Home

Selasa, 04 Agustus 2026

Tharikat Samaniyah

 

Tharikat Samaniyah



Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur

Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010

Oleh : Apria Putra

1. Pendahuluan

Masuknya Islam ke Minangkabau, umumnya ke nusantara, tak terpungkiri diwarnai oleh unsur-unsur Tasawwuf yang sangat kental. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang pernah hadir menyebarkan Islam di Pulau perca ini merupakan ulama-ulama Sufi belaka. Memang sejarah tidak mencatat bagaimana aktifitas ulama-ulama tersebut ketika bermukim di negeri ini ketika awal penyebaran Islam di abad ke VII masehi tersebut. Namun fakta yang nyata kita peroleh ketika tertulisnya nama-nama besar ulama mulai dari abad ke-XV dalam sejarah, yang mana ulama-ulama tersebut terbilang sebagai ulama-ulama Sufi terkemuka.

Menurut keterangan Syekh Yusuf an-Nabhani mengutip kepada Ibnu Batutah dalam Tuhfatun Nazhar-nya, diabad-abad tersebut telah ada ulama Tasawwuf yang besar di negeri Aden (Yaman), mempunyai keramat yang masyhur sampai dikatakan beliau – ulama tersebut mampu bercakap-cakap dengan orang yang telah wafat , dan diakhir nama ulama tersebut tertulis “al-Jawi”, indikasi yang nyata bahwa beliau merupakan orang Melayu. Masa tersebut pula nama-nama Waliyullah yang sembilan orang di negeri Jawa, Wali Songo, yang merupakan penyebar-penyebar Islam dengan Tasawwuf tingkat tinggi, sebagai halnya tertulis dalam Primbon-primbon tua itu. Tak pula asing nama-nama seperti Hamzah Fansuri, pengarang sya’ir mistik Melayu yang indah menawan; Syamsuddin Sumatrani, sufi penganut martabat lima yang menjadi penasehat raja Aceh kala itu; Syekh Nuruddin ar-Raniri, ulama Ranir (India) yang memapankan karirnya di Aceh sebagai penolak wujudiyah; Syekh Abdurra’uf Singkel Syiah Kuala, ulama besar yang masyhur terbilang; dan yang fenomenal Tuan yang mulia Abu Muhassin Syekh Yusuf Tajul Khalwati Tuanta Samalaka ri Goa (Mahkota Tharikat Khalwatiyah - Tuan guru yang agung dari Goa), berpuluh tahun menuntut ilmu di Mekkah belajar berbagai Tharikat sekaligus berjuang di tanah air hingga wafat di Tanjung Harapan – Afrika Selatan.
Sedang di Minangkabau sendiri, negeri yang masyhur dengan ulama-ulamanya, tersebut pula nama besar Syekh Burhanuddin Ulakan, sudah ratusan tahun lalu meninggal dunia, namun tak henti-hentinya orang berziarah ke makamnya (bershafar) sebagai bukti pengaruh beliau yang tiadakan pudar sama sekali. Tersebut pula Tuan Syekh Keramat – Taram Payakumbuh, masyhur bertuah, disebut sebagai teman seperjanan Syekh Abdurra’uf Singkel ketika mengaji di Madinah kepada Tuan Syekh Ahmad Qusyasi. Di aliran sungai Kampar, terdapat pula makam Syekh Burhanuddin Kuntu, yang terus diziarahi masyarakat banyak hingga sekarang. Kemudian terkemuka nama-nama besar di abad ke XVIII hingga abad XX, seperti Syekh Maoelana Soefi (1738-1818), Syekh Abdurrahman “Beliau Batu Hampar” Payakumbuh (w. 1899 – usia 120 th), Syekh Muhammad Thahir Barulak, Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan (w. 1914 – usia 150 th), Syekh Abdul Ghani Batu Bersurat (w. 1961 – usia 150 th), Syekh Ja’far Kampar dan lain-lainnya.

Berbicara mengenai Tasawwuf, maka kita tidak akan terlepas dari membicarakan Tarikat, karena Tarikat merupakan suatu kearifan ber-Tasawwuf, ibaratkan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Besarnya pengaruh Syekh-syekh Tasawwuf terkemuka tersebut, sehingga dikatakan oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi ketika membahas Tharikat dalam Izhar-nya bahwa Tarikat itu telah menjadi pakaian di negeri Minangkabau. Begitu pula laporan seorang petinggi Belanda saat itu, K. F. Holle, yang mengkhawatirkan kebangkitan Tarikat yang begitu pesat yang berpotensi menggeser kedudukan Belanda. Salah satu Tarikat terkemuka yang masih terlihat kabur dalam catatan-catatan yang ada ialah Tarikat Samaniyah. Sebuah Tarikat yang cukup berjasa ketika perlawanan dengan Belanda, bahkan menurut salah satu sumber merupakan salah satu Tarikat yang mula-mula masuk ke Indonesia dan memperoleh pengikut besar di bumi nusantara ini. Maka di sini kita akan melihat sekilas mengenai tokoh dan Literatur Tarikat Samaniyah di Minangkabau, negeri gudangnya ulama-ulama Tasawwuf itu.


2. Akar Samaniyah : Dari Perjalanan murid-murid Jawi ke Haramain hingga aktifitas Surau-surau Sufi di Minangkabau


Hingga beberapa dekade awal abad ke XX, Mekah merupakan tempat yang ramai dikunjungi untuk menuntut ilmu, selain untuk berhaji. Zawiyah-zawiyah termayhur banyak berdiri disekitar Mesjidil Haram, para Syekh-syekh ternama banyak yang membuka pengajian di kawasan Mesjid sendiri. Sehingga Mekah sejak dahulunya menjadi pusat ibadah dan ilmu pengetahuan, malah mungkin lebih dikenal ketimbang al-Azhar. Al-Haramain merupakan tempat berkumpulnya kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, beberapa banyak ulama-ulama yang datang ke Mekkah buat mengajar sekaligus memperoleh barokah di kota suci tersebut. Banyak dari kalangan muslim yang mengidolakan Mekah untuk tempat menuntut ilmu, walaupun hanya beberapa waktu saja, mengambil berkah istilahnya. Adapula yang hidup menahun di sana, memenuhi dada dengan ilmu, kemudian pulang dengan membawa berbagai ijazah tanda telah diakui keulamaannya. Hingga muncul pameo ditengah-tengah masyarakat, kalau belum mengaji ke Mekah, ilmunya belum sempurna, keulamaannya belum sah. Begitulah posisi Mekah bagi kalangan penuntut ilmu dan Muslim umumnya.
Dengan mengunjungi berbagai halaqah dan Zawiyah Sufi di Mekkah saat itu, yang banyaknya menjamur seantero tanah haram, para penuntut ilmu akan dihidangkan dengan berbagai ilmu pengetahuan agama, dari berbagai Mazhab, berbagai ulama dengan bidang keilmuannya masing-masing (takhussus) dan dari berbagai penjuru dunia. Sehingga dapat dikatakan mereka –para penuntut ilmu itu- telah bersinggungan dengan Jaringan Ulama Internasional, dengan pusatnya kala itu ialah Mekkah dan Madinah.
Posisi mereka setelah pulang ke kampung halamannya –Minangkabau- menjadi ulama terkemuka, dan ilmu yang mereka bawa pulang, tersimpan dalam sudur, bukan sekedar ilmu yang di dapat lingkungan bawah, kalangan lokal, lebih dari itu ilmu yang mereka peroleh ialah pengetahuan agama yang kosmopolitan sebagaimana jaringan global yang mereka bentuk ketika menuntut ilmu dari berbagai Syekh terkemuka di Haramain. Di samping itu, keilmuan mereka mencapai keotentikan yang bisa diuji, lewat sanad keilmuan dari para musnid, ulama-ulama besar di Mekkah dan Madinah. Dengannya mata rantai keilmuan itu bersambung (musalsil), tiada terputus (munqathi’), sampai kepada tokoh-tokoh ulama salaf yang shaleh, hingga sampai kepada Rasulullah.

Sudah menjadi tradisi tersendiri di Minangkabau, apabila ada seorang siak yang telah alim, apatah lagi yang telah pula menimba ilmu di Mekkah dan mendapat ijazah, maka masyarakat atau kaum sukunya akan bergotongroyong membuatkan surau buatnya untuk mengajar agama. Sampai beberapa dekade awal abad ke-20 tradisi itu masih berlaku. Hingga terkemukalah Minangkabau menjadi gudang ulama, setiap kampung dan pelosok-pelosok negeri mesti berdiri sebuah surau atau lebih, dengan berdirinya surau itu sendiri maka mesti ada ulama di daerah itu.

Di Mekkah sendiri, selain mempelajari hal ihwal syari’at sedalam-dalamnya, dengan berkhitmat kepada syekh-syekh terkemuka tersebut, adalah murid-murid Jawi juga memprioritaskan untuk mengikuti pondok-pondok sufi (zawiyah) yang ramai bertebaran di Haramain. Aktifitas mereka di pondok sufi itu belajar Tasawwuf, terutama sekali mengambil bai’at dan bersuluk dalam salah satu Tarikat mu’tabarah. Dan salah satu Tarikat yang digemari pada abad XVII dan XVIII itu ialah Tarikat Samaniyah, yaitu Tarikat yang dikembangkan oleh seorang Sufi masyhur, ulama selaku penjaga Makam Rasulullah di Madinah, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim Saman (1719-1770).
Mengenai pribadi Syekh Muhammad Saman sendiri, beliau merupakan seorang tokoh Sufi terkemuka di Abad XVIII, bahkan dikatakan bahwa Beliau merupakan Qutub Auliya’ (Pusaran Wali-wali) yang tersirat dalam berbagai kisah-kisah kekeramatan yang banyak tertulis dalam Hikayat Muhammad Saman. Syekh Saman mempelajari berbagai Tarikat kepada Syekh-syekh besar di zamannya. Selain sebagai Syekh Tarikat yang berpengaruh, beliau juga dikenal ‘alim dalam fiqih yang dipelajarinya dari lima ulama Fiqih terkemuka yaitu Muhammad ad-Daqaq, Sayyid ‘Ali al-Atthar, ‘Ali al-Kurdi, ‘Abdul Wahab al-Thantawi dan Sayyid Hilal al-Makki. Di bidang Tasawwuf dan Tauhid, guru Syekh Saman yang paling mengesankan adalah Mustafa bin Kamaluddin al-Bakri (w. 1749), seorang penulis produktif dan Syekh Tharikat Khalwatiyah dari Damaskus. Selain itu as-Samani juga pernah belajar Tharikat Khalwatiyah kepada dua orang syekh terkemuka di Mesir, yaitu Muhammad bin Salim al-Hifnawi dan Mahmud al-Kurdi. Syekh lain yang sangat berpengaruh terhadap ajaran dan praktek-praktek Syekh Saman ialah Syekh Abdul Karim an-Nablusi (w. 1731) , seorang Syekh Besar Naqsyabandiyah dan pembela jitu Ibnu al-‘Arabi dan al-Jili. Dari berbagai syekh terkemuka yang pernah menjadi gurunya, maka Syekh Muhammad Saman setidak telah mengambil 4 macam Tarikat, yaitu Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah dan Syadziliyah. Dari berbagai teknik-teknik Tarikat inilah Syekh Muhammad Saman merumuskan sebuah metode Zikir, yang kemudian hari dikenal dengan Tarikat Saman, atau Tarikat Samaniyah.

Selain ulama terkemuka, Syekh Saman juga menjabat posisi penting di Madinah selaku penjaga Makam Rasulullah. Hal ini paling tidak telah membuat Syekh Saman untuk lebih leluasa mengajarkan Tarikat Saman-nya, karena setiap waktu beliau akan dikunjungi oleh berbagai tamu dari berbagai penjuru dunia jika akan menziarahi Makam Rasulullah. Maka tidak mengherankan bila dalam waktu singkat, Syekh Saman telah memiliki murid-murid dari berbagai benua; dari Maghrib, Afrika Timur sampai ke India dan Nusantara. Di berbagai kota di Hijaz dan Yaman berdirilah Zawiyah Samaniyah. Tak terpungkiri dengan posisi dan dedikasi Syekh Muhammad Saman yang sedemikian rupanya telah menarik beberapa murid jawi untuk mengambil ilmu dan berba’iat kepadanya, seperti salah seorang yang sangat terkemuka dan menjadi ulama serta tenar namanya lewat karya monumentalnya Siyarus Salikin ialah Arif billah Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (abad 18), melalui ulama yang satu ini kita memperoleh gambaran terbaik tentang ajaran Syekh Saman dalam bahasa Melayu.

Di dalam Sairus Salikin ila Tariq Saadat Sufiyah disebutkan silsilah Tarikat Samaniyah dari Syekh Abdus Shamad al-Falimbani sebagai Berikut:
1. Syekh Abdus Shamad al-Jawi al-Falimbani, mengambil dari:
2. Sayyidi Syekh Muhammad bin Abdul Karim Saman al-Qadiri al-Khalwati al-Madani, mengambil dari:
3. Sayyidi Bakri, mengambil dari:
4. Syekh Abdul Latief, mengambil dari:
5. Syekh Mustafa Afandi al-Adarnawi, mengambil dari:
6. Syekh ‘Ali Afandi Qurabas, mengambil dari:
7. Syekh Isma’il al-Jarawi, mengambil dari:
8. Sayyidi Muhyiddin al-Qisthani, mengambil dari:
9. Syekh Sya’ban Afandi al-Qisthamuni, mengambil dari:
10. Syekh Halabi Sultanul Qura’ (Jamal Khalwati), mengambil dari:
11. Bir Muhammad Azibkhani, mengambil dari:
12. Syekh Abu Zakaria as-Syiruwani al-Bakuni, mengambil dari:
13. Bir Ashdaruddin, mengambil dari:
14. Syekh Izzuddin, mengambil dari:
15. Syekh Muhammad Mir Khalwati, mengambil dari:
16. Akha Muhammad al-Balisi, mengambil dari:
17. Syekh Abi Ishaq Ibrahim az-Zahid al-Bukalani, mengambil dari:
18. Syekh Jamal al-Ahuri, mengambil dari:
19. Syekh Syihabuddin at-Tibrisi, mengambil dari:
20. Syekh Rukanuddin Muhammad Nahas, mengambil dari:
21. Quthbuddin Abhari, mengambil dari:
22. Syekh Abi Najib As-Syuhuwardi, mengambil dari:
23. Syekh Umar al-Bakri, mengambil dari:
24. Syekh Wajihuddin al-Qaqithi, mengambil dari:
25. Syekh Muhammad al-Bakri, mengambil dari:
26. Syekh Muhammad ad-Dinuri, mengambil dari:
27. Sayyidi Mumsad ad-Dinuri, mengambil dari:
28. Sayyidi Junaid al-Baghdadi, mengambil dari:
29. Sayyidi Sirri Siqthi, mengambil dari:
30. Sayyidi Ma’ruf al-Kharkhi, mengambil dari:
31. Sayyidi Daud ath-Tha’i, mengambil dari:
32. Sayyidi Habibul ‘Ajami, mengambil dari:
33. Sayyidi Hasan al-Bashri, mengambil dari:
34. Amirul Mu’minin Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib KW, mengambil dari:
35. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitulah halnya murid-murid jawi. Niscaya sebahagian murid-murid ini sesampainya di nusantara membuka pula pengajian untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah sekian lama diperoleh di Haramain, tak terkecuali Tharikat Samaniyah, yang kala itu hanya dikenal dengan nama Zikir Samman saja. Tharikat Saman setelah itu sangat populer di tengah-tengah masyarakat. Sampai-sampai ketika masuknya penjajah ke nusantara, maka sebahagian para pejuang yang mencoba mengusir bangsa eropa itu ialah para ahli Tharikat Samman, sebagaihalnya yang diceritakan dalam Sya’ir Perang Menteng. Salah satu kutipan isinya yaitu:

Delapan Belas harinya sabtu
Bulan Sya’ban ketika waktu
Pukul empat jamnya itu
Haji berzikir di pememarakat tentu

Haji zikir di pengadapan
Berkampung bagai mengadap ayapan
Tidaklah ada malu dan sopan
Ratib berdiri berhadapan

La ilaha illallah dipalukan ke kiri
Kepada hati nama sanubari
Datanglah opsir meriksa berdiri
Haji berangkat opsirpun lari

Di Minangkabau sendiri, Tharikat Samaniyah sendiri telah menampakkan dirinya sejak awal abad ke-19. menurut catatan yang ada, salah seorang ulama yang mengembangkannya ialah Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus Pasaman , guru dari yang mulia Syekh Ibrahim Kumpulan. Lewat ulama-ulama dan surau-surau sufi setelah itu Tarikat Samaniyah berkembang pesat. Kehadiran Tarikat Saman semakin terlihat dengan tampilnya Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, seorang ulama masyhur yang disegani kala itu. Dengan surau Kumango beliau mengajarkan Tarikat Saman dan salah satu teknik silat tradisional Minangkabau kepada murid-muridnya yang banyak datang dari segenap penjuru Minangkabau. Menurut cacatan M. Sanusi Latief, pusat-pusat Tarikat Samaniyah di Minangkabau antara lain:

1) Kumango, Batu Sangkar
2) Belubus
3) Labuah Gunuang, Tuanku Mudo Josan
4) Ateh Aka, Payo Basuang
5) Tarantang
6) Batu Tanyoh
7) Mungka
8) Lubuk Bangku, Sarilamak
9) Aia Putiah, Harau
10) Barulak, Salimpauang
11) Sungai Patai, Sungayang
12) Koto Panjang Lampasi
13) Salido, Painan
14) Padang Bubus, Bonjol
15) Kampung Melayu, Bayang
16) Bungo Pasang, Salido Kaciak, Painan
Dari aktifitas-aktifitas surau Tarikat itulah nantinya terbentuk jaringan guru-murid, yang memperkuat penyebaran Tarikat-tarikat di Minangkabau, begitupula Tarikat Samaniyah.

3. Melirik Jaringan Tarikat Samaniyah di Minangkabau : Sekilas mengenai Ulama Saman dan koneksi keilmuannya

Setiap ilmu mesti pula ada mata rantai yang saling berhubungan. Jika berbica mengenai mata rantai keilmuan itu maka kita tidak akan terlepas dari hubungan istimewa antara guru dan murid, bahkan karena sakin istimewanya hubungan ini tidak pisah terputus sama sekali, walaupun murid atau guru itu telah wafat. Salah satu sebab hubungan guru murid ini takkan terputus ialah karena hubungan ini dibentuk oleh ikatan rohani yang sangat kuat. Begitulah halnya yang berlaku dalam transmisi keilmuan islam sejak dahulunya, di mana murid-murid akan benar-benar menjaga isnad ilmu yang diperolehnya dari guru-gurunya itu. Namun akhir-akhir ini, zaman modern dikatakan orang, perhatian penuntut ilmu tidak lagi mementingkan hal tersebut. Salah satu keilmuan yang masih mempertahankan isnad (mata rantai) itu hingga sekarang ialah ilmu Tarikat sebagai sebuah kearifan bertasawwuf. Di mana melalui isnad atau silsilah inilah nantinya kita akan menemui jaringan keilmuan islam yang kompleks dan saling berkait.

Dalam hal Tarikat, yaitu Tarikat Samaniyah di Minangkabau yang kita bicarakan saat ini, untuk mengetahui jaringan keilmuannya mestilah kita mengenal tokoh-tokoh terkemuka dalam mengembangkan ajaran Samman di tanah Andalas ini. Di antara tokoh-tokoh Tarikat Samaniyah yang masyhur di Minangkabau itu ialah:

1. Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango (wafat 1927)

Beliau diimasyhurkan orang dengan “Beliau Kumango”. Beliau dikenal sebagai pembawa Tharikat Saman, walaupun sebelum masanya telah ada indikasi bahwa Samaniyah telah berkembang, namun dimasa “Beliau Kumango” inilah Tharikat Samaniyah mencapai kejayaannya, Samaniyah sering dipesertakan dengan pengajaran Tharikat Naqsyabandiyah. Ayah dari “Beliau Kumango” ini juga terkemuka alim, namanya Khatib ‘Alim Kumango.

Nama besar “Beliau Kumango” selain dalam bidang Tharikat Samaniyah, Beliau juga merupakan guru besar sekaligus pencipta Silat Tharikat “Silek Kumango”, silat terkemuka di Minangkabau. Perjalanan menuntut ilmu “Beliau Kumango” terlihat unik, pada mulanya beliau adalah parewa, dan akhirnya menjadi Syekh Besar dan Ulama yang dihormati.

Beliau mengambil Tharikat Samaniyah di Madinah, kepada Syekh Muhammad Ridhwan al-Madani. Murid-murid Beliau “Syekh Kumango” inilah yang memainkan peranan penting menyebarkan Tharikat Samaniyah di Dataran tinggi Minangkabau. Namun tak banyak ditemui cacatan perihal nama murid-murid Beliau ini.

Garis silsilah Tarikat Saman yang Beliau ajarkan ialah:
1) Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, mengambil dari:
2) Sayyidina Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Madinah, mengambil dari:
3) Sayyidina Abu Hasan, mengambil dari:
4) Syekh Hasib, mengambil dari:
5) Syekh Muhammad Saman al-Madani al-Khalwati, mengambil dari:
6) Arif Billah Sayyidi Muftafa Bakri, mengambil dari:
7) Al-Imam Syekh Abdul Latif, mengambil dari:
8) Syekh Muftafa Afandi, mengambil dari:
9) Syekh Ismail al-Jarawi, mengambil dari:
10) Sayyidi Muhammad ad-Din al-Qisthamuni, mengambil dari:
11) Syekh Sya’ban Afandi al-Qisthamuni, mengambil dari:
12) Al-Masyhur Jamal Khalwati, mengambil dari:
13) Bir Muhammad an-Nakhari, mengambil dari:
14) Syekh Abu Zakariya al-Syiruni, mengambil dari:
15) Bir Sadhruddin, mengambil dari:
16) Amir Khalwati, mengambil dari:
17) Akha Muhammad al-Basi, mengambil dari:
18) Syekh Abil Haq Ibrahim al-Kilani, mengambil dari:
19) Syekh Jamaluddin al-Haruwi, mengambil dari:
20) Syihabuddin at-Tibriri, mengambil dari:
21) Rakanuddin Muhammad an-Najasi, mengambil dari:
22) Qathbuddin al-Abhuri, mengambil dari:
23) Syekh Najib as-Suhrudi, mengambil dari:
24) Umar al-Bakri, mengambil dari:
25) Syekh Wajhuddin al-Qith’i, mengambil dari:
26) Syekh Muhammad al-Bakri, mengambil dari:
27) Syekh ad-Dinuri, mengambil dari:
28) Sayyid Junaid al-Baghdadi, mengambil dari:
29) Sayyid Sirri Siqthi, mengambil dari:
30) Sayyidi Ma’ruf al-Kharki, mengambil dari:
31) Sayyid Daud ath-Tha’i, mengambil dari:
32) Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengambil dari:
33) Rasulullah Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Syekh Muhammad 'Arief Sampu (Syekh Sampu), Solok Selatan. (w. 1960)

Dalam sebuah catatan muridnya Mahyunar Malin Bagindo, beliau, Syekh Sampu mengambil tarekat Samaniyah di Madinah. Setelah mengambil ilmu Tarekat Samaniyah, beliau kembali ke kampung halamannya dan membuka pengajian serta mengajarkan ilmu Tarekat. Tepatnya di Rantau Dua Belas Koto, Sangir, Solok Selatan. Beliau mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam mengembangkan ilmu agama. setelah beliau berpulang ke Rahmatullah, murid-murid beliaulah yang memainkan peran besar dalam melanjutkan keilmuan Islam, termasuk tarekat. Murid-muridnya dikenal kuat memegang teguh Ahlus Sunnah wa Jama'ah, berjalan dengan menapaki ulama-ulama saleh di masa silam. Alhamdulillah, al-faqir (penulis) telah menziarahi makam beliau di Solok, dan telah pula menyaksikan bekas pengaruh ulama besar ini, meski telah berpuluh tahun beliau wafat.

3. Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (wafat 1957)

Beliau masyhur terbilang ulama atas jalur Tasawwuf yang besar, teman pula bagi tokoh ulama dari kaum Tua Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Pernah mengikuti pertemuan Syekh-syekh Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi tahun 1954. Beliau sangat terkemuka di Luak nan Bonsu Luak Limapuluh kota. Perjalanan menuntut Tasawwuf dijalaninya semasa masih belia, beliau pernah mengaji kepada Tuan Syekh Abdurrahman Batu Hampar (wafat 1899) yang terkenal itu. Dari Syekh Batu Hamparlah Beliau menerima kaji Naqsyabandiyah sampai memperoleh gelar “Syekh Mudo” sebagai prestasinya dibidang Tharikat. Kemudian secara berturut-turut belajar Tasawwuf atas jalur Naqsyabandiyah di-6 tempat terkenal, di antaranya di Kumpulan, yakninya kepada yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan; Padang Bubus Bonjol; Padang Kandih; Simabur; Kumango dan lainnya. Di Kumangolah beliau menerima Tharikat Samaniyah. Muridnya sangat banyak dan umumnya menjadi ulama terkemuka.

4. Tuan Syekh Beringin (wafat pertengahan abad XX)

Beliau berasal dari Durian Gadang, Luak Limapuluh kota. Beliau salah satu di antara murid Syekh Mudo Abdul Qadim yang terkemuka, dari segi keilmuan dan kekeramatan. Paruh kedua hidupnya beliau menetap di Deli, Sumut. Beliaupun terkenal sebagai pejuang di zaman Jepang, ketika tentara Jepang mengepungnya di Surau Suluk Tebing Tinggi Deli, tiba-tiba saja hamparan halaman dan surau itu berubah menjadi danau, sehingga tentara Jepang itu pulang saja dengan tangan hampa.

5. Syekh Ibrahim Bonjol (masih hidup sampai era-80-an)
Beliau berasal Bonjol-Pasaman. Beliau merupakan khalifah Syekh Belubus yang cukup prestisius. Beliau memiliki komplek belajar Tharikat yang cukup makmur di Medan, diberinya nama “Baitul Ibadah”. Salah seorang khalifahnya juga terkemuka di Jakarta.

Foto : Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai

6. Khalifah Rajab Batu Bajarang Solok

Eksistensinya mengajar Tharikat Saman merupakan indikasi dari sebuah buku bertuliskan tangan beliau: Kitab Segala Rahasia yang halus-halus. Beliau pernah berguru kepada Syekh Muhammad Nur Qadhi Langkat di Sumut (asal Muara Labuh, Solok). Kemudian berguru secara khusus kepada yang Mulia Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi Rokan, akhirnya menerima gelar Khalifah dan mengajar di Batu Bajarang, dengan surau yang cukup besar.

7. Syekh Haji Mahmud Abdullah “Beliau Tarantang” (w. 1986)

Beliau ulama terkemuka di Tarantang, Harau, Luak Limapuluh kota. Dalam hal Tarikat Beliau mengambil dari Syekh Yahya Magek (guru Syekh Sulaiman ar-Rasuli). Selain alim dalam kitab-kitab Kuning dan Tarikat, beliau juga masyhur pandeka. Murid-murid beliau juga banyak, yang setiap tahunnya mengadakan pertemuan besar dalam acara Penutupan Khalwat dengan mengundang pejabat-pejabat limapuluh kota.

8. Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah (w. 1989)

Beliau masyhur di Luak nan Bungsu selaku ulama. Beliau mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Batu Tanyoh sebagai wadah mengajarkan ilmu-ilmu islam. Pada usia mudanya mengaji kepada Syekh Ibrahim Harun Tiakar, dan secara khusus belajar Tarikat kepada Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus. Selain Samaniyah, beliau juga merupakan Syekh Naqsyabandiyah yang kuat memegang prinsip. salah satu karangannya ialah kitab Izzatul Qulub bima ja’a bihin Naqsyabandiyah. Murid-muridnya banyak, sampai saat ini dimasa kepemimpinan anaknya Buya Zed Dt. Bungkuak. Bahka sebahagian orang-orang yang bersuluk berasal dari Banten.

4. Tarikat Samaniyah dalam Literatur keagamaan di Minangkabau


Sampai saat ini hanya sedikit referensi Tharikat Saman yang kita temui, ataukah banyak diantara naskah-naskah itu yang tak sampai ke tangan kita. Mengenai Manaqib Saman, begitu pula Ratib Saman belum lagi diperoleh keberadaannya di Minangkabau, ada indikasi dulunya Ratib Saman berkembang luas mengingat penuturan oral orang tua-tua dulu ada orang yang berzikir sambil berdiri. Tapi untuk Palembang naskah Manaqib Saman sangat populer. Hingga saat ini beberapa Literatur yang khusus berbicara Samaniyah, yang dapat ditulis di sini yaitu:

1) Kaifiyah Khatamul Qur’an
sebuah kitab anonim kumpulan karangan-karangan ulama Melayu yang tidak diketahui lagi siapa penulisnya. Di dalamnya ditemui ritual ringkas Ratib Saman, selain itu juga ada penjelasan mengenai Tharikat Syathariyah. Kitab ini masih di cetak di Jakarta, oleh al-Haramain.

2) Sairus Salikin fi Tharikatis Saadat as-Sufiyyah
karangan Syekh Abdus Shamad al-Palimbani. Kitab yang sangat populer di Indonesia dalam bidang Tasawwuf, terutama dalam hal Tharikat Samaniyah. Kitab ini terdiri dari dua jilid tebal, dengan 4 juzu’ (bagian); beraksara Arab berbahasa Melayu. Sumber penulisan karya ini mencakup puluhan kitab-kitab populer di kalangan ahli Tasawwuf, terutama karya-karya Syekh Saman seumpama an-Nafahat Ilahiyah. Kitab ini terbit di berbagai wilayah, dari Kairo hingga Indonesia. Dipakai luas, dari Pattani (thailand), Malaysia dan Indonesia.

3) Risalah Tsabitul Qulub
Karangan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid kecil, namun sangat padat isi, hampir mencakup selurus masalah-masalah Tharikat, khususnya Saman. Kitab ini masih tersembunyi, belum terpublikasi secara umum, sebab banyak murid-murid Syekh Belubus yang menyimpannya secara rahasia. Sampai saat ini, baru ditemui 3 jilid buku ini. Isinya:
a. Risalah Tsabitul Qulub (jilid I). Secara praktis buku ini ditulis untuk menolak keraguan dalam mengamalkan zikir-zikir dan wirid-wirid dalam Tharikat, sehingga si murid tetap hati, kuat memegang Tharikat, tidak goyah diterpa perkataan-perkataan kaum muda yang membathalkan Tharikat. Kitab ini berisi dalil-dalil yang tersirat untuk mempertahankan amal Tharikat, serta memperkokoh hati murid, supaya tidak terpecah-pecah akibat faham yang bergitu rupanya. Penulisan sumber rujukan dalam kitab ini cukup variatif, menunjukkan kealiman Syekh Muda yang masyhur itu. Diantar sumber-sumber kitab yang menjadi rujukannya ialah Tanwirul Qulub (sangat populer saat ini), Shahifatus Shafa (besar kemungkinan karangan Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubis), Manzhirul A’ma, Khazinatul Asrar, ar-Rahmatul Habithah, Hadist Arba’in, Sairus Salikin, al-Minhul Nisbah, Husnul Husain, al-Qusyairi, Lathifatul Asrar, Hidayatus Salikin, Aiqazhul Manam, Hidayatul Hidayah, Mawahib Sarmadiyah, al-Asymuni dan lain-lainnya.
Selain menjadi penguat hati si murid, risalah ini juga memuat kaifiyah Tharikat Saman dan Tharikat Muhammad Yaman (pecahan Saman) beserta wirid-wirid dan zikir-zikirnya. Risalah ini kemudian ditutup dengan sebuah fasal yang cukup panjang berisi tentang “Pengajaran tatakala nyawa akan berpulang ke hadirat Allah”. (cetakan ke-6, pada percetakan as-Sa’adiyah Bukittinggi, t. th)
b. Risalah Tsabitul Qulub (jilid ke II). Kajian dalam kitab ini tak kalah menariknya. Kitab ini baru dijumpai penulis dalam bentuk manuskrip, salinan tangan oleh Marnis Dt. Bangso Dirajo. Di antara isi kitab ini ialah:
• Himpunan akidah lima puluh
• Sebab zikir la ilaha illallahu tidak pakai muhammadur rasulullah
• Masalah Nur Muhammad dan Nur Allah
• Kelebihan manusia dari pada segala alam
• Masalah Najis dan hadast
• Pembahasan Muqarinah Niat
• Tentang martabat Ahadiyah, wahdah dan wahidiyah
• Menyatakan syari’at dan tharikat di dalam sembahyang
• Rabithah dalam sembahyang
• Asal suluk 40 hari, dan lainnya banyak lagi.
c. Risalah Tsabitul Qulub (jilid ke III). Jilid ke-3 ini memuat pengajaran Tharikat yang cukup istimewa, yakni membicarakan perhubungan shalat dengan Tharikat. Di mana di dalamnya ada tertulis:
Maka dari itu nyatalah bagi kita bahwa ilmu Tharikat itu bersuanya di dalam sembahyang. Sepatutnya kita mahir ilmu tharikat itu dengan beberapa martabatnya.
………………
Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mepunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya.
 (Tsabitul Qulub jilid ke-III)
Kemudian kitab ini disambung dengan pembahasan mengenai “nafsu yang tujuh”, dijabarkan dengan kalimat jelas dan ringkas. Kemudian kitab ini disudahi dengan wirid-wirid dalam tharikat Saman.
Asal naskah kopiannya masih ada tersimpan di surau Belubus, yakni cetakan Islamiyah – Medan. Dengan cover yang dipakaikan foto Syekh Muda dan muridnya Syekh Beringin.

4) Pertahanan Tharikat Naqsyabandiyah
Tulisan Syekh Haji Djalaluddin (1950). Buku ini terdiri dari 5 jilid, bertuliskan Arab Melayu. Walau judul besarnya “Naqsyabandiyah”, namun pada sampulnya penulis juga menuliskan untuk Tharikat Samaniyah. Namun buku ini hanya berisi tentang pertahanan Tharikat secara umum saja, tampaknya tidak membahas aspek teoritis Tharikat Saman secara Khusus.

5) Sya’ir Saman (manuskrip).
Naskah berupa manuskrip. Ditemukan dua salinan, satu di Simpang Tonang Pasaman, dan satu lagi di Koto Baru Sungai Pagu. Penulisnya belum diketahui pasti. Walau judul Besarnya Sya’ir Saman, namun isinya merupakan pengajian Tasawwuf yang bersifat filosofis.

6) Kitab Segala Rahasia-rahasia yang halus-halus
Manuskrip ini ditulis oleh Khalifah Rajab Batu Bajarang Solok Selatan. Selain berisi tentang Tarikat Naqsyabandiyah, Syadziliyah dan lainnya, juga berisi tentang amalan-amalan Tarikat Saman. Beliau berguru kepada Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi, setelah menimba ilmu beberapa saat kepada Tuan Syekh Muhammad Nur Qadhi Langkat.

5. Penutup

Sebagai salah satu Tarikat Sufiyah yang berkembang di Minangkabau, begitu juga wilayah-wilayah lain di nusantara, Tarikat Samaniyah telah memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam kehidupan keberagamaan masyarakatnya. Namun karena sedikitnya referensi yang berbicara langsung mengenai Tarikat mu’tabar yang satu ini, membuat kita merasa kesulitan untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan dan sumbangsihnya, walaupun ada selentingan cacatan-cacatan lama, kebanyakannya masih tersimpan rapi di tangan para pengikutnya. Ada juga di kalangan peneliti luar yang mengungkapkan bahwa bentuk Tarikat Saman di Minangkabau banyak digabungkan dengan Tarikat Naqsyabandiyah, seperti yang terjadi di Belubus, namun bagi orang arif dia tidak akan gegabah beranggapan demikian. Tarikat Saman dan Naqsyabandi bukanlah dua berbeda yang kemudian satu. Tapi keduanya ialah metode mengingat Allah dan mensucikan hati yang pada hakikatnya satu, Cuma soal kaifiyah yang berbeda. Begitulah prasangka orang yang melihat Cuma dari luar belaka.
Untuk saat ini, di beberapa wilayah ada kecendrungan untuk berbai’at Saman di usia yang muda. Padahal dulunya, hanya orang-orang tualah yang mahir bersaman. Kecendrungan ini telah membawa dampak makin betahnya para pemuda di surau, karena mereka merasa senang bertahlil. Namun arah positif ini hanya di sebahagian kecil tempat yang ditemui sekarang, wilayah lainnya malah tidak kenal lagi dengan Samman, apatah lagi dengan banyak wafatnya orang yang tua-tua yang memangku Tarikat Saman itu.
Begitulah keadaannya. Demikianlah sekilas mengenai Tokoh dan Literatur Tarikat Saman di Minangkabau yang telah penulis kumpulkan beberapa tahun lamanya. Dengan cacatan, walaupun kita merasa sulit menemui sumber-sumber yang berbicara langsung tentang Tarikat Saman di Minangkabau, namun kita mesti tahu bahwa Tarikat Samaniyah dengan segala hal ihwalnya telah lama memberikan sumbangsih yang sangat berharga, apakah di zaman perang dulunya sebagai tameng pengusir Kompeni, ataupun dalam pembentukan moral masyarakat banyak. Tokoh-tokoh ulama Saman akan tetap terkenang, akan tetap di ziarahi, dan Tarikat Saman akan selalu berjaya sebagai halnya dulu, di ranah Minang, ranahnya ulama-ulama.

Kepustakaan

Hamka, Tasawwuf, Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004)
Masduki HS, Intelektualisme Pesantren: (Jakarta: Diva Pustaka, 2004)
Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin (Mesir: Mathba’ah at-Taqdum al-Ilmiyah, 1908)
Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survei Historis, Geografis dan Sosiologis (Bandung: Mizan, 1992)
Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarikat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995)
Min Makkah ila Mishra (manuskrip, koleksi Madrasah al-Manar Batu Hampar Payakumbuh)
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Nusantara dengan Kepulauan Nusantara: akar Pembaruan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Group, 2004)
Azyumardi Azra, Surau: Lembaga pendidikan Islam tradisional dalam transisi dan Modernisasi (Jakarta: Logos, 2003)
Ahmad Purwadaksi, Ratib Samman dan Hikayat Syekh Muhammad Samman: Suntingan Naskah dan Kajian Isi Teks (Jakarta: Djambatan, 2004)
‘Arif billah Syekh Abdus Shamad al-Falimbani, Siyarus Salikin fi Thariqat as-Saadat as-Sufiyyah (Jeddah: al-Haramain, t. th)
M. Sanusi Latief, Gerakan Kaum Tua di Minangkabau (Disertasi Doktor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1988)
Syekh Muda Abdul Qadim Belubus, Risalah Tsabitul Qulub (Bukittinggi: as-Sa’adiyah, 1393 H) juz I
Khalifah Rajab, Kitab Segala Rahasia-rahasia yang halus-halus (Manuskript) Surau Batu Bajarang Solok Selatan
(Anonym), Ini Kaifiyat Khatam al-Qur’an (Jakarta: Syarikah Maktabah al-Madinah, t. th)
Syekh Mudo Abdul Qadim, Tsabitul Qulub, juz II (manuscript salinan Buya Marnis Dt. Bangso Dirajo
Naskah Simpang Tonang Pasaman (manuscript), bandingkan dengan Sya’ir Saman salinan Muhammad Ridhwan Dt. Tan Bijo Sungai Pagu.
H. Jalaluddin, Pertahanan Tarikat Naqsyabandiyah (Bukittinggi: Tsamaratul Ikhwan, 1950)

 

Tarikat satariah

 

Tarikat satariah

Pengajian Tubuh' di Minangkabau: Pribumisasi Ajaran Tarekat dalam Bingkai Lokal

 


Secara umum, kedatangan Islam di Dunia Melayu-Indonesia telah memunculkan berbagai perkembangan dan dinamika baru, baik yang menyangkut kehidupan sosial-keagamaan masyarakatnya, maupun khazanah budaya dan keilmuannya. Konflik dan akomodasi antara nilai-nilai dan budaya Islam dengan budaya dan tradisi setempat, pada gilirannya berhasil memunculkan berbagai varian Islam di Dunia Melayu-Indonesia, yang biasa disebut sebagai “Islam lokal” (local Islam).

Tentu saja, karena lahir dalam konteks dan kultur yang berbeda, Islam lokal ini memiliki karakter dan nuansa khas yang agak berbeda dengan Islam yang disebut sebagai “great tradition” (Azra 2002: 2).

Di satu sisi, munculnya fenomena Islam lokal tersebut tidak jarang dipandang oleh sebagian peneliti sebagai bentuk penyimpangan dari apa yang disebut sebagai Islam murni dan bersifat sinkretis (Geertz 1976). Akan tetapi, di sisi lain, tidak sedikit juga para sarjana yang bersikap lebih apresiatif dengan menganggap bahwa setiap bentuk artikulasi Islam di suatu wilayah akan berbeda dengan bentuk artikulasi Islam di wilayah lain.

Masalahnya, perbedaan tersebut tidak sepatutnya dipandang sebagai bentuk Islam sinkretik —pernyataan yang pejoratif sebagai Islam tidak murni, melainkan justru merupakan sumbangsih masyarakat setempat dalam memperkaya mozaik budaya Islam itu sendiri (Woodward 1989). Selain itu, fenomena Islam lokal juga dapat dianggap sebagai usaha kreatif dari suatu masyarakat untuk memahami dan menerjemahkan Islam sesuai dengan budaya mereka sendiri (Hooker 1983: 1-22).

Demikianlah yang juga terjadi dengan fenomena tarekat Syattariyyah di Minangkabau. Tarekat ini untuk pertama kalinya dibawa ke Minangkabau oleh Syaikh Burhanuddin Ulakan pada akhir abad ke 17, setelah ia belajar Islam dan menerima ijazah sebagai khalifah dalam tarekat Syattariyyah dari Syaikh Abdurrauf Ali al-Jawi di Aceh.

Tarekat Syattariyyah telah menjadi salah satu pilar terpenting dalam pembentukan struktur masyarakat Muslim Minangkabau. Ulama-ulama setempat yang mengembangkan tarekat Syattariyyah di wilayah ini, mulai dari Syaikh Burhanuddin Ulakan hingga para khalifah dan murid-muridnya, telah mengalami pergumulan yang demikian intens dengan berbagai unsur dan karakter budaya lokal, sehingga pada gilirannya melahirkan sifat dan kecenderungan ajaran yang khas dan relatif berbeda dengan sifat dan kecenderungan ajaran tarekat Syattariyyah di wilayah lain.

'Pengajian Tubuh' dalam Naskah Pengajian Tarekat
Salah satu ekspresi ajaran tarekat Syattariyyah yang bersifat lokal adalah apa yang disebut sebagai pengajian tubuh. Materi yang disebut sebagai pengajian tubuh ini terdapat, antara lain, dalam sebuah naskah berbahasa Minang, yang diberi judul Pengajian Tarekat. Di akhir teks ini terdapat kolofon yang menjelaskan bahwa:

“…disalin tarekat ini daripada tarekat Ulakan…Ungku Qadi Ulakan…wassalam, dari si penulis, H.K. Deram, PS Tandikat VII Koto Pariaman, 1-9-1992…”

Dari kolofon di atas, tampak bahwa yang bertindak sebagai pemilik ide atau pengarang adalah Ungku Qadi Ulakan, dan H. K. Deram, yang menyebut dirinya sebagai penulis, bertindak sebagai penyalin.

Tentang Ungku Qadi Ulakan sendiri, sejauh ini tidak banyak sumber tertulis lain yang menginformasikan lebih jauh identitasnya. Satu-satunya sumber yang menyebut nama tersebut adalah naskah Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Abdurrauf (Syaikh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh, karangan Imam Maulana Abdul Manaf Amin, yang menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang yang ia sebut sebagai Ungku Qadi Yusuf, yang bertindak sebagai kadi di Ulakan:

“…kemudian kami selidiki pula ke Ulakan yang bersangkut sejarah Syaikh Burhanuddin, adakah buku sejarah beliau? Diterangkan oleh Ungku Qadi Yusuf, kadi Ulakan, bahwa sejarah Syaikh Burhanuddin hilang di masa agresi Belanda dahulu…” (h. 4-5).

Dalam naskah tersebut juga diisyaratkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin bertemu dengan Ungku Qadi Yusuf Ulakan menjelang tahun 1993, sedangkan naskah Pengajian Tarekat ini disalin tahun 1992. Artinya, diduga kuat bahwa Ungku Qadi Ulakan yang disebut sebagai pengarang naskah Pengajian Tarekat ini adalah Ungku Qadi Yusuf, yang bertindak sebagai kadi, semacam mufti, di Ulakan hingga sekitar tahun 1990-an.

Teks Pengajian Tarekat ditulis dalam bahasa Melayu Minangkabau dengan menggunakan tulisan Jawi berharakat dan bergaya khat naskhi. Penulisannya sendiri tergolong tidak terlalu rapi, kendati masih bisa dibaca. Penulis mendapatkan fotokopi naskah ini dari Adriyetti Amir, saat ini sebagai di Fakultas Sastra Unand, Padang.

Naskah Pengajian Tarekat ini mengemukakan pembahasan mendalam tentang berbagai ajaran tasawuf, antara lain mengenai hakikat makhluk (baca: manusia), hubungannya dengan Sang Pencipta. Di kalangan penganut tarekat Syattariyyah sendiri, materi pengajian tarekat ini sering disebut sebagai “pengajian tubuh”.

Disebutkan bahwa tubuh manusia terdiri dari dua sisi: bagian yang kasar (lahir) dan bagian yang halus (batin). Pada hakikatnya, bagian tubuh lahir tidak mempunyai kemampuan dan kehendak apa-apa, karena bagian tubuh batinlah yang menggerakannya. Pengarang menganalogikan hubungan tubuh kasar dengan tubuh halus ini dengan hubungan antara sangkar dan burung di dalamnya, jika burung bergerak, sangkar pun bergerak, demikian halnya jika burung diam, sangkar pun diam (Deram 1992: 1-3):

Hidup tubuh nan kasar dihidup tubuh nan batin
Tahu tubuh nan kasar ditahu tubuh nan batin
Kuasa tubuh nan kasar dikuasa tubuh nan batin
Barkahandak tubuh nan kasar dibarkahandak tubuh nan batin
Mandangar tubuh nan kasar dimandangar tubuh nan batin
Malihat tubuh nan kasar dimalihat tubuh nan batin
Barkata tubuh nan kasar dibarkata tubuh nan batin

Menurut pengarang, pengetahuan atas tubuh lahir dan tubuh batin ini penting untuk sampai pada penghayatan tentang hakikat Allah, karena pada hakikatnya, tubuh batin adalah ruh Allah yang ditiupkan kepada tubuh lahir, dan Dia-lah yang memiliki ‘hidup’, ‘tahu’, ‘kuasa’, ‘kehendak’, ‘mendengar’, ‘melihat’, dan ‘berkata’ tersebut, bukan dirinya sebagai tubuh lahir.

Jika seorang salik telah mampu keluar dari sifat-sifat lahiriyahnya, ia akan mengetahui bahwa dalam dirinya hanya ada kehendak Tuhannya, ia sendiri bagaikan mayat yang tidak memiliki kehendak dan keinginan apapun. Keadaan inilah yang disebut oleh pengarang sebagai “mati hakiki”, yaitu mati fana, atau “mati sabanar mati”, sebagai kebalikan dari “mati suri”, yang berarti keadaan mati seperti umumnya. Dalam teks (h. 4-5), pengarang mengatakan:

Tidak nan hidup
Tidak nan tahu
Tidak nan kuasa
Tidak nan barkahandak
Tidak nan mandangar
Tidak nan malihat
Tidak nan barkata
Melainkan Allah

Pengarang juga menganalogikan konsep tubuh lahir dan tubuh batin ini dengan konsep a’yan kharijiyyah dan a’yan tsabitah. Menurutnya, tubuh lahir adalah a’yan kharijiyyah yang merasakan berbagai gejala fisik, sedangkan tubuh batin adalah a’yan tsabitah yang wujud dengan sebenar-benar wujud:

“...a’yan kharijiyyah tubuh nan kasar samangat yang tahu di sakit, padih, haus, dan lapar; a’yan tsabitah tubuh yang halus, si ujud ‘am nan sabanar-banar diri; ujud maúad Tuhan yang barnama Allah... (h. 6).

Hal penting lain yang dikemukakan dalam Pengajian Tarekat adalah tentang pentingnya seorang salik mengikuti segala perilaku Nabi; apapun yang dilakukan Nabi harus diikuti, demikian halnya apapun yang tidak dilakukan Nabi, hendaknya juga dihindari (h. 11-13). Hal yang unik berkaitan dengan kepatuhan ini adalah, pengarang selalu menempatkan posisi Syaikh (mursyid) setelah Nabi, bahkan dalam hal keimanan sekalipun. Artinya, yang harus dipatuhi setelah Allah dan Nabi adalah Syaikh (h. 14):

Bahasa iman percaya akan Allah akan Nabi akan guru
Bahasa Islam manjunjung titah Allah dan titah Nabi dan titah guru
Manjauhi tagah Allah tagah Nabi tagah guru

Pada dasarnya, substansi dari apa yang disebut sebagai “pengajian tubuh” di Minangkabau ini bukanlah merupakan wacana yang baru dalam konteks tasawuf sendiri, khususnya tasawuf falsafi, karena yang ingin dikemukakan terutama adalah mengenai hubungan ontologis antara Tuhan dan alam, dalam hal ini manusia.

Tema seperti ini tentu saja sudah sejak awal menjadi topik pembicaraan para sufi, termasuk tokoh-tokoh sufi dalam tarekat Syattariyyah. Abdurrauf Ali al-Jawi misalnya, dalam naskah Tanbih al-Masyi dan juga Syattariyyah, sebelum menjelaskan makna sesungguhnya dari doktrin wahdat al-wujud, terlebih dahulu mengemukakan pembahasan menyangkut hubungan ontologis antara Tuhan dan alam tersebut, antara al-Haq dan al-Khalq, antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya, antara Yang Esa dan yang banyak, antara al-wujud dan al-maujudat, antara wajib al-wujud dan al-mumkinat.

Akan tetapi, dalam konteks ekspresi ritual keagamaan lokal di Minangkabau, pengajian tubuh ini merupakan sesuatu yang khas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sifat tarekat Syattariyyah yang berkembang. Hal ini dapat dilihat dari, setidaknya, dua alasan di bawah:

Pertama, pengajian tubuh benar-benar menjadi materi pokok dalam keseluruhan ajaran tarekat yang disampaikan oleh Syaikh Burhanuddin Ulakan ini. Hal ini tampak, antara lain, dari materi yang terdapat dalam naskah Pengajian Tarekat di atas yang memang memberikan penekanan pada pemahaman tentang hakikat penciptaan dan kehendak manusia, serta hubungannya dengan hakikat Zat dan kehendak Tuhan, selain tentu saja materi tentang tatacara zikirnya.

Selain itu, pengajian tubuh juga merupakan salah satu materi pokok yang selalu diajarkan oleh guru-guru tarekat Syattariyyah di Minangkabau dalam wirid pengajian khusus mereka, selain materi tasawuf lainnya.

Bagi para penganut tarekat Syattariyyah di Minangkabau ini, pengajian tubuh diperlukan sebagai landasan dan latihan (riyadah al-nafs) sebelum sampai kepada apa yang mereka sebut sebagai “kurrah”, yakni suatu usaha yang bertujuan guna mengembalikan tubuh yang kasar (a’yan kharijiyyah) kepada tubuh yang halus (a’yan Tsabitah). Selain itu, pengajian tubuh juga diyakini dapat menjadi sarana agar seorang penganut tarekat Syattariyyah mengenal diri (tubuh)nya, sehingga ia akan mampu menangkis segala godaan syetan dan hawa nafsunya (Yafas 1990: 7).

Kedua, materi pengajian tubuh merupakan bagian terpenting dalam berbagai ekspresi ajaran tarekat Syattariyyah yang bersifat lokal. Hal ini antara lain terlihat dari keseluruhan materi dalam kesenian salawat dulang yang merupakan bentuk kesenian di Minangkabau dengan nuansa sufistis yang sangat kental (tentang Salawat Dulang, lihat, antara lain Amir 1996 dan Mardius 1995).

Khatimah
Demikianlah, di Minangkabau ini, pengajian tubuh, dan juga sejumlah living tradition lain, seperti salawat dulang, telah menjadi salah satu bentuk ekspresi para penganut tarekat Syattariyyah untuk mendekatkan diri mereka kepada Tuhannya.

Bentuk-bentuk ekspresi ritual Islam lokal seperti itu dapat dianggap sebagai salah satu bentuk perpaduan antara Islam yang memuat berbagai ajaran, dalam konteks ini tasawuf, dengan adat atau tradisi lokal di Minangkabau, apalagi dalam konteks Minangkabau, masyarakatnya meyakini sebuah adagium: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Syarak Mangato Adat Mamakai, Syarak Mandaki Adat Manurun.

Dalam konteks yang lebih besar lagi, ekspresi ritual Islam lokal seperti ini dengan sendirinya juga memberikan gambaran riil akan apa yang sering disebut sebagai “Islam lokal”, yakni suatu artikulasi dari “proses penerjemahan” Islam ke dalam sistem sosial-budaya, politik dan intelektual yang berlaku di suatu masyarakat (Hooker 1983).

Islam lokal mengandung dua konsep penting. pertama, ia adalah konsep tentang sebuah keadaan yang khusus dan unik dari suatu praktek keagamaan tertentu. Keunikan tersebut bisa jadi karena dipengaruhi budaya lokal, tetapi juga bisa terjadi karena proses pembumian dari ajaran-ajaran normatif Islam ke dalam realitas; kedua, Islam lokal mengandung unsur sebuah proses yang terus berlanjut dari pertemuan dan interaksi budaya dan Islam dalam proses sejarah.

Dengan penjelasan di atas, maka berbagai ekspresi ritual Islam lokal, tidak hanya yang terjadi di Minangkabau, melainkan juga di wilayah lain, dapat dianggap sebagai contoh yang baik bagi persemaian Islam lokal, yang pada gilirannya menjadi kekayaan budaya tersendiri.

 

Syaikh Samman:

 

Syaikh Samman: Pendiri Tarekat Sammaniyah

 


Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan sang tokoh pendirinya, yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Samani Al-Hasani Al-Madani Al-Qadiri Al-Quraisyi. Ia adalah seorang fakih, ahli hadits, dan sejarawan pada masanya. Dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 1132 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1718 Masehi. Keluarganya berasal dari suku Quraisy.

Semula, ia belajar Tarekat Khalwatiyyah di Damaskus. Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik dzikir, wirid, dan ajaran tasawuf lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri kepada Allah SWT yang akhirnya disebut sebagai Tarekat Sammaniyah. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa Tarekat Sammaniyah adalah cabang dari Tarekat Khalwatiyyah. Demi memperoleh ilmu pengetahuan, ia rela menghabiskan usianya dengan melakukan berbagai perjalanan. Beberapa negeri yang pernah ia singgahi untuk menimba ilmu di antaranya adalah Iran, Syam, Hijaz, dan Transoxania (wilayah Asia Tengah saat ini). Karyanya yang paling terkenal adalah kitab Al-Insab. Ia juga mengarang buku-buku lain, seperti Mu’jamul Mashayekh, Tazyilul Tarikh Baghdad, dan Tarikh Marv.

Syaikh Muhammad Samman dikenal sebagai tokoh tarekat yang memiliki banyak karamah. Baik kitab Manaqib Syaikh al-Waliy Al-Syahir Muhammad Saman maupun Hikayat Syaikh Muhammad Saman, keduanya mengungkapkan sosok Syaikh Samman. Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syaikh Muhammad Samman terkenal akan kesalehan, kezuhudan, dan kekeramatannya. Konon, ia memiliki karamah yang sangat luar biasa. ”Ketika kaki diikat sewaktu di penjara, aku melihat Syaikh Muhammad Samman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku dan pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus,” kata Abdullah Al-Basri. Padahal, kata seorang muridnya, Syaikh Samman berada di kediamannya sendiri.

Adapun perihal awal kegiatan Syaikh Muhammad Samman dalam tarekat dan hakikat, menurut Kitab Manaqib, diperolehnya sejak bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Suatu ketika, Syaikh Muhammad Samman berkhalwat (menyendiri) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu, datang Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang membawakan pakaian jubah putih. ”Ini pakaian yang cocok untukmu.” Syaikh Abdul Qadir al-Jilani kemudian memerintahkan Syaikh Muhammad Samman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon, Syaikh Muhammad Samman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah Muhammad Saw. untuk menyebarkannya kepada penduduk Kota Madinah. Wallahua’lam.

Hubungan Tari Saman Aceh dengan Sammaniyah

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah provinsi paling barat di bumi nusantara. Daerah ini dikenal sebagai ‘Serambi Makkah’-nya nusantara. Agama Islam yang masuk ke Indonesia dipercaya juga berawal dari wilayah ini. Tak heran bila nuansa keislaman sangat kental di provinsi paling barat di Indonesia tersebut. Sebagaimana disebutkan, Tarekat Sammaniyah pertama kali masuk ke Indonesia melalui Aceh dan dibawa oleh Syaikh Abdussamad Al-Falimbani sekitar abad ke-18, salah seorang murid Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani Al-Hasani Al-Madani, pendiri Tarekat Sammaniyah.

Tarekat Sammaniyah mengajarkan dzikir dan wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah kepada murid-muridnya. Wirid dan dzikir itu biasanya diamalkan seusai melaksanakan shalat lima waktu dan dengan cara duduk bersila. Seiring dengan perkembangannya, dzikir dan wirid Sammaniyah terus berkembang. Di Sudan dan Nigeria (Afrika Utara), dzikir dan wirid Sammaniyah ini dilaksanakan dengan cara berdiri sambil memuji kebesaran Allah SWT. Tak hanya wirid seusai shalat lima waktu, zikir dan wirid Sammaniyah biasanya dilaksanakan pada peringatan hari besar Islam, seperti maulid Nabi Saw, Isra Mikraj, dan sebagainya.

Adakah hubungan antara dzikir Sammaniyah dan tari Saman di Aceh? Belum ada penjelasan yang paling sahih mengenai keberadaan masalah ini. Dalam beberapa literatur disebutkan, tarian Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syaikh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara. Siapakah Syaikh Saman Aceh ini? Hingga kini, penulis belum menemukannya. Tercatat, ia adalah seorang ulama yang menyebarkan Islam di Aceh.

Pengamat sejarah Gayo, Ir Wahab Daud, menjelaskan, tari Saman sangat identik dengan agama Islam karena tarian ini dikembangkan sebagai alat untuk mengembangkan agama Islam, khususnya di dataran tinggi Gayo Lues. Liriknya bermakna nasihat, petuah agama, petunjuk hidup, dan sebagainya. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan. Tari Saman biasanya diawali dengan salam pembuka dari syaikh (pemuka adat atau pimpinan dari tari Saman). Selanjutnya, disampaikan petuah-petuah tentang menjalani kehidupan umat manusia. Tarian ini dilakukan oleh sedikitnya delapan orang. Terkadang, dilakukan oleh 17 orang. Orang yang duduk pada posisi nomor sembilan (tengah) bertindak sebagai pimpinan (syaikh).

Pada mulanya, tarian ini hanya merupakan permainan rakyat biasa yang disebut Pok Ane. Melihat minat yang besar masyarakat Aceh pada kesenian ini, Syaikh Saman pun menyisipkan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT. Sehingga, tari Saman menjadi media dakwah saat itu. Dahulu, latihan Saman dilakukan di bawah kolong meunasah (sejenis surau pada saat itu yang berbentuk panggung). Sehingga, mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat berjamaah. Sejalan dengan kondisi Aceh yang berada dalam peperangan, syaikh pun menambahkan syair-syair yang menambah semangat juang rakyat Aceh. Tari ini terus berkembang sesuai kebutuhannya. Sampai sekarang, tari ini lebih sering ditampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan.

Tak ditemukan penjelasan lain dari Wahab Daud mengenai asal mula tari Saman. Pun, demikian dengan Mudha Farsyah, peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Ia hanya menyebutkan, tari Saman berasal dari Aceh Gayo yang diciptakan oleh Syaikh Saman, seorang ulama yang menyebarkan Islam di Aceh, khususnya Gayo. Penulis belum menemukan biografi Syaikh Saman, pendiri atau pencipta tari Saman ini.Tentu, akan sangat menarik dan semakin jelas bila ada riwayat hidup Syaikh Saman ini, kemudian asal mula diciptakannya tarian ini. Benarkah tarian ini memiliki hubungan dengan Tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani Al-Hasani al-Madani? Apakah tari Saman memang merupakan budaya asli Aceh yang dikembangkan dari dzikir dan wirid? Wallahua’lam.

 

SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO)

 

SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO) 

 


Perkembangan agama Islam di Sumatera Barat tidak dapat dipisahkan dari peran dan perjuangan Syekh Burhanudin (1646-1692). Beliau merupakan salah satu ulama yang mengikuti gurunya Syekh Abdurrauf dalam bertarekat Syatariyah. Setelah belajar di Aceh, ulama asal Pariaman ini berangkat ke Tanah Suci.

SEPULANGNYA dari Tanah Suci, ia mendirikan Surau Gadang Syatariyah di Ulakan. Jasanya yang paling dikenang adalah mendakwahkan Islam kepada kaum bangsawan Kerajaan Pagaruyung. Selain itu, Syekh Burhanuddin juga telah meninggalkan tradisi malamang yang dikenang dan dijaga oleh masyarakat setempat.

Syekh Burhanuddin lahir di Pariaman, Sumatera Barat. Syekh Burhanuddin memiliki nama asli Pono. Ayah Syekh Burhanuddin bernama Pampak Sati Karimun Merah bersuku Koto dan Ibu yang bernama Cukuik Bilang Pandai memiliki suku Guci. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Syekh Burhanuddin atau Pono senantiasa belajar dan bermain. Tetapi, Syekh Burhanuddin mendapatkan pelajaran khusus tiap malamnya, yaitu ilmu kebatinan dan pencak silat.

Saat Ayah Pono sedang mengajarkan pelajaran khusus kepada Pono, malam itu Sang Ayah menyampaikan nasihat kepada Pono.
“Ilmu ini hendaklah digunakan untuk kebaikan, membela diri, bukan untuk menunjukkan kehebatan pada orang lain.”
Pono mengangguk paham mendengar nasihat Ayahnya. Ayahnya juga mengingatkan bagi orang Minangkabau ada pepatah yang harus dipegang teguh seorang laki-laki yang belajar silat, yaitu musuah indak dicari, Basuo pantang diilakan (musuh tidak dicari, jika datang tidak boleh dielakan).

“Pepatah itu adalah harga diri dan adat yang patut diamalkan, Nak!" Lanjut Ayah Pono dalam nasihatnya.
Pono begitu menikmati setiap ajaran dan nasihat yang diberikan ayahnya. Saat Pono hendak istirahat tidur pun apa yang diajarkan ayahnya dalam ilmu kebatinan dan silat sering ia renungkan. Malam ini pesan ayah Pono yang begitu mengena perasaannya hingga sulit untuk tidur. “Nak, jadilah orang yang berguna bagi banyak orang, memegang teguh adat, dan pandai mambawakan diri dalam berbagai keadaan.” Ingat
Pono. Dalam lamunannya akan nasihat ayah, akhirnya Pono pun tertidur dalam tekad menjadi orang yang lebih baik.

Esok harinya, Pono, setelah membantu pekerjaan rumah ia bersiap menggembala kerbau seperti biasanya. Pono memiliki teman akrab yang bernama Idris. Bersama Idris, Pono belajar menjadi pengembala yang baik dan saling bertukar cerita sembari belajar. Hari itu pun Pono dan Idris mengembala bersama. Seperti biasanya sembari mengembala Ponodan Idris pun sering memanfaatkan waktu untuk merenung di bukit. Dari perenungan-perenungan itu Pono dan Idris mendapatkan berbagai pelajaran. (Yosi Wulandari, UAD)

 

Syekh. Abdurrahman



Syekh. Abdurrahman Al-Khalidi dilahirkan pada tahun 1802 masehi, mempunyai nama kecil Alam Basifat. Sebelum beliau menjadi guru besar silat dan guru besar agama Islam beliau ini adalah seorang pemuda Kumango yang sangat berani dan pantang kalah dalam hal apapun. Oleh karena itu beliau sangat desegani dan ditakuti oleh orang-orang seumuran beliau. Karena sifatnya yang seperti itu banyak pemuda-pemuda yang tidak senang dengan beliau, sehingga datang niat jahat untuk menghabisi beliau dengan membacok beliau dari belakang ketika beliau bangun untuk sholat subuh. Setelah menghabisi beliau, pemuda-pemuda tersebut pergi meninggalkan tempat kejadian (surau) dengan senang hati. Belum jauh pemuda-pemuda itu pergi dari tempat kejadian, tiba-tiba terdengar kumandang adzan subuh di tempat kejadian (surau). Ternyata yang adzan adalah beliau (Syekh. Abdurrahman Al-Khalidi). Alangkah terkejutnya pemuda-pemuda tadi, ternyata yang dibacok dan dicincang mereka adalah sebuah batang pisang. Kemudian dengan secepat kilat beliau menghilang dari pandangan pemuda-pemuda tadi. Karena merasa terancam setelah kejadian tersebut beliau pergi dan menghilang dari Nagari Kumango, sebelum pergi beliau sempat minta izin kepada isterinya yang sedang mengandung anak beliau 3 bulan. Beliau pergi tanpa tujuan. Tak seorang pun masyarakat Nagari Kumanago mengetahui kemana beliau pergi, termasuk isterinya. Sepeninggal beliau, pada tahun 1852 lahirlah seorang anak laki-laki (yang sekarang bermakam tepat di sebelah beliau di Surau Subarang Kumango). Anaknya beliau beri nama (setelah berjumpa ketika anak beliau sudah dewasa) M. Dalil Angku Gadang. Berpuluh-puluh tahun kemudian masyarakat kumango mendapatkan kabar bahwa salah seorang dari Nagari Kumango menjadi guru besar silat dan pengembangan ajaran agama Islam di Negara Malaysia. Mendengar kabar tersebut, pihak keluarga dan masyarakat langsung mengirimkan surat kepada beliau untuk kembali ke Nagari Kumango. Beliau membalas surat tersebut dan menyatakan ingin kembali ke Nagari Kuamango dengan permintaan agar dibangun sebuah surau di belakang kampung ditepi sungai. Dengan senang hati dan penuh semangat keluarga dan masyarakat di Nagari Kumango membuatkan sebuah surau sesuai dengan permintaan beliau. Setelah surau telah selesai dibangun, beliau kembali di kirimi sebuah surat ke Malaysia oleh keluarga dan masyarakat Nagari Kumango. Konon pada waktu itu beliau sudah menikah lagi di Malaysia dan mempunyai empat orang anak. Beberapa tahun kemudian, akhirnya beliau kembali ke Nagari Kumango dengan membawa seorang anaknya dari Malaysia yang bernama Angku Saleh. Pada awalnya surau tersebut beratapkan ijuk, yang beliau namakan surau bulek. Setibanya di Nagari Kumango beliau langsung menuju surau yang telah dibuatkan oleh keluarga dan masyarakat yang kemudian beliau beri nama Surau Subarang. Kemudian masyarakat beramai-ramai bersama beliau untuk menimba ilmu yang beliau anut yaitu agama Islam dengan pengajiannya yang bernama tarekat Samaniyah-Naqsabandiah-Khalidiah dan Silat Kumango yang ajarannya didapat beliau sewaktu beliau berada di Mekkah yang pegajiannya di Jabal Qubis didapat dari gurunya Syekh. Bahaudin Sanaq Sabandiah, sedangkan pelajaran silat diambil langsung di makam Rasulullah dengan gurunya Syekh. Saman dan Nabi Qoidir. Silat kumango sangat erat hubungannya dengan agama islam dam pengajian yang diamalkan yaitu tarekat Samaniyah yang falsafahnya dalam bahasa Minangkabau berbunyi : silek lahia mancari kawan silek bathin mancari Tuhan Yang artinya adalah secara lahiriah Silat Kumango bertujuan untuk mencari teman, bukan untuk mencari musuh. Berguna untuk bertahan apabila diserang oleh musuh. Sedangkan secara lahiriah Silat Kumango semata-mata hanya berfungsi mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan menjalani perintahnya dan menjauhi larangannya. Hal ini senada dengan falsafah hidup masyarakat minangkabau yaitu : Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah Yang maknanya adat bersendikan syari’at (agama), agama bersendikan Kitabullah (Al-Quran). Inilah dasar dari pengajian dan Silat Kumango yang sekarang sudah berkembang ke luar Nagari Kumango, bahkan saat ini Silat Kumango sudah berkembang sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Belanda. Saat ini banyak murid-murid dari pengajian yang berasal di luar Nagari Kumango sering berdatangan ke Nagari Kumango, tepatnya ke Surau Subarang, mereka berziarah untuk mengenang jasa yang beliau tinggalkan yaitu silat dan pengajian tarekat yang telah diamalkan oleh murid-murid dan jemaah sampai sekarang. Dari dulu sampai sekarang kegiatan silat dan pengajian selalu dilakukan bersamaan di Surau Subarang. Tetapi saat ini kegitan Silat sudah sangat jarang dilakukan dikarenakan oleh beberapa hal. Hanya pengajian tarekat yang sekarang rutin dilakukan pada setiap kamis malam yang gurunya terdiri dari guru-guru tuo silek di Nagari Kumango. Makam Syeikh Abdurrahman Khalidi merupakan makam salah satu pemuka gama islam terkenal di Kabupaten Tanah Datar khusunya. Makam tersebut dilindungi cungkup dengan bahan beton yang tebal berwarna puti dengan 5 Gonjong (dengan satu gonjong utama ditengah). Didalam cungkup dipasang tirai (kelambu) dengan ukuran 3,3 x 3,6 meter. Dan didalam kelambu terdapat dua makam, makam Syeikh Abdurrahman Khalidi sendiri dan makam anaknya Dali Angku Gadang. Makam berwarna hitam dengan bahan keramik. Masing-masing makam memiliki ukuran 2,16 Meter x 0,9 meter. Makm ini dijaga oleh cucu dari Syeikh Abdurrahman Khalidi yaitu bapak syamsuar yang juga tinggal dilingkungan makan tepat disebelah makam. Disebelah timur makam, terdapat surau tua yang berbahan kayu yaitu surau kumango tetapi kondisinya sudah rusak sedang. Makam ini banyak dikunjungi peziarah dari luar kota, baik dari Medan, Batam, Aceh hingga peziarah mancanegara dari Malaysia. Dari cucu Syeikh Abdurrahman Khalidi , bapak syamsuar menurut beliau Syeikh Abdurrahman Khalidi meninggal di tahun yang ujungnya 33, tidak jelas apakah 1733, atau 1833, atau 1933.

zIKIR DAN JURUS

 

Memasukkan Zikir dalam Jurus-Jurus Silat

 


 

Zikir telah menjadi kekuatan sekaligus tumpuan hidup ulama tarekat yang pernah lolos dari siksaan tentara Jepang ini. Dalam memberi nasihat ia banyak menggunakan kata perumpamaan. Misalnya, mengapa seorang mukmin harus rajin memotong kuku?

Kiai Mustaqim  adalah mursyid tarekat Syadziliyah, dan pendiri Pondok Pesantren Pesulukan Tarekat Agung atau terkenal dengan nama PETA, Tulungagung, Jawa Timur.

Ia lahir di Desa Nawangan, Kecamatan Keras,  Kediri, Jawa Timur, pada 1901. Ayahnya Husain bin Abdul Jalil, keturunan ke-18 dari Mbah Panjalu (Ali bin Muhammad bin Umar), Ciamis, Jawa Barat. Ketika berusia 12 tahun, Mustaqim belajar  Alquran dan dasar-dasar agama kepada Kiai Zarkasyi di dusun Tulungagung. Saat itu ia telah dikaruniai kemampuan berzikir “Allah, Allah, Allah” tanpa berhenti. Dari kekuatan zikir inilah ia beroleh anugerah berupa  ilmu sirri atau  ilmu mukasyafah.

Untuk menghidupi keluarganya, Kiai Mustaqim pernah menjadi tukang potong rambut, penjahit sepatu dan sandal, dan membuka toko yang bernama Toko Bintang Sembilan. Meskipun kehidupan ekonomi keluarganya selalu memprihatinkan, ia tidak pernah meninggalkan kewajiban untuk berbuat amar makruf, yaitu dengan mengajarkan zikir yang dimasukkan ke dalam jurus-jurus 
 pencak silat.

Pada zaman pendudukan Jepang, sejumlah kiai kena tuduhan akan melakukan pemberontakan, sehingga mereka ditangkap dan bahkan disiksa. Termasuk Kiai Mustaqim. Dalam bui, Kiai Mustaqim bertemu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.  Kiai Mustaqim juga menerima siksaan bertubi-tubi. Konon, tubuh Kiai Mustaqim dijepit balok es. Ia juga pernah dilempar dari ketinggian 10 meter. Namun juga tidak apa apa. Mungkin saking kesalnya, Jepang menyumbat seluruh lubang tubuh Kiai Mustaqim. Hanya satu lubang yang disisakan terbuka, yakni hidung. Melalui hidung selang dimasukkan dan udara dipompa. Ajaibnya, alih alih masuk hidung, ujung selang justru menyelinap ke dalam sabuk othok, yakni ikat pinggang model lama yang biasa dipakai lelaki Jawa. Kiai Mustaqim pun selamat. Sebagian orang menyakini ijabah doa Kiai Mustaqim yang mengaburkan penglihatan tentara Jepang. Hingga Zaman kemerdekaan sang kiai tetap mengamalkan 
 ilmunya bagi umat.

Rumusan amalan-amalan yang ia ajarkan menekankan bahwa sebelum dan sesudah wirid harus meminta pada Allah agar mendapat empat hal. Yakni, selamat di dunia dan di akhirat; hati yang bersih dari sifat madzmumah (sifat tercela); kekalnya iman sampai sakaratul maut dan bisa membaca kalimat thayyibah, serta bisa husnul khatimah; dan semua hal yang  membawa berkah dan  maslahah, manfaat, di dunia maupun  akhirat.

Dalam memberi nasihat, Kiai Mustaqim banyak menggunakan kalam kinayah (kata sindiran) daripada kalam sharihah (kata terang-terangan).


Berbeda dari pesantren lain yang sebagian besar mengajarkan kitab kuning, di PETA para santri juga dididik suluk atau mengarungi jalan spiritual menuju Tuhan. Setiap santri yang hendak berbaiat menjadi pengikut tarekat Syadziliyah wajib menanggalkan 
 ilmu kesaktian yang dimiliki.Tidak terkecuali  ilmu kejawen. Sebagai prasyarat diwajibkan mandi kungkum atau berendam di laut selatan.

Sebelum menganut tarekat Syadziliyah, Kiai Mustaqim mengikuti  tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yakni tarekat yang dikembangkan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas (1872). Perkenalan Kiai Mustaqim dengan tarekat Syadziliyah bermula dari pertandingan 
 pencak silat di Ponpes Tremas Pacitan. Dalam pertandingan itu santri asal Cirebon yang menjadi jawara  silat dikalahkan santri asal Tulungagung. Pengasuh Pesantren Tremas KH Abdur Razzaq pun penasaran. Dalam pertandingan itu santri asal Cirebon yang menjadi jawara  silat dikalahkan santri asal Tulungagung. Kiai Abdur Razzaq pun penasaran. Saudara Syaikh Mahfuzh At-Termasi, ulama besar asal Tremas yang menjadi pengajar di Masjidil Haram Mekah, itu pun berusaha mencari tahu siapa guru santri yang menumbangkan santrinya. Begitu mengetahui guru si santri bernama Kiai Mustaqim asal Tulungagung, Kiai Razzaq langsung bertolak ke Tulungagung. Tanpa canggung, di depan Kiai Mustaqim, Kiai Razzaq meminta diajari amalan dan ijazah.


Kiai Mustaqim mengatakan dirinya tidak berhak memberikan ijazah. Dibanding dirinya, Kiai Mustaqim juga mengatakan Kiai Razzaq-lah yang justru lebih berhak memberi ijazah. Mereka sama sama menolak dianggap mampu, dan menyatakan tidak layak memberi ijazah. Keduanya bersepakat saling berbaiat. Bersepakat saling bertukar ijazah. Kiai Mustaqim menerima ijazah Hizib Baladiyah atau Hizib Burhatiyah dan Tarekat Syadziliyah. Sebaliknya Kiai Mustaqim mengijazahi Kiai Abdur Razzaq hizib kafi dan tarekat Qadiriyah Wan Naqshabandiyah

Dalam memberi nasihat, Kiai Mustaqim banyak menggunakan kalam kinayah (kata sindiran) daripada kalam sharihah (kata terang-terangan). Perkataan-perkataan tersebut antara lain, pertama, menjadi orang mukmin itu harus sering memotong kuku. Artinya: jadi orang mukmin itu harus menghilangkan sifat ‘ujub (merasa dirinya paling baik) dan supaya bisa ikhlas. Kedua, menjadi murid tarekat itu seperti orang yang antri karcis di loket. Terkadang didesak oleh temannya, diserobot gilirannya, dan ketetesan keringat temannya. Akan tetapi semua itu jangan dihiraukan, tetaplah menghadap ke loket. Artinya: menjadi murid tarekat itu terkadang mendapatkan gangguan dari orang lain, keluarga, bahkan dari sesama murid. Jangan hiraukan dan tetap menghadap ke depan. Hanya berharap barakah kepada guru mursyid supaya bisa cepat mendapat tiket pesawat Thariqah Syadzaliyyah. Ketiga, mencari  ilmu di depan guru mursyid harus seperti orang yang mencari rumput, tapi jangan seperti orang yang mencari rumput.  Artinya: orang yang mencari rumput jika melihat ke bawah, akan mendapat rumput yang banyak, wadahnya cepat penuh. Tetapi jika melihat ke tempat lain, sepertinya rumput yang kita lihat di tempat yang lebih jauh terlihat lebih subur daripada rumput yang ada di dekat kita. Kenyataannya, rumputnya sama saja, bahkan lebih sedikit. Karena kebanyakan pindah-pindah maka waktunya habis dan wadah rumputnya tetap kosong.

KH Mustaqim bin Husin wafat pada tahun 1970, dan kepemimpinanya di Pesantren PETA diteruskan oleh putranya KH Abdul Jalil Mustaqim, yang juga dikenal sebagai salah seorang ulama kharismatis di Indonesia.

 

Kyai Mursalin

 


Kyai Mursalin adalah seorang ulama dari Kepulauan Seribu, tepatnya dari Kepulauan Panggang, yang juga piawai ilmu bela diri. Ilmu bela diri yang dikuasai oleh Kyai Mursalin disebut dengan pukulan Nek Aing. Oleh karena itu, ia juga kerap dipanggil sebagai Nek Aing. Pada awalnya, ilmu silat Nek Aing difungsikan untuk melindungi diri dari marabahaya. Dalam perkembangannya, Kyai Mursalin menggunakan ilmu bela diri yang dikuasainya sebagai media dakwah di pulau-pulau terpencil di Kepulauan Seribu. Siapa saja yang ingin mempelajari ilmu bela diri dari Kyai Mursalin, diharuskan mendalami agama Islam lebih dulu, misalnya dengan belajar tentang Asmaul Husna.

Kyai Mursalin lahir dan besar di Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta.

Ayahnya bernama Nailin, merupakan seorang pendatang dari Cemplang, Cibatok, di Bogor. Menurut riwayat, Kyai Mursalin masih keturunan Kyai Muhiddin dan Pangeran Jayakusuma dari garis sang ayah. Kedatangan ayah Kyai Mursalin di Kepulauan Seribu bermula dari perintah hijrah untuk keperluan dakwah Islam. Bersama adiknya, Nailun, ayah Kyai Mursalin berangkat dari Cemplang tanpa tujuan pasti dengan menaiki sebuah getek. Nailin dan Nailun sampai di muara Cisadane dan singgah di Desa Kramat Panjang, Rawa Sabang, Jakarta. Keduanya kemudian menetap di sana dan menikahi gadis setempat. Nailin dan istrinya dikaruniai seorang putra, yaitu Kyai Mursalin.

Sejak kecil, Kyai Mursalin sudah ikut bersama ayah dan ibunya memperluas lahan untuk bertani kelapa. Pembukaan lahan terus dilakukan sampai akhirnya melebar ke Pulau Kotok, Pulau Karya, dan Pulau Panggang. Di Pulau Panggang inilah mereka membangun rumah dan menetap sebagai pedagang sekaligus berdakwah.

Selain dari sang ayah, Kyai Mursalin juga mengembangkan ilmu bela dirinya dengan berguru dari para pendekar Parung Sapi, Bogor, Banten, Betawi, Bugis, dan Mandar, yang ia jumpai di Kepulauan Seribu. Tidak disangka, penduduk Panggang banyak yang antusias untuk mempelajari ilmu pencak silat yang dikuasainya. Oleh karena itu, tercetus ide di benak Kyai Mursalin untuk menjadikan ilmu bela diri sebagai wadah untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Bagi siapa pun yang ingin belajar silat Nek Aing, diharuskan memahami lebih dulu ilmu agama Islam, misalnya belajar tentang Asmaul Husna. Selain itu, muridnya juga diminta mengaji terlebih dulu di mushala dan barulah selepas salat Isya akan turun ke halaman untuk berlatih pukulan.

Jurus pukulan Nek Aing Gaya silat yang diajarkan oleh Kyai Mursalin berbeda dari ilmu bela diri pada umumnya yang didominasi oleh gerakan fisik. Gerakan Kyai Mursalin lebih menekankan pada ilmu kebatinan Islam. Untuk melumpuhkan musuh, metode utama yang digunakan adalah ilmu tenaga dalam atau kracht. Ada 99 jurus dari pukulan Nek Aing, yang nama-namanya diambil dari Asmaul Husna. Salah satu ciri khas dari pukulan Nek Aing adalah jeblag, yaitu mendorong satu atau kedua tangan yang disertai dengan pengelolaan napas perut sambil melafalkan nama Allah menggunakan kuda-kuda tegak berdiri yang disebut Alif Amantubillah. Sayangnya, saat ini ilmu pencak silat Nek Aing sudah tidak terlalu dilestarikan di Pulau Panggang. Murid-murid yang dulu sempat belajar langsung dengan Kyai Mursalin juga sudah banyak yang meninggal. Sebagai langkah agar jasa Kyai Mursalin selalu diingat masyarakat, namanya diabadikan sebagai nama jalan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.


TUAN Syeikh Silau

 



TUAN Syeikh Silau Laut adalah seorang ulama besar yang tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga jago dalam hal bela diri. Bahkan berkat kepiawaiannya dalam silat dia dinobatkan sebagai Kepala Hulubalang di Kesultanan Kedah (Thailand). Berdasarkan catatan sejarah, Syeikh Silau Laut dilahirkan di daerah Batubara (sekarang Desa Tanjung Mulia Kecamatan Tanjung Tiram Batubara, Sumatera Utara) pada tahun 1858 Masehi atau 1275 Hijriyah. Ayahnya bernama Nakhoda Alang bin Nakhoda Ismail, keturunan dari Tuk Angku Mudik Tampang keturunan dari Tuk Angku Batuah yang berasal dari daerah Rao (perbatasan Mandailing Natal dengan Sumatera Barat). Gelar ‘nakhoda’ di awal nama ayahnya itu profesinya sebagai Nakhoda di sebuah kapal tongkang miliknya sendiri. Kapal itu digunakannya untuk membawa barang-barang dagangan antarpulau bahkan Malaya (Malaysia). Ibunya bernama Naerat berasal dari Kampung Rantau Panjang (Kecamatan Pantai Labu Deli Serdang, Sumatera Utara). Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu Abas, Siti Jenab, Abdurrahan, Abdurrahim.

Sejak kecilnya, Abdurrahman dikenal memiliki sifat pemberani, berkemauan keras, pendiam, cerdas dan tekun belajar. Ketika berumur 6 tahun, orang tuanya memasukkan belajar mengaji pada salah seorang guru di Kampung Lalang Batubara. Saat itu pribadinya mulai nampak sebagai ciri-ciri anak yang saleh. Sebab selain belajar agama dan mengaji, ia sering pula berkhalwat (mengasingkan diri untuk berzikir mengingat Allah Tuhan Maha Pencipta).

Sejak kecilnya, Abdurrahman dikenal memiliki sifat pemberani, berkemauan keras, pendiam, cerdas dan tekun belajar. Ketika berumur 6 tahun, orang tuanya memasukkan belajar mengaji pada salah seorang guru di Kampung Lalang Batubara. Saat itu pribadinya mulai nampak sebagai ciri-ciri anak yang saleh. Sebab selain belajar agama dan mengaji, ia sering pula berkhalwat (mengasingkan diri untuk berzikir mengingat Allah Tuhan Maha Pencipta).

Ia suka berkhalwat sejak usia 15 tahun. Setelah menginjak dewasa sekitar 17 tahun, Abdurrahman ingin memperdalam ilmu Islam. Dengan memohon izin kepada kedua orang tuanya, ia pun pergi merantau ke daerah asal para pendahulunya di Minangkabau tepatnya di Bukit tinggi. Di sana, ia berguru kepada seorang ulama yang cukup dikenal ketika itu bernama Syekh Jambek. Di samping ia mempelajari ilmu-ilmu syari'at dan ilmu fiqih, Abdurrahman lebih menekuni ilmu hakikat yaitu tauhid dan tasawuf. Tak hanya ilmu syariat, Tuan Syekh Silau Laut saat remajanya juga meminati ilmu beladiri (silat). Untuk mempelajari ilmu bela diri ini ia belajar kepada salah seorang ahli beladiri yang cukup dikenal di tanah Minangkabau bernama Tuk Angku Di Lintau. Dalam usahanya untuk membekali dirinya dengan ilmu bermanfaat, Syekh Silau Laut juga belajar ke Aceh, namun belum diketahui daerah dan gurunya tempat ia belajar. Saat usia remaja itu, Syekh Silau Laut merasa masih kurang puas dengan ilmu yang dimilikinya. Tidak lama setelah ia pulang dari Minangkabau dan Aceh, salah seorang Pakciknya bergelar Panglima Putih membawanya merantau ke negeri Fathani (Thailand). Atas restu kedua orang tuanya, ia pun berangkat untuk menambah ilmu Agama Islam. Di dalam pelayarannya, Abdurrahman muda (Syekh Silau Laut) menunjukkan kemahirannya dalam ilmu silat kepada para penumpang kapal.

Dia tidak mengetahui kalau di antara mereka ada rombongan Sultan Kedah yang akan pulang ke negerinya. Di Negeri Fathani, Abdurrahman muda belajar kepada salah seorang ulama yang cukup dikenal. Ulama ini bernama Syekh Wan Mustafa dan anaknya bernama Syekh Daud Fathani. Selama berada di sana, Abdurrahman lebih banyak belajar ilmu tauhid, ilmu tasawuf dan ilmu hikmah/ketabiban. Di samping belajar, ia ditugaskan gurunya pula untuk mengajar. Ketika berada di Fathani, ia didatangi utusan dari Kedah dengan maksud mengundangnya datang ke negeri Kedah. Alasannya, Sultan Kedah ingin melihat kemahirannya dalam ilmu silat di hadapan Hulubalang, prajurit dan rakyat negeri Kedah. Abdurrahman muda pun memenuhi undangan itu dengan terlebih dahulu memohon restu dari gurunya. Sesampainya di negeri Kedah, sesudah beberapa hari lamanya diadakanlah acara perang tanding untuk memilih kepala hulubalang kesultanan Kedah. Abdurrahman yang sengaja diundang untuk perang tanding tersebut, berhadapan dengan Panglima Elang Panas yang berasal dari Siam. Dengan kuasa dan izin Allah, Abdurrahman muda menang dalam perang tanding tersebut. Lalu, Sultan Kedah pun menawarkannya untuk menjadi Kepala Hulubalang Kesultanan Kedah. Abdurrahman menerima tawaran itu, kemudian ia dinobatkan dan menjabat selama 7 tahun berturut-turut. Menurut riwayat, beliau menerima gaji 60 Ringgit setiap bulannya. Dalam perantauannya di Fathani dan Kedah, Beliau sempat pula belajar di Kelantan. Abdurrahman menyadari bahwa cita-citanya semula adalah untuk menjadi seorang ulama yang akan mengembangkan agama Islam dan mengabdikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat negrinya. Dia pun meletakkan jabatannya sebagai Kepala Hulubalang Kesultanan Kedah, lalu pulang kembali ke negeri asalnya di Batubara dijemput Abangnya bernama Abbas. Setelah berada kembali di Batubara, dia mulai mengamalkan ilmunya untuk melakukan dakwah dengan mengisi pengajian yang ada di Batubara dan di daerah Serdang (sekarang Deli Serdang). Beliau dikenal masyarakat dengan panggilan Lebai Deraman. Ketika berdakwah di daerah Serdang, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis Serdang bernama Maimunah. Sewaktu berada di Serdang Beliau mengatasnamakan alamatnya melalui kemenakannya mufti Ahmad Serdang. Dan waktu senggangnya diisinya dengan “berkhalwat” di seberang sungai Serdang (sekarang Sungai Ular). Pada masa Abdurrahman berdakwah dan menghidupkan pengajian di Batubara dan Serdang. Sebagian besar muridnya saat itu adalah nelayan. Para muridnya ini melaporkan bahwa mereka sering diganggu oleh bajak laut yang bermukim di Pulau Jemur sehingga mereka tidak aman mencari nafkah di Selat Melaka. Mendengar laporan muridnya, Abdurrahman dan seorang kerabatnya bernama HM Zein berangkat membasmi para bajak laut tersebut dari Pantai Cermin, Serdang Bedagai. Tuan Syekh Silau Laut selain berguru kepada Tuan Baqi dari Langkat, Kedah, Kelantan, dan Fathani, Beliau juga menuntut ilmu ke Makkah selama 7 tahun. Di Makkah berguru kepada Syekh Daud Fathani, seorang ulama Tareqat Syattariah.

Seusai menimba ilmu di Makkah, Tuan Syekh Silau Laut kembali ke Sumatera dan mengembangkan Tareqat Syattariah di daerah Silau Laut hingga wafat pada 2 Jumadil Awal 1360 Hijriya atau 28 Februari 1941, dalam usia 125 tahun. Tuan Syekh Silau Laut dimakamkan di Desa Silau Laut. Di dekat makamnya terdapat makam sang istri bernama Hj Maryam dan dua anaknya yaitu Syekh Muhammad Ali dan Haji Abdul Latief. Semasa hidupnya Beliau adalah tokoh yang tidak hanya dihormati anggota jamaah Syattariah, namun para bangsawan Serdang maupun Asahan memberi perlakuan khusus terhadapnya. Wujud dari perhatian para penguasa Asahan dan Serdang itu antara lain berupa pembuatan jalan menuju Kompleks Tareqat Syattariah pimpinan Syekh Silau Laut. Awalnya adalah jalan setapak yang dirintis oleh Sultan Asahan yang kemudian diperlebar dan diperkeras atas bantuan Sultan Serdang. Seorang pengagum Syekh Silau Laut yang berasal dari Kisaran, Sumatera Utara, Ahmad Fauzi, mengaku telah menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Silau Laut. Dia bercerita bahwa Syekh Silau sangatlah berjasa dalam menyebarkan Islam di bumi Asahan maupun di beberapa negara di Asia. Kisah sejarah dan perjuangan beliau dalam berdakwah sangat banyak. Tak tangguung-tanggung negara tetangga yaitu Thailand, Malaysia, dan negara lainnya sampai datang berziarah ke makam Syekh Silau Laut. Ini bertanda bahwa Syekh Silau Laut berpindah tempat dalam menebarkan dan mengajarkan Agama Islam. Meski telah wafat namun ajaran Beliau tetap tumbuh subur dan tetap menjadi panutan. Bahkan keturunannya kini mewarisi ilmu agama dan sikap lugas dalam menyampaikan dakwahnya. Dia adalah Ustaz Abdul Somad (UAS), cucu dari Syekh Silau Laut. Sosok UAS bisa diterima khalayak, tidak hanya masyarakat Indonesia tapi juga Negara tetangga yang banyak mengagumi ulama kelahiran Asahan, Sumatera Utara itu karena tausiyah yang disampaikan begitu lugas, sederhana dan sarat hikmah.


Tharikat Samaniyah

  Tharikat Samaniyah Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010 ...