Upacara Kenduri Sko
Kenduri sko merupakan sebuah rangkaian acara
adat pengukuhan gelar suku atau kepala adat. Upacara ini selalu diiringi dengan
upacara kenduri pusaka yaitu upacara membersihkan benda pusaka peninggalan
nenek moyang.
Suku Kerinci tidak hanya sebuah kelompok masyarakat yang
mendiami wilayah kerinci tapi juga masyarakat tradisional yang hidup erat
dengan adat istiadat dan budaya warisan leluhur.
Mereka masih mempertahankan kebudayaan warisan nenek moyang
sampai saat ini. Walaupun mayoritas masyarakatnya telah memeluk agama Islam,
masyarakat suku kerinci masih melakukan ritual-ritual adat seperti halnya nenek
moyang mereka.
Upacara kenduri sko sendiri adalah sebuah
rangkaian acara adat dalam menentukan kepala adat. Kata kenduri berarti
selamatan dan sko bermakna perbuatan atau peraturan yang
berlaku turun temurun.
Kata sko berasala dari kata saka yang
bermakna keluarga atau nenek moyang dari pihak ibu. Dalam konteks adat sko
bermakna pusaka yang berasal dari pihak ibu. Sko terdiri
dari Sko tanah boleh di-ico (diolah,digarap,dimanfaat)
dan Sko gelar boleh dipakai–sko gelar itu dihibahkan oleh ibu
kepada mamak (saudara laki-laki dari pihak ibu) sebagai penerima mandat.
Masyarakat adat Kerinci mengenal sistem sko tiga
takah. Sko tiga takah adalah bentuk struktur pelapisan sosial yang terdapat
pada masyarakat Suku Kerinci. Sistem sko tiga takah itu diantaranya adalah
Depati atau setingkat Depati, Permenti atau Ninik Mamak dan Tengganai atau anak
jantan.
Depati dan Ninik Mamak adalah tingakatan tertinggi pada
struktur lapisan sosial masyarakat Suku Kerinci. Kenduri Sko merupakan
acara adat yang dilakukan untuk mengukuhkan gelar Sko pada
Depati atau Ninik Mamak yang telah dipih oleh anak jantan yang memenuhi syarat.
Gelar Sko Mamak Kelebu merupakan gelar pusaka turun temurun
yang disandang oleh kepala suku atau pemimpin adat. Pelaksanaan Kenduri
Sko selalu diiringi dengan Kenduri Pusaka.
Pelaksanaan Upacara Kenduri Sko
Dalam rangkaian upacara ini semua benda pusaka peninggalan
nenek moyang dikeluarkan dari tempat penyimpanannya untuk disucikan atau
dibersihkan oleh para kepala adat yang telah dikukuhkan disaat Kenduri
Sko dan disaksikan oleh seluruh masyarakat suku kerinci.
Proses pelaksanaan upacara Kenduri Sko ini
terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan taha penutupan. Dalan tahap
persiapan ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum acara dilaksanakan
seperti perlengkapan-perlengkapan berupa tenda atau taruk berukuran besar yang
didirikan diatas Tanah Mendapo (tempat berlangsungnya Upacara adat Kenduri
Sko).
Umbul-umbul atau bendera warna-warni yang dipasang di
sekitar tempat upacara, bendera merah putih berbentuk segitiga siku-siku
berukuran besar (Karamtang) yang dipasang ditempat terbuka pada ketinggian
mencapai 30 meter yang puncaknya digantunngkan Tanduk kerbau.
Bendera ini berfungsi sebagai undangan bagi masyarakat untuk
datang mengahdiri upacara dan isyarat keberadaan Kenduri, pakaian adat, keris,
dan tongkat yang dipakai oleh para Pemangku adat, pakaian adat para Dayang (Lita dan Kulok),
pedang Hulubalang untuk keperluan Pencak Silat, sesajian (beras kuning,
kemenyan, dan adonan sirih nan sekapur – rokok nan sebatang) dan gong,
gendang dan rebana untuk keperluan kesenian daerah yang akan ditampilkan dalam
rangkaian prosesi upacara.
Pelaksanaan Upacara biasanya dilakukan pada pukul 08.00.
Pada waktu ini biasanya masyarakat kerinci sudah berkumpul di tanah Mendapo
untuk menyaksikan beberapa rangkaian acara yaitu pertunjukan seni Pencak Silat
yang merupakan seni bela diri dengan menggunakan dua mata pedang.
Tari Persembahan yang merupakan tari untuk menyerahkan
sekapur sirih kepada para petinggi-petinggi daerah yang hadir dan juga
menyerahkan sekapur sirih kepada calon Depati, Ngabi, Permanti dan Mangku yang
akan dinobatkan menjadi pemangku adat yang baru.
Tarian asyeak yang merupakan tarian upacara yang berunsur
magis karena ada bagian dimana penari mengalami kesurupan. Tari Massal yang
merupakan tarian yang memebntuk konfigurasi keadaan geografis kerinci.
Tari Rangguk yang dilakukan untuk menerima kedatangan Depati
(tokoh adat Kerinci), tamu dan para pembesar dari luar daerah. Kemudian
beranjak ke acara penurunan pusaka (kenduri pusaka), prosesi ini dilakukan oleh
para sesepuh adat.
Dalam prosesi ini pusaka-pusaka dari rumah Gedang dibawa ke
Tanah Mendapo lalu dibersihkan di hadapan masyarakat yang menonton sambil
menceritakan sejarah pusaka tersebut. Acara intinya adalah penobatan para
pemangku adat.
Pada prosesi ini semua calon Depati , Ngabi dan Ninik Mamak
dipanggil naik ke atas pentas secara bergantian lima orang sambil dipanggil
namanya seraya menjatuhkan Gelar Sko pada para bangsawan tersebut.
Dalam prosesi ini juga dikenal juga acara pidato adat yang
disebut deto talitai yang merupakan rangkaian pidato adat yang disampaikan
dalam bahasa berirama. Deto Talitai berbentuk prosa berirama dan didalamnya
terdapat pepatah petitih.
Pidato ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang menjabat
Pemangku, Ninik Mamak, Depati atau setingkat depati. Setelah Deto
Talitai diikuti dengan maklumat Sumpah Karangsetio yang
merupakan peringatan keras pada pemimpin adat terpilih.
Dalam upacara ini para Depati dan Ninik Mamak terpilih
memakai pakaian adat khusus yang memilki makna tertentu. Para Depati biasanya
memakai seluk, kain sarung lurus dan pakaian berwarna hitam dengan hiasan
sulaman benang warna kuning di dada sementara Ninik Mamak memakai Lita, kain
sarung miring dan pakaian berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna
kuning di dada.
Warna-warna dalam pakaian tersebut mengandung makna khusus
seperti misalnya warna hitam yang melambangkan rakyat banyak berarti kekuatan
Depati dan Ninik Mamak dan warna kuning yang melambangkan kekuasaan berarti
berundang berlembago, arinya Depati dan Ninik Mamak melaksanakan kekuasaan
berdasarkan undang-undang dan lembago.
sumber :
http://www.wacana.co/2012/08/upacara-kenduri-sko-suku-kerinci/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar