Seni Pertunjukan Palebat
Tari pelebat ini merupakan tari pedang yang mengambarkan
semangat ketangkasan, kecekatan rayat Aceh Tenggara dalam mengahapi musuh dan
mendidik mental kepahlawanan dalam mempertahankan Bangsa dan Negara. Kata
“Pelebat” berasal dari kata “Khubat” yakni suatu perkelahian yang menunjukkan
keperkasaan dan kelihaian seseorang menggunakan senjata berupa benda tajam
seperti pisau Mekhemu atau pedang. Karena pedang hanya digunakan untuk melawan
musuh, terutama saat peperangan, dalam kesenian Pelebat tidak dibenarkan
menggunakan pedang sungguhan. Penggantinya berupa sebilah bambu yang sudah
diraut.
Kesenian ini biasanya dipertunjukkan saat acara perkawinan,
yaitu saat penjemputan mempelai laki-laki dari rumah mempelai perempuan.
Kegiatan ini disebut dengan Nipengembunan. Kedua belah pihak akan mempersiapkan
pemain andalannya dalam memperagakan Pelebat tersebut. Pelebat juga sering
dihelat pada saat menjamu tamu-tamu kehormatan yang datang dari luar. Akan
tetapi pelebat dewasa ini sudah sangat jarang dihelat, “entah apa sebabnya
walaupun setiap tahunnya ada saja yang melaksanakan pernikahan tetapi jarang
sekali masyarakat melaksanakannya.
Cara memainkan Pelebat, dijelaskan Mario mengutip beberapa
sumber, dalam langkah ningcini, mata pemain mencari kelengahan lawan dengan
gerak cepat melomcat dengan langkah menerkam, memukul lawan seirama dengan
pemukulan canang yang ditabuh dengan posisi duduk dan berdiri. pemain menyepak,
memukul dan menangkis. Peserta terbanyak melakukan pukulan dianggap menang
begitu juga sebaliknya. Karena seru, penonton bersorak-sorai menyaksikan
permainan ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar