Tarekat Adalah: Pengertian,
Makna, dan 7 Komponen Utama Tarekat
Tarekat adalah – Sebagai satu-satunya makhluk yang paling sempurna di dunia
ini, manusia mempunyai keistimewaan-keistimewaan dan juga kelebihan yang
disebut dengan maziyyah dan fadhilah, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Keistimewaan yang dimilikinya tidak hanya terletak pada kejadian fisiknya saja,
tetapi juga pada kejadian ruhaniahnya.
Kesempurnaan dan juga kelebihan manusia dalam bentuk fisik sudah
banyak dikaji dan juga dijelaskan oleh berbagai macam disiplin ilmu dan juga di dalam berbagai
penjelasan yang membandingkannya dengan makhluk lain. Namun, kesempurnaan dalam
kejadian ruhani masih sedikit pengetahuannya yang secara tuntas menjelaskannya.
Dalam hal ini, ilmu psikologi dan juga tasawuf merupakan dua
disiplin ilmu yang umumnya digunakan untuk membaca struktur kerohanian manusia.
Terlebih, untuk kejadian ruhaniahnya, manusia juga mempunyai kelebihan yang
luar biasa yang tidak pernah dimiliki oleh makhluk lain.
Kemudian, jika kita masuk pada kajian filsafat, maka wilayah
yang cocok untuk dibicarakan di titik ini adalah kata al-nafs, yang mana kata
itu digunakan untuk menunjukkan substansi ruhani manusia. Nafs yang ada di
dalam diri manusia untuk para filsuf artinya daya berpikir.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka tidak aneh jika para filsuf
mendefinisikan manusia sebagai al-hayawan al-natiq atau hewan yang berpikir.
Selain karena pandangan sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, ada satu hal
yang dibidik oleh tasawuf sebagai perangkat dari konsep ihsan, yakni hati.
Menurut perspektif dari Al-Ghazali, hati kerap kali diistilahkan
sebagai objek untuk menentukan diri seseorang dalam melakukan suatu perbuatan
atau bahkan meninggalkannya. Oleh karena itu, hati atau kalbu ini akan diberi
beban pertanggungjawaban terhadap apa yang sudah diputuskannya.
Dengan begitu, selain akal, kalbu juga merupakan anugerah Tuhan
yang sangat luhur dan agung, yang bisa membedakan manusia dengan makhluk lain.
Di dalam Islam, terdapat tiga konsep yang dalam ranah praktiknya harus
sejalan dan seirama. Ketiga konsep tersebut yaitu syari’ah, thariqah, dan juga
hakikat. Istilah tersebut di dalam Bahasa Indonesia sering kali disebut dengan
syariat, tarekat, dan juga hakekat. Syariat sendiri adalah peraturan-peraturan
Allah SWT untuk manusia melalui para nabinya yang masih berupa sebuah teks,
baik itu Al-Quran atau Sunnah.
Kemudian, pengembangan dari syariat tersebut lahirlah ilmu fikih
dengan berbagai macam corak dan mazhabnya. Untuk menuju hakikat, yakni yang
disebut sebagai tasawuf akhlaki atau tasawuf falsafi, membutuhkan jalan yang
disebut dengan tarekat.
Dengan begitu, tarekat merupakan jalan yang ditunjuk oleh para
ahli atau syaikh untuk orang-orang awam dalam rangka menuju kepada hakikat dari
ajaran agama. Di mana jalan menuju hakikat yang disebut juga dengan tasawuf,
baik itu falsafi atau akhlaki tidak selamanya harus melalui tarekat ataupun
berbagai metode yang ditetapkan oleh guru sufi atau mursyid.
Namun, juga dapat ditempuh secara perseorangan jika orang
tersebut sudah memenuhi persyaratan dan mempunyai ilmu agama yang sangat dalam di
berbagai aspeknya.
Untuk orang-orang awam, tidak mungkin sampai kepada hakikat tadi
kecuali melalui bimbingan para guru ataupun mursyid yang kemudian bimbingan
tersebut disebut dengan tarekat. Tarekat tersebut berkembang dari masa ke masa
dengan berbagai macam aliran, seperti halnya aliran fiqih yang berkembang dari
syariat. Nah, pada artikel kali ini, kita akan membahas secara lebih dalam
mengenai apa itu tarekat dan tujuannya.
Pengertian Tarekat
Tarekat sendiri adalah kata yang berasal dari bahasa Arab yang
bermakna jalan. Banyak kosa kata dalam Bahasa Arab yang bisa diartikan sebagai
jalan, seperti misalnya sabil, shirath, minhaj, maslak, nusuk, atau mansak.
Zamakhsyari Dhofier menjelaskan bahwa tarekat adalah sebuah kelompok organisasi
(Islam Klasik) yang melakukan berbagai amalan zikir tertentu dan menyampaikan
sumpah yang mana formulanya sudah ditentukan oleh pimpinan atau syaikh
organisasi tarekat tersebut.
Harun Nasution mengungkapkan bahwa tarekat adalah sebuah jalan
yang harus ditempuh oleh seorang sufi dengan tujuan untuk berada sedekat
mungkin dengan Tuhan, yang mana kemudian mengandung tarekat tersebut dimaknai
organisasi, syaikh, bentuk zikir sendiri, dan juga upacara ritual.
Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa tarekat
mempunyai dua makna, yakni tarekat yang bermakna jalan yang ditempuh oleh para
sufi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Lalu, yang kedua adalah tarekat
bermakna organisasi ataupun perkumpulan yang didalamnya ada syaikh, zikir-zikir
tertentu, atau upacara ritual.
Tarekat adalah transformasi dari tasawuf yang awalnya dilakukan
secara perseorangan dan kemudian dilakukan secara berkelompok. Seseorang yang
menempuh jalan tasawuf untuk sampai kepada pengalaman rohani, hanya akan
mengandalkan diri mereka sendiri. Sementara itu, untuk orang yang menempuh
jalan tarekat, mereka akan dibimbing oleh seorang syaikh atau mursyid.
Di dalam sejarahnya, gerakan tarekat berawal dari abad keenam
Hijriah dengan munculnya beberapa kelompok tarekat yang diawali dari Syaikh
Abdul Qadir al Jailani yang berasal dari Baghdad dan kemudian mendirikan
tarekat Qadiriahnya. Setelah itu, muncul berbagai jenis tarekat, baik yang
merupakan cabang dari tarekat Qadiriyah atau tarekat yang berdiri sendiri.
Tarekat-tarekat tersebut antara lain, tarekat al Kubrawiyah yang didirikan oleh
Najmuddin al Kubra (w. 1221 M) dan juga tarekat al-Rifaiyah yang didirikan oleh
Syekh Ahmad Rifa’i (w. 1182 M).
Selain itu, ada juga tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Abu
Hasan al Syadzili (w. 1258 M), tarekat al Khalwatiyah oleh Zahiruddin al
Khalwati (w. 1397 M), tarekat Syattariah oleh Abdullah al-Syattar (w. 1428 M),
dan tarekat Naqsyabandiyah oleh Bahauddin al-Naqsyabandi (w. 1389 M).
Pengertian Tarekat
Menurut Para Ahli
Secara etimologi, tarekat sendiri berasal dari kata thariqah
yang artinya jalan, keadaan, garis atau aliran pada sesuatu. Sementara jika
dilihat secara terminologi, pada pengkaji tarekat mengungkapkan beberapa
pengertian, antara lain:
1. Menurut Aboebakar
Atjeh
Tarekat adalah jalan ataupun petunjuk dalam melakukan sebuah
ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan serta dicontohkan oleh Nabi dan
dikerjakan oleh para sahabat serta tabi’in, turun-temurun hingga kepada para
guru secara berantai.
2. Menurut Al-Taftazani
Tarekat adalah sekumpulan seorang sufi yang terkumpul dengan
seorang syaikh tertentu, tunduk di dalam aturan-aturan yang terperinci di dalam
tindakan spiritual, hidup secara berkelompok di dalam ruangan peribadatan atau
berkumpul secara berkeliling di dalam momen-momen tertentu, serta membentuk
sebuah majelis ilmu atau dzikir secara organisasi.
3. Menurut Nurcholis
Madjid
Tarekat adalah jalan menuju Allah SWT untuk memperoleh ridhoNya
dengan menaati semua ajaran-Nya.
4. Menurut al-Syaikh
Muhammad Amin al-Kurdi
Tarekat adalah mengamalkan syariat dan melaksanakan beban ibadah
dengan tekun serta menjauhkan diri dari sikap yang sebenarnya memang tidak
boleh dipermudah. Kemudian, tarekat juga berarti menjauhi setiap larangan dan
melakukan perintah Allah SWT sesuai dengan kesanggupan, baik itu larangan dan
juga perintah yang nyata atau tidak (batin).
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa
tarekat memiliki dua pengertian, pertama yaitu tarekat sebagai pendidikan kerohanian
yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan kehidupan tasawuf, yang mana
secara individu untuk mencapai sebuah tingkat kerohanian tertentu.
Kemudian, yang kedua adalah tarekat sebagai sebuah perkumpulan
ataupun organisasi yang didirikan menurut aturan yang sudah ditetapkan oleh
seorang syaikh yang menganut aliran tarekat tertentu.
Berbagai ajaran tasawuf yang harus ditempuh untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT adalah hakikat tarekat yang sebenarnya. Tasawuf merupakan
usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sementara tarekat adalah cara
dan juga jalan yang ditempuh oleh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Hal tersebut menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang
berkembang dengan beberapa variasi tertentu sesuai dengan spesifikasi yang
diberikan oleh seorang guru kepada muridnya.
7 Komponen Utama Tarekat
Tasawuf amali melahirkan seorang anak kandung yang bernama
tarekat. Secara harfiah, tarekat memiliki arti “jalan”, “cara”, atau “metode”,
untuk mencapai tujuan tasawuf, yaitu meraih kesucian jiwa, kedekatan diri
dengan Tuhan, dan merasakan kehadiran-nya di dalam setiap keadaan. Tasawuf
amali bersifat praktis, aplikatif, dan juga berorientasi kuat pada amaliah.
Sebagai sebuah metode khusus yang digunakan oleh seorang
penempuh laku spiritual menuju Allah SWT, tarekat sendiri mempunyai 7 komponen
utama, sebagaimana yang pernah diungkap oleh Prof. Asep Usman Ismail, yakni
seorang Guru Besar Tasawuf UIN Jakarta. Berikut adalah penjelasan lengkap
mengenai tujuh komponen tasawuf, antara lain:
1. Mursyid
Secara bahasa, mursyid ini memiliki arti “pembimbing”,
“pemandu”, atau “guru”. Di dalam tarekat, mursyid ini adalah dokter rohani yang
mengenal berbagai macam penyakit kalbu atau hati, mempunyai kemampuan untuk
mengobati serta memperbaikinya menjadi sempurna.
Lebih populernya, mursyid adalah guru tarekat ataupun pembimbing
spiritual yang kerap disebut dengan syaikh, pir, atau murad. Perannya sendiri
cukup penting, bahkan mutlak dalam sebuah tarekat. Karena, menurut Abu Yazid
al-Busthami yakni seorang ulama tasawuf, mengatakan:
من لم يكن له أستاذ فإمامه الشيطان
Artinya, “Siapa saja yang tidak
memiliki guru, maka imamnya adalah setan.”
Kemudian, Dalam Tafsir Ruhul-Bayan, karya Ismail Haqqi
al-Hanafi, disebutkan:
من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان
Artinya, “Siapa saja yang tidak
memiliki syaikh (mursyid), maka syaikhnya adalah setan.”
Apabila ulama fikih, tafsir, dan juga hadits sebagai pewaris
Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tentang ilmu zahir, maka mursyid adalah
pewaris dari Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tentang penghayatan agama yang
bersifat batin. Oleh sebab itu, kriteria syaikh atau mursyid ini pastinya harus
menguasai ilmu syariat dan juga ilmu hakikat secara mendalam dan juga lengkap.
Di mana pikiran, perkataan, dan juga tingkah laku mereka harus mencerminkan
budi pekerti yang luhur.
2. Murid
Istilah murid ini berasal dari isim fail kata arada, yang
artinya seseorang yang berkehendak atau menginginkan sesuatu. Dalam tasawuf,
para penempuh jalan rohani merupakan murid, yaitu orang yang menghendaki
perjumpaan dengan Allah SWT melalui ibadahnya, riyadhah, mujahadah, dan juga
munajat, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al-Quran, yakni:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya, “Siapa yang mengharapkan
pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak
menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya,”
(QS. al-Kahfi [18]: 110).
Di dalam tarekat, walaupun seseorang sudah berada di dalam
posisi mursyid, tapi pada hakikatnya mereka tetaplah seorang murid, yang
artinya, seorang penempuh rohani yang menghendaki perjumpaan dengan Tuhan. Oleh
karena itu, mursyid dan murid berusaha untuk membersihkan diri dari berbagai
macam penyakit hati dan juga sifat tercela supaya bisa merasakan bagaimana
persahabatan dengan Allah SWT.
3. Baiat
Secara bahasa, baiat adalah transaksi ataupun janji setia yang
dilakukan antara dua pihak. Di tengah masyarakat Islam klasik pra-Islam, baiat
juga termasuk pranata sosial. Umumnya terjadi diantara anggota suku dengan
kepala suku sebagai salah satu bentuk pengukuhan kepemimpinan untuk dipatuhi
dan juga ditaati perintahnya.
Di dalam Islam, pelaksanaan baiat ini menggambarkan tradisi
saling menumpuk tangan yang mengakar di dalam budaya Arab sebelum Islam datang,
sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut ini:
إِنَّ الَّذِينَ يُبايِعُونَكَ إِنَّما يُبايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّما يَنْكُثُ عَلى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفى بِما عاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang
berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji
setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa
yang melanggar janji (setia itu), maka sesungguhnya (akibat buruk dari)
pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati
janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar,” (QS.
al-Fath [48]: 10).
4. Silsilah
Secara bahasa, silsilah merupakan mata rantai yang menghubungkan
butiran-butiran anak rantai sehingga nantinya akan membentuk satu kesatuan. Di
dalam tarekat, silsilah adalah mata rantai yang menghubungkan kesinambungan
rohani yang ada diantara mursyid yang satu dengan yang lainnya sebelumnya
sampai kepada Rasulullah SAW.
Silsilah di dalam tarekat sama halnya dengan sanad di dalam
hadits. Sebuah hadist dikatakan sebagai hadits shahih jika sanad hadits
tersambung pada Rasulullah SAW. Begitu juga sebuah tarekat, dapat dinamakan
mu’tabarah jika salah satu kriterianya memiliki silsilah yang berkesinambungan
sampai ke Rasulullah SAW.
5. Wirid
Istilah wirid ini adalah kosa kata dalam Bahasa Arab yang
berasal dari kata Warada yang artinya datang berulang-ulang. Sehingga wirid
secara bahasa merupakan sesuatu yang rutin dilakukan secara berulang-ulang.
Sedangkan menurut istilah wirid adalah zikir, amalan, bacaan, yang dilakukan
dengan rutin. Setiap tarekat mempunyai beragam wirid dan juga ketentuannya
masing-masing. Umumnya ada zikir harian, mingguan, bulanan, dan lainnya.
6. Tempat
Dalam perkembangan tarekat dan tasawuf, dikenal berbagai macam
istilah yang mengacu pada tempat pendidikan dan juga pelatihan rohani. Ada yang
mengistilahkannya sebagai zawiyah, yang mana secara harfiah artinya pojok.
Penamaan itu ada kaitannya dengan cikal bakal kehidupan tasawuf dalam Islam,
yaitu para sahabat yang menempati salah satu pojok masjid Nabawi yang ada di
Madinah. Mereka dikenal dengan nama Ahlus-Shuffah.
7. Adab
Adab adalah etika hubungan salik dengan para syaikh atau
gurunya. Menurut Ibnu Arabi, seorang salik dihadapan gurunya harus bersikap
bagaimana mayat yang ada di tangan orang yang memandikannya. Selain itu, salah
satu adab salik kepada sang guru yaitu tidak boleh berburuk sangka, tidak boleh
duduk di tempat yang biasanya digunakan oleh sang guru, tidak boleh menggunakan
barang yang biasanya digunakan oleh gurunya, serta mereka harus turut dan juga
patuh terhadap perintah guru.
Dari pembahasan di atas bisa dikatakan
bahwa tarekat adalah jalan untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Demikian
penjelasan mengenai apa itu tarekat dan komponen yang ada di dalamnya. Bagi
Grameds yang ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang tarekat, kamu dapat
membaca buku-buku terkait dengan mengunjungi Gramedia.com.
Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu
menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi
#LebihDenganMembaca.
Penulis: Umam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar