TASAUF
1. Kenapa ilmu tauhid dan tasawuf mau dihilangkan di zaman
kolonial Belanda?
Kolonial Belanda khawatir Islam jadi sumber perlawanan.
Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak perlawanan
rakyat Indonesia terhadap Belanda digerakkan oleh ulama dan santri. Misalnya,
Perang Padri (Sumatra Barat), Perang Diponegoro (Jawa), hingga perlawanan di
Aceh. Semua itu didasari semangat keagamaan, terutama dari ilmu tauhid
(keyakinan akan keesaan Allah dan penolakan terhadap penjajahan) serta tasawuf
(yang membangkitkan semangat jihad melalui tarekat-tarekat sufi).
Tauhid dianggap ideologi perlawanan.
Tauhid yang menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya yang
berhak ditaati, membuat umat Islam menolak tunduk pada kekuasaan kolonial. Itu
berbahaya bagi Belanda.
Tasawuf jadi pengikat massa.
Tarekat-tarekat sufi waktu itu tidak hanya mengajarkan
spiritualitas, tapi juga jadi jaringan sosial-politik. Dari sinilah muncul
mobilisasi massa untuk melawan penjajah. Karena itu, Belanda berusaha
melemahkan pengajaran tasawuf dan mempromosikan Islam yang “jinak” dan tidak
politis.
2. Kenapa orang yang berangkat haji harus memakai gelar
"Haji"?
Kebijakan administratif Belanda.
Belanda mewajibkan pencatatan dan pengawasan terhadap orang
yang pulang haji. Mereka dianggap “potensial berbahaya” karena setelah
menunaikan haji biasanya pulang dengan kesadaran politik, pengetahuan baru, dan
semangat anti-penjajahan.
Haji = elite sosial baru.
Di masyarakat, gelar Haji otomatis memberi wibawa. Orang
yang pulang haji biasanya dihormati, dijadikan pemimpin, dan didengar suaranya.
Belanda ingin mengawasi dan mengontrol status itu, makanya setiap jamaah haji
“diberi tanda resmi” dengan gelar Haji agar mudah dikenali.
Strategi kolonial: memisahkan yang “agama murni” dari yang
“politik”.
Dengan memberi gelar Haji, Belanda seakan memberi pengakuan
sosial—tapi sekaligus bisa mengidentifikasi siapa saja tokoh masyarakat yang
bisa berpotensi melawan mereka.
Jadi, intinya:
Ilmu tauhid & tasawuf ditekan karena melahirkan keberanian
dan semangat melawan penjajahan.
Gelar Haji diwajibkan supaya Belanda mudah mengawasi dan
sekaligus memberi “stempel sosial” yang bisa dipakai untuk mengendalikan umat.
Pembuat
Kamila
Hanafi
SESAJEN
Pernah ndak panjenengan ngeliat orang Jawa bikin acara
Slametan, terus di situ ada tumpeng, kembang setaman, bubur merah putih (jenang
abang putih), dan pastinya... bakar kemenyan atau dupa?
Bagi sebagian orang zaman now, atau yang belum paham, pasti
langsung gampang nge-judge: "Wah, syirik nih! Musyrik! Ngasih makan setan!
Manggil dedemit!"
Paijo dulu juga sempet mikir gitu, Lur. Kok kayaknya mistis
banget, horor gitu lho. Tapi setelah dipikir-pikir sambil ngopi, masa iya sih
leluhur Nusantara yang terkenal cerdas dan punya peradaban tinggi itu
kerjaannya cuma ngasih makan hantu?
Ternyata oh ternyata, asline ndak gitu, Lur!
Leluhur kita itu punya kecerdasan tingkat tinggi. Mereka
sadar kalau wejangan berupa "kata-kata" itu gampang dilupakan atau
diselewengkan. Makanya, ajaran agama dan spiritualitas itu dibungkus pakai
bahasa simbol alias sandi kosmis.
Jadi, sesajen atau ubarampe itu BUKAN MAKANAN BUAT SETAN,
melainkan PROPOSAL DOA yang diwujudkan dalam bentuk kode sandi dalam suatu
benda. Mari kita bedah sandi rahasianya:
Tumpeng
Kenapa bentuknya kerucut ke atas? Ini bukan pamer porsi nasi,
Lur. Kerucut ke atas itu simbol Ketauhidan (Manunggaling Kawula Gusti).
Mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di alam semesta ini, dari bawah yang
lebar dan beragam, semuanya akan mengerucut kembali pada SATU titik, yaitu
Gusti (Tuhan Yang Maha Esa).
Jenang Abang Putih (Bubur Merah Putih)
Warna merah melambangkan ovum (sel telur) ibu, dan putih
melambangkan sperma bapak. Ini adalah pengingat asal-usul kita (Sangkan
Paraning Dumadi). Sebelum kita sombong menatap langit, kita disuruh ingat jalan
lahir kita lewat perantara bapak dan ibu.
Bakar Kemenyan / Dupa
Nah, ini yang paling sering dituduh buat manggil kuntilanak!
Padahal, zaman dulu belum ada diffuser aromaterapi yang
dicolok listrik, Lur. Kemenyan itu aromaterapi alami! Baunya yang wangi bikin
hati dan pikiran jadi tenang, hening, dan khusyuk saat berdoa. Asapnya yang
membubung lurus ke atas adalah simbol dari doa dan harapan kita yang naik
menuju Sang Pencipta.
Kembang Setaman
Bunga yang wangi itu harapan. Doa agar keluarga yang
mengadakan slametan selalu wangi namanya, baik budi pekertinya, dan damai
(slamet) hidupnya.
Luar biasa, tho?
Orang Jawa itu setiap bikin apa-apa tujuannya satu: mencari
SLAMET (keselamatan, kedamaian, harmoni). Mereka ndak mau merusak keseimbangan
alam raya (Memayu Hayuning Bawana).
Sayangnya, ilmu "sandi rahasia" sedalam dan
seindah ini pelan-pelan mulai hilang. Banyak dari kita yang nyiapin tumpeng
atau kembang, tapi sekadar ikut-ikutan repot di dapur tanpa tahu makna sakral
di baliknya. Akhirnya ya gampang dituduh yang enggak-enggak.
Nah, semua rahasia yang bikin Paijo merinding takjub ini,
kebetulan baru aja Paijo baca sampai tamat dari sebuah buku luar biasa,
judulnya "Faham Keselamatan dalam Budaya Jawa" karyanya Pak Ign.
Gatut Saksono & Djoko Dwiyanto.
Buku ini sukses besar "menelanjangi" semua mitos
dan tradisi warisan leluhur kita. Secara garis besar, kalau panjenengan baca
buku ini, panjenengan bakal diajak ngudhar:
Filosofi Sangkan Paraning Dumadi:
Dari mana manusia asalnya, dan apa sih sebenarnya misi rahasia
kita turun ke bumi.
Kosmologi dan Mistik Kejawen: Memahami gimana orang Jawa
memandang Gusti (Tuhan), alam nyata, dan tetangga-tetangga kita di alam gaib
(tenang, ini ndak ngajarin klenik atau pesugihan!).
Rahasia Slametan:
Kenapa sih orang Jawa selalu pengen hidup "slamet"
dan gimana mereka merajut harmoni dengan alam.
Detail Ritual Daur Hidup:
Membedah rahasia sesajen dari upacara ibu hamil (Mitoni),
bayi lahir (Tedhak Siten), nikahan, sampai rentetan acara orang meninggal (40
harian sampai 1000 hari).
Ini sama sekali bukan buku primbon dukun, Lur. Ini murni
buku kajian budaya, sejarah, dan filosofi yang ilmiah, disajikan dengan logis,
dan dijamin bikin wawasan spiritual panjenengan makin jembar (luas).
Bagi dulur-dulur yang demen kajian sejarah, filsafat, atau
minimal pengen ngerti apa sih maksudnya tradisi yang sering dilakukan Mbah-Mbah
kita di kampung, buku ini bener-bener masterpiece yang wajib nangkring di rak
sampeyan.
Daripada sampeyan terus-terusan nebak-nebak dan salah paham
sama budaya sendiri, kebetulan Paijo masih punya sisa stok 5 buku (maklum, buku
ini lumayan rare dan jarang banget nongol di toko buku biasa!).
Ada yang kepo dan pengen memahami sandi rahasia leluhur ini ?
Boleh BELI di Paijo. Langsung inbox Paijo atau ketik aja "MAU
BUKUNYA" di kolom komentar ya!
Rp 45.000 belum termasuk ongkir. Buku dijamin original.
Baru, meski stok lawas
.. Sisa stok cuma ada 5 buku.
Yuk, lestarikan budaya bukan cuma dengan dipraktikkan, tapi
dengan dipahami maknanya. Biar kita ndak jadi generasi yang kagetan dan gampang
nge-judge.
Selamat ngopi dan selamat beraktifitas, dulur-dulurku yang
hebat!
.
.
SYARIAT
*. SYARIAT itu:
-Takut akan neraka menghendaki surga
-. Menghitung-hitung Pahala takut dengan Dosa
- Menjauhi yang haram menghendaki yang halal
-Sifatnya mencela yang hidup. Inilah sifat orang
FIQIH/SYARIAT Zikirnya:LAILAHA ILALLAH.
*.TARIKAT itu:
- Sifatnya perjalanan mencari Tuhan
-Sifatnya tidak takut neraka dan tidak menghendaki syurga.
Pengamalannya: Mencari wali–wali yang sudah wafat atau para
Nabi nabi Isinya: Merasa bertemu dengan Aulia-aulia .Sesudah mati orang orang
tarikat ini tidak bisa mengangkat harkat dialam mati.Maka orang tarikat ini
bertahan di ALAM BARZAH. Dzikirnya ALLAH ALLAH.
*.HAKIKAT itu:
-Orang orang hakikat tidak takut neraka dan tidak
menghendaki syurga.
-Orang–orang hakikat ini mengetahui 7 sifat -Tuhan berlaku
di jasad beliau.
-Beliau mengaku LAHAULAWALAKUWATTA.
-Dia lenyap di Alam zikir HUALLAH maka orang ini belum bisa
menembus Alam ”AHMAD” dan lagi bisa gugur karena hakikatnya itu salah.Merasakan
bahwa para Aulia-aulia mendatangi mereka terus,maka jatuhlah hakikatnya ke ALAM
KUBUR.
*.MA'RIFAT itu:
:Perjalanan Ahklak Pengamalanya:
+Rahman Rahim.
+Memberi dengan ihklas.
+Sabar.
+Mau memberi dan tidak mau di beri (Menerima) Pengamalanya
berlaku setiap hari,dan orang orang ini akan mengetahui ilmu:
SYARIAT,TARIKAT,HAKIKAT. DZIKIRNYA LAILAHA ILALLLAH ANA atau Tidak Bersuara
tidk berhuruf.
Mati nya orang Makrifat adalah puncak tertinggi dalam
perjalanan Spiritual Tasawuf, bukan kematian fisik, melainkan
"kematian" diri (fana) dari keakuan, hawa nafsu, dan keterikatan akan
Duniawi untuk bersatu secara hakiki dengan Allah SWT, merasakan ke'Esa'an-Nya
(Tauhid hakiki), serta mencapai kesadaran penuh bahwa "tidak ada yang
wujud selain Dia" (La maujuda bihaqqin illa Allah).
Ini adalah kematian Spiritual di mana ruh kembali kepada
Sang Maha Hidup, mencapai Maqom Tertinggi mengenal Tuhan secara langsung
melalui cahaya batin.
Fana (Lenyap Diri): Lenyapnya kesadaran diri sebagai entitas
terpisah, Lenyapnya Hawa Nafsu, dan lenyapnya perasaan sakit atau kelezatan
duniawi.
Tauhid Hakiki: Kesadaran mendalam bahwa hanya Allah yang
benar-benar ada (yg hakiki), sementara segala sesuatu yang lain adalah
manifestasi atau bayangan-Nya.
Menyatu dengan Nurullah: Rahasia diri lenyap dalam Nur
Muhammad, lalu lenyap dalam Nur Allah, merasakan ketenangan dan keesaan-Nya.
adapun Tingkatan Kematian dalam Tasawuf :
*Syariat (Kematian Fisik): Kematian biasa sesuai hukum alam,
di mana tubuh hancur. Ini adalah awal dari perjalanan spiritual, namun bukan
tujuan akhir.
*Tarekat (Kematian 'Nafsu'): Kematian terhadap keinginan
duniawi dan hawa nafsu melalui amalan dan ibadah yang sungguh-sungguh. Tubuh
mungkin masih ada, tapi 'diri' yang lama mulai luntur.
*Hakikat (Kematian 'Ego'): Kematian dari kesadaran diri
sebagai entitas terpisah. Tubuh bisa utuh dan bercahaya karena kesatuan batin
dengan Tuhan, rambut dan kuku bisa bertambah panjang sebagai tanda keabadian
spiritual.
*Makrifat (Kematian 'Wujud'): Puncak pencapaian spiritual di
mana wujud diri melebur sepenuhnya dalam Zat Allah (fana fillah). Tubuh fisik
bisa lenyap, diangkat oleh malaikat, atau menjadi Wali Allah, karena yang ada
hanya Allah.
Konteks "Mati" dalam Tasawuf:
Mati Hakiki (Fana): Adalah tujuan tasawuf, yaitu melenyapkan
diri dari sifat-sifat kemanusiaan dan keakuan untuk mencapai kesadaran total
akan Keberadaan Allah (Laa Maujuda Illa Allah).
Mati Makrifat (Tertinggi): Tubuh lenyap dalam kubur, kembali
ke sisi Allah, menjadi Wali Allah, mencapai kesempurnaan Spiritual.
Ciri-ciri Orang yang Mencapai Mati Makrifat:
Tidak lagi terikat dunia dan Hawa Nafsu, tetapi tetap
menjalankan syariat dengan sempurna
Melihat alam malakut (alam ruh) dan keindahan ciptaan Allah.
Merasakan ketenangan dan kelezatan spiritual yang murni,
tidak lagi terpengaruh cobaan dunia.
Menyadari bahwa dirinya dan segala sesuatu adalah Allah
semata.
Singkatnya: Mati makrifat adalah transformasi spiritual dari
"aku" menjadi "Dia", sebuah keadaan di mana kesadaran
manusia telah mencapai puncak keilmuan dan rasa dekat dengan Tuhan, seolah-olah
telah mati dari kehidupan duniawi yang terbatas.”
di Dalam Tasawuf kita dianjurkan harus melatih dan
menggembleng jiwa agar berevolusi semakin dewasa, matang dan tercerahkan. Ada
tujuh tahapan jiwa yang harus dilalui untuk memperoleh Jiwa yang tercerahkan.
Yaitu Jiwa Ammarah, Jiwa Lawwamah, Jiwa Mulhimah, Jiwa Muthmainnah, Jiwa
Rodhiyah, Jiwa Mardhiyah dan Jiwa Kamilah.
1JIWA AMARAH:
Jika seseorang yang kondisi jiwanya adalah Jiwa Ammarah
ketika disakiti dan dihina oleh orang lain, maka dia akan membalasnya dengan
lebih kejam. Jika dia dihina satu kali, maka akan membalas menghinanya sepuluh
kali. Jika dia dipukul satu kali, maka akan membalas memukul sepuluh kali
dengan dendam kusumat.
Dendam kebenciannya sangat merasuki jiwanya, bahkan suka
mendoakan dan melaknat agar kuwalat mati, hancur. Dengan begitu hatinya puas
dan lega. Karena Jiwa Ammarah adalah sifat - sifat "Syetan" di dalam
diri manusia.
2.JIWA LAWAMAH:
Sedangkan orang yang Jiwanya Lawwamah ketika disakiti dan
dihina orang lain, maka dia akan untuk membalas dan melawannya juga tetapi
tidak berlebihan seperti Jiwa Ammarah. Jika belum bisa membalas hatinya belum
lega dan akan dendam terus sampai bisa membalasnya. Bahkan mendoakan celaka
bagi orang yang menghinanya tersebut.
3.JIWA MULHIMAH:
Berbeda dengan Jiwa Mulhimah atau Sufiah, dia tidak kejam
dan tidak dendam yang berlebihan tetapi dia membalasnya dengan omelan dan
teguran kepada yang bersangkutan. Diapun berharap orang tersebut kualat atau
kena adzab dari Allah agar tidak suka mendholimi orang lain.
4.JIWA MUTMAINAH:
Adapun Jiwa Muthmainnah ketika disakiti oleh orang lain, dia
tidak membalasnya. Sering berguman apa salah dirinya sehingga disakiti dan
dihina orang lain. Berusaha intropeksi dan mbenahi dirinya, dan sering menyeru
kepada Tuhan, " Ya Allah mengapa nasibku selalu disakiti oleh orang lain,
apa salahku...?!"
5.JIWA RDHIYAH:
Bagi orang yang Jiwanya Rodhiyah ketika disakiti oleh orang
lain dia tidak membalas dendam dan tidak sakit hati serta tidak mengeluh kepada
Allah. Justru dia mengevaluasi dirinya mungkin ada prilakunya yang masih belum
baik kepada orang lain.
6.JIWA MARDIYAH:
Selanjutnya bagi Jiwa Mardhiyah bahwa antara cacian, hinaan
dan pujian tidak mempengaruhi dirinya. Karena jiwa mereka selalu disibukkan
dengan dzikir dan merasakan manisnya cinta kepada Allah. Rasa Cinta Kepada
Allah membutakan dirinya kepada selain Allah. Telinganya tidak mendengar cacian
dan hinaan, justru ingin membantu berbuat baik dan mendoakan yang baik krpada
oranh yang menyakitinya.
7.JIWA KAMILAH:
Adapun Jiwa Kamilah adalah jiwa yang ketika dihina dan
disakiti oleh orang lain, hatinya tidak sakit dan luka. Karena hatinya sudah
fana' atau lebur kepada Tuhan. Hatinya seperti Samudera, diganggu, dihina dan
dimaki atau diberi kotoran Justru menepi sendiri.
Bahkan mereka membalasnya dengan kebaikan kepada orang-orang
yang menyakiti dan menghinanya. Itulah Akhlaknya para Rasul dan para Nabi, para
Wali Allah dan orang-orang yang Sholeh.
Ketika Nabi Muhammad dakwah di Thaif beliau disambut dengan
cacian dan dilempari batu akhirnya kepalanya berdarah, lalu mencari tempat yang
aman. Malaikat Jibril datang dan memberi salam kepada Rasulullah SAW seraya
berkata, ''Apa pun yang engkau perintahkan, akan kulaksanakan, kalau kamu mau,
saya akan benturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapa pun yang
tinggal di antara keduanya akan mati terhimpit. Jika tidak apa pun hukuman yang
engkau perintahkan, saya siap melaksanakannya.''
Akan tetapi beliau menolaknya bahkan justru mendoakan,
''Allahumma ihdi qawmiy, fa innahum laa ya'lamun.'' (Ya Allah, tunjukilah
kaumku, karena mereka tidak mengetahui (bahwa yang aku bawa ini benar)."
Allah SWT Berfirman :
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ
عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka
tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah
menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku". (Q.S. Al-Fajr [89]:
27-30)
"SILAT YANG SEBENAR"
Silat yg asli ini ada ciri2nya.
Walau macam manapun seseorang itu hendak menirunya,
Andai kata tidak bersanad,
Ia hanya akan jadi Silat kreatif, Silat Olahan, Silat
Olahraga, Silat Self Defence dan lain2.
Silat ini pun,
Kalau org yg mengaji betul2 banyak diam,
Lama2 ilmu ini akan hilang.
Yg naik ialah "scammer2" yg buat macam2 klaim.
Tak mustahil satu ketika,
Kalau tiada usaha dari Guru2 Silat yg benar,
Anak cucu cicit kita akan belajar Silat yg tersimpang
jalannya,
Silat yg tak sampai hujung jalannya.
Silat yg bawa pada kerosakan,
Bukan pada pembinaan insan.
Jangan pula terasa hati akan kata2 ambo.
Yg kreatif, yg olah, yg olahraga, yg beladiri, semua pun
sedap juga mainannya.
Cuma, mahu tak mahu, kita kena jujur.
Yg utama kita jujur itu adalah untuk diri sendiri.
Keduanya, jujur pula pada murid2 yg dahaga dtg mahu menuntut
ilmu.
Bagaimana mungkin utk kita bawa "Silat" kalau kita
tak punya Guru.
Bagaimana mungkin seseorang boleh menjadi Guru Silat kalau
tidak terlebih dahulu menjadi Murid.
Bagaimana mungkin nak menjadi Guru kalau tidak pernah merasa
peritnya tikam terajang dalam gelanggang.
Bagaimana mungkin nak betulkan murid dalam sahsiah, kalau
kita tak pernah berguru mengenal dgn Guru.
Siapa yg akan betulkan jalan kita?
Siapa yg akan tegur silap kita?
Kadang2, sikap tergesa-gesa hendak menjadi Guru, (walaupun
kebaikannya ada sedikit utk penerusan generasi baru), tetapi ia merosakkan kita
kalau, tanpa melalui Guru, tiada kesabaran dan tiada keikhlasan.
Yang menjadikan seseorang itu Guru,
Bukan yg kita tulis,
Bukan yg kita sebut,
Bukan yg kita claim.
Kalau itu caranya, berat yg diri kena tanggung.
Penat sangat nak berlakon ni,
Letih sungguh nak sembang.
Yg sebenarnya menjadikan seseorang itu Guru,
Ialah masaknya ilmu nya,
Murid2nya,
Sahabat2nya,
Masyarakat,
Dan yg utama, Guru yg dengannya kita menyusu.
Maaflah kalau apa yg ambo tulis ada yg salah faham, ada yg
terasa.
Ambo rasa kasihan dan sedih,
Semangat dah ada tapi jalannya tak jumpa.
Ambo doakan moga berjumpa insyAllah,
Kerana ini juga pilihan DIA.
Tak ada nikmat yg boleh diungkap apabila ilmu Silat itu
berjumpa.
Tak terkata akan tenteramnya "Ibu Gayong" itu.
Tanpa ia,
Silat hanya kulit.
Kita banyak bergaduh,
Banyak berebut,
Banyak serabut,
Banyak mengkritik,
Banyak menghina,
Sehingga banyak menjatuh.
Walhal kita perlu sama2 kembangkan Silat ini.
Kerja kembangkan silat bukan kerja seorang.
Kerja kita semua.
Dan hanya yg Silatnya benar, sanadnya betul,
Akan faham Silat yg mcm mana yg kita nak perturunkan pada
murid2.
Jangan jadi ketam yg mengajar anak2nya berjalan.
Mitok maaf ko ambo deh.
Astaghfirullahal a'zim.
Panglima Hitam
Narapati Nantaboga
PERMAINAN TRADISIONAL
SEMBHOGH ELANG (TEMIANG)/SAMBER ELANG
Permainan masa kanak2 ini dulu sering dimainkan dikala ada
acara hajatan pesta dikediaman disalah satu masyarakat kampung dan terkadang
kami sering memainkannya dikala saat bulan ramadhan setelah selesai sholat
tarawih bahkan yang lebih anehnya permainan ini akan dimainkan oleh anak2
disaat ada acara tahlilan malam ke 7 dan malam 40 hari di rumah duka orang yang
meninggal, yang namanya anak2 diwaktu itu tidak mengerti kondisi waktu sehingga
dimana ada acara keramaian disitulah muncul permainan anak2.
Permainan sembogh elang ini terdiri dari dua tim dengan
masing2 tim terdiri dari 5 sampai 10 orang, satu tim di sebut dengan Elang dan
yang satu Tim disebut istilahnya seperti ayam, jadi yang dibutuhkan dalam
permainan ini adalah kekuatan berlari dan kekompakan tim.
Sebelum permainan dimulai akan dibuatkan sebuah lingkaran
besar dihalaman salah satu rumah penduduk yang memiliki halaman yang cukup luas
dan disepakati bersama batas2 lokasi tempat berlari.
Tim elang akan mengejar tim ayam dan mengkapnya satu persatu
lalu dimasukan kedalam lingkaran yang sudah dibuatkan tadi, tim ayam yang
tertangkap oleh tim elang akan dijaga oleh beberapa orang dari tim elang
sedangkan sisa dari tim elang terus mengejar tim ayam yang belum tertangkap.
Tim ayam akan segera berupaya menyelamatkan timnya yang
tertangkap dan terkurung didalam lingkaran dengan cara menyambar tim ayam yang
tertangkap sedangkan tim elnag yang menjaga lingkaran tersebut terus berupaya
agar tim ayam yang sudah tertangkap jangan sampai lepas.
Permainan ini sebenarnya sangat melelahkan, sebab
permainannya terus berlari-lari, jika tim yang ayam yang sudah tertangkap lalu
disambar oleh temannya tim ayam maka anggotanya tersebut harus bersiap-siap dan
berusaha untuk keluar dari lingkaran tersebut dan berupaya agar jangan sampai
tertangkap lagi oleh tim elang dengan cara berlari sekuat tenaga, NAMUN ADA
JUGA TERKADANG TIM AYAM YANG SUDAH TERTANGKAP TERSEBUT DIA SUDAH MERASA
KELELAHAN DAN DIA MERASA SUDAH NYAMAN BERADA DIDALAM LINGKARAN TIM ELANG SEHINGGA
KETIKA TEMANNYA MENYAMBAR DIA ENGGAN UNTUK BERLARI LAGI DAN ENGGAN
UNTUK KELUAR DARI JONA NYAMANNYA DIDALAM LINGKARAN TERSEBUT.
Jadi begitulah seterusnya Tim elang terus memburu tim ayam
untuk ditangkap keseluruhannya, apa bila tim ayam sudah ketangkap
keseluruhannya maka tim akan bergantian untuk menjadi tim elang dan tim ayam,
betulah seterusnya permainan ini dimainkan sampai lelah baru berhenti.
Ternyata makna yang tersirat dari permainan tradisional ini
adalah membangun kekompakan tim dan saling membantu teman yang sedang dalam
kesulitan, ketika teman berada dalam lingkaran kesulitan maka teman yang lain berupaya
mengulurkan tangannya untuk memberikan pertolongan kepada temannya yang berada
dalam lingkaran kesulitan, pertolongan itu pun diberikan bukan berarti yang
ditolong tersebut akan digendong sampai keluar dari lingkaran masalahnya namun
diharuskan juga untuk saling berlari bersama karena si penolong tidak sanggup
untuk menggendongnya artinya ada usaha kita sendiri juga untuk keluar dari
masalah kita sendiri setelah ada sedikit bantuan dari teman kita.
Namun ada juga yang memang ketika ingin dibantu namun yang
mau dibantu dia merasa sudah lelah sehingga dia merasa nyaman saja ketika
berada dalam lingkarannya.
Sekian cerita permainan Sembogh Lang ini.