Home

Senin, 08 Juni 2026

DENDANG LEBAH

 

DENDANG LEBAH

 


Dalam masyarakat Melayu Tamiang, mantra atau dikenal juga sebagai denden (berdenden/berdendang) adalah jenis pengucapan yang terdengar seperti puisi yang mengandung unsur sihir dan ditujukan untuk mempengaruhi atau mengontrol sesuatu hal untuk memenuhi keinginan penuturnya. Mantra merupakan pilihan kata-kata yang dibaca untuk melalukan sesuatu secara kebatinan. Dendang lebah adalah salah satu mantra yang terdapat dalam kebudayaan Melayu, khususnya etnis Melayu yang berada di Tamiang. Dendang lebah ini digunakan untuk mengambil madu lebah di pohon kayu Tualang. Ada 2 (dua) dendang yang terdapat dalam prosesi pengambilan madu pada masyarakat Melayu Tamiang, yaitu mantra untuk pohon kayu tualang dan mantra untuk mengambil madu. Keberadaan hutan alam bagi masyarakat Melayu Tamiang sangat penting. Sebagian dari mereka menggantungkan hidup dari hasil mengambil madu dari atas pohon Tualang. Pohon Tualang yaitu pohon yang tinggi besar dan tempat yang disenangi lebah hutan untuk bersarang dibandingkan dengan pohon-pohon yang lain. Di Tamiang pengambilan madu lebah dapat dilakukan setahun sekali, yaitu pada bulan april. Pengambilan madu dilakukan pada malam hari di saat bulan gelap. Prosesnya pun dilakukan menggunakan peralatan tradisional. Dengan syarat tidak boleh ada api dan tampak bayangan, mereka meyakini jika tampak bayangan maka pemanjat bisa jatuh. Peralatan yang dibutuhkan antara lain: 1. Timba/ ember berfungsi untuk menampung dan menurunkan madu. 2. Patin secukupnya (bambu yang telah diruncingkan ujungnya sebesar jari telunjuk panjangnya ± 10 cm di tancapkan di pohon tualang menyerupai anak tangga) berfungsi untuk tempat memijak kaki. 3. Tunam (batang sirih hutan yang diikat dan dibakar untuk mendapatkan bara api) berfungsi untuk mengusir lebah 4. Lampu kecil atau teplok berfungsi untuk penerangan di bawah. 5. Tali panjang berfungsi untuk mengikat timba yang berisi madu Proses mengambil madu lebah ini dipimpin oleh Pawang Tuhe (pawang tua/ kepala pawang) dan dibantu oleh juru panjat lainnya disebut juga pawang mude. Proses pengambilan madu lebah sebagai berikut: Denden lebah ini digunakan untuk mengambil madu lebah di pohon kayu Tualang. Ada 2 (dua) dendang yang terdapat dalam prosesi pengambilan madu pada masyarakat Melayu Tamiang, yaitu mantra untuk pohon kayu tualang dan mantra untuk mengambil madu. Keberadaan hutan alam bagi masyarakat Melayu Tamiang sangat penting.

 

 

Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat Memanen Madu

Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude

Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude

Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat Memanen Madu

Setiap penjuru daerah di Indonesia memiliki beragam tradisi yang unik dan sarat makna.

Di Aceh Tamiang, masyarakat sekitar telah mempertahankan tradisi memanen madu yang bernama Dendang Lebah. Tradisi ini dilakukan dengan mengucapkan mantra berisi rayuan dan bujukan atau perintah halus untuk "Penjaga Alam" saat memanen madu.

Melansir dari tulisan Nurmila Khaira berjudul "Dendang Lebah Dalam Tradisi Mengambil Madu di Tamiang", untuk memanen madu ini tidak bisa dilakukan sembarang orang.

Dibacakan Mantra

Sebelum dipanen, seorang Pawang Tuhe membacakan sebuah mantra yang menjadi simbol penghormatan manusia terhadap makhluk hidup. Setiap unsur alam yang diambil maka sebaiknya dilakukan dengan kerendahan hati tanpa sikap berlebihan.

Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude. Karena dianggap tabu, proses memanennya pun tanpa alat penerangan satupun.

Kemudian, proses pemantraan lainnya dilakukan saat Pawang Tuhe menancapkan Patin yang berfungsi sebagai alat pijak untuk Pawang Mude memanjat. Biasanya Patin ini akan ditancapkan sampai tinggi badan Pawang Tuhe lalu dilanjutkan oleh Pawang Mude.

Setelah mencapai ketinggian yang diinginkan, barulah Pawang Mude membacakan mantra kembali untuk proses pengambilan madu.

Cerita Rakyat

Dalam tradisi Dendang Lebah ini berkembang sebuah cerita rakyat yang sudah diwariskan turun-temurun. Setiap Dendang Lebah berisi sebuah rayuan kepada alam untuk mengambil madu. Dan jika menaiki Pohon Tualang untuk mengambil madu tidak boleh membawa besi dalam bentuk apapun.

Meski panen madu hanya dilakukan setahun sekali, tetapi masyarakat Tamiang percaya jika pengambilan madu tidak bisa dilakukan sembarang orang.

Ada sebuah legenda tentang Dendang Lebah, konon ada kisah asmara antara sang raja dengan seorang dayang. Pada suatu hari putri dan putra mahkota sedang berjalan di taman, lalu bertemu dengan lebah yang mengikuti mereka. Sontak, sang putri menginginkan madu.

Putra mahkota pun berusaha untuk mengambil madu dari atas Pohon Tualang. Namun, ketika di atas pohon, ia bertemu seekor madu berwujud dayang, lalu ia merayu lebah tersebut agar diizinkan untuk mengambil madu.

Ada juga versi lain dari cerita ini bahwa penunggu pohon itu adalah sosok tak kasat mata yang marah kepada putra mahkota karena memanjat pohon tualang dengan membawa senjata tajam yang terbuat dari besi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RATEB BEJALAN

  RATEB BEJALAN   Tamiang masih memegang teguh adat istiadat yang ada, salah satunya adalah tradisi yang biasa dilakukan di penghujung b...