Home

Selasa, 04 Agustus 2026

SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO)

 

SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO) 

 


Perkembangan agama Islam di Sumatera Barat tidak dapat dipisahkan dari peran dan perjuangan Syekh Burhanudin (1646-1692). Beliau merupakan salah satu ulama yang mengikuti gurunya Syekh Abdurrauf dalam bertarekat Syatariyah. Setelah belajar di Aceh, ulama asal Pariaman ini berangkat ke Tanah Suci.

SEPULANGNYA dari Tanah Suci, ia mendirikan Surau Gadang Syatariyah di Ulakan. Jasanya yang paling dikenang adalah mendakwahkan Islam kepada kaum bangsawan Kerajaan Pagaruyung. Selain itu, Syekh Burhanuddin juga telah meninggalkan tradisi malamang yang dikenang dan dijaga oleh masyarakat setempat.

Syekh Burhanuddin lahir di Pariaman, Sumatera Barat. Syekh Burhanuddin memiliki nama asli Pono. Ayah Syekh Burhanuddin bernama Pampak Sati Karimun Merah bersuku Koto dan Ibu yang bernama Cukuik Bilang Pandai memiliki suku Guci. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Syekh Burhanuddin atau Pono senantiasa belajar dan bermain. Tetapi, Syekh Burhanuddin mendapatkan pelajaran khusus tiap malamnya, yaitu ilmu kebatinan dan pencak silat.

Saat Ayah Pono sedang mengajarkan pelajaran khusus kepada Pono, malam itu Sang Ayah menyampaikan nasihat kepada Pono.
“Ilmu ini hendaklah digunakan untuk kebaikan, membela diri, bukan untuk menunjukkan kehebatan pada orang lain.”
Pono mengangguk paham mendengar nasihat Ayahnya. Ayahnya juga mengingatkan bagi orang Minangkabau ada pepatah yang harus dipegang teguh seorang laki-laki yang belajar silat, yaitu musuah indak dicari, Basuo pantang diilakan (musuh tidak dicari, jika datang tidak boleh dielakan).

“Pepatah itu adalah harga diri dan adat yang patut diamalkan, Nak!" Lanjut Ayah Pono dalam nasihatnya.
Pono begitu menikmati setiap ajaran dan nasihat yang diberikan ayahnya. Saat Pono hendak istirahat tidur pun apa yang diajarkan ayahnya dalam ilmu kebatinan dan silat sering ia renungkan. Malam ini pesan ayah Pono yang begitu mengena perasaannya hingga sulit untuk tidur. “Nak, jadilah orang yang berguna bagi banyak orang, memegang teguh adat, dan pandai mambawakan diri dalam berbagai keadaan.” Ingat
Pono. Dalam lamunannya akan nasihat ayah, akhirnya Pono pun tertidur dalam tekad menjadi orang yang lebih baik.

Esok harinya, Pono, setelah membantu pekerjaan rumah ia bersiap menggembala kerbau seperti biasanya. Pono memiliki teman akrab yang bernama Idris. Bersama Idris, Pono belajar menjadi pengembala yang baik dan saling bertukar cerita sembari belajar. Hari itu pun Pono dan Idris mengembala bersama. Seperti biasanya sembari mengembala Ponodan Idris pun sering memanfaatkan waktu untuk merenung di bukit. Dari perenungan-perenungan itu Pono dan Idris mendapatkan berbagai pelajaran. (Yosi Wulandari, UAD)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tharikat Samaniyah

  Tharikat Samaniyah Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010 ...