Silat kumanggo
Silek Kumango identik
dengan gerakan menghindar seperti “mengalah”, namun segera dibalikkan untuk
mendapat situasi yang menguntungkan.
Sehingga di tengah suatu
gerakan yang lembut akan muncul tindakan yang keras terhadap lawan.
Syekh Abdur Rahman Al khalidi atau yang kemudian lebih terkenal
dengan sebutan Syekh Kumango hidup pada masa 1812 hingga 1932. Dia adalah
pencipta Silek Kumango yang tersohor itu.
Sebelum menjadi Syekh, Abdur Rahman Al Khalidi dahulunya
merupakan seorang yang kuat dalam berkelahi. Pada masa itu lebih dikenal dengan
sebutan Parewa.
Ia seorang penjual barang
kelontong yang selalu berputar-putar dari satu daerah hingga ke daerah lain,
bahkan sampai ke Malaysia.
Dengan modal “Bagak” yang
dimiliki, ia tidak takut keluar masuk suatu daerah untuk berjualan barang
kelontong dari Kumango.
Berdasarkan cerita yang
turun temurun Syekh Kumango mengajarkan Agama Islam tarekat Samaniyyah dan
Naksyabandiyah. Perpaduan ajaran itu kemudian diselaraskan dengan gerakan
silat.
Hingga akhirnya lahirlah
Silek Kumango perpaduan lahir dan bathin. Dimana hakekatnya, “Lahia Mancari
Kawan, Batin mencari Tuhan”, yang kental dengan unsur Islam.
Dari waktu ke waktu, silek
ini kemudian terkenal luas bahkan hingga ke luar negeri. Silek ini hingga
sekarang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebelum menjadi Parewa,
kabarnya Syekh Kumango waktu mudanya dahulu pernah mengaji kepada Syekh
Abdurrahman Batu Hampar di Payakumbuh.
Karena terpengaruh
lingkungan, Syekh Kumango akhirnya tumbuh menjadi Parewa yang berjiwa bagak.
Hingga pada suatu ketika,
ketika Syekh Kumango tengah berjualan di kedainya di Kota Padang, dia berjumpa
dengan seorang peminta-minta.
Saat itu entah karena apa
sebabnya, darah muda Syekh Kumango naik pitam kepada orang yang minta-minta
tersebut, hingga diajaknya berduel didalam kedainya.
“Dari cerita yang saya
dapat, mereka bacakak (berkelahi) satu lawan satu didalam kedai Syekh Kumango
yang pintunya ditutup. Namun, dalam bacakak itu, Syekh Kumango kalah dari orang
itu. Dari situlah akhirnya muncul niat Syekh Kumango untuk mengikuti (belajar)
kepada orang tersebut,” ujar Iis Zamora, Wali Nagari Kumango.
Dari sumber lainnya diceritakan, pada satu waktu saat beliau berdagang
di Padang, ada seorang kakek yang membuatnya marah karena selalu nyinyir
meminta uang, sehingga membuat darah Alam Basifat naik hendak menghajar si
kakek.
Rupanya setelah berusaha keras hendak memukul si kakek bagaimanapun cara
memukulnya, namun tak kena sasaran satu pun. Sehingga beliau mengaku dan hendak
berguru kepada si kakek. Namun si kakek mengajukan persyaratan yang cukup
pelik.
Alam Basifat diajak bertemu lagi di Makkah oleh kakek tersebut. Dimana
kala itu, Syekh Kumango atau Alam Basifat pergi ke Makkah dengan berjalan
secara berantai mai dari Kampung, Sumatera Utara, Aceh, dan kemudian ke
Thailand dan baru ke Kota Suci Makkah.
Syekh Kumango kemudian belajar di Makkah hingga belasan tahun dan
belajar berbagai ilmu agama. Kemudian dia kembali ke kampung dengan menyandang
nama Abdurrahman, lengkapnya Syekh Abdurrahman Kumango al-Samani al-Khalidi.
Sesampai di Kumango, dia kemudian mendirikan Surau yang bernama Surau
Subarang, yang sekarang berada di Jorong Kumango Selatan, atau sekitar lebih
kurang 500 meter dari Kantor Wali Kumango saat ini.
Dari sumber lainnya diceritakan, pada satu waktu saat beliau
berdagang di Padang, ada seorang kakek yang membuatnya marah karena selalu
nyinyir meminta uang, sehingga membuat darah Alam Basifat naik hendak menghajar
si kakek.
“Di Surau itulah kemudian
dia mengajarkan ilmu agama serta gerakan ilmu bela diri atau Silat. Yang
dipadukan dengan ilmu agama, silat lahir dan bathin yang kemudian menjadi Silek
Kumango, beliau waktu menjadi Syekh kala itu sudah berumur sekira 50 tahunan ”
jelas Wali Nagari Iis Zamora.
Syekh Kumango tidak hanya
mengajar di kampung saja, akan tetapi juga sampai ke luar daerah dan luar
negeri. Hingga pada tahun 1932, Syekh Kumango wafat dan dikuburkan di dekat
Surau Subarang.
“Setelah beliau wafat,
kemudian makam beliau selalu didatangi oleh orang-orang untuk bertakziah, dan
hal itu masih berlangsung hingga sekarang terutama menjelang masuk puasa
Ramadhan, ” terang Iis. (eym)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar