DENDANG LEBAH
Dalam masyarakat Melayu Tamiang, mantra atau dikenal juga
sebagai denden (berdenden/berdendang) adalah jenis pengucapan yang terdengar
seperti puisi yang mengandung unsur sihir dan ditujukan untuk mempengaruhi atau
mengontrol sesuatu hal untuk memenuhi keinginan penuturnya. Mantra merupakan
pilihan kata-kata yang dibaca untuk melalukan sesuatu secara kebatinan. Dendang
lebah adalah salah satu mantra yang terdapat dalam kebudayaan Melayu, khususnya
etnis Melayu yang berada di Tamiang. Dendang lebah ini digunakan untuk
mengambil madu lebah di pohon kayu Tualang. Ada 2 (dua) dendang yang terdapat
dalam prosesi pengambilan madu pada masyarakat Melayu Tamiang, yaitu mantra
untuk pohon kayu tualang dan mantra untuk mengambil madu. Keberadaan hutan alam
bagi masyarakat Melayu Tamiang sangat penting. Sebagian dari mereka
menggantungkan hidup dari hasil mengambil madu dari atas pohon Tualang. Pohon
Tualang yaitu pohon yang tinggi besar dan tempat yang disenangi lebah hutan
untuk bersarang dibandingkan dengan pohon-pohon yang lain. Di Tamiang
pengambilan madu lebah dapat dilakukan setahun sekali, yaitu pada bulan april.
Pengambilan madu dilakukan pada malam hari di saat bulan gelap. Prosesnya pun
dilakukan menggunakan peralatan tradisional. Dengan syarat tidak boleh ada api
dan tampak bayangan, mereka meyakini jika tampak bayangan maka pemanjat bisa
jatuh. Peralatan yang dibutuhkan antara lain: 1. Timba/ ember berfungsi untuk
menampung dan menurunkan madu. 2. Patin secukupnya (bambu yang telah
diruncingkan ujungnya sebesar jari telunjuk panjangnya ± 10 cm di tancapkan di
pohon tualang menyerupai anak tangga) berfungsi untuk tempat memijak kaki. 3.
Tunam (batang sirih hutan yang diikat dan dibakar untuk mendapatkan bara api)
berfungsi untuk mengusir lebah 4. Lampu kecil atau teplok berfungsi untuk
penerangan di bawah. 5. Tali panjang berfungsi untuk mengikat timba yang berisi
madu Proses mengambil madu lebah ini dipimpin oleh Pawang Tuhe (pawang tua/
kepala pawang) dan dibantu oleh juru panjat lainnya disebut juga pawang mude.
Proses pengambilan madu lebah sebagai berikut: Denden lebah ini digunakan untuk
mengambil madu lebah di pohon kayu Tualang. Ada 2 (dua) dendang yang terdapat
dalam prosesi pengambilan madu pada masyarakat Melayu Tamiang, yaitu mantra
untuk pohon kayu tualang dan mantra untuk mengambil madu. Keberadaan hutan alam
bagi masyarakat Melayu Tamiang sangat penting.
Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat
Memanen Madu
Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang
dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude
Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang
dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude
Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat
Memanen Madu
Setiap penjuru daerah di Indonesia memiliki beragam tradisi
yang unik dan sarat makna.
Di Aceh Tamiang, masyarakat sekitar telah mempertahankan tradisi memanen madu
yang bernama Dendang Lebah. Tradisi ini dilakukan dengan mengucapkan mantra
berisi rayuan dan bujukan atau perintah halus untuk "Penjaga Alam"
saat memanen madu.
Melansir dari tulisan Nurmila Khaira berjudul
"Dendang Lebah Dalam Tradisi Mengambil Madu di Tamiang", untuk
memanen madu ini tidak bisa dilakukan sembarang orang.
Dibacakan Mantra
Sebelum dipanen, seorang Pawang Tuhe membacakan sebuah
mantra yang menjadi simbol penghormatan manusia terhadap makhluk hidup. Setiap
unsur alam yang diambil maka sebaiknya dilakukan dengan kerendahan hati tanpa
sikap berlebihan.
Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh
Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude. Karena dianggap
tabu, proses memanennya pun tanpa alat penerangan satupun.
Kemudian, proses pemantraan lainnya dilakukan saat Pawang
Tuhe menancapkan Patin yang berfungsi sebagai alat pijak untuk Pawang Mude
memanjat. Biasanya Patin ini akan ditancapkan sampai tinggi badan Pawang Tuhe
lalu dilanjutkan oleh Pawang Mude.
Setelah mencapai ketinggian yang diinginkan, barulah Pawang Mude membacakan
mantra kembali untuk proses pengambilan madu.
Cerita Rakyat
Dalam tradisi Dendang Lebah ini berkembang sebuah cerita
rakyat yang sudah diwariskan turun-temurun. Setiap Dendang Lebah berisi sebuah
rayuan kepada alam untuk mengambil madu. Dan jika menaiki Pohon Tualang untuk
mengambil madu tidak boleh membawa besi dalam bentuk apapun.
Meski panen madu hanya
dilakukan setahun sekali, tetapi masyarakat Tamiang percaya jika pengambilan
madu tidak bisa dilakukan sembarang orang.
Ada sebuah legenda tentang Dendang Lebah, konon ada kisah
asmara antara sang raja dengan seorang dayang. Pada suatu hari putri dan putra
mahkota sedang berjalan di taman, lalu bertemu dengan lebah yang mengikuti
mereka. Sontak, sang putri menginginkan madu.
Putra mahkota pun berusaha untuk mengambil madu dari atas
Pohon Tualang. Namun, ketika di atas pohon, ia bertemu seekor madu berwujud
dayang, lalu ia merayu lebah tersebut agar diizinkan untuk mengambil madu.
Ada juga versi lain dari cerita ini bahwa penunggu pohon itu adalah sosok tak
kasat mata yang marah kepada putra mahkota karena memanjat pohon tualang dengan
membawa senjata tajam yang terbuat dari besi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar