Home

Selasa, 04 Agustus 2026

SILEK KUMANGGO PADANG

 

Silat kumanggo



Silek Kumango identik dengan gerakan menghindar seperti “mengalah”, namun segera dibalikkan untuk mendapat situasi yang menguntungkan.

Sehingga di tengah suatu gerakan yang lembut akan muncul tindakan yang keras terhadap lawan.

Syekh Abdur Rahman Al khalidi atau yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Syekh Kumango hidup pada masa 1812 hingga 1932. Dia adalah pencipta Silek Kumango yang tersohor itu.

Sebelum menjadi Syekh, Abdur Rahman Al Khalidi dahulunya merupakan seorang yang kuat dalam berkelahi. Pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan Parewa.

Ia seorang penjual barang kelontong yang selalu berputar-putar dari satu daerah hingga ke daerah lain, bahkan sampai ke Malaysia.

Dengan modal “Bagak” yang dimiliki, ia tidak takut keluar masuk suatu daerah untuk berjualan barang kelontong dari Kumango.

Berdasarkan cerita yang turun temurun Syekh Kumango mengajarkan Agama Islam tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah. Perpaduan ajaran itu kemudian diselaraskan dengan gerakan silat.

Hingga akhirnya lahirlah Silek Kumango perpaduan lahir dan bathin. Dimana hakekatnya, “Lahia Mancari Kawan, Batin mencari Tuhan”, yang kental dengan unsur Islam.

Dari waktu ke waktu, silek ini kemudian terkenal luas bahkan hingga ke luar negeri. Silek ini hingga sekarang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebelum menjadi Parewa, kabarnya Syekh Kumango waktu mudanya dahulu pernah mengaji kepada Syekh Abdurrahman Batu Hampar di Payakumbuh.

Karena terpengaruh lingkungan, Syekh Kumango akhirnya tumbuh menjadi Parewa yang berjiwa bagak.

Hingga pada suatu ketika, ketika Syekh Kumango tengah berjualan di kedainya di Kota Padang, dia berjumpa dengan seorang peminta-minta.

Saat itu entah karena apa sebabnya, darah muda Syekh Kumango naik pitam kepada orang yang minta-minta tersebut, hingga diajaknya berduel didalam kedainya.

“Dari cerita yang saya dapat, mereka bacakak (berkelahi) satu lawan satu didalam kedai Syekh Kumango yang pintunya ditutup. Namun, dalam bacakak itu, Syekh Kumango kalah dari orang itu. Dari situlah akhirnya muncul niat Syekh Kumango untuk mengikuti (belajar) kepada orang tersebut,” ujar Iis Zamora, Wali Nagari Kumango.

Dari sumber lainnya diceritakan, pada satu waktu saat beliau berdagang di Padang, ada seorang kakek yang membuatnya marah karena selalu nyinyir meminta uang, sehingga membuat darah Alam Basifat naik hendak menghajar si kakek.

Rupanya setelah berusaha keras hendak memukul si kakek bagaimanapun cara memukulnya, namun tak kena sasaran satu pun. Sehingga beliau mengaku dan hendak berguru kepada si kakek. Namun si kakek mengajukan persyaratan yang cukup pelik.

Alam Basifat diajak bertemu lagi di Makkah oleh kakek tersebut. Dimana kala itu, Syekh Kumango atau Alam Basifat pergi ke Makkah dengan berjalan secara berantai mai dari Kampung, Sumatera Utara, Aceh, dan kemudian ke Thailand dan baru ke Kota Suci Makkah.

Syekh Kumango kemudian belajar di Makkah hingga belasan tahun dan belajar berbagai ilmu agama. Kemudian dia kembali ke kampung dengan menyandang nama Abdurrahman, lengkapnya Syekh Abdurrahman Kumango al-Samani al-Khalidi.

Sesampai di Kumango, dia kemudian mendirikan Surau yang bernama Surau Subarang, yang sekarang berada di Jorong Kumango Selatan, atau sekitar lebih kurang 500 meter dari Kantor Wali Kumango saat ini.

 

 

Dari sumber lainnya diceritakan, pada satu waktu saat beliau berdagang di Padang, ada seorang kakek yang membuatnya marah karena selalu nyinyir meminta uang, sehingga membuat darah Alam Basifat naik hendak menghajar si kakek.

 

“Di Surau itulah kemudian dia mengajarkan ilmu agama serta gerakan ilmu bela diri atau Silat. Yang dipadukan dengan ilmu agama, silat lahir dan bathin yang kemudian menjadi Silek Kumango, beliau waktu menjadi Syekh kala itu sudah berumur sekira 50 tahunan ” jelas Wali Nagari Iis Zamora.

Syekh Kumango tidak hanya mengajar di kampung saja, akan tetapi juga sampai ke luar daerah dan luar negeri. Hingga pada tahun 1932, Syekh Kumango wafat dan dikuburkan di dekat Surau Subarang.

“Setelah beliau wafat, kemudian makam beliau selalu didatangi oleh orang-orang untuk bertakziah, dan hal itu masih berlangsung hingga sekarang terutama menjelang masuk puasa Ramadhan, ” terang Iis. (eym)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tharikat Samaniyah

  Tharikat Samaniyah Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010 ...