RATEB BEJALAN
Tamiang masih memegang teguh adat istiadat yang ada, salah
satunya adalah tradisi yang biasa dilakukan di penghujung bulan Safar atau yang
dikenal dengan “Rabu Habih” yang berarti Hari Rabu terakhir di bulan Safar yang
dilaksanakan oleh masyarakat Tamiang dengan tujuan untuk menghindari kejadian
buruk, sial, nasib tidak baik yang dianggap sebagai bencana. Tradisi ini
dikenal dengan sebutan Rateb Berjalan. Menurut cerita datu nini (kakek nenek)
di Tamiang, pada zaman dahulu nenek moyangnya masyarakat Tamiang pernah
mengalami serangan wabah penyakit dan gagal panen di satu waktu, keadaan ini
sangat berdampak buruh terhadap seluruh masyarakat, sehingga masyarakat pada
saat itu berembuk untuk melaksanakan zikir sambil berjalan mengelilingi desa
dengan membaca kalimat tauhid yang dianggap salah satu opsi terbaik sebagai
usaha membersihkan kampung dari segala bencana dan marabahaya. Upaya ini
dilakukan pada bulan safar yaitu bulan kedua dalam kalender hijriyah. Hal ini
dikarenakan bulan safar dipercayai masyarakat setempat sebagai bulan yang
“panas” sehingga rentan mengalami kejadian buruk atau dekat dengan kesialan.
Sejak saat itu, Tradisi Rateb Berjalan dilakukan secara rutin untuk
menghindarkan kampung dari berbagai penyakit, marabahaya atau hal-hal yang
tidak dikehendaki melalui zikir dan doa untuk memohon kepada Sang Maha Kuasa
atas segala makhluk-Nya. Ritual Rateb Berjalan terdiri atas beberapa tahapan.
Tahapan tersebut dimulai dengan musyawarah yang diperuntukkan sebagai awal
proses persiapan. Setelah mengadakan musyawarah maka kepala adat, pawang laut,
serta panitia dan perangkat desa menyepakati dan menetapkan titik pusat lokasi
penyelenggaraan ritual serta tempat pelaksanaan kendurinya. Sementara rute
perjalanan dalam ritual ini harus mencapai batas kampung. Hal ini dimaksudkan
untuk mengusir pengaruh jahat dari kampung. Ritual ini dilakukan selama 3 malam
berturut-turut. Rateb Berjalan adalah ritual yang dilakukan oleh sekelompok
orang dengan cara membacakan zikir, tahmid dan kalimat-kalimat tauhid sambil berjalan
pada malam hari setelah shalat isya secara bersama-sama di sepanjang jalan
kampung. Rateb Berjalan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, perempuan tidak
terlibat secara langsung dalam ritual ini. Saat pelaksanaan Rateb Berjalan,
kampung harus dalam keadaan gelap dan senyap. Seluruh masyarakat diimbau untuk
tidak menyalakan penerang apapun kecuali dalam bentuk obor. Suasana juga
dikondisikan tenang hingga pelaksanaan ritual usai. Kaum perempuan biasanya
secara mandiri bertugas sebagai penyedia konsumsi. Para ibu biasanya membuat
panganan yang diletakkan di area depan rumah yang dilewati para peserta Rateb
berjalan dan mudah dijangkau dengan cepat. Ada yang menggantungnya di pagar,
ada pula yang sengaja menempatkan meja kecil di depan, dan sebagainya. Karena
kendati disebut Rateb Berjalan, Gerakan berjalan dimaksud pada praktiknya
ritmenya cukup cepat seperti berlari-lari kecil. Makna simbol yang tidak
terekspresikan oleh kata-kata dapat diamati melalui perlengkapan ritual seperti
bendera, cambuk, obor. Bendera atau dalam hal ini disebut panji-panji dibuat
dari kain putih berlafadzhkan Laillahaillallah yang ditulis dengan menggunakan
spidol oleh imam kampung. Cambuk dibuat dari lidi yang dililitkan menyerong
dengan rumput tetemi, jenis rumput yang banyak tumbuh di Tamiang. Sedangkan
obor adalah alat penerang sederhana yang dipakai untuk mengantarkan kelompuk
orang menuju ke tempat tujuan yang bersih dan bebas dari penyakit dan
marabahaya. Para peserta Rateb Berjalan adalah para sukarelawan, para warga laki-laki
berbagai usia yang sehat fisik dan mentalnya untuk menjalani ritual dimaksud.
Mereka diharuskan dalam keadaan bersih. Ritual dimulai usai shalat Isya
berjamaah dimasjid lalu bergerak ke titik kumpul. Rateb dipimpin oleh seorang
syeh yang berpakaian serba putih yang berarti simbol kesucian dan khalifah yang
siap memimpin prajuritnya menghalau roh-roh jahat dari daerah yang
dilindunginya. Perjalanan yang dianggap sebagai simbol jihad itu dilakukan dari
ujung batas masuk kampung hingga ke ujung batas keluar kampung. Aktivitas ini
merupakan simbol menyiram, menyapu dan bersih-bersih kampung yang media
pembersihnya adalah doa, zikir, tahmid dan kalimat-kalimat tauhid yang
dipercaya ditakuti oleh roh-roh dan makhluk-makhluk jahat, sehingga tatkala
suara- suara itu terdengar semakin khidmat maka kejahatan itu pun akan kabur
dari kampung tersebut. Setelah ritual usai para peserta berkumpul di titik
kenduri yang telah disepakati untuk beristirahat bersama sembari mencicipi
makanan yang telah diambil dari rumah-rumah warga yang dilewati di sepanjang
rute perjalanan Rateb tadi. Setelah semua usai para peserta Rateb diingatkan
kembali untuk pelaksanaan malam ke-2 dan ke-3 agar ritual terlaksana tuntas.
Bila Rateb Berjalan dilaksanakan oleh beberapa kampung sekaligus maka setiap
warga masing-masing kampung menunggu di gerbang batas masuk kampung. Rateb
Berjalan berlangsung secara estafet di masing-masing kampung. Diawali oleh
Kampung terjauh dari laut dan diakhiri oleh kampung terdekat dengan laut.
Pengusiran roh jahat ini diarahkan untuk dibuang ke laut. Oleh sebab itu, akhir
dari ritual ini disambut dengan upacara kenduri laut yang dipimpin oleh pawang
laut. Kenduri Laut inilah yang menjadi penanda tuntasnya ritual Rateb Berjalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar