunan sawit yang mengancam keberadaan pohon-pohon sialang yang ada saat ini.

Beberapa Pebatinan yang masih mempertahankan seni budaya adat tradisi menumbai ini misalnya Pebatinan Bunut yang memiliki kepungan (kumpulan) pohon sialang dari jenis Pohon Keruing yaitu Kepungan Sialang De Bakal, Sialang Tungkat Nago Seai, Sialang Tungkat Tembonsu, Sialang Kawan, Sialang Pulau Bose, Sialang Gumpal Bonang, Sialang Tengkorak, Sialang Pulau Panjang, Sialang Pulau Tujuh, Sialang Ombau Ulu.

TARI PIRING 12

 


SEJARAH TARI PIRING 12

Tari Piring Duabelas merupakan tari tradisional yang berkaitan dengan gawi adat masyarakat Lampung yang beradat Saibatin. Tari ini berasal dari Sekala Bekhak, kecamatan Belalau, Lampung Barat.

Awalnya orang orang dari Sekala Bekhak ini hijrah ke wilayah Kota Agung (Teluk Semaka) untuk mencari tempat baru dan membentuk sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Beniting.Disebut Kerajaan Beniting karena dulu di Sumatera terdapat banyak harimau, sedangkan raja di Kerajaan Beniting ini bisa berubah menjadi harimau.

Agar rakyat tidak keliru maka sang raja memiliki sebuah tanda yang ada di bagian pinggangnya yang biasa disebut babiti, maka raja tersebut disebut raja beniting.Setelah mendapat pengaruh para pedagang, Kerajaan Beniting berubah menjadi Kerajaan Semaka.Tari Piring 12 muncul saat Kerajaan Semaka dan dikembangkan menjadi empat macam tarian.
a.Tari Piring Biasa (Asli), dibawakan oleh bujang gadis (mulei mekhanai)
b.Tari Piring Buha (Buaya), dibawakan oleh mekhanai
c.Tari Piring Maju Ngekkes (Pengantin), dibawakan oleh mulei
d.Tari Piring Duabelas yang ditarikan oleh mulei/mekhanai

Kemudian Kerajaan Semaka bergeser lagi ke daerah pinggir pantai yang bernama Teluk Benawang.Agar lebih mudah untuk membayar upeti dalam proses perdagangan.

Lalu kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Benawang.
Benawang sendiri memiliki arti uang yang banyak dan bertebaran.Di Kerajaan Benawang inilah terciptanya 12 bandar.

Tari Piring Duabelas mempunyai dua warna berbeda yang membedakan antara pangeran dan masyarakat. Warna kuning biasanya digunakan di sebelah kanan,warna ini milik pangeran/ratu. Sedangkan warna putih biasannya dikenakan di sebelah kiri, warna ini milik masyarakat Saibatin/pemilik adat.

Tari piring adalah tarian sang ratu yang ditarikan dikala menyambut para ulu balak dari medan laga atau medan perang. Sang ratu memberikan suguhan kepada ulu balak berupa tarian sebagai ungakapan rasa gembira.
Sang ratu berasal dari Kerajaan Paksi Marga Benawa.
Tari piring diperkirakan mulai ditarikan sebelum agama islam masuk ke Indonesia.
Adapun disebut piring 12 sebab, paksi marga benawang mempunyai 12 bandar, dari setiap bandar mempunyai ulubalang - ulubalang dan setiap ulubalang pasti mempunyai pasukan perang.
Adapun nama-nama 12 bandar tersebut adalah :
1). Bandar Rajabasa (gunung subuwujo)
2). Bandar Sani (gunung subuwujo),
3). Bandar Narip (sekarang daerah nuropangko),
4). Bandar Talagening dibagi lagi menjadi 4 bandar lop
         Bandar Talagening,
         Bandar Maja,
         Bandar Muara,
         Bandar Kelunggu (Kota Agung),
5). Bandar Baturuga (Terahutimur),
6). Bandar Limau (kecamatan limau),
7). Bandar Putih,
8). Bandar Tulapayah.
Jadi mempunyai 4 bandar dalam dan 8 bandar luar.

Dua piring yang dibawa oleh sang ratu atau penari juga memiliki makna, yaitu melambangkan bahwa dalam segala sesuatu itu ada dua. Ada kalah ada menang, ada sedih ada senang.

Karena sekarang sudah tidak ada peperangan maka tari piring ditarikan saat acara panayuhan atau resepsi Sang Bujang & Sang Gadis. Tarian ini telah menjadi tradisi di kabupaten Tanggamus atau bisa dibilang tari pergaulan Masyarakat pesisir yang beradat saibatin.


Rabu, 06 Mei 2026

Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau





Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau

Silat perisai menjadi Warisan Budaya Tak Benda {WBTB) asal Riau yang telah lolos di sidang penetapan WBTB oleh Tim Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2017.

Silat Perisai
Silat Perisai atau Silat Perisai Pedang adalah sebuah seni beladiri yang saat ini sering dipertunjukan sebagai seni pencak tradisional yang dapat dimainkan oleh sepasang atau beberapa pasang pemuda dan pemudi guna menyambut kedatangan tamu pejabat daerah pada sebuah upacara pembukaan semi tradisi seperti "Pekan Budaya Daerah, Pekan Olah Raga Tradisional, Upacara Balimau Kasai, Pembukaan MTQ dsb". Kelompok Silat Perisai ini tampil dengan diiringi musik Calempong Oguong yang dimainkan oleh 5 (lima) orang. Busana Pesilat berwarna hitam berikat kepala dengan properti sebilah pedang dan sebuah perisai. Pedang dan perisai terbuat dari kayu.


Silat Perisai Pedang Zaman Dahulu
Keberadaan Silat Perisai diimulai pada masa Wilayah Negeri Kampar dulunya sebelum kemerdekaan RI dimana wilayah tersebut pernah mempunyai sistem pemerintahan Andiko dimana yang berkuasa adalah Pucuk Adat yang disebut Ninik Mamak. Ninik Mamak menaungai masyarakat yang disebut Anak Kemenakan dan Urang Sumondo. Setiap kelompok Masyarakat yang terdiri dari Anak Kemanakan dan Urang Semondo disebut Pesukuan.


Setiap pasukuan memiliki dubalang/pendekar Silat Perisai. Pada masa itu yang berlaku hukum adat. Bila terjadi silang sengketa antara pasukuan misalnya tentang wilayat hutan tanah, menurut hukum adat sama-sama kuat mempunyai hak maka oleh lembaga Kerapatan Adat di Pucuk Adat diputuskan untuk menentukan siapa yang berhak dengan mengadu dua orang dubalang/pendekar dari dua suku yang bersengketa itu di gelanggang silat.

Dihari yang ditentukan dengan disaksikan oleh pemuka adat, halayak ramai, juga dua orang isteri dari kedua dubalang, dibukalah gelanggang pertarungan. Masing-masing dubalang memakai busana teluk belanga lengen pendek, kain sesamping dan ikat kepala, bersenjata sebilah pedang di tangan kanan dan sebuah perisai di tangan kiri. Dengan diberi aba-aba oleh dubalang pucuk adat pertarungan dimulai.

Bila salah seorang duabalang itu sudah terdesak dan tak mampu lagi bertahan sehingga mungkin akan terluka/terbunuh, isteri dubalang dimaksud akan masuk ke gelanggang (sebagai wasit) segera menghentikan pertarungan itu dengan sebuah isyarat yang menyatakan pada hadirin bahwa pendekar (suaminya) telah mengaku kalah. Dengan itu Pucuk Lembaga Adat akan mengumumkan pasukuan yang menang.

Seni beladiri ini ketika dinilai oleh para Tim Ahli Kemendikbud untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau masuk ke dalam kelompok : Seni Pertunjukan, termasuk seni visual, seni teater, seni suara, seni tari, seni musik, film. Saat ini Silat Perisai berada dalam kondisi "Masih Bertahan" dengan persebaran di Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Kajian akademis pernah dilakukan oleh Fikhen Tri Wulandari dalam bentuk thesis pada Universitas Pendidikan Indonesia yang berjudul "Sistem Pewarisan Silat Perisai di Riau”. Selain itu juga termaktub dalam Buku Antropologi Budaya Kampar yang ditulis oleh Sudirman Agus, S.Pd pada Program Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah, Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Seni Budaya, Kabupaten Kampar - Riau.

Salah satu kelompok yang terus mempertahankan warisan budaya ini adalah Komunitas Seni Pencak Silat Perisai di Desa Pulau Empat, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Guru atau Maestro Silat Perisai Kampar ini bernama Yusheri di Desa Pulau Empat dan Sudirman Agus di Bangkinang.

Silat Perisai di Riau
Dalam upaya mengembangkan Silat Perisai di Riau agar semakin banyak menghasilkan pesilat tangguh dan tidak menghilangkan warisan budaya berupa :

  1. Pendokumentasian.
  2. Menampilkan di berbagai kegiatan seni budaya dan olahraga.
  3. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni silat dari seluruh Provinsi Riau maupun nasional

 

 


Manfaat Silat Perisai
Selain untuk mempertahankan warisan budaya para leluhur, pesilat Perisai diajarkan dalam penggunaan senjata pedang dengan harapan mampu memahami karakteristik dari senjata pedang sehingga akan mengerti bagaimana cara menghadapi lawan yang menggunakan senjata-senjata tajam sejenis atau dengan senjata lainnya.

Seni Silat Perisai memiliki banyak manfaat bagi para pelakunya. Diantaranya mampu menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh karena juga seperti olahraga pada umumnya. Selain itu juga bisa meningkatkan rasa percaya diri dalam bergaul, memberikan nilai pelatihan terhadap ketahanan mental seseorang. Yang paling penting, seperti pencak silat pada umumnya, jenis Silat Perisai juga memberikan pengembangan kewaspadaan yang tinggi bagi siapa saja, sebab peluang kejahatan bisa terjadi dimana-mana. Waspada selalu dibutuhkan untuk menjaga keselamatan. Ada juga nilai pembinaan terhadap sportifitas dan jiwa pendekar. Membela kebaikan dan kebenaran merupakan tugas seorang pendekar. Selain itu semua, olahraga pencak silat perisai juga mampu menanamkan nilai kedisiplinan dan keuletan bagi para pemain. Disiplin yang lebih tinggi bukan hanya pada saat latihan atau bermain saja, namun juga perlu tertanam dalam setiap aspek kehidupan. Melatih diri agar lebih ulet dalam segala hal, termasuk mungkin saat berlatih yang cukup sulit dan membutuhkan ketekunan.

Dengan beberapa langkah pelestarian dan manfaat di atas, diharapkan keberadaan tradisi Silat Perisai Pedang Kampar akan bisa lebih baik, bersaing secara nasional dan mampu membawa nama Riau di tingkat internasional. Dengan ditetapkannya pencak Silat Perisai sebagai salah satu warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, maka pengembangan dari pencak silat ini diharapkan bisa lebih baik lagi. Dapat dikenalkan lebih massif dari tingkat anak-anak hingga remaja termasuk menyediakan para pendekar atau pelatih handal yang siap turun untuk mengajarkan warisan budaya ini.

Sumber : Dinas Kebudayaan Provinsi Riau

Video : Akun Youtube Sudirman Agus
Silat Perisai versi daerah Silek Parisai adalah silat tradisional daerah Kab. Kampar. Video ini dibuat tahun 2005 dengan guru silatnya SYAFI'I (Alm) semoga arwahnya berada tenang disisinya dan ilmu silat yang diajar pada muridnya menjadi amal jariah baginya.

 


SILAT SENI GAYONG

 


sejarah pssgm

Pertubuhan Silat Seni Gayong Malaysia (PSSGM) adalah sebuah pertubuhan yang berdaftar dengan Jabatan Pendaftaran Pertubuhan Negara pada 22 Oktober 1963 (Rujukan 361) pada mulanya, dan kemudiannya pula didaftarkan kepada Pesuruhjaya Sukan pada 31 Julai 1998 (Rujukan 0149/98). Perubahan ini berlaku apabila kerajaan telah menetapkan dasar melalui Akta Pembangunan Sukan 1997 supaya semua badan yang menjalankan kegiatan sukan hendaklah berdaftar dengan Pesuruhjaya Sukan. Badan Pentadbiran Pertubuhan Silat Seni Gayong Malaysia dibantu oleh dua organisasi dalaman yang ditubuhkan khusus untuk mengukuhkan pengurusan pengembangan dan pembangunan Silat Seni Gayong Malaysia, iaitu Lembaga Adat Istiadat dan Majlis Gurulatih. Penubuhan organisasi ini di peruntukan dalam Perlembagaan Pertubuhan - merujuk kepada perkara 30 dan perkara 31. Badan Pentadbiran Pertubuhan merupakan badan utama bagi menggerakkan hal-hal yang berkaitan dengan merancang, melaksana dan mengawal aktiviti-aktiviti pembangunan dan pengembangan sebagai sebuah Pertubuhan. Badan ini berkait rapat dan berhubung secara langsung dengan urusan memenuhi keperluan dasar-dasar kerajaan yang berkaitan. Disamping itu juga ia berperanan sebagai agensi penghubung di antara organisasi luar, samada dari dalam negara mahu pun luar negara, dengan isu-isu yang berkaitan pentadbiran Silat Seni Gayong Malaysia. Lembaga Adat Istiadat pula memberi fokus kepada merancang, melaksana dan mengawal pelaksanaan amalan adat-istiadat silat yang diwarisi. Perkara-perkara yang diberi perhatian termasuklah hal-hal yang berkaitan dengan penyampaian sandang-sandang kebesaran, adat perlimau tapak dan seni, tatacara pemakaian serta penampilan dan pelaksanan protokol budaya warisan. Majlis Gurulatih seterusnya berperanan dalam urusan merancang, melaksana dan mengawal pembangunan dan pengembangan persilatan dari aspek kurikulum latihan dan kejurulatihan. Ini termasuklah urusan mengumpul dan menyusun pelajaran-pelajaran yang terdapat dari guru-guru kanan yang ditauliah atau diketahui menguasai kemahiran yang diperturunkan oleh Allayarham Dato’ Meor Abdul Rahman.Merujuk kepada dasar yang ditetapkan dalam Akta Pembangunan Sukan yang dinyatakan, badan-badan yang perlu berdaftar kepada Pesuruhjaya Sukan ialah badan daerah, negeri dan kebangsaan. Gelanggang-gelanggang yang ditubuhkan di dalam sesebuah daerah hanya perlu mendaftar atau bergabung di bawah pengurusan daerah atau negeri (jika tiada daerah yang mendapat kelulusan pendaftaran) yang telah diluluskan pendaftarananya oleh Pesuruhjaya Sukan.Setiap pendaftaran daerah, atau negeri atau kebangsaan ini adalah secara berasingan. Kewujudan badan-badan ini tidak ada kaitan di antara satu dengan lain dari aspek penubuhannya. Pembatalan mana-mana badan di mana-mana peringkat sekali pun tidak akan membabitkan pembatalan badan-badan lain. Contohnya jika Pertubuhan Silat Seni Gayong Malaysia sesuatu Negeri terbatal pendafatarannya, pendaftaran Pertubuhan Silat Seni Gayong Malaysia daerah-daerah di negeri berkenaan tidak terjejas. Begitu juga jika berlaku pembatalan pendaftaran badan di peringkat kebangsaan, badan di peringkat negeri dan daerah boleh meneruskan pentadbiran masing-masing tanpa sebarang sekatan dari mana-mana pihak berkuasa.Setakat ini, kaitan yang jelas di antara daerah, negeri dan kebangsaan ialah penggunaan nama Pertubuhan Silat Seni Gayong Malaysia. Pertubuhan di peringkat kebangsaan telah memohon jasa baik Pesuruhjaya Sukan supaya hendaklah merujuk kepada badan kebangsaan ini jika terdapat mana-mana pihak yang memohon untuk mendaftar dengan mengguna nama Gayong. Tujuannya ialah untuk mengelak lebih banyak badan silat mengguna nama Gayong. Contohnya Gayong Fatani, Pusaka Gayong, Gayong Warisan, Gayong Sundang, Gayong Ghaib, Gayong Ma’rifat dan sebagainya. Jumlah yang ada ini pun telah banyak menimbulkan kekeliruan di kalangan masyarakat umum, terutamanya dari aspek kesahihan, asal-usul dan pentadbiran.




 

BIODATA DATO' MAHAGURU

 

Mahaguru Silat Seni Gayong ialah allahyarham Dato' Paduka Meor Abdul Rahman bin Daeng Uda Mohd Hashim. Beliau ialah seorang berketurunan Raja Bugis dan Arab daripada susur galur Al-Attas.

          Moyang beliau yang terkenal berhijrah ke Tanah Melayu ialah Tengku Daeng Kuning. Daeng Kuning merupakan seorang pahlawan terkenal yang digelar sebagai Panglima Hitam. Daeng Kuning dikatakan mewarisi ilmu kependekaran daripada nenek moyangnya seorang pendekar yang dikenali sebagai Pahlawan Gayong.
Pahlawan Gayong ialah seorang pendekar terbilang yang menguasai ilmu persilatan secara zahir dan kebatinan. Beliau amat tersohor di kepulauan Melayu dan digeruni oleh lawannya. Ada sumber yang mengatakan bahawa Dato' Laksamana Hang Tuah adalah pewaris amanah ilmu Pahlawan Gayong. Seterusnya imu tersebut diturunkan kepada Dato' Meor Abdul Rahman sebagai waris zuriat Pahlawan Gayong.
Daeng Kuning berhijrah dari Sulawesi ke Tanah Melayu selepas tahun 1800 Masehi. Penghijrahan tersebut ditemani oleh saudara mara beliau yang terdiri daripada Daeng Merewah, Daeng Celak, Daeng Parani, Daeng Pelangi, Daeng Mempawah dan Daeng Jalak. Mereka tujuh bersaudara belayar ke Tanah Melayu untuk membina penghidupan baru dan menyatupadukan pahlawan-pahlawan Melayu.
Penghijrahan bangsa Bugis ke Tanah Melayu dipercayai bermula dari tahun 1667 Masehi apabila Makasar, Sulawesi jatuh ke tangan Belanda. Pahlawan Bugis yang terkenal di gugusan Melayu pada ketika itu ialah Daeng Rilaka dan lima orang putera beliau bernama Daeng Parani, Daeng Merewah, Daeng Menambun, Daeng Celak dan Daeng Kemasi.
          Penghijrahan Daeng Kuning tujuh bersaudara ini berkemungkinan besar susulan daripada dasar campurtangan Kerajaan Belanda yang semakin berleluasa di Kepulauan Sulawesi. Ada sumber yang mengatakan bahawa Daeng Kuning adalah zuriat keturunan Daeng Merewah bin Daeng Rilaka. Dua buah rombongan ini sudah pasti terdiri daripada orang yang berlainan walaupun ada persamaan pada sesetengah nama. Ini berdasarkan perbezaan masa yang agak ketara. Walau bagaimanapun, kaitan kekeluargaan antara satu sama lain tidak dinafikan.
         Penghijrahan tujuh bersaudara tadi bukanlah bermaksud lari daripada medan peperangan , ia sebenarnya satu cara untuk menyusun strategi balas. Matlamat mereka ialah untuk mengumpulkan para pahlawan Melayu bagi menentang kuasa-kuasa asing yang menjajah negeri-negeri di Nusantara.
Daeng Kuning dan saudaranya telah mempelopori gerakan gerila untuk melumpuhkan pentadbiran penjajah di negeri-negeri Melayu. Walaupun ramai pahlawan Bugis terlibat secara langsung dengan kancah politik negeri-negeri Melayu seperti di Sumatera, Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, Temasik dan Kepulauan Riau, namun mereka tidak bersatu-padu. Malahan, ada di antara mereka yang menjadi askar upahan kuasa-kuasa asing dan berperang sesama sendiri.
Oleh sebab itulah, ketika belayar di tengah lautan, Daeng Kuning telah mengingatkan kembali matlamat penghijrahan mereka. Pesanan tersebut disampaikan melalui bentuk pantun kepada saudara-mara beliau yang berbunyi;

Pecah Gayong Di Dalam Dulang,
Dulang Hanyut Di Lautan Tujuh;
Perpecahan Gayong Perpecahan Sayang,
Suatu Masa Dan Ketika Kembali Berteguh (berpadu)

Dalam tahun 1813 Masehi, Daeng Kuning tujuh bersaudara telah mendarat di Kuala Larut, Perak sebelum pemerintahan Sultan Abdullah. Buat sementara waktu mereka bermastautin di suatu tempat yang mereka namakan sebagai Pengkalan Alur atau Relur Tujuh. Kini tempat tersebut dipanggil Kampung Ayer Kuning, terletak di Taiping, Perak.
           Hanya Daeng Kuning menetap di Pengkalan Alur dan bertapa buat beberapa ketika di dalam sebuah gua di Bukit Larut. Manakala saudara Daeng Kuning yang lain bergerak menuju ke Pahang, Terengganu, Johor, Selangor, Melaka dan Kedah. Ada yang terus menetap di negeri singgahan mereka dan ada antaranya yang meneruskan perjalanan berikutnya ke Kepulauan Melayu lain.
Daeng Kuning telah mendirikan rumahtangga dengan seorang puteri raja Patani. Perkahwinan tersebut menghasilkan seorang cahaya mata lelaki yang dinamakan Che Ngah Tambah.

         Daeng Kuning digelar oleh penduduk tempatan sebagai Tok Hitam Dam. Gelaran tersebut cukup terkenal hinggakan sebatang jalan di Kampung Pokok Assam dinamakan Jalan Tok Hitam Dam. Daeng Kuning mangkat di Taiping, Perak dalam tahun 1875 Masehi. Makam beliau terletak di Kampung Tupai, berdekatan Jalan Pokok Assam di Taiping. Ia telah diwartakan sebagai bahan sejarah dan kini terletak di bawah jagaan Muzium Negara menurut Akta Bendapurba, 1976.
           Anak tunggal Daeng Kuning, Che Ngah Tambah juga memiliki ilmu yang tinggi dan sifat kepemimpinan yang unggul. Beliau merupakan tokoh yang membuka Daerah Larut-Matang dan dilantik menjadi seorang Penghulu Besar bagi daerah tersebut.
Atas kewibawaan beliau, Che Ngah Tambah dilantik oleh Sultan Perak sebagai salah seorang daripada Orang Besar Enam Belas Negeri. Che Ngah Tambah menetap di kampung Ayer Kuning dan mempunyai empat orang isteri.
           Che Ngah Tambah merupakan seorang pembesar yang pemurah dan amat disegani. Tanah-tanah dalam bidangkuasanya diagih-agihkan kepada penduduk tempatan atau sesiapa sahaja yang layak untuk diusahakan atau dibuat penempatan.
Pemimpin-pemimpin Cina yang menjalankan aktiviti perlombongan di dalam daerahnya juga amat menghormati beliau. Anak Che Ngah Tambah yang bernama Alang Abdul Rahman telah dikahwinkan dengan salah seorang anak pemimpin Cina. Pemimpin Cina berkenaan menawarkan anak beliau sebagai tanda persahabatan dan hormat atas kepimpinan Che Ngah Tambah.
            Hasil perkongsian hidup Che Ngah Tambah dengan salah seorang isteri beliau, Allah SWT telah mengurniakan lima orang cahayamata. Anak-anak mereka terdiri daripada Long Khadijah, Mariah, Uda Mohd Hashim, Aminah dan Mariam. Anak-anak Che Ngah Tambah dengan isteri-isteri yang lain setakat yang diketahui ialah Alang Abdul Rahman, Putih Mohd Salleh dan Sareah. Che Ngah Tambah telah dimakamkan di perkarangan Masjid Taiping (lama) dan nama beliau juga diabadikan pada sebatang jalan di Pokok Assam, Taiping.
          Uda Mohd Hashim merupakan ayahanda kepada Dato' Meor Abdul Rahman. Uda Mohd Hashim ialah seorang arkitek yang terkenal di Taiping. Beliau telah berkahwin dengan seorang janda cantik berketurunan Arab bernama Syarifah Aluyah binti Syed Zainal al-Attas. Syarifah Aluyah sebelum berkahwin dengan Uda Mohd Hashim telah mempunyai tiga orang anak bernama Alin, Puteh dan Hendun.
Syed Zainal bin Syed Idris al-Attas berasal dari Pahang manakala isterinya ialah orang tempatan Parit, Perak. Syed Zainal pernah dilantik sebagai seorang penghulu di Pekan, Pahang. Beliau juga dikenali sebaga Dato' Jenal. Beliau ialah salah seorang pembesar Pahang yang menentang penjajahan British bersama-sama dengan Dato' Mat Kilau dan Dato' Bahaman.
        Sebaik sahaja Uda Mohd Hashim berkahwin dengan Syarifah Aluyah, mereka telah berpindah ke Lake Garden (Taman Tasek), Taiping. Uda Mohd Hashim dan Syarifah Aluyah telah dikurniakan tiga orang cahayamata iaitu Meor Abdul, Aziz, Meor Abdul Rahman dan Siti Sa'diah.
        Selain menjalankan tugas seharian sebagai seorang arkitek, Uda Mohd Hashim juga adalah salah seorang Ahli Majlis Daerah Taiping. Kebanyakan rekabentuk rumah dan bangunan terutamanya di Kampung Pokok Assam dan bandar Taiping adalah hasil kreativiti beliau. Sebagai ahli Majlis Daerah, beliau berperanan merancang dan memajukan Daerah Taiping. Ini membuatkan beliau dikenali ramai dan dihormati.
Latarbelakang keluarga yang begitu kuat dan berpengaruh sedikit sebanyak telah membentuk peribadi Meor Abdul Rahman sebagai seorang pahlawan dan pemimpin unggul seni silat abad ke-20.
          Meor Abdul Rahman bin Daeng Uda Mohd Hashim dilahirkan pada 17 haribulan Ogos 1918 di Kampung Lake Garden, Taiping, Perak. Ketika lahir beliau dinamakan Meor Abdul Hamid.
          Sebelum dilahirkan, bonda beliau bermimpi didatangi satu lembaga yang mengkhabarkan anak dalam kandungannya akan menjadi seorang pahlawan yang gagah berani. Meor Abdul Rahman dilahir berkembarkan seekor cacing. Kembar beliau itu setelah dibersihkan disimpan di dalam sebuah tempurung kelapa jantan, kemudiannya dihanyut ke laut melalui Teluk Kertang, Matang, Perak. Menurut kata bondanya, kelahiran sedemikian adalah petanda awal bahawa Meor Abdul Rahman akan menjadi seorang pendekar yang terbilang.
         Apabila meningkat remaja, keluarga Meor Abdul Rahman telah berpindah ke Kampung Pokok Assam, Taiping. Beliau mendapat pendidikan awal di Sekolah Melayu Taiping dan persekolahan menengah di Sekolah King Edwards VII, Taiping seterusnya di Government Trade School di Ipoh sehingga tahun 1935.
Beliau menuntut ilmu persilatan dengan Syed Zainal bin Syed Idris Al-Attas ketika berusia lebih kurang 12 tahun. Sejak kecil beliau sering mendengar kisah pahlawan dan sejarah perjuangan bangsa Melayu dari nendanya. Selama lebih kurang 2 tahun, Meor Abdul Rahman menjalani latihan intensif setiap hari siang dan malam.
           Tempoh latihan tersebut dikira terlalu lama berbanding rakan-rakan beliau yang khatam bersilat hanya menuntut beberapa bulan sahaja contohnya di Ijuk, Changkat Jering dan Batu Kurau. Ini mengakibatkan beliau sering diejek dan dipersenda umpama ' buah yang tidak masak' oleh rakan-rakan sebaya. Apabila persoalan demikian dikemuka oleh bondanya kepada Syed Zainal Al-Attas, jawapan yang diberi ialah cucunda beliau akan dikhatam oleh orang ghaib pada suatu masa dan di suatu tempat di sempadan Kedah dan Siam.
          Sejak di alam persekolahan menengah lagi Meor Abdul Rahman gemar keluar kampung untuk mencari pengalaman baru. Dalam tempoh masa antara tahun 1933 sehingga 1935, beliau sering berulang-alik ke Kedah menziarahi kanda iparnya, Hendon di Kota Sarang Semut, Kedah. Beliau hanya menunggang basikal ke Kedah atau ke mana sahaja beliau tuju. Hubungan beliau dengan kanda dan iparnya, Zainal Abidin amat erat. Ketika itu, kanda iparnya bertugas sebagai seorang Inspektor Polis di Balai Polis Kota Sarang Semut.
        Ketika di alam persekolahan, Meor Abdul Rahman mempunyai beberapa orang kawan rapat. Mereka ialah Bakar, Wan Noh bin Haji Ismail, Wan Man bin Haji Ismail dan Aziz Khan. Mereka ini sering bersaing dan bergerak bersama-sama dalam kelompok seperti remaja lain dalam pertengahan dan lewat usia belasan tahun. Sejak dari sekolah menengah Meor Abdul Rahman sudah terkenal dengan kekuatannya. Beliau digelar "Rahman The Strong Man".
         Gelaran itu diberi atas kemampuan istimewa Meor Abdul Rahman. Beliau sering diminta oleh rakan-rakannya menunjukkan kehandalan mengangkat objek yang berat dan melakukan kebolehan di luar kebiasaan orang ramai. Setiap pengakuan yang beliau buat, mampu dibuktikan kepada rakan-rakannya. Ini menyebabkan kata-kata beliau dipercayai dan diberi gelaran sebagai orang gagah.
Setelah tamat persekolahan pada tahun 1935, Meor Abdul Rahman mula menetap di rumah Hendon di Kuala Nerang, Kedah. Pada masa itu, Zainal Abidin telah dinaikkan pangkat sebagai Penolong Penguasa Polis dan bertugas sebagai Ketua Polis Kuala Nerang. ASP Zainal Abidin merupakan seorang pegawai polis yang tegas serta berani dan kuat berpegang kepada ajaran Islam. Meor Abdul Rahman sendiri amat menghormati dan segan kepada kanda iparnya itu.
            Pada suatu pagi ketika berada di Kuala Nerang, beliau ternampak sebuah gelanggang silat. Setelah merisik, Meor Abdul Rahman difahamkan bahawa guru gelanggang itu ialah Sudin, seorang berketurunan Minangkabau. Beliau bekerja sebagai seorang penjahit topi dan baju. Oleh kerana minat untuk terus mendalami ilmu persilatan, Meor Abdul Rahman mengambil keputusan untuk melawat Sudin. Setelah berbincang, Sudin bersetuju menerima beliau sebagai murid dengan mengenakan bayaran pengeras permulaaan belajar sebanyak RM 1.70 dan khatam sebanyak RM 5.15 beserta seekor ayam.
         Malam keesokannya, Meor Abdul Rahman pun datang dan menyerahkan duit pengeras sebanyak RM 1.70. Beliau diarah oleh Sudin berlatih dengan murid-muridnya. Dalam latihan tersebut, Meor Abdul Rahman dicuba oleh tiga orang murid lama Sudin. Niat mereka untuk menjatuhkan Meor Abdul Rahman tidak kecapaian sama-sekali. Akhirnya, orang kanan Sudin bernama Ali mengadu kepada Sudin bahawa adik ipar OCPD itu bukanlah calang-calang orang. Setelah mendengar aduan Ali, Sudin berasa malu kerana muridnya bertiga gagal menewaskan Meor Abdul Rahman seorang. Lalu beliau menghampiri Meor Abdul Rahman dan menyapanya,"Kamu kalau nak belajar, buat cara nak belajar silat betul-betul!".Maka dijawabnya Meor Abdul Rahman,"Saya dah kata, saya ada juga belajar silat tapi tak khatam dari datuk saya, jadi tapak saya kalau dapat diatasi baharulah saya belajar ".Sampuk Sudin,"Jadi nak cubalah ye, hah cuba masuk !,"Balas Meor Abdul Rahman,"Guru saya kata tak boleh masuk, kenalah orang yang mencabar tu masuk".
Kebetulan pada malam itu, ramai orang hadir menyaksikan latihan silat tersebut termasuk YM Tengku Nong, cucunda Sultan Abdul Hamid Halim Shah yang berkhidmat sebagai Penolong Pegawai Daerah Kuala Nerang.
        Sudin yang berasa tercabar akibat ketewasan murid-murid harapannya semakin terpukul apabila terpaksa berhadapan sendiri dengan seorang budak belasan tahun. Oleh kerana perasaan marah dan ego telah menguasai akal maka Sudin dengan sepantas kudrat mengatur serangan. Segala tendangan dan sepakan Sudin dapat dielak dan ditangkis oleh Meor Abdul Rahman. Setelah dirasakan cukup peluang diberi kepada Sudin, kini tiba gilirannya pula untuk membuat serangan balas.
Dalam keghairahan usaha Sudin untuk menjatuhkan Meor Abdul Rahman, tiba-tiba Sudin jatuh pengsan, puas dipulihkan sehingga memakan masa untuk sedar. Sebaik sahaja agak pulih, Sudin mengaku kehandalan Meor Abdul Rahman dan menghulurkan kembali duit pengeras yang diterima. Meor Abdul Rahman enggan menerima duit tersebut malah menghadiahkannya kepada Sudin.
         Di Kuala Nerang, Meor Abdul Rahman berpeluang memenuhi hobi berburu, beliau mempunyai kemahiran istimewa pasang jerat dan ajuk burung. Kemahiran ini diperolehi hasil pergaulan luas dengan berbagai lapisan masyarakat dan kegemaran meneroka sesuatu yang baru. Kedudukan Meor Abdul Rahman sebagai adik ipar Ketua Polis Daerah dan sifatnya yang peramah menyebabkan beliau dihormati dan dikenali ramai di daerah tersebut. Ini memudahkan beliau mendapat kerjasama dari penduduk tempatan jika berhajatkan sesuatu. Meor Abdul Rahman amat cekap berburu dan sering berkongsi hobi dengan Tengku Nong. Beliau sering menggunakan salah satu daripada enam laras senapang kepunyaan Tengku Nong.
Di samping hobi berburu, beliau sejak usia awal belasan tahun sudah mengamalkan latihan angkat berat, bina badan dan bertinju. Oleh demikian, sejak daripada usia remaja beliau telah memiliki tubuh yang cantik dan tegap. Beliau juga istiqamah dalam melakukan senaman gerak badan dan pernafasan yang diajar oleh Syed Zainal. Latihan seumpama itu menambahkan kekuatan fizikal beliau di samping meningkatkan kecekapan bakat bersilat yang sedia ada.

           Pada suatu hari dalam tahun 1936, Meor Abdul Rahman keluar bersiar-siar di Pekan Rabu, Kuala Nerang. Di sana beliau berkenalan dengan seorang perempuan tua beruban dan bertelinga labuh sepanjang 6 inci. Perempuan tua itu sedang menjual burung dan akar-akar kayu yang dibawa dari Mee Nam, Selatan Thailand. Perempuan tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Tok Mek Jah dan menceritakan kehidupannya di Mee Nam. Meor Abdul Rahman begitu tertarik mendengar pengalaman Tok Mek Jah dan menyatakan hasrat untuk mengikutnya pulang ke Mee Nam.
Pada mulanya Tok Mek Jah agak keberatan mengajak beliau kerana khuatir tempat tersebut tidak sesuai dengan Meor Abdul Rahman apatah lagi perjalanannya juga amat jauh. Setelah Meor Abdul Rahman mendesak dan menyatakan kesanggupan untuk mengharungi perjalanan yang jauh serta kesukaran mendapatkan makanan halal, maka Tok Mek Jah pun bersetuju membawanya bersama-sama.
           Keesokannya, tanpa pengetahuan ASP Zainal, Meor Abdul Rahman mengambil sepucuk pistol kanda iparnya yang disimpan dalam sebuah almari. Beliau juga meminjam selaras senapang daripada Tengku Nong dan membawa bersamanya 30 biji peluru. Mereka bertolak menuju ke Mee Nam setelah Tok Mek Jah selesai membeli barang-barang keperluan untuk dibawa pulang ke kampungnya.
           Dalam perjalanan tersebut, mereka singgah di Padang Sanai. Di Padang Sanai, beliau sempat menyaksikan pertandingan tinju Siam. Oleh kerana kesempitan wang, beliau menyatakan hasratnya kepada Tok Mek Jah untuk menyertai pertandingan tinju bagi mendapatkan sedikit wang saku. Walaupun Tok Mek Jah menasihatinya supaya tidak bertanding, namun desakan keadaan telah memaksa Meor Abdul Rahman meneruskan hajat tersebut. Beliau dengan berani masuk ke gelanggang Tinju Siam tersebut tanpa memikirkan risiko yang akan ditempuhinya. Dalam pertandingan itu, beliau telah memenangi setiap pertandingan yang dijalankan secara kalah mati. Lawan?lawannya tersungkur akibat dibelasah dengan teruk sehingga separuh mati. Ini telah mengakibatkan rasa kurang senang jaguh-jaguh Siam yang hadir, lebih-lebih lagi menyaksikan rakan-rakan mereka tumbang dengan seorang asing. Melihatkan keadaan yang semakin membimbangkan dan ada ura-ura perbuatan khianat dirancang terhadap Meor Abdul Rahman, Tok Mek Jah terpaksa menarik keluar Meor Abdul Rahman dari gelanggang tersebut dan menasihatinya agar beredar dengan seberapa segera sebelum perkara buruk terjadi.
           Mereka dengan segera meneruskan perjalanan sehingga tiba di rumah Tok Choh di Padang Terap. Meor Abdul Rahman memaklumkan hasratnya untuk ke Mee Nam kepada Tok Choh. Tok Choh menjelaskan bahawa perjalanan ke sana memakan masa selama 4 hari dan apa saja yang dijumpa akan menjadi makanan untuk mengalas perut. Meor Abdul Rahman sekali lagi menjelaskan bahawa beliau bersedia mengharungi perjalanan yang jauh dan boleh menembak untuk mendapatkan makanan halal. Penjelasan Meor Abdul Rahman itu memuaskan hati Tok Choh. Keesokannya mereka bertiga bertolak sambil ditemani oleh seorang guru agama bernama Haji Taib.
         Dalam perjalanan itu mereka berhenti di Kuah. Di kampung tersebut tidak kedapatan seorang pun bangsa Melayu. Kesemua penduduknya ialah Siam. Mereka menumpang rehat di rumah Lee Chon, Tok Batin di situ. Semasa tinggal di Kuah, Meor Abdul Rahman telah dijadikan sebagai anak angkat Lee Chon.

           Semasa di Kuah juga, Meor Abdul Rahman dicabar oleh pendekar?pendekar Tinju Siam untuk bertanding. Bagaimanapun, untuk mengelakkan perkara yang tidak diingini berlaku, beliau terpaksa menunjukkan kekuatannya mematahkan duit syiling dengan hanya menggunakan tiga jari sahaja, sebahagian duit syiling yang telah dipatahkan itu dihadiahkan kepada pencabarnya sebagai tanda persahabatan. Kebolehan istimewa Meor Abdul Rahman itu dengan secara spontan menundukkan para pencabar dan menyebabkan mereka mengaku kalah sebelum bertarung.
Setelah dua malam di rumah Lee Chon, mereka pun meneruskan perjalanan ke Mee Nam. Rumah penduduk Mee Nam berdindingkan kulit. Mereka yang berada berdindingkan kulit rusa manakala yang miskin berdindingkan kulit kayu. Meor Abdul Rahman menetap di rumah Tok Mek Jah yang dindingnya diperbuat daripada kulit rusa.
           Selepas tiga hari di rumah Tok Mek Jah, Meor Abdul Rahman mengambil keputusan untuk mandi bagi menyegarkan tubuhnya. Tok Mek Jah berpesan agar beliau berjalan ikut anak sungai sehingga melepasi rumah penduduk kampung tersebut.
         Setelah puas mandi, beliau terlelap di atas sebuah batu hampar yang besar berwarna hitam di tebing sebatang sungai. Dalam lelap, beliau telah bermimpi didatangi seorang tua berjubah putih. Apabila orang tua berjubah putih menghampirinya secara tiba?tiba ia menjelma sebagai seorang pemuda berbadan tegap dan sasa yang segak lagi tampan lengkap berpakaian hulubalang Melayu serta berkeris seperti zaman dahulu kala. Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai Dato' Hang Tuah lalu mencurahkan segala rahsia ilmu Seni Gayong kepada beliau dan akhirnya berkata,"Akulah Hulubalang Melaka yang tinggal di sini. Sekarang aku khatamkan kamu dan baliklah ke negeri Perak mengadap raja kamu sepertimana aku berkhidmat dengan Sultan Melaka. Kamu sekarang orang yang paling gagah selagi kamu mematuhi syarat dan berpegang kepada janji "Lembaga itu meneruskan kata?kata," Ngangakan mulut kamu ", lalu diludahkan ke dalam mulut Meor Abdul Rahman.
         Pada saat dan ketika inilah, Meor Abdul Rahman diamanahkan untuk mengajar Silat Seni Gayong kepada semua insan yang beragama Islam berdasarkan syarat?syarat dan adat?adat yang tertentu mengikut masa?masa yang tertentu. Batu hitam tempat beliau berbaring itu dipercayai tempat allahyarham Dato' Laksamana Hang Tuah pernah berpijak. Batu Hitam inilah yang dirujukkan oleh Panglima Hitam atau Tengku Daeng Kuning apabila beliau berseru,"Batu Hitam Tidak Berjodoh, Batu Hitam Tidak Bergadoh, Anak? anakku yang ingin belajar Gayong, Hendaklah berpakaian serba hitam ."Meor Abdul Rahman tertidur sehingga keesokan harinya. Setelah tersedar daripada tidur, beliau merasakan dirinya diresapi oleh kegagahan yang luar biasa. Perkara tersebut segera dimaklum kepada Pak Choh dan Tok Mek Jah. Meor Abdul Rahman dengan segera memohon keizinan keluarga angkatnya itu untuk berangkat pulang ke Taiping.
            Setibanya di Taiping, Mahaguru Meor Abdul Rahman menceritakan detik pengalaman tersebut kepada ahli keluarganya. Atas nasihat Syed Zainal, Mahaguru pergi mengadap Paduka Seri Sultan Alang Iskandar yang sedang bersemayam di Manong, Perak. Beliau dititah untuk menunjukkan kekuatan di hadapan baginda sultan. Pada sebelah malamnya, beliau dititahkan pula mempamerkan kebolehan luarbiasanya di Istana Iskandariah, Bukit Chandan, Kuala Kangsar. Setelah berpuashati dengan kegagahan Mahaguru, baginda sultan menggelarkan beliau 'Rahman Sendo' dan dijadikan anak angkat baginda. Mahaguru menetap bersama-sama Sultan Alang Iskandar di istana sehinggalah baginda mangkat dalam tahun 1938.
Silat Seni Gayong buat pertama kalinya diperkenalkan ialah di Taiping, Perak. Mahaguru menzahirkan ilmu pusaka dan amanah yang diterima dari allahyarham Dato' Laksamana Hang Tuah di kalangan ahli keluarga dan rakan terdekat.
         Tidak berapa lama setelah keluar dari Istana, mahaguru dijodohkan dengan Che Kalsom Bt Haji Kechik, anak angkat kandanya Hendon. Perkahwinan mereka dilangsungkan di Kota Sarang Semut, Kedah.
         Tidak lama selepas berkahwin, Mahaguru dengan ditemani seorang sepupunya, Zainal Abidin bin Putih Mohammed Saleh (Bidin) bermusafir ke Singapura untuk mencari rezeki di sana. Pekerjaan pertama Mahaguru di Singapura ialah di Naval Base sebagai seorang tukang pateri. Setelah 6 bulan bekerja di sana, beliau ditawar pekerjaan oleh Pengarah Pendidikan Singapura berkhidmat dengan pasukan tentera British di bahagian Royal Signal Corps.
           Setelah beliau berjaya menewaskan seorang jurulatih tempur berbangsa Hong Kong di Gillman Barrack, Mejar Malburn melantik beliau sebagai jurulatih tempur tanpa senjata dalam pasukan tentera British. Ini merupakan satu penghormatan besar kerana belum ada seorang Melayu pun diberi tugas tersebut sebelum itu. Beliau berkhidmat dalam pasukan ini sehingga tahun 1942.
           Semasa berkhidmat di Bahagian Signal Corps, pada bulan November 1941, beliau melangsungkan perkahwinan kedua dengan anak sepupunya, Paridah bt Yusope.
           Apabila Jepun menyerang Singapura pada bulan Februari 1942. Mahaguru membawa keluarganya berperahu menyeberangi lautan api ke Pulau Sudong. Setelah berjaya menewaskan Wak Kusang, pendekar Pulau Sudong baharulah mereka diterima berlindung buat sementara waktu di sana.
        Pada 17 haribulan Februari 1942 jam 2.00 petang, seramai 7 orang pemuda Pulau Sudong diperlimau sebagai murid Gayong. Mereka ialah Naning bin Ahmad, Ahmad Arshad bin Haji Hassan, Sabtu bin Likur, Yusof bin Rantau, Osman bin Timpong, Mustapha bin Bengkok dan Bendol bin Benggol. Mereka terpilih untuk menghadapi kemaraan tentera Jepun yang ingin merampas gadis Pulau Sudong untuk dijadikan pemuas nafsu ganas mereka. Atas kebijaksanaan Mahaguru, penduduk Pulau Sudong terselamat dari keganasan tentera Jepun.
        Semasa pendudukan Jepun di Tanah Melayu, Mahaguru pernah ditangkap kerana mencederakan sekumpulan tentera Jepun yang cuba memperkosa isteri pertamanya. Beliau kemudiannya dibebaskan setelah lebih sebulan dipenjara apabila sekumpulan pegawai penjara Jepun berjaya ditewaskannya dalam satu pergaduhan. Atas nasihat seorang jurubahasa Jepun, Mahaguru telah dibebaskan. Bagi menjamin keselamatan keluarga dan penduduk kampungnya, beliau terpaksa menerima tawaran bekerja sebagai seorang tentera Jepun. Tidak berapa lama kemudian, beliau berkahwin dengan Syarifah Rehan bt Syed Chik. Perkahwinan tersebut hanya berkekalan selama sebulan sahaja sebagai memenuhi hajat keluarga semata-mata.
        Setelah dua tahun berkhidmat dengan pentadbiran Jepun, Mahaguru kembali ke Pulau Sudong. Tidak berapa lama berada di Pulau Sudong, beliau dilantik menjadi penghulu oleh penduduk Pulau Sudong. Apabila British mengambilalih semula pemerintahan Singapura, Mahaguru dilantik secara rasmi sebagai Penghulu Besar Pulau Sudong dan kepulauan sekitarnya.
          Pulau Sudong dijadikan pusat perkembangan Silat Seni Gayong sehingga ia merebak ke pulau-pulau berhampiran seperti Pulau Seking, Pulau Bukum, Pulau Sebaruk, Pulau Sekijang, Pulau Sembilan, Pulau Semakom dan Pulau Damar. Mahaguru juga telah menggunakan Silat Seni Gayong untuk menyelamatkan penduduk Pulau Terung daripada ancaman lanun di perairan pulau tersebut. Dari pulau ini, Silat Seni Gayong tersebar ke lain-lain pulau di Indonesia.
Dalam tahun 1947, Kerajaan British menawarkannya jawatan sebagai pegawai di Jabatan Keselamatan Dalam Negeri Singapura. Mahaguru ditugaskan untuk mengawasi dan menangkap pemimpin politik Melayu yang meniupkan semangat anti-British. Peluang ini diambil oleh beliau untuk menyalur maklumat sulit kepada pejuang-pejuang kemerdekaan seperti (Tun) Sardon bin Jubir, peguam dan tokoh politik terkenal di Singapura.
         Setelah empat bulan di Jabatan Keselamatan Dalam Negeri, Mahaguru memohon bertukar ke Jabatan Siasatan Jenayah. Pada mulanya beliau ditempatkan di Bahagian Merinyu Timbangan untuk mencegah aktiviti penyeludupan dan penipuan. Kemudiannya beliau ditukarkan pula ke Bahagian Kepolisian di Balai Polis Central, Singapura sebagai seorang pegawai berpangkat sarjan. Pada 23 haribulan Disember 1947, Mahaguru dianugerahkan pingat King George IV atas sifat keberanian semasa berbakti kepada masyarakat dan kerajaan Singapura.
            Silat Seni Gayong mula berkembang di pulau besar Singapura pada akhir tahun 1949. 7 orang murid pertama yang menjalani upacara perlimau Tapak ialah Ahmad Sudi, Mansor bin Fadal, Ustaz Mansor, Sinwan, Joned bin Hanim, Hosni bin Ahmad dan Salim. Sinwan, Joned bin Hanim dan Salim merupakan anggota Jabatan Siasatan Jenayah Singapura yang terawal menjadi murid Gayong. Pusat Latihan Silat Seni Gayong dalam tahun 1950-an di pulau besar Singapura ialah di Bakar Sampah.
Dalam tahun 1954, kumpulan pertama wanita seramai 7 orang telah memasuki Silat Seni Gayong di Singapura. Mereka ialah Che Kalsom bte Haji Kechik, Paridah bte Yusope, Asmah (isteri Joned bin Hanim), Aisyah (isteri Mansor Fadal), Rafeah bin Fadal, Hendon dan Intan.
          Pada pertengahan tahun 1950-an, ramai bintang filem Melayu mempelajari Silat Seni Gayong. Antaranya ialah Jasni bin Ahmad, Neng Yatimah, Kasma Booty, dan A. Rahim. Penglibatan tokoh pelakon yang terkenal tersebut sedikit sebanyak membawa pengaruh Silat Seni Gayong di dalam aksi pertarungan filem-filem Melayu di Studio Jalan Ampas.
          Kemuncaknya dalam tahun 1956, Dato' Onn bin Jaafar, seorang tokoh politik dan pemimpin Melayu yang disegani telah menjadi murid Gayong. Beliau dilantik sebagai Penasihat Agung dan Waris Beradat Silat Seni Gayong. Dato' Onn banyak memberi idea dan sumbangan untuk menggerakkan Silat Seni Gayong dan meniupkan semangat patriotik di kalangan murid Gayong. Usaha beliau itu diberi sokongan kuat oleh isterinya, Datin Zainab dan anggota keluarganya yang lain termasuklah anaknya bernama Nasir dan Hussein. Husein kemudiannya menjadi Perdana Menteri Malaysia Kedua.
           Tidak lama kemudian, YAM Tengku Laksamana Kedah Tunku Kassim ibni Almarhum Sultan Abdul Hamid Halimshah menyertai Silat Seni Gayong. Pada akhir tahun 1956, satu rombangan Silat Seni Gayong dari Singapura yang dipimpin sendiri oleh mahaguru telah mengadakan persembahan di Istana Anak Bukit dan Kelab Sultan Abdul Hamid, Alor Setar, Kedah atas undangan Tunku Kassim. Pertunjukan tersebut telah disaksi oleh DYMM Sultan Badlishah Ibni Almarhum Sultan Abdul Hamid Halimsyah, Sultan Kedah Darul Aman. Ini merupakan cubaan pertama untuk mengembangkan sayap Silat Seni Gayong di Kedah.
Penglibatan Tunku Kassim dalam Silat Seni Gayong menjadi ikutan di kalangan kerabat Di-raja Kedah. Bagaimanapun, Silat Seni Gayong gagal berkembang di kalangan rakyat jelata memandangkan jurang taraf yang amat ketara pada ketika itu.
           Pada awal tahun 1959, sebuah akademi silat bernama Sekolah Gayong Woodlands atau Institute Of Gayong Woodlands telah ditubuh oleh mahaguru. Akademi ini mengeluarkan Sijil dan Diploma bagi mereka yang lulus dalam kursus-kursus yang ditawarkan. Antara tenaga pengajar di peringkat awal yang membantu mahaguru ialah Cikgu Nordin bin Abdul Rahman, Cikgu Sidek bin Shamsuddin, Cikgu Abdul Majid bin Omar, Cikgu Atan bin Osman dan Cikgu Ramli. Akademi ini juga dijadikan sebagai Pusat Latihan Tertinggi Silat Seni Gayong.
Mahaguru bersara daripada perkhidmatan kerajaan dalam tahun 1961 untuk bergiat cergas mengembangkan Silat Seni Gayong.
           Setelah mahaguru memikirkan bahawa beliau memerlukan seorang pembantu dalam mentadbir urusan kegurulatihan dan pelajaran Silat Seni Gayong, maka dalam tahun 1962, Cikgu Abdul Majid bin Mat Isa dilantik sebagai Guru Tertinggi Silat Seni Gayong merangkap Timbalan Pengarah Guru-guru di Malaysia dan Serantau.

Tidak lama kemudian, Pusat Latihan Tertinggi dipindahkan dari Woodlands ke Kota Sarang Semut, Kedah.
            Atas nasihat dan komitmen YM ( Dato' ) Syed Ahmad bin Syed Idris Jamalulail dan YB ( Dato' ) Senu bin Abdul Rahman, mahaguru mula didekati pemimpin negara dan perjuangan Silat Seni Gayong telah dilihat sebagai satu mekanisme yang boleh menyatupadukan bangsa Melayu dan orang-orang Islam.
Silat Seni Gayong mula tersebar luas di Semenanjung Tanah Melayu atas daya usaha guru-guru Gayong yang pada ketika itu terdiri daripada Cikgu Abdul Majid bin Mat Isa, Cikgu Ramli bin Mat Arof, Cikgu Awang bin Daud, Cikgu Ismail bin Chik, Cikgu Ibrahim bin Abdullah, Cikgu Mohd Khir bin Saad, Cikgu Mohd Desa Lim, Cikgu Ahmad Lazim dan Cikgu Siti Kalsom.
           Pada tanggal 31 haribulan Ogos 1967, Gayong dijemput menyertai perarakan sempena menyambut ulangtahun ke-10 kemerdekaan tanahair. Ini menandakan satu pengiktirafan pemimpin negara terhadap perjuangan dan usaha mahaguru untuk memartabatkan seni silat Melayu.
         Pada akhir tahun 1969, Mahaguru mula menetap di Air Kuning, Taiping. Seterusnya dalam masa ini juga, sistem tingkatan bengkong dan pelajaran Silat Seni Gayong secara lebih sistematik telah disusun oleh beliau dengan dibantu oleh guru-guru kanan. Tahap pelajaran telah disusun mengikut tingkatan bengkong yang dikategorikan mengikut warna. Sebelumnya hanya terdapat beberapa warna bengkong sahaja iaitu merah, kuning dan hitam.
         Dalam tahun 1970, Mahaguru mengikuti rombongan kebudayaan anjuran Kementerian Kebudayaan, Belia Dan Sukan Malaysia selama dua minggu ke Osaka, Jepun. Lawatan tersebut sedikit sebanyak telah berjaya memperkenalkan Silat Seni Gayong di peringkat dunia.
          Pada 27 haribulan Januari 1971, Pusat latihan Tertinggi Silat Seni Gayong Malaysia Dan Serantau telah dirasmikan oleh DYMM Sultan Idris Syah ibni Almarhum Sultan Alang Iskandar di Air Kuning, Taiping.
Kemuncaknya, pada 3 haribulan Julai 1971, Sultan Idris Syah berkenan untuk menjalani istiadat perlimau tapak dan menerima perlantikan baginda sebagai Penaung Agong Silat Seni Gayong Malaysia Dan Serantau bergelar Sang Sa Purba. Istiadat tersebut disempurnakan di Istana Iskandariah, Bukit Chandan, Kuala Kangsar.
            Pada 17 haribulan September 1971, beliau telah dianugerahkan Darjah Kebesaran Dato' Paduka Chura Si Manja Kini yang membawa gelaran Dato' Paduka oleh KDYMM Sultan Idris Syah atas jasa dan pengorbanan yang tidak ternilai kepada agama, bangsa dan negara. Pada sebelah petangnya murid-murid Gayong seluruh Malaysia telah menyambut perayaan Hari Sang Sa Purba yang pertama. Sambutan ini disempurnakan di Padang Sekolah Kebangsaan Changkat Larut, Ayer Kuning, Taiping. Kemasukan baginda Sultan Idris ke dalam Silat Seni Gayong telah disertai sama Raja Perempuan dan isteri-isteri baginda juga anggota kerabat yang lain.
           Pada tanggal 21 haribulan Julai 1971, Dato' Mahaguru ditemani Syed Ahmad Jamalulail dan Syed Jaafar Albar berangkat ke London untuk membawa pulang YAM Raja Kechil Bongsu Raja Izzuddin Syah ibni Sultan Idris Syah ke tanahair.
Semasa singgah di Hong Kong dalam perjalanan pulang ke Malaysia, mereka telah ditemui Bruce Lee, pakar seni beladiri terkenal. Dalam pertemuan singkat itu, Dato' Mahaguru sempat bertukar fikiran dan maklumat tentang seni beladiri Melayu dan Cina dengan Bruce Lee. Bruce Lee juga telah mengakui kehandalan Dato' Mahaguru dan kehebatan Silat Seni Gayong.
         Tahun 1970-an menyaksikan usaha penyatuan pemimpin tertinggi Melayu dan kerajaan melalui Silat Seni Gayong diusahakan oleh Dato' Mahaguru. Raja-raja dan para pembesar Melayu juga berkenan untuk menaungi pergerakan Silat Seni Gayong hampir di seluruh negeri Tanah Melayu. Pada satu ketika hampir 2/3 anggota kabinet negara Malaysia terdiri daripada ahli Gayong di bawah pimpinan Tun Abdul Razak.
Sehingga akhir tahun 1980-an, tidak kurang juga tokoh dan pakar senibela asing datang melawat Dato' Mahaguru di Pusat Latihan Tertinggi dengan tujuan berkenalan, menuntut atau menguji kehandalan masing-masing. Semua cubaan dan dugaan tersebut berjaya diatasi dengan baik dan berkesan. Tidak kurang juga daripada pelawat tersebut yang memeluk ajaran Islam setelah berpeluang bertemu dan berbincang dengan Dato' Mahaguru.
           Pada saat-saat akhir hayat beliau, Dato' Mahaguru sering berpesan agar murid-murid Gayong kembali bercantum dan bersatu-padu. Muda-mudi diseru menuntut bersungguh-sungguh ilmu yang telah diperturunkan kerana ia amat berguna pada suatu masa nanti. Semua murid Gayong ialah pemegang amanah Silat Seni Gayong dan bertanggungjawab memelihara dan menjaga segala amanah beliau.
            Pada tanggal 23 haribulan Jun 1991, Dato' Mahaguru telah kembali ke rahmatullah. Allahyarham menghembuskan nafas terakhir di Ipoh Specialist Centre, Jalan Lumba Kuda, Perak. Semoga Allah menempatkan Pendita Agung Silat Melayu Abad ke-20 di kalangan hamba-Nya yang soleh dan dirahmati. Al-Fatihah

 

 

 

 

silibus pelajaran

awan putih (sem 1)

Asas Elakan 1
    1. Tangkis Kuak Sisi Dalam
    2. Tangkis Bawah
    3. Tangkis Atas / Sangga Langit
    4. Kilas Dayung Tebar Jala
    5. Masuk Luar Tumbuk Pintal Tali
    6. Elak Dalam
    7. Juring Pelipat Balas Pancung

Buah Tapak Kunci Mati
    1. Kilas Sawa Berendam
    2. Kilas Payung / Patah Dayung Pikul Mayat / Pangku Mayat
    3. Kilas Sangga Maut/ Tali Gantung / Umpil Dayung Tali Gantung
    4. Kacip Emas / Kancing Emas
    5. Patah Dayung / Pasung Emas
    6. Cekak Banting (Kacip Emas) / Kacip Emas Cekak Banting
    7. Kacip Selak Emas / Selak Mati Kacip Emas / Kacip Emas Kilas Dayung

pelangi hijau (sem 2)

Asas Elakan 2
    1. Tolak Lintang Kiri
    2. Tolak Lintang Kanan
    3. Tebar Jala Kanan
    4. Rimbat Helang Kiri
    5. Rimbat Helang Kanan
    6. Jala Tebar Kanan
    7. Rimbat Relang Balas Juring Kiri

Buah Tapak Kunci Mati
    1. Kilas Sawa Berendam
    2. Kilas Payung / Patah Dayung Pikul Mayat / Pangku Mayat
    3. Kilas Sangga Maut / Tali Gantung / Umpil Dayung Tali Gantung
    4. Kacip Emas / Kancing Emas
    5. Patah Dayung / Pasung Emas
    6. Cekak Banting (Kacip Emas) / Kacip Emas Cekak Banting
    7. Kacip Selak Emas / Selak Mati Kacip Emas / Kacip Emas Kilas Dayung
    8. Pasung Cina
    9. Tali Gantung / Malaikul Maut
    10. Kilas Dayung Tali Gantung
    11. Selak Mati (Buaya Berendam) / Kilas Maut
    12. Kilas Tali / Patah Dayung Tali Gantung / Pasak Lintang
    13. Tolak Lintang (Kacip Emas) / Pasung Bumi
    14. Sekapur Sirih / Selak Dayung Buaya Berendam / Selak Mati
    15. Patah Layar Perahu Karam
    16. Patah Julang / Patah Dayung Perahu Karam / Patah Selak Dayung
    17. Patah Sangga / Selak Mati Patah Gelang Geta / Rangkam Dayung
    18. Kilas Biawak / Patah Dayung Selak Mati Buaya Berendam
    19. Sangga Kilas Patah Tebu / Patah Tebu Selak Dayung Kacip Emas / Umpil Maut
    20. Pasak Mati / Tembi Siku Pasung Emas Patah Dayung / Lintang Mayat
    21. Kilas Buaya Berendam / Kuda Gila Lipat Maut Buaya Berendam

pelangi merah (sem 3)

Serangan Harimau
    1. Patah Dayung Nasi Hangit
    2. Patah Dayung Kuda Gila
    3. (Tarian) Kuda Gila
    4. Humban Ketam Kawah Pecah
    5. Kipas Gayong Selak Gayong
    6. Jinjit Kuali Kawah Pecah / Pangku Mayat Pecah Kawah Hentak Kawah
    7. Kibas Gayong Pasak Gayong Selak Gayong
    8. Tembi Gayong Pasak Gayong Selak Gayong
    9. Lipat Gayong Pangku Kawah Pecah Kawah Kelek Kawah
    10. Kawah Sepit Pecah Tebu / Pangku Mayat Pancung Kawah Hentak Kawah
    11. Tendang Kuda Kawah Tiarap
    12. Tembi Kilas Pangku Mayat Kawah Pecah
    13. Gasing Emas Tiarap Kawah
    14. Panku Lutut Patah Tebu
    15. Pangku Mayat Pancung Kawah Hentak Kawah
    16. Pecah Kawah
    17. Pikul Kawah Buang Kawah
    18. Lambung Kawah Kawah Sepit Patah Tebu
    19. Pangku Lutut Patah Tebu
    20. Pulas Tebu Buang Kawah Jejak Tebu Patah Pucuk
    21. Tarian Kuda Gila

 

 

bengkung & sandang

Tahap Pencapaian Bengkong

Terdapat 5 warna tahap bengkong untuk Silat Seni Gayong Malaysia

Asas - Hitam Kosong

Awan Putih

Pelangi Hijau

Pelangi Merah

Pelangi Merah Chula 1 hingga 3

Pelangi Kuning

Pelangi Kuning Chula 1 hingga 5

Pelangi Hitam Harimau Chula Sakti 1 hingga 6

(Tahap Tertinggi Silat Gayong Terkini)

Pelangi Hitam Harimau Chula Sakti 7

(Milik Kekal Allahyarham Mahaguru Dato' Meor Abdul Rahman)

 

 

SANDANG KEBESARAN SILAT SENI GAYONG


 


Sandang kebesaran ini adalah hak progatif (istimewa) Dato' Mahaguru. Selepas pemergiannya, kuasa untuk menganugerahkan sandang kebesaran ini terletak kepada Lembaga Waris Amanah.


Sandang kebesaran ini dianugerahkan kepada individu tertentu mengikut kategorinya. Kategori sandang kebesaran terbahagi kepada:


   1. Sandang Mahaguru


   2. Sandang Protokol


   3. Sandang Berjawatan


   4. Sandang Kegurulatihan


   5. Sandang Kehormat


   6. Sandang Khas


 


Sandang Mahaguru


Sandang ini hanya layak dimiliki oleh Allahyarham Dato' Mahaguru Meor Abdul Rahman bin Daeng Uda Mohd. Hashim selaku Pewaris Agung Gayong.


 


Sandang Protokol


Sandang ini dianugerahkan kepada KDYMM Raja-raja Melayu dan pemimpin-pemimpin negara atau negeri yang menerima perlantikan dalam jawatan protokol Lembaga Beradat Kebangsaan.


 


Sandang Berjawatan


Sandang ini dianugerahkan kepada ahli Gayong yang diamanahkan menduduki jawatan samada dalam ahli eksekutif atau ahli Jawatakuasa Agung Lembaga Beradat Kebangsaan, ahli jawatankuasa Lembaga Beradat Negeri dan ahli Majlis Teringgi Gurulatih.


 


Sandang Kegurulatihan


Sandang ini dianugerahkan kepada guru atau jurulatih Gayong yang mencapai tahap pelajaran dan kebolehan tertentu.


 


Sandang Kehormat


Sandang ini dianugerahkan kepada ahli Gayong atau individu tertentu sebagai satu penghargaan atas jasa atau sumbangan mereka kepada pembangunan negara dan Silat Seni Gayong.


 


Sandang Khas


Sandang ini adalah sandang peribadi yang dianugerahkan kepada pemimpin negara dan murid atau guru Gayong yang mempunyai kebolehan khas tertentu. Corak sandang ini bergantung kepada pemakainya.

  1. Harimau Singa Berantai
  2. Kuda Gila
  3. Singa Berantai
  4. Naga Bora
  5. Harimau Berantai
  6. Lipan Bara
  7. Kumbang Hitam

Peruntukan Khas

Mana-mana sandang yang ingin ditauliahkan kepada individu yang layak boleh disyorkan oleh Majlis atau Jawatankuasa berkenaan tetapi tiada Sandang Berjawatan Peringkat Kebangsaan, Sandang Kegurulatihan, Sandang Kehormat dan Sandang Khas boleh ditauliahkan tanpa mendapat kelulusan Waris Amanah Mahaguru atau Lembaga Waris Amanah terlebih dahulu.

 

 

 

 

 

 

 

BUKA ADAT & GELANGGANG

 

Latihan dimulakan dengan adat membuka gelanggang dan diakhiri adat penutupan gelanggang.

Upacara ini disempurnakan dengan membaca ayat-ayat

      berikut:

        Surah Al-Fatihah (1 kali)

        Surah Al-Ikhlas (11 kali)

        Selawat ke atas Junjungan Besar Nabi Muhammad s.a.w. (3 kali)

 Berdoa semoga dijauhkan segala bahaya dan niat khianat iblis, jin,  manusia dan binatang serta memohon diberkati pelajaran yang dituntut. Doa kesyukuran kerana latihan ditamatkan dengan baik daripada mula hingga akhir dan semoga mendapat keredhaan serta rahmat Allah s.w.t.

        Jika ada berkat doa dan bacaan-bacaan yang dibacakan, ianya dihadiahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w., sekelian Rasulullah, nabi-nabi, wali-wali, al-marhum Dato' Mahaguru serta zuriatnya, kedua-dua ibu bapa, kaum kerabat murid Gayong serta seluruh murid dan ahli Gayong yang telah meninggal dunia baru atau lama.

 

      Jika sekiranya hari latihan jatuh pada malam atau hari Jumaat, jumlah  bacaan Al-Fatihah akan ditambah menjadi 7 kali, Al-Ikhlas sebanyak 33 kali dan Selawat ke atas junjungan besar Rasulullah s.a.w. sebanyak 11 kali.

 

 

 

 

 

Seni Pertunjukan Palebat

Seni Pertunjukan Palebat Tari pelebat ini merupakan tari pedang yang mengambarkan semangat ketangkasan, kecekatan rayat Aceh Tenggara dala...