Home

Selasa, 04 Agustus 2026

TUAN Syeikh Silau

 



TUAN Syeikh Silau Laut adalah seorang ulama besar yang tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga jago dalam hal bela diri. Bahkan berkat kepiawaiannya dalam silat dia dinobatkan sebagai Kepala Hulubalang di Kesultanan Kedah (Thailand). Berdasarkan catatan sejarah, Syeikh Silau Laut dilahirkan di daerah Batubara (sekarang Desa Tanjung Mulia Kecamatan Tanjung Tiram Batubara, Sumatera Utara) pada tahun 1858 Masehi atau 1275 Hijriyah. Ayahnya bernama Nakhoda Alang bin Nakhoda Ismail, keturunan dari Tuk Angku Mudik Tampang keturunan dari Tuk Angku Batuah yang berasal dari daerah Rao (perbatasan Mandailing Natal dengan Sumatera Barat). Gelar ‘nakhoda’ di awal nama ayahnya itu profesinya sebagai Nakhoda di sebuah kapal tongkang miliknya sendiri. Kapal itu digunakannya untuk membawa barang-barang dagangan antarpulau bahkan Malaya (Malaysia). Ibunya bernama Naerat berasal dari Kampung Rantau Panjang (Kecamatan Pantai Labu Deli Serdang, Sumatera Utara). Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu Abas, Siti Jenab, Abdurrahan, Abdurrahim.

Sejak kecilnya, Abdurrahman dikenal memiliki sifat pemberani, berkemauan keras, pendiam, cerdas dan tekun belajar. Ketika berumur 6 tahun, orang tuanya memasukkan belajar mengaji pada salah seorang guru di Kampung Lalang Batubara. Saat itu pribadinya mulai nampak sebagai ciri-ciri anak yang saleh. Sebab selain belajar agama dan mengaji, ia sering pula berkhalwat (mengasingkan diri untuk berzikir mengingat Allah Tuhan Maha Pencipta).

Sejak kecilnya, Abdurrahman dikenal memiliki sifat pemberani, berkemauan keras, pendiam, cerdas dan tekun belajar. Ketika berumur 6 tahun, orang tuanya memasukkan belajar mengaji pada salah seorang guru di Kampung Lalang Batubara. Saat itu pribadinya mulai nampak sebagai ciri-ciri anak yang saleh. Sebab selain belajar agama dan mengaji, ia sering pula berkhalwat (mengasingkan diri untuk berzikir mengingat Allah Tuhan Maha Pencipta).

Ia suka berkhalwat sejak usia 15 tahun. Setelah menginjak dewasa sekitar 17 tahun, Abdurrahman ingin memperdalam ilmu Islam. Dengan memohon izin kepada kedua orang tuanya, ia pun pergi merantau ke daerah asal para pendahulunya di Minangkabau tepatnya di Bukit tinggi. Di sana, ia berguru kepada seorang ulama yang cukup dikenal ketika itu bernama Syekh Jambek. Di samping ia mempelajari ilmu-ilmu syari'at dan ilmu fiqih, Abdurrahman lebih menekuni ilmu hakikat yaitu tauhid dan tasawuf. Tak hanya ilmu syariat, Tuan Syekh Silau Laut saat remajanya juga meminati ilmu beladiri (silat). Untuk mempelajari ilmu bela diri ini ia belajar kepada salah seorang ahli beladiri yang cukup dikenal di tanah Minangkabau bernama Tuk Angku Di Lintau. Dalam usahanya untuk membekali dirinya dengan ilmu bermanfaat, Syekh Silau Laut juga belajar ke Aceh, namun belum diketahui daerah dan gurunya tempat ia belajar. Saat usia remaja itu, Syekh Silau Laut merasa masih kurang puas dengan ilmu yang dimilikinya. Tidak lama setelah ia pulang dari Minangkabau dan Aceh, salah seorang Pakciknya bergelar Panglima Putih membawanya merantau ke negeri Fathani (Thailand). Atas restu kedua orang tuanya, ia pun berangkat untuk menambah ilmu Agama Islam. Di dalam pelayarannya, Abdurrahman muda (Syekh Silau Laut) menunjukkan kemahirannya dalam ilmu silat kepada para penumpang kapal.

Dia tidak mengetahui kalau di antara mereka ada rombongan Sultan Kedah yang akan pulang ke negerinya. Di Negeri Fathani, Abdurrahman muda belajar kepada salah seorang ulama yang cukup dikenal. Ulama ini bernama Syekh Wan Mustafa dan anaknya bernama Syekh Daud Fathani. Selama berada di sana, Abdurrahman lebih banyak belajar ilmu tauhid, ilmu tasawuf dan ilmu hikmah/ketabiban. Di samping belajar, ia ditugaskan gurunya pula untuk mengajar. Ketika berada di Fathani, ia didatangi utusan dari Kedah dengan maksud mengundangnya datang ke negeri Kedah. Alasannya, Sultan Kedah ingin melihat kemahirannya dalam ilmu silat di hadapan Hulubalang, prajurit dan rakyat negeri Kedah. Abdurrahman muda pun memenuhi undangan itu dengan terlebih dahulu memohon restu dari gurunya. Sesampainya di negeri Kedah, sesudah beberapa hari lamanya diadakanlah acara perang tanding untuk memilih kepala hulubalang kesultanan Kedah. Abdurrahman yang sengaja diundang untuk perang tanding tersebut, berhadapan dengan Panglima Elang Panas yang berasal dari Siam. Dengan kuasa dan izin Allah, Abdurrahman muda menang dalam perang tanding tersebut. Lalu, Sultan Kedah pun menawarkannya untuk menjadi Kepala Hulubalang Kesultanan Kedah. Abdurrahman menerima tawaran itu, kemudian ia dinobatkan dan menjabat selama 7 tahun berturut-turut. Menurut riwayat, beliau menerima gaji 60 Ringgit setiap bulannya. Dalam perantauannya di Fathani dan Kedah, Beliau sempat pula belajar di Kelantan. Abdurrahman menyadari bahwa cita-citanya semula adalah untuk menjadi seorang ulama yang akan mengembangkan agama Islam dan mengabdikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat negrinya. Dia pun meletakkan jabatannya sebagai Kepala Hulubalang Kesultanan Kedah, lalu pulang kembali ke negeri asalnya di Batubara dijemput Abangnya bernama Abbas. Setelah berada kembali di Batubara, dia mulai mengamalkan ilmunya untuk melakukan dakwah dengan mengisi pengajian yang ada di Batubara dan di daerah Serdang (sekarang Deli Serdang). Beliau dikenal masyarakat dengan panggilan Lebai Deraman. Ketika berdakwah di daerah Serdang, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis Serdang bernama Maimunah. Sewaktu berada di Serdang Beliau mengatasnamakan alamatnya melalui kemenakannya mufti Ahmad Serdang. Dan waktu senggangnya diisinya dengan “berkhalwat” di seberang sungai Serdang (sekarang Sungai Ular). Pada masa Abdurrahman berdakwah dan menghidupkan pengajian di Batubara dan Serdang. Sebagian besar muridnya saat itu adalah nelayan. Para muridnya ini melaporkan bahwa mereka sering diganggu oleh bajak laut yang bermukim di Pulau Jemur sehingga mereka tidak aman mencari nafkah di Selat Melaka. Mendengar laporan muridnya, Abdurrahman dan seorang kerabatnya bernama HM Zein berangkat membasmi para bajak laut tersebut dari Pantai Cermin, Serdang Bedagai. Tuan Syekh Silau Laut selain berguru kepada Tuan Baqi dari Langkat, Kedah, Kelantan, dan Fathani, Beliau juga menuntut ilmu ke Makkah selama 7 tahun. Di Makkah berguru kepada Syekh Daud Fathani, seorang ulama Tareqat Syattariah.

Seusai menimba ilmu di Makkah, Tuan Syekh Silau Laut kembali ke Sumatera dan mengembangkan Tareqat Syattariah di daerah Silau Laut hingga wafat pada 2 Jumadil Awal 1360 Hijriya atau 28 Februari 1941, dalam usia 125 tahun. Tuan Syekh Silau Laut dimakamkan di Desa Silau Laut. Di dekat makamnya terdapat makam sang istri bernama Hj Maryam dan dua anaknya yaitu Syekh Muhammad Ali dan Haji Abdul Latief. Semasa hidupnya Beliau adalah tokoh yang tidak hanya dihormati anggota jamaah Syattariah, namun para bangsawan Serdang maupun Asahan memberi perlakuan khusus terhadapnya. Wujud dari perhatian para penguasa Asahan dan Serdang itu antara lain berupa pembuatan jalan menuju Kompleks Tareqat Syattariah pimpinan Syekh Silau Laut. Awalnya adalah jalan setapak yang dirintis oleh Sultan Asahan yang kemudian diperlebar dan diperkeras atas bantuan Sultan Serdang. Seorang pengagum Syekh Silau Laut yang berasal dari Kisaran, Sumatera Utara, Ahmad Fauzi, mengaku telah menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Silau Laut. Dia bercerita bahwa Syekh Silau sangatlah berjasa dalam menyebarkan Islam di bumi Asahan maupun di beberapa negara di Asia. Kisah sejarah dan perjuangan beliau dalam berdakwah sangat banyak. Tak tangguung-tanggung negara tetangga yaitu Thailand, Malaysia, dan negara lainnya sampai datang berziarah ke makam Syekh Silau Laut. Ini bertanda bahwa Syekh Silau Laut berpindah tempat dalam menebarkan dan mengajarkan Agama Islam. Meski telah wafat namun ajaran Beliau tetap tumbuh subur dan tetap menjadi panutan. Bahkan keturunannya kini mewarisi ilmu agama dan sikap lugas dalam menyampaikan dakwahnya. Dia adalah Ustaz Abdul Somad (UAS), cucu dari Syekh Silau Laut. Sosok UAS bisa diterima khalayak, tidak hanya masyarakat Indonesia tapi juga Negara tetangga yang banyak mengagumi ulama kelahiran Asahan, Sumatera Utara itu karena tausiyah yang disampaikan begitu lugas, sederhana dan sarat hikmah.


SILEK KUMANGGO PADANG

 

Silat kumanggo



Silek Kumango identik dengan gerakan menghindar seperti “mengalah”, namun segera dibalikkan untuk mendapat situasi yang menguntungkan.

Sehingga di tengah suatu gerakan yang lembut akan muncul tindakan yang keras terhadap lawan.

Syekh Abdur Rahman Al khalidi atau yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Syekh Kumango hidup pada masa 1812 hingga 1932. Dia adalah pencipta Silek Kumango yang tersohor itu.

Sebelum menjadi Syekh, Abdur Rahman Al Khalidi dahulunya merupakan seorang yang kuat dalam berkelahi. Pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan Parewa.

Ia seorang penjual barang kelontong yang selalu berputar-putar dari satu daerah hingga ke daerah lain, bahkan sampai ke Malaysia.

Dengan modal “Bagak” yang dimiliki, ia tidak takut keluar masuk suatu daerah untuk berjualan barang kelontong dari Kumango.

Berdasarkan cerita yang turun temurun Syekh Kumango mengajarkan Agama Islam tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah. Perpaduan ajaran itu kemudian diselaraskan dengan gerakan silat.

Hingga akhirnya lahirlah Silek Kumango perpaduan lahir dan bathin. Dimana hakekatnya, “Lahia Mancari Kawan, Batin mencari Tuhan”, yang kental dengan unsur Islam.

Dari waktu ke waktu, silek ini kemudian terkenal luas bahkan hingga ke luar negeri. Silek ini hingga sekarang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebelum menjadi Parewa, kabarnya Syekh Kumango waktu mudanya dahulu pernah mengaji kepada Syekh Abdurrahman Batu Hampar di Payakumbuh.

Karena terpengaruh lingkungan, Syekh Kumango akhirnya tumbuh menjadi Parewa yang berjiwa bagak.

Hingga pada suatu ketika, ketika Syekh Kumango tengah berjualan di kedainya di Kota Padang, dia berjumpa dengan seorang peminta-minta.

Saat itu entah karena apa sebabnya, darah muda Syekh Kumango naik pitam kepada orang yang minta-minta tersebut, hingga diajaknya berduel didalam kedainya.

“Dari cerita yang saya dapat, mereka bacakak (berkelahi) satu lawan satu didalam kedai Syekh Kumango yang pintunya ditutup. Namun, dalam bacakak itu, Syekh Kumango kalah dari orang itu. Dari situlah akhirnya muncul niat Syekh Kumango untuk mengikuti (belajar) kepada orang tersebut,” ujar Iis Zamora, Wali Nagari Kumango.

Dari sumber lainnya diceritakan, pada satu waktu saat beliau berdagang di Padang, ada seorang kakek yang membuatnya marah karena selalu nyinyir meminta uang, sehingga membuat darah Alam Basifat naik hendak menghajar si kakek.

Rupanya setelah berusaha keras hendak memukul si kakek bagaimanapun cara memukulnya, namun tak kena sasaran satu pun. Sehingga beliau mengaku dan hendak berguru kepada si kakek. Namun si kakek mengajukan persyaratan yang cukup pelik.

Alam Basifat diajak bertemu lagi di Makkah oleh kakek tersebut. Dimana kala itu, Syekh Kumango atau Alam Basifat pergi ke Makkah dengan berjalan secara berantai mai dari Kampung, Sumatera Utara, Aceh, dan kemudian ke Thailand dan baru ke Kota Suci Makkah.

Syekh Kumango kemudian belajar di Makkah hingga belasan tahun dan belajar berbagai ilmu agama. Kemudian dia kembali ke kampung dengan menyandang nama Abdurrahman, lengkapnya Syekh Abdurrahman Kumango al-Samani al-Khalidi.

Sesampai di Kumango, dia kemudian mendirikan Surau yang bernama Surau Subarang, yang sekarang berada di Jorong Kumango Selatan, atau sekitar lebih kurang 500 meter dari Kantor Wali Kumango saat ini.

 

 

Dari sumber lainnya diceritakan, pada satu waktu saat beliau berdagang di Padang, ada seorang kakek yang membuatnya marah karena selalu nyinyir meminta uang, sehingga membuat darah Alam Basifat naik hendak menghajar si kakek.

 

“Di Surau itulah kemudian dia mengajarkan ilmu agama serta gerakan ilmu bela diri atau Silat. Yang dipadukan dengan ilmu agama, silat lahir dan bathin yang kemudian menjadi Silek Kumango, beliau waktu menjadi Syekh kala itu sudah berumur sekira 50 tahunan ” jelas Wali Nagari Iis Zamora.

Syekh Kumango tidak hanya mengajar di kampung saja, akan tetapi juga sampai ke luar daerah dan luar negeri. Hingga pada tahun 1932, Syekh Kumango wafat dan dikuburkan di dekat Surau Subarang.

“Setelah beliau wafat, kemudian makam beliau selalu didatangi oleh orang-orang untuk bertakziah, dan hal itu masih berlangsung hingga sekarang terutama menjelang masuk puasa Ramadhan, ” terang Iis. (eym)

 

Syekh Abdul Qadir

 

Kelahiran Syekh Abdul Qadir Jailani dan Kebiasaan Puasanya Sejak Bayi



Bagi para pengamal tarekat, nama Syekh Abdul Qadir tentu sudah tak asing lagi. Ia adalah seorang waliyullah yang bergelar “Sulthonul Auliya” alias rajanya para wali. Hal itu sebagaimana diungkap dalam kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah karya Habib Ali Hasan Baharun.

Syekh Abdul Qadir dilahirkan di negara Jailan. Satu negara bawahan Tobaristan, wilayah kuno bersejarah yang kini berada dalam wilayah Iran. Kelahiran Syekh Abdul Qadir tepat pada malam pertama Ramadhan tahun 470 Hijriah. Sementara wafatnya di negara Baghdad (Irak), tepat pada tanggal 10 Muhrarram tahun 571 Hijriah dalam usia 91 tahun.

Karamah atau tanda-tanda kewaliannya sudah tampak sejak lahir. Bahkan, pada malam kelahirannya pun ada karamah.

Pertama, sang ayah yang bernama Abu Shalih Musa Janaki bermimpi kedatangan Rasulullah saw. diiringi oleh para sahabatnya dan imam-imam mujtahid. Kala itu, beliau berpesan kepada ayahanda Abdul Qadir, “Wahai Abu Shalih, engkau akan dikaruniai anak laki-laki oleh Allah. Anak itu anak kesayanganku dan kesayangan Allah. Ia akan mendapat pangkat yang tinggi dalam kewalian sebagaimana aku dalam pangkat kenabian".

Kedua, selain Rasulullah saw., nabi-nabi yang lain juga turut menyampaikan kabar gembira kepada Abu Shalih bahwa dirinya akan mendapat karunia anak laki-laki yang akan menjadi Sulthanul Auliya. Dan semua wali dan imam-imam yang dimaksum berada di bawah putranya. Siapa pun wali yang tunduk kepadanya akan naik pangkat kewaliannya. Sebaliknya, wali yang tidak tunduk kepadanya akan dilepas oleh Allah dari kewaliannya.

Ketiga, tidak ada yang dilahirkan pada malam kelahiran Syekh Abdul Qadir di negara Jailan, kecuali semuanya laki-laki. Jumlahnya ada 1.100 dan semuanya menjadi wali agar menjadi pengiring kewalian Syekh Abdul Qadir.

Keempat, Syekh Abdul Qadir sejak dilahirkan tidak mau menyusu kepada ibunya pada siang hari di bulan Ramadhan. Sementara menyusunya beralih kepada waktu berbuka puasa. Sebagian ulama menjelaskan bahwa sejak bayi, Syekh Abdul Qodir telah menjalankan puasa ramadhan.

Kelima, di pundak Syekh Abdul Qadir ada bekas telapak kaki Rasulullah saw. Itu tak lain merupakan bekas telapak kaki Rasulullah saw. saat akan naik ke atas buroq pada malam isra-mi’raj. (Lihat: Manaqib Syekh Abdul Qadir Basa Sunda, halaman 12).

Pada malam kelahirannya, juga terpancar cahaya yang sangat terang. Sehingga orang-orang yang menyaksikan tidak mampu menatapnya. Disebutkan pula, usia ibu Syekh Abdul Qadir saat itu adalah 60 tahun. Itu pun termasuk salah satu perkara luar biasa yang langka terjadi pada kebanyakan perempuan. Wallahu a’lam.

 

MENGENAL TAREKAT

 

Tarekat Adalah: Pengertian, Makna, dan 7 Komponen Utama Tarekat



Tarekat adalah – Sebagai satu-satunya makhluk yang paling sempurna di dunia ini, manusia mempunyai keistimewaan-keistimewaan dan juga kelebihan yang disebut dengan maziyyah dan fadhilah, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Keistimewaan yang dimilikinya tidak hanya terletak pada kejadian fisiknya saja, tetapi juga pada kejadian ruhaniahnya.

Kesempurnaan dan juga kelebihan manusia dalam bentuk fisik sudah banyak dikaji dan juga dijelaskan oleh berbagai macam disiplin  ilmu dan juga di dalam berbagai penjelasan yang membandingkannya dengan makhluk lain. Namun, kesempurnaan dalam kejadian ruhani masih sedikit pengetahuannya yang secara tuntas menjelaskannya.

Dalam hal ini, ilmu psikologi dan juga tasawuf merupakan dua disiplin ilmu yang umumnya digunakan untuk membaca struktur kerohanian manusia. Terlebih, untuk kejadian ruhaniahnya, manusia juga mempunyai kelebihan yang luar biasa yang tidak pernah dimiliki oleh makhluk lain.

Kemudian, jika kita masuk pada kajian filsafat, maka wilayah yang cocok untuk dibicarakan di titik ini adalah kata al-nafs, yang mana kata itu digunakan untuk menunjukkan substansi ruhani manusia. Nafs yang ada di dalam diri manusia untuk para filsuf artinya daya berpikir.

Berdasarkan pandangan tersebut, maka tidak aneh jika para filsuf mendefinisikan manusia sebagai al-hayawan al-natiq atau hewan yang berpikir. Selain karena pandangan sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, ada satu hal yang dibidik oleh tasawuf sebagai perangkat dari konsep ihsan, yakni hati.

Menurut perspektif dari Al-Ghazali, hati kerap kali diistilahkan sebagai objek untuk menentukan diri seseorang dalam melakukan suatu perbuatan atau bahkan meninggalkannya. Oleh karena itu, hati atau kalbu ini akan diberi beban pertanggungjawaban terhadap apa yang sudah diputuskannya.

Dengan begitu, selain akal, kalbu juga merupakan anugerah Tuhan yang sangat luhur dan agung, yang bisa membedakan manusia dengan makhluk lain.

Di dalam Islam, terdapat tiga konsep yang dalam ranah praktiknya harus sejalan dan seirama. Ketiga konsep tersebut yaitu syari’ah, thariqah, dan juga hakikat. Istilah tersebut di dalam Bahasa Indonesia sering kali disebut dengan syariat, tarekat, dan juga hakekat. Syariat sendiri adalah peraturan-peraturan Allah SWT untuk manusia melalui para nabinya yang masih berupa sebuah teks, baik itu Al-Quran atau Sunnah.

Kemudian, pengembangan dari syariat tersebut lahirlah ilmu fikih dengan berbagai macam corak dan mazhabnya. Untuk menuju hakikat, yakni yang disebut sebagai tasawuf akhlaki atau tasawuf falsafi, membutuhkan jalan yang disebut dengan tarekat.

Dengan begitu, tarekat merupakan jalan yang ditunjuk oleh para ahli atau syaikh untuk orang-orang awam dalam rangka menuju kepada hakikat dari ajaran agama. Di mana jalan menuju hakikat yang disebut juga dengan tasawuf, baik itu falsafi atau akhlaki tidak selamanya harus melalui tarekat ataupun berbagai metode yang ditetapkan oleh guru sufi atau mursyid.

Namun, juga dapat ditempuh secara perseorangan jika orang tersebut sudah memenuhi persyaratan dan mempunyai  ilmu agama yang sangat dalam di berbagai aspeknya.

Untuk orang-orang awam, tidak mungkin sampai kepada hakikat tadi kecuali melalui bimbingan para guru ataupun mursyid yang kemudian bimbingan tersebut disebut dengan tarekat. Tarekat tersebut berkembang dari masa ke masa dengan berbagai macam aliran, seperti halnya aliran fiqih yang berkembang dari syariat. Nah, pada artikel kali ini, kita akan membahas secara lebih dalam mengenai apa itu tarekat dan tujuannya.

Pengertian Tarekat 

Tarekat sendiri adalah kata yang berasal dari bahasa Arab yang bermakna jalan. Banyak kosa kata dalam Bahasa Arab yang bisa diartikan sebagai jalan, seperti misalnya sabil, shirath, minhaj, maslak, nusuk, atau mansak. Zamakhsyari Dhofier menjelaskan bahwa tarekat adalah sebuah kelompok organisasi (Islam Klasik) yang melakukan berbagai amalan zikir tertentu dan menyampaikan sumpah yang mana formulanya sudah ditentukan oleh pimpinan atau syaikh organisasi tarekat tersebut.

Harun Nasution mengungkapkan bahwa tarekat adalah sebuah jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dengan tujuan untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan, yang mana kemudian mengandung tarekat tersebut dimaknai organisasi, syaikh, bentuk zikir sendiri, dan juga upacara ritual.

Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa tarekat mempunyai dua makna, yakni tarekat yang bermakna jalan yang ditempuh oleh para sufi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Lalu, yang kedua adalah tarekat bermakna organisasi ataupun perkumpulan yang didalamnya ada syaikh, zikir-zikir tertentu, atau upacara ritual.

Tarekat adalah transformasi dari tasawuf yang awalnya dilakukan secara perseorangan dan kemudian dilakukan secara berkelompok. Seseorang yang menempuh jalan tasawuf untuk sampai kepada pengalaman rohani, hanya akan mengandalkan diri mereka sendiri. Sementara itu, untuk orang yang menempuh jalan tarekat, mereka akan dibimbing oleh seorang syaikh atau mursyid.

Di dalam sejarahnya, gerakan tarekat berawal dari abad keenam Hijriah dengan munculnya beberapa kelompok tarekat yang diawali dari Syaikh Abdul Qadir al Jailani yang berasal dari Baghdad dan kemudian mendirikan tarekat Qadiriahnya. Setelah itu, muncul berbagai jenis tarekat, baik yang merupakan cabang dari tarekat Qadiriyah atau tarekat yang berdiri sendiri. Tarekat-tarekat tersebut antara lain, tarekat al Kubrawiyah yang didirikan oleh Najmuddin al Kubra (w. 1221 M) dan juga tarekat al-Rifaiyah yang didirikan oleh Syekh Ahmad Rifa’i (w. 1182 M).

Selain itu, ada juga tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Abu Hasan al Syadzili (w. 1258 M), tarekat al Khalwatiyah oleh Zahiruddin al Khalwati (w. 1397 M), tarekat Syattariah oleh Abdullah al-Syattar (w. 1428 M), dan tarekat Naqsyabandiyah oleh Bahauddin al-Naqsyabandi (w. 1389 M).

Pengertian Tarekat Menurut Para Ahli

Secara etimologi, tarekat sendiri berasal dari kata thariqah yang artinya jalan, keadaan, garis atau aliran pada sesuatu. Sementara jika dilihat secara terminologi, pada pengkaji tarekat mengungkapkan beberapa pengertian, antara lain:

1. Menurut Aboebakar Atjeh

Tarekat adalah jalan ataupun petunjuk dalam melakukan sebuah ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan serta dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh para sahabat serta tabi’in, turun-temurun hingga kepada para guru secara berantai.

2. Menurut Al-Taftazani

Tarekat adalah sekumpulan seorang sufi yang terkumpul dengan seorang syaikh tertentu, tunduk di dalam aturan-aturan yang terperinci di dalam tindakan spiritual, hidup secara berkelompok di dalam ruangan peribadatan atau berkumpul secara berkeliling di dalam momen-momen tertentu, serta membentuk sebuah majelis  ilmu atau dzikir secara organisasi.

3. Menurut Nurcholis Madjid

Tarekat adalah jalan menuju Allah SWT untuk memperoleh ridhoNya dengan menaati semua ajaran-Nya.

4. Menurut al-Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi

Tarekat adalah mengamalkan syariat dan melaksanakan beban ibadah dengan tekun serta menjauhkan diri dari sikap yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah. Kemudian, tarekat juga berarti menjauhi setiap larangan dan melakukan perintah Allah SWT sesuai dengan kesanggupan, baik itu larangan dan juga perintah yang nyata atau tidak (batin).

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa tarekat memiliki dua pengertian, pertama yaitu tarekat sebagai pendidikan kerohanian yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan kehidupan tasawuf, yang mana secara individu untuk mencapai sebuah tingkat kerohanian tertentu.

Kemudian, yang kedua adalah tarekat sebagai sebuah perkumpulan ataupun organisasi yang didirikan menurut aturan yang sudah ditetapkan oleh seorang syaikh yang menganut aliran tarekat tertentu.

Berbagai ajaran tasawuf yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah hakikat tarekat yang sebenarnya. Tasawuf merupakan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sementara tarekat adalah cara dan juga jalan yang ditempuh oleh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal tersebut menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang berkembang dengan beberapa variasi tertentu sesuai dengan spesifikasi yang diberikan oleh seorang guru kepada muridnya.

7 Komponen Utama Tarekat

Tasawuf amali melahirkan seorang anak kandung yang bernama tarekat. Secara harfiah, tarekat memiliki arti “jalan”, “cara”, atau “metode”, untuk mencapai tujuan tasawuf, yaitu meraih kesucian jiwa, kedekatan diri dengan Tuhan, dan merasakan kehadiran-nya di dalam setiap keadaan. Tasawuf amali bersifat praktis, aplikatif, dan juga berorientasi kuat pada amaliah.

Sebagai sebuah metode khusus yang digunakan oleh seorang penempuh laku spiritual menuju Allah SWT, tarekat sendiri mempunyai 7 komponen utama, sebagaimana yang pernah diungkap oleh Prof. Asep Usman Ismail, yakni seorang Guru Besar Tasawuf UIN Jakarta. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai tujuh komponen tasawuf, antara lain:

1. Mursyid

Secara bahasa, mursyid ini memiliki arti “pembimbing”, “pemandu”, atau “guru”. Di dalam tarekat, mursyid ini adalah dokter rohani yang mengenal berbagai macam penyakit kalbu atau hati, mempunyai kemampuan untuk mengobati serta memperbaikinya menjadi sempurna.

Lebih populernya, mursyid adalah guru tarekat ataupun pembimbing spiritual yang kerap disebut dengan syaikh, pir, atau murad. Perannya sendiri cukup penting, bahkan mutlak dalam sebuah tarekat. Karena, menurut Abu Yazid al-Busthami yakni seorang ulama tasawuf, mengatakan:

من لم يكن له أستاذ  فإمامه الشيطان  

Artinya, “Siapa saja yang tidak memiliki guru, maka imamnya adalah setan.”

Kemudian, Dalam Tafsir Ruhul-Bayan, karya Ismail Haqqi al-Hanafi, disebutkan:

من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان

Artinya, “Siapa saja yang tidak memiliki syaikh (mursyid), maka syaikhnya adalah setan.”

Apabila ulama fikih, tafsir, dan juga hadits sebagai pewaris Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tentang  ilmu zahir, maka mursyid adalah pewaris dari Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tentang penghayatan agama yang bersifat batin. Oleh sebab itu, kriteria syaikh atau mursyid ini pastinya harus menguasai ilmu syariat dan juga ilmu hakikat secara mendalam dan juga lengkap. Di mana pikiran, perkataan, dan juga tingkah laku mereka harus mencerminkan budi pekerti yang luhur.

2. Murid

Istilah murid ini berasal dari isim fail kata arada, yang artinya seseorang yang berkehendak atau menginginkan sesuatu. Dalam tasawuf, para penempuh jalan rohani merupakan murid, yaitu orang yang menghendaki perjumpaan dengan Allah SWT melalui ibadahnya, riyadhah, mujahadah, dan juga munajat, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al-Quran, yakni:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya, “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan  tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya,” (QS. al-Kahfi [18]: 110).

Di dalam tarekat, walaupun seseorang sudah berada di dalam posisi mursyid, tapi pada hakikatnya mereka tetaplah seorang murid, yang artinya, seorang penempuh rohani yang menghendaki perjumpaan dengan Tuhan. Oleh karena itu, mursyid dan murid berusaha untuk membersihkan diri dari berbagai macam penyakit hati dan juga sifat tercela supaya bisa merasakan bagaimana persahabatan dengan Allah SWT.

3. Baiat

Secara bahasa, baiat adalah transaksi ataupun janji setia yang dilakukan antara dua pihak. Di tengah masyarakat Islam klasik pra-Islam, baiat juga termasuk pranata sosial. Umumnya terjadi diantara anggota suku dengan kepala suku sebagai salah satu bentuk pengukuhan kepemimpinan untuk dipatuhi dan juga ditaati perintahnya.

Di dalam Islam, pelaksanaan baiat ini menggambarkan tradisi saling menumpuk tangan yang mengakar di dalam budaya Arab sebelum Islam datang, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut ini:

إِنَّ الَّذِينَ يُبايِعُونَكَ إِنَّما يُبايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّما يَنْكُثُ عَلى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفى بِما عاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً 

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji (setia itu),  maka sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar,” (QS. al-Fath [48]: 10).

4. Silsilah

Secara bahasa, silsilah merupakan mata rantai yang menghubungkan butiran-butiran anak rantai sehingga nantinya akan membentuk satu kesatuan. Di dalam tarekat, silsilah adalah mata rantai yang menghubungkan kesinambungan rohani yang ada diantara mursyid yang satu dengan yang lainnya sebelumnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Silsilah di dalam tarekat sama halnya dengan sanad di dalam hadits. Sebuah hadist dikatakan sebagai hadits shahih jika sanad hadits tersambung pada Rasulullah SAW. Begitu juga sebuah tarekat, dapat dinamakan mu’tabarah jika salah satu kriterianya memiliki silsilah yang berkesinambungan sampai ke Rasulullah SAW.

5. Wirid

Istilah wirid ini adalah kosa kata dalam Bahasa Arab yang berasal dari kata Warada yang artinya datang berulang-ulang. Sehingga wirid secara bahasa merupakan sesuatu yang rutin dilakukan secara berulang-ulang. Sedangkan menurut istilah wirid adalah zikir, amalan, bacaan, yang dilakukan dengan rutin. Setiap tarekat mempunyai beragam wirid dan juga ketentuannya masing-masing. Umumnya ada zikir harian, mingguan, bulanan, dan lainnya.

6. Tempat

Dalam perkembangan tarekat dan tasawuf, dikenal berbagai macam istilah yang mengacu pada tempat pendidikan dan juga pelatihan rohani. Ada yang mengistilahkannya sebagai zawiyah, yang mana secara harfiah artinya pojok. Penamaan itu ada kaitannya dengan cikal bakal kehidupan tasawuf dalam Islam, yaitu para sahabat yang menempati salah satu pojok masjid Nabawi yang ada di Madinah. Mereka dikenal dengan nama Ahlus-Shuffah.

7. Adab

Adab adalah etika hubungan salik dengan para syaikh atau gurunya. Menurut Ibnu Arabi, seorang salik dihadapan gurunya harus bersikap bagaimana mayat yang ada di tangan orang yang memandikannya. Selain itu, salah satu adab salik kepada sang guru yaitu tidak boleh berburuk sangka, tidak boleh duduk di tempat yang biasanya digunakan oleh sang guru, tidak boleh menggunakan barang yang biasanya digunakan oleh gurunya, serta mereka harus turut dan juga patuh terhadap perintah guru.

Dari pembahasan di atas bisa dikatakan bahwa tarekat adalah jalan untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Demikian penjelasan mengenai apa itu tarekat dan komponen yang ada di dalamnya. Bagi Grameds yang ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang tarekat, kamu dapat membaca buku-buku terkait dengan mengunjungi Gramedia.com.

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Umam

 

 

SILAT SYEH 12

 

Pencak Silat Kharomah Syeh 12

 



Pencak syeh cukup dikenal dikalangan dunia persilatan. Yang semula orang tidak mengetahui bagai mana berpencak silatpun dengan seketika dapat berubah menjadi seorang Pendekar yang bisa bahkan mahir dalam melenggak lenggokkan gerak silatnya.Tak ubahnya ilmu pencak silat batin, keilmuan yang satu ini juga memakai sarana hadiran/syeh ketika ingin menguasai pencak silat. Hanya saja ilmu ini belajar silatnya didalam mimpi.
Pada saat tidur kita akan bermimpi bertemu dengan seseorang yang melatih dan mengajarkan ilmu pencak silat hingga tamat. Dan ketika bangun tidur semua jurus jurus yang dipelajari dalam mimpi tetap teringat sehingga dengan mudah semua diulangi.
Sangat luar biasa, ketika melakukan jurus jurus yang didapat dari alam mimpi semua dilakukan dengan mudah, bahkan tubuh lebih ringan dan gerakan semakin gesit. Semua pukulan dan tendangan juga elakan terasa penuh dan berisi.

Adapun ilmu pencak silat syeh 12 sebagai beriut:

"Bisillahhirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum
Wahai sahabatku yang keduabelas
Tempat engkau ditubuhku
Tangan kanan 1.jibril 2.mikail
Tangan kiri 3. isrofil 4.ijroil
Kaki kanan 5. abubakar 6.Umar
Kaki kiri 7.Usman 8.Ali
Dada kanan 9. Kiraman
Dada kiri 10.Katibin
Leher 11. Akad
Tengkuk 12. Mukorrobin
Engkau tiada bisa lupa
Aku bisa
Mustajab diaku
Kabul diguru
Berkat lailahailallah
Berkat Muhammaddarrosululloh"


Caranya:

  1. Ambilair wudhu/air sembahyang dengan air bersih pada wktu maghrib.
  2. Dilanjutkan ambil wudhu dengan asap kemenyan.
  3. Setelah sholat maghrib maka bacalah ilmu pncak silat syeh 12 sebanyak 999x tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.
  4. Ketika akan tidur dimalam hari ditempat tidur membaca ilmu pencak silat syeh 12 sebanyak 13x dan tidak boleh berbicara lagi hingga terlelap.
  5. Kalau tersentak/terjaga maka ilmu dibaca kembali sebanyak 13x.
  6. Tidurnya harus sendiri dan semua barang yang mudah pecah atau senjata tajam yang berbahaya agar dijauhkan dari kamar.


Ritual diatas dilakukan selama 7 malam hingga 12 malam. Kalau keterima maka akan bermimipi diajarkan pencak silat didalam mimpi. Dan setiap melakukan pencak silat setelah diajarkan dalam mimpi akan memiliki kekuatan berlipat ganda dengan reflek yang luar biasa.

Kemudian ilmu silat yang diajarkan dialam mimpi boleh diajarkan kepada orang lain dengan nama silat yang diterima didalam mimpi.Makanya, barang siapa yang berhasil memiliki ilmu ini maka akan menjadi master silat yang pilih tanding.selain itu masih banyak lagi tuah luar biasa memiliki ilmu ini.misalnya dibidang pengobatan, ilmu supranatural dan sebagainya. sebab, kita akan terus mendapat banyak pelajaran ilmu silat dan ilmu supranatural dari alam mimpi.

 

 

BEGU GANJANG


Nun begu ( Begu ganjang )

 

Setiap daerah di Indonesia pastinya memiliki beragam cerita mistis. Salah satu cerita itu masih ditemui di Sumatera Utara (Sumut). Di sini, ada sosok misterius yang sebagian masyarakat masih mempercayainya.
Sosok itu bernama begu ganjang. Sosok ini masih hidup dalam kepercayaan sebagian masyarakat, khususnya di daerah-daerah pelosok Sumut. Keberadaan makhluk tak terlihat ini pun kerap dipertanyakan masyarakat.

Antropolog Sumut, Dr Irfan Simatupang menjelaskan soal sosok begu ganjang. Bermacam kepercayaan hidup di masyarakat khususnya masyarakat Batak terkait begu ganjang. Namun, semuanya mengarah pada sesuatu yang negatif.

Begu dalam budaya Batak adalah sejenis makhluk gaib yang awalnya berasal dari makhluk hidup atau lokasi tertentu. Manusia yang hidup, memiliki dua zat yakni fisik, jasad atau yang disebut pamatang dan ruh atau yang disebut tondi. Ketika manusia mati maka tondinya di percayai berubah menjadi begu.

Begu ini akan pergi menuju suatu tempat yang disebut parbeguan, yakni suatu tempat gaib di mana berkumpul begu-begu orang yang sudah mati sebelumnya. Ruh akan terpisah dari jasad.

"Jika laki-laki yang mati, tondinya akan tetap berada disekitar jasadnya sampai 11 hari, jika perempuan 9 hari tondinya masih tetap berada disekitar jasad. Hal ini juga memperkuat ungkapan batak yang menyebutkan bah lebih kuat jiwa laki - laki daripada perempuan," ungkap ketua Program Studi Antropologi, Fisip Universitas Sumatera Utara, (USU).

Hal itu juga yang menjadi alasan bagi sebagian masyarakat batak untuk menjaga kuburan orang yang baru dikebumikan. Begu- begu ini juga hidup sebagaimana kehidupan manusia layaknya, mereka juga memiliki strata. Begu dari orang yang meninggal semasa hidupnya baik, keturunannya tetap menghormatinya. Begunya bisa berubah menjadi Sumangot dan selanjutnya jadi Sahala.

"Makanya orang Batak dahulu sangat menghormati orangtuanya bahkan sampai lama sesudah meninggal. Tidak jarang diberikan makanan, dibangunkan rumahnya dan lain-lain layaknya manusia hidup," sebut Irfan.

Kemudian, Irfan mendefinisikan kata ganjang. Dia menyebut kata ganjang berarti panjang. Jadi, begu ganjang itu perawakannya tinggi besar, hitam dan wujudnya pun tak kelihatan. Jika lebih luas lagi, itu termasuk dalam ilmu gaib atau magic. Irfan juga menyebutkan begu ganjang, sejenis begu yang asal usulnya belum jelas didapatkan. Namun melihat dari fenomena kepercayaan sebagian masyarakat, begu ganjang ini merupakan sejenis makhluk gaib yang bisa dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia tertentu sebagaimana kepercayaan terhadap tuyul dalam masyarakat Jawa.

Dalam kajian antropologi religi, ada namanya black magic dan white magic. Black magic adalah kemampuan manusia mengendalikan kekuatan-kekuatan makhluk gaib (supra natural).Begu ganjang masuk kategori black magic. Sedangkan white magic manusia bersandar pada kekuatan gaib (supranatural) pada awalnya ada dalam pemikiran (kepercayaan) individu dari anggota masyarakat.

Kemudian kepercayaan tersebut disebarkan pada masyarakat lainnya dengan berbagai maksud atau tujuan, sehingga ada kalanya kepercayaan yang demikian menjadi kepercayaan kolektif. Begu ganjang sudah menjadi kepercayaan kolektif dari masyarakatnya, bisa menimbulkan masalah besar dalam kehidupan sosial masyarakat setempat maupun lingkungannya.

"Tidak jarang terjadi pengusiran bahkan sampai pada pembunuhan pada orang- orang yang dicurigai atau dituduhkan sebagai pemilik begu ganjang tersebut. Hal ini bisa berdampak sangat lama sampai pada keturunannya beberapa generasi," sebut Irfan.

Irfan yang merupakan alumni S3 dari Antropologi UI ini mengatakan bahwa ada teori batas akal dari JG Frazer di mana manusia pada mulanya akan menjawab masalah hidupnya dengan menggunakan akalnya. Ketika akalnya sudah tidak mampu memahami sampai pada batas akalnya, manusia akan mencari jawaban melalui supranatural. Supranatural itu liar karena non material. Tidak bisa dilihat, dan hanya dalam bayangan.

"Bayangan bisa muncul bermacam-macam. Kalau dalam bayangan tentang yang baik maka muncullah wujud-wujud yang baik seperti tentang Tuhan, tentang malaikat. Kalau dia pemikirannya negatif, maka muncullah wujud-wujud negatif misalnya setan, iblis, hantu, dalam budaya batak begu. Maka begu itu selalu muncul dalam bentuk yang negatif," ucap Irfan.

Irfan menyebut kepercayaan demikian sebenarnya milik individu. Akan tetapi adakalanya dimanfaatkan oleh individu menjadi sesuatu yang diterima menjadi pemikiran kolektif. "Nah yang berbahayanya, menantangnya di sini sebenarnya ketika kepercayaan, keyakinan individu ini disebarkan ke masyarakat sehingga menjadi kepercayaan kolektif. Ini yang berbahaya, misalnya begu ganjang. Kalau ditanya lagi apa itu begu ganjang akan bermacam-macam definisi orang. Karena dia nggak pernah melihat. Hanya ada di dalam bayangan atau cerita dari cerita tapi jelas begu konotasinya negatif," sebut Irfan.

Irfan melihat dalam kepercayaan sebagian masyarakat, begu ganjang ini bisa dipelihara. Dia sama dalam budaya lain, bisa memelihara jin dan tuyul. "Nah biasanya orang yang dipercaya memiliki ini dia harus ada, selalu muncul ada perilaku- perilaku yang berbeda dari orang kebiasaan attau ada situasi yang berbeda," ujar Irfan.
Irfan menyebut isu-isu yang menyebar di masyarakat menjadi kepercayaan kolektif ini yang berbahaya. Dari kepercayaan, keyakinan individu berubah menjadi kepercayaan kolektif dan ini didukung biasa dari fakta-fakta yang sebenarnya adakalanya fakta ini rasional cuma karena batasan kemampuan berpikir masyarakatnya, maka langsung kepada hal yang gaib.

Irfan lalu mencontohkan, ada satu kasus di suatu desa di Sumut. Desa ini sebenarnya karena sumber dayanya boleh dikatakan mencukupi, bagus. Cuma karena ada isu-isu seperti ini sehingga terjadi kecurigaan dan masyarakatnya jadi tidak nyaman. Ada yang dicurigai misalnya pemilik begu ganjang. Hal ini disebarkan oleh orang-orang tidak senang terhadap dia, sampai dia akhirnya terjadi pengusiran atau bahkan pembunuhan dan akhirnya masuk ke ranah hukum.

"Ranah hukum kan nggak melihat ini, lihatnya hukum positif yang bisa dihadirkan pembunuhannya. Maka dipenjara, nah orang yang diisukan yang membunuh ini menjadi dicap image negatif dari segi manapun. Yang membunuh dari segi hukum dia sudah negatif. Yang dicap ini sebagai pemilik begu ganjang sampai ke keluarganya dicap negatif. Nah ini yang menurut saya harus di netralisir," sebut Irfan.

Sejauh ini, Irfan belum dapat menyimpulkan mulanya begu ganjang berkembang. Namun, fenomena ini mencuat ketika muncul suatu permasalahan di masyarakat. "Saya Belum dapat itu ceritanya sejak kapan itu berkembang. Tapi fenomena yang saya lihat, hal-hal yang seperti ini akan muncul ketika terjadi suatu masalah. Misalnya muncul serangan wabah penyakit pada masyarakat tertentu. Akan muncul isu-isu seperti itu," ujar Irfan.

Tharikat Samaniyah

  Tharikat Samaniyah Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010 ...