Besale siku anak dalam
Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba adalah salah satu
suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi
dan Sumatra Selatan. Mereka mayoritas hidup di Provinsi Jambi, dengan perkiraan
jumlah populasi sekitar 200.000 orang.
Keberadaan Suku Anak Dalam semakin semakin lama semakin
terancam kehidupannya. Hidup berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan
yang lain sudah menjadi sebuah tradisi. Mereka mengantungkan sepenuh
hidupnya pada hutan, sementara hutan semakin lama semakin berkurang karena
beralih fungsi menjadi hutan produksi. Kondisi seperti ini membuat mereka mulai
turun ke kampung-kampung dan pusat kota.
Suku Anak Dalam mempunyai beragam tradisi. Salah satunya
adalah upacara Basale. Upacara Basale diadakan agar
para dewa, roh, serta mahluk halus (Jemalang) tidak mengganggu manusia.
Upacara ini merupakan kegiatan pengobatan tradisional yang bertujuan untuk
membersihkan atau mengusir roh jahat yang dianggap sebagai sumber penyakit dari
jiwa si sakit.
Redab adalah salah satu alat musik yang
digunakan dalam upacara, dimana masyarakat Suku Anak Dalam (Kubu)
berpandangan jika alat ini dimainkan bersamaan dengan pembacaan mantra (sale)
maka dapat menghilangkan pengaruh jahat dari arwah-arwah yang bermaksud
mengganggu masyarakat.
Oleh karena itu mereka percaya bahwa Redab bukan
hanya alat musik, tetapi juga alat komunikasi agar para dewa menerima do’a yang
dibacakan oleh dukun (Malim), sehingga membantu proses penyembuhan yang
sedang berlangsung. Hal tersebut menyiratkan bahwa peran instrumen redab sangatlah
penting, bahkan menjadi salah satu syarat dalam upacara Besale.
Suku Anak Dalam meyakini bahwa penyakit yang diderita oleh
sisakit merupakan kemurkaan dari dewa atau roh jahat oleh sebab itu perlu
memohon ampunan agar penyakit yang diderita dapat disembuhkan. Cara yang
dilakukan untuk memohon kesembuhan tersebut adalah dengan melakukan upaara
Besale. Persiapan yang digunakan dalam upacara Besale sangat sarat dengan
simbol-simbol.
Fachruddin (2005, hal.7) menjelaskan bahwa upacara Besale
memiliki nyayian mantera (sale) sebanyak 33 buah yang terdiri dari 30 sale
wajib dan 3 sale penutup. Sale tidak diperkenankan diucapkan kecuali pada saat
upacara berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah
dilakukan, penulis memperoleh data dokumentasi persiapan upacara Besale Suku
Anak Dalam, di sini akan dijelaskan peralatan-peralatan serta kegunaannya dalam
upacara Besale tersebut.
Ada pun data berikut ini telah diikutsertakan penulis
bersama tim dalam lomba penulisan Artikel Ilmiah Tingkat Nasional oleh DIKTI
dan lolos dalam jurnal ilmiah Tingkat Nasional 2010.
1. Balai-Balai
Balai adalah rumah yang diyakini oleh SAD sebagai tempat
bersemayamnya roh nenek moyang. Balai merupakan hal mutlak yang tidak bisa
ditinggalkan dalam upacara Besale. Balai yang digunakan dalam upacara Besale
banyak macamnya.
Adapun Balai yang digunakan dalam kegiatan Besale yang
diobservasi oleh penulis terdiri dari dua macam. Balai ini terbuat dari kayu
pohon asam payau yang dipaku dengan bambu untuk merekatkan satu sama lain dalam
proses pembuatan balai. Balai di fungsikan sesuai namanya :
1. Balai pengasuh, digunakan untuk mengobati anak (budak),
agar memiliki keseimbangan dalam menyayangi ayah atau ibu.
2. Balai angkat semang, digunakan untuk tempat bersemayamnya
arwah nenek moyang, sewaktu upacara Besale berlangsung.
Balai yang telah siap akan di ikat dengan kulit kayu, dan
kemudian di gantung dengan menggunakan kulit kayu di dalam rumah untuk dihias.
Adapun penghias balai terdiri atas: Hiasan Jari lipan, terbuat dari daun kelapa
yang berwarna hijau muda. Jari lipan ini dibuat dengan bentuk menyerupai jari
lipan. Hiasan ini digunakan untuk menghiasi di sekeliling Balai
1) Daun selasih. Daun selasih ditancapkan pada atap Balai.
2) Bunga tangkul, yakni bunga berwarna merah dan kuning yang
di gunakan untuk penghias balai pada bagian atap.
3) Payung – payung terbuat dari janur muda berwarna kuning
untuk menghias balai. Jumlahnya cukup dua saja.
4) Bertih, adalah padi yang telah berumur 2 tahun, yang di
masak dengan cara di sangrai kemudian digunakan untuk penghias balai.
5) Lilin Madu hutan, yakni terbuat dari madu hutan. Lilin
madu digunakan untuk penerang sebagai lambing cahaya kehidupan. Lilin madu yang
sudah dingin menjadi keras akan diiris kecil – kecil dan kemudian dipanaskan
untuk dibuat lilin berbentuk silinder panjang.
6) Arang ayun, yakni alat yang berbunyi bergemerincing
berbentuk bulat dengan warna hitam. Arang ayun terbuat dari tembaga. Ada dua
jenis arang ayun, yaitu Arang Ayun yang berjumlah lima buah diletakkan di balai
pengasuh, sedangkan yang berjumlah delapan buah di bawa menari oleh Sidi. Arang
ayun berfungsi untuk merangsang semangat budak (anak kecil yang sakit).
7) Kain putih yang dililitkan pada balai angkat sembah.
8) Sumping tampung, berbentuk seperti baling-baling yang
terbuat dari janur kelapa, dan di hiasi dengan bertih pada bagian ujungnya.
2. Redap (Gendang Melayu)
Redap adalah alat musik pukul, yang di mainkan dengan cara
di tabuh pada saat pelaksanaan dalam upacara Besale. Redap ditabuh oleh Malim
Pembantu atau biduan yang berjumlah ganjil. Redap terbuat dari bahan kulit
hewan kambing. Alat ini digunakan untuk mengiringi tarian dan mantra dukun sale
(Sidi) dalam upacara Besale. Suara redap diyakini mereka akan memanggil roh –
roh leluhur.
3. Peralatan yang di bawa oleh Sidi dalam Upacara Besale
Dalam melaksanakan upacara Besale, Sidi menari mengelilingi
balai-balai memakai sirih sembah di atas kepalanya dengan membawa
peralatan-peralatan Besale sebanyak tiga kali keliling. Satu peralatan di
gunakan untuk satu kali keliling. Peralatan-peralatan tersebut, yaitu:
1. Burung Padang, berbentuk cincin yang tersusun dari daun
batang keduduk.
2. Burung Barau-barau, dibuat dari rumput yang di hiasi oleh
bertih pada ujung-ujungnya.
3. Burung Ondan, terbuat dari janur berbentuk memanjang.
4. Burung Elang, terbuat dari janur, yang di anyam
menyerupai tikar.
5. Burung Layang-layang, terbuat dari bahan rumbai atau bisa
juga di gunakan daun kelapa yang masih muda. Burung ani terdiri atas 7 ekor, 5
ekor burung layang-layang biasa, dan 1 ekor burung Duo Senyawo.
6. Tudung putih sidi. Tudung ini diwariskan secara turun
temurun dari nenek moyang mereka. Tudung ini dipakai oleh sidi dan tidak boleh
dicuci.
7. Bunga pinang muda hijau. Bunga pinang ini berfungsi untuk
memukul – mukul badan sang sidi guna mengusir roh jahat yang masuk kedalam
jasad sidi pada saat upacara Besale berlangsung.
Semua jenis burung ini di isi dengan beras yang diyakini
oleh mereka agar burung tersebut berada dalam keadaan kenyang pada saat upacara
Besale berlangsung.
4. Makanan yang dipersiapkan pada Upacara Adat Besale
Dalam upacara Besale, seorang Inang mempunyai tugas untuk
memasak makanan yang diperlukan untuk perlengkapan upacara Besale. Inang
dipilih secara khusus oleh Sidi. Adapun makanan yang dipersiapkan oleh
inang tersebut antara lain:
1. Caco, yaitu makanan yang diletakkan dalam takir
berupa telur ayam kampung rebus, sahang, bawang merah dalam satu wadah takir.
2. Juwadah, bubur putih yang terbuat dari tepung
beras, yang di tambah santan kelapa.
3. Bubur merah, yang terbuat dari gula merah dan
tepung beras
4. Serabi, terbuat dari tepung beras, tetapi memiliki
rasa yang berbeda dari jiyadah
5. Tepung gandum yang belum di adon (mentah)
Semua jenis makanan ini diletakkan di balai angkat sembah
dan balai pengasuh. Ia di buat sesuai bahan yang disediakan. Sementara itu
sebagian diletakkan di sebuah tempat makanan berbentuk persegi empat yang di
namakan Terka Serobo.
Adapun isi dari Terka Serobo ini antara lain sebagai
berikut:
1. Minyak sudah sehari
2. Ketumbar
3. Daun Sirih dan Pinang
4. Beras bertih Jawo
5. Rokok
6. Daun Pandan
7. Serabi
8. Bunga Kertas
Semua isi ini diletakkan di dalam takir yang terbuat dari
daun pisang. Tujuan pembuatan makanan ini adalah untuk memberi makan roh – roh
syetan yang diyakini mereka akan memberi kesembuhan. Walau pada saat yang sama
mereka pun yakin bahwa mereka meminta kepada Tuhan. Makanan ini hanya boleh dimakan
setelah pelaksanaan upacara Besale selesai. Inti dari peralatan Besale adalah
dari ujung rambut sampai ujung kaki, rohnya ada pada diri orang dan wujudnya
ada di benda-benda tersebut.
5. Alat yang Digunakan untuk si Sakit
Pada upacara Besale ini, si sakit yaitu seorang anak
(budak), di letakkan di dalam ayunan yang di dalamnya terdapat saludang pinang
(pinang yang masih muda).
Adapun alat yang digunakan untuk si sakit adalah sebagai
berikut:
1. Jeruk nipis, jeruk ini digunakan untuk mencuci rambut
anak yang sakit, guna membuang semua penyakit yang ada pada anak.
2. Bambu muda, yang berfungsi untuk mengalirkan air
untuk mencuci rambut si anak.
3. Ayunan anak, dibuat dari kain selendang atau sarung
yang berfungsi untuk duduk anak yang sakit.
Kepercayaan Suku Anak Dalam terhadap Dewa-dewa roh halus
yang menguasai hidup tetap terpatri, kendati pun diantara mereka telah mengenal
agama Islam. Mereka yakin bahwa setiap apa yang diperolehnya, baik dalam bentuk
kebaikan, keburukan, keberhasilan maupun dalam bentuk musibah dan kegagalan
bersumber dari para dewa. Sebagai wujud penghargaan dan persembahannya kepada
para dewa dan roh, mereka melaksanakan upacara ritual sesuai dengan keperluan
dan keinginan yang diharapkan. Salah satu bentuk upacara ritual yang sering
dilaksanakan adalah upacara Besale ini (upacara pengobatan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar