Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau
Menumbai Madu Sialang merupakan kegiatan mengambil madu dari pohon sialang,
yakni sejenis pohon tertentu yang tinggi dan besar, disenangi oleh lebah untuk
tinggal dan menghasilkan madu. UU Hamidy (1983), menyebutkan ”menumbai” berasal
dari kata “tumbai” atau “umbai”, yang artinya “turun” atau juga “menurunkan”
dengan menggunakan tali dan bakul. Arti ini juga menggambarkan gerak menurunkan
sarang lebah memakai timba bertali. Kegiatan menumbai ini dilakukan di malam
hari, pada saat kondisi gelap gulita.
Sialang bukanlah nama sebuah pohon. Tetapi nama pohon apa saja yang bisa
dihuni oleh lebah dalam menghasilkan madu. Jenis lebah yang bersarang tersebut
adalah Apis dorsata binghami, yang hidup di Asia Selatan dan
Tenggara. Pohon yang dihuni oleh lebah ini lebarnya bisa mencapai dua kali
pelukan orang dewasa, tinggi dan licin sehingga tidak sembarang orang bisa
mengambil madu yang dihasilkan lebah di atasnya. Oleh karena itulah, tradisi
menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak
benda di tingkat nasional.
Temukan lebih banyak
SENI
Seni & Desain Visual
seni
Home / Kebudayaan / Pelalawan / Riau / Warisan Budaya Tak Benda
Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau
By Riau Magazine September 03, 2017
Salah satu Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau yang
sudah diresmikan asal Pelalawan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2015 adalah tradisi Menumbai Madu Sialang.
Mengenal Tradisi Menumbai Madu Sialang
Menumbai Madu Sialang merupakan kegiatan mengambil madu dari pohon sialang,
yakni sejenis pohon tertentu yang tinggi dan besar, disenangi oleh lebah untuk
tinggal dan menghasilkan madu. UU Hamidy (1983), menyebutkan ”menumbai” berasal
dari kata “tumbai” atau “umbai”, yang artinya “turun” atau juga “menurunkan”
dengan menggunakan tali dan bakul. Arti ini juga menggambarkan gerak menurunkan
sarang lebah memakai timba bertali. Kegiatan menumbai ini dilakukan di malam
hari, pada saat kondisi gelap gulita.
Sialang bukanlah nama sebuah pohon. Tetapi nama pohon apa saja yang bisa
dihuni oleh lebah dalam menghasilkan madu. Jenis lebah yang bersarang tersebut
adalah Apis dorsata binghami, yang hidup di Asia Selatan dan
Tenggara. Pohon yang dihuni oleh lebah ini lebarnya bisa mencapai dua kali
pelukan orang dewasa, tinggi dan licin sehingga tidak sembarang orang bisa
mengambil madu yang dihasilkan lebah di atasnya. Oleh karena itulah, tradisi
menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak
benda di tingkat nasional.
Kegiatan menumbai biasanya dipimpin oleh seseorang yang disebut Juragan Tuo,
dibantu dengan beberapa Juru Panjat lainnya yang disebut dengan Juragan Mudo.
Ada juga orang yang menyambut di bawah atau yang disebut Tukang Sambut. Juragan
Tuo bertindak sebagai pimpinan kelompok yang bertanggung jawab terhadap
keselamatan anggotanya dari berbagai resiko pengerjaan. Ancaman utama yang
dihadapi para juragan mudo adalah gigitan lebah, ancaman binatang buas yang
menghuni pohon hingga makhluk-makhluk ghaib yang ada di sekitar.
Inilah yang menjadi pertanggung jawaban Juragan Tuo. Jika
diperlukan, ia bisa juga memanjat pohon membantu Juragan Mudo. Banyaknya jumlah
Juragan Mudo yang diperlukan dalam setiap pengerjaan bergantung pada jumlah
pohon yang akan dipanjat. Sebelum memulai menumbai, biasanya
anggota kelompok membersihkan lebih dulu semak-semak di sekitar pohon. Membuat
pondok untuk berjaga, lalu membuat tali berbentuk tangga untuk memanjat pohon.
Pohon sialang sangat tinggi, bisa mencapai hingga 30-40 meter. Oleh sebab
itulah keselamatan para pemanjat sangat penting diperhatikan.
Orang Petalangan yang merupakan suku asli yang bermukim di Pelalawan lah yang
menjaga tradisi menumbai tersebut. Mereka hidup dari hasil
ekonomi menumbai lebah, oleh karena itulah tradisi ini terus diajarkan turun
temurun di masyarakat daerah tersebut. Untuk melakukan kegiatan menumbai madu,
dilakukan beberapa serangkaian ritual adat dan kepercayaan masyarakat
Petalangan.
Menumbai tidak bisa dikerjakan setiap saat. Biasanya dalam setahun hanya 2
hingga 3 kali saja bisa dilakukan untuk hasil yang maksimal. Sebab menurut
orang Petalangan, lebah bersarang di pohon sialang hanya empat kali dalam
setahun, yakni musim bunga jagung, musim bunga padi, selepas menuai, dan semasa
menebang menebas ladang. Madu yang paling diminati dari keempat musim tersebut
adalah madu di musim bunga padi, yakni madu berwarna putih.
Peralatan Menumbai Madu Sialang
Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk proses Menumbai Madu Sialang tersebut
diantaranya adalah:
- Timba,
timba atau timbo diberi tali dan dibawa naik oleh juragan muda ke atas
pohon, dahulu timba ini terbuat dari kayu, namun saat ini sudah digunakan
timba yang terbuat dari plastik. Timba ini nantinya diisi dengan sarah
lebah yang diturunkan lalu disambut oleh tukang sambut, untuk selanjutnya
dibawa ke ubo.
- Ubo
merupakan tempat memeras lilin atau sarang lebah untuk mendapatkan madu.
- Tunam,
merupakan sejenis obor yang dibuat dari kulit kayu untuk dipakai sebagai
alat penerang di malam hari. Tunam ini dibawa oleh juragan muda ke atas
sewaktu memanjat untuk menyapu kerumunan lebah yang ada di sarangnya.
Sekaligus digunakan sebagai satu-satunya alat penerang selama proses
berlangsung. Kerumunan lebah jatuh ke bawah mengikuti percikan api.
Tahapan Proses Menumbai
Beberapa tahapan berikut dilakukan orang Petalangan sebelum memulai tradisi
menumbai lebah sialang:
- Pelangkahan,
merupakan proses pembacaan mantera dalam hati dan menunggu reaksi batinnya
setelah dibacakan mantera tersebut. Hal ini dilakukan sebelum berangkat
menuju ke tempat pohon sialang, biasanya dilakukan pada petang hari,
meskipun pengambilan madu dilakukan pada malam hari saat gelap gulita.
Tradisi ini biasa dilakukan suku tradisional Melayu sebelum melakukan
hal-hal yang beresiko.
- Menuo
sialang, setelah sampai di lokasi pohon sialang, juragan tuo biasanya
melakukan menuo sialang, yakni berdiri di depan pohon sialang untuk
menuakan atau menghormati sialang. Ia membaca mantera dalam hati dengan
tujuan meminta izin kepada roh-roh halus penunggu pohon sialang.
Mantra :
Bismilahirrohmanirrohim
Assalamualaikum ibuku bumi, bapakku langit
aku bemohon kepado nabi kayu
nabi lilit
nabi ake
nabi lie
nabi kayu
nabi putih mogang kayu
antu kayu samo kayu
bukan aku yang punyo kayu
Atuk Gu’u nan punyo kayu
Kun! mohon kayu iko
Kun! duo sialang kayu.
Mbat menghembat ake gadung
Mbat mai di ate tanggo
Kalau iya sialang ini
Lingkaran tedung dan nago
Tetaplah juo di banie kayu - Menepuk
pohon, tanda bertamu merupakan langkah selanjutnya setelah menuo sialang
yang dilakukan juragan tuo adalah dengan menepuk bagian pangkal pohon
sebanyak tiga kali untuk memberi tanda kepada lebah bahwa ia sudah berada
di halaman rumah lebah untuk bertamu. Yang diharapkan dari proses ini
adalah lebab berdengung menandakan ia mengetahui kehadiran orang di
bawahnya. Jika dengung tidak ada, maka proses ditunda.
Mantra :
Mengombang ke mano alu
Puting beliung samo tonga
Tabik aku dahan joambang
Aku nak lalu ke balai tonga
Balai Tonga balai duoeto
Tigo balai telendak bumi
Letak bandan poning kepalo
Menengok cantiknyo balai ini
- Pasu,
cara melenakan lebah: sebelum para juragan mudo memanjat pohon, yang
dilakukan selanjutnya adalah pasu. Yakni pembacaan mantera khusus yang
ditujukan untuk menghipnotis lebah agar lebah terbang dan tidak menyengat.
Mantra :
Papat-papat tanah ibul
Mai papat di tanah tombang
Nonap-nonap Cik Dayangku tidou
Juagan mudo di pangkal sialang
(Cik Dayang yang dimaksud adalah lebah yang bersarang diatas pohon sialang).
Popat-popat tanah mayang ibual
Dipopat tanah tombang
Nonap-nonap cik Dayang tidou
Konai doa pasung terbang
Pinjam tukual pinjam landean
Tompat manukual kalakati
Pinjam dusun pinjam laman
Tompat main malam ini
Apo kejadian lobah
Lalat putih so’i majnun
Apo kejadian songat
Ja’um patah siti fatimah
Lobah jangan dibagi moamuk
Lobah jangan dibagi monyongat
Songat engkau di aku
Monyongat kataku
Ba’u engkau monyongat
Kini songat engkau di aku
Aku tahu kejadian engkau
Ampo padi kejadian engkau
Nan bone tinggal di aku
Nan ampo jatuh melayang
Ke langit nan katujuh
Awan gemawan
Di situlah engkau
Kemano aku su’u
Ke situlah engkau po’i
Engkau jangan menyulap kepada aku iko
Engkau pulang ke asal engkau mulo jadi
Aku pulang ke asalku mulo jadi - Memanjat:
pada saat memanjat tangga, para juragan mudo berhenti dan membacakan
mantera khusus, lalu ia naik lagi. Sampai di dahan pertama, dibacakan lagi
mantera khusus, ia lalu mengamati sarang-sarang lebah yang ada, membacakan
mantera sambil mendekatkan obor pada sarang yang masih banyak lebahnya.
Tidak semua sarang lebah yang ada berisi madu, dan terkadang juga lebah
tak mau pergi dari sarangnya. Jika sudah didapati sarang lebah yang sarat
madu, barulah di masukkan ke timba dan dibawa turun.
- Melepas
pasu: setelah juragan mudo turun, selanjutnya dilakukan proses melepas
pasu atau menyadarkan lebah yang dilakukan juragan tuo.
Mantra :
Temasu kayu di imbo
Dibuat papan belarik
Tubonsu jungan baibo-ibo
Isuk kolam naik balik
Amoramo si kumbang janti
Duo ancak ketigo ancang
Jangan lamo dayangku poi
Duo bulan ketigo lah datang
Antu kayu taogu-ogu
Dahan panjang tenanti-nanti
Menanti kau datang
Betapa sulit dan beresikonya menumbai madu, sehingga tak heran jika harga madu
cukup mahal di pasaran. Tradisi ini harus terus dipelihara untuk bisa
mendapatkan madu-madu alam dari daerah Riau sendiri.
Selain ancaman regenerasi seni budaya menumbai madu sialang ini, ada beberapa
teknik modern dalam memanen madu sialang dan juga ekspansi lahan perkebunan
sawit yang mengancam keberadaan pohon-pohon sialang yang ada saat ini.
Beberapa Pebatinan yang masih mempertahankan seni budaya adat tradisi menumbai
ini misalnya Pebatinan Bunut yang memiliki kepungan (kumpulan) pohon sialang
dari jenis Pohon Keruing yaitu Kepungan Sialang De Bakal, Sialang Tungkat Nago
Seai, Sialang Tungkat Tembonsu, Sialang Kawan, Sialang Pulau Bose, Sialang
Gumpal Bonang, Sialang Tengkorak, Sialang Pulau Panjang, Sialang Pulau Tujuh,
Sialang Ombau Ulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar