SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO)
Perkembangan agama Islam di Sumatera
Barat tidak dapat dipisahkan dari peran dan perjuangan Syekh Burhanudin
(1646-1692). Beliau merupakan salah satu ulama yang mengikuti gurunya Syekh
Abdurrauf dalam bertarekat Syatariyah. Setelah belajar di Aceh, ulama asal
Pariaman ini berangkat ke Tanah Suci.
SEPULANGNYA dari
Tanah Suci, ia mendirikan Surau Gadang Syatariyah di Ulakan. Jasanya yang
paling dikenang adalah mendakwahkan Islam kepada kaum bangsawan Kerajaan
Pagaruyung. Selain itu, Syekh Burhanuddin juga telah meninggalkan tradisi
malamang yang dikenang dan dijaga oleh masyarakat setempat.
Syekh Burhanuddin lahir di Pariaman, Sumatera Barat. Syekh
Burhanuddin memiliki nama asli Pono. Ayah Syekh Burhanuddin bernama Pampak Sati
Karimun Merah bersuku Koto dan Ibu yang bernama Cukuik Bilang Pandai memiliki
suku Guci. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Syekh Burhanuddin atau Pono
senantiasa belajar dan bermain. Tetapi, Syekh Burhanuddin mendapatkan pelajaran
khusus tiap malamnya, yaitu ilmu kebatinan dan pencak silat.
Saat Ayah Pono sedang mengajarkan pelajaran khusus kepada
Pono, malam itu Sang Ayah menyampaikan nasihat kepada Pono.
“Ilmu ini hendaklah digunakan untuk kebaikan, membela diri, bukan untuk
menunjukkan kehebatan pada orang lain.”
Pono mengangguk paham mendengar nasihat Ayahnya. Ayahnya juga mengingatkan bagi
orang Minangkabau ada pepatah yang harus dipegang teguh seorang laki-laki yang
belajar silat, yaitu musuah indak dicari, Basuo pantang diilakan (musuh tidak
dicari, jika datang tidak boleh dielakan).
“Pepatah itu adalah harga diri dan adat yang patut
diamalkan, Nak!" Lanjut Ayah Pono dalam nasihatnya.
Pono begitu menikmati setiap ajaran dan nasihat yang diberikan ayahnya. Saat
Pono hendak istirahat tidur pun apa yang diajarkan ayahnya dalam ilmu kebatinan
dan silat sering ia renungkan. Malam ini pesan ayah Pono yang begitu mengena
perasaannya hingga sulit untuk tidur. “Nak, jadilah orang yang berguna bagi
banyak orang, memegang teguh adat, dan pandai mambawakan diri dalam berbagai
keadaan.” Ingat
Pono. Dalam lamunannya akan nasihat ayah, akhirnya Pono pun tertidur dalam
tekad menjadi orang yang lebih baik.
Esok harinya, Pono, setelah membantu pekerjaan rumah ia
bersiap menggembala kerbau seperti biasanya. Pono memiliki teman akrab yang
bernama Idris. Bersama Idris, Pono belajar menjadi pengembala yang baik dan
saling bertukar cerita sembari belajar. Hari itu pun Pono dan Idris mengembala
bersama. Seperti biasanya sembari mengembala Ponodan Idris pun sering
memanfaatkan waktu untuk merenung di bukit. Dari perenungan-perenungan itu Pono
dan Idris mendapatkan berbagai pelajaran. (Yosi Wulandari, UAD)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar