Home

Rabu, 06 Mei 2026

Syekh Abdurrauf - Syiah Kuala

 


 




Oleh: T.A. Sakti

TAHUN  1976 saya melakukan alih aksara Kitab‘Umdatul Muhtajin ila Suluki Maslakal Mufridin. Kini, hanya tinggal lima lembar lagi hasil alih akasara itu. Sejak saat itu ketahuilah saya bahwa Syekh Abdurrauf atau Syiah Kuala adalah ulama Aceh yang amat alim dan sangat tinggi ilmu beliau.

Abdurrauf As Singkili bin Ali  Al Fansuri,  diperkirakan lahir pada tahun 1024 H/ 1615 M di Singkil. Ayahnya bernama Syekh Ali Al Fansuri  merupakan keturunan Arab yang menikahi wanita Fansur yang tinggal di Singkil, dari pernikahan tersebut melahirkan  Abdurrauf.

  Abdurrauf kecil  mendapat pendidikan dasarnya di desa kelahirannya  terutama dari ayahnya.. Setelah menamatkan pendidikan dasar, Abdurrauf  melanjutkan pendidikannya di Fansur. Fansur merupakan pusat pendidikan penting dan tempat yang mempertemukan  kaum  muslim Melayu dengan  kaum muslim Asia Barat dan Asia Selatan.

Abdurrauf juga belajar kepada Syekh  Syamsuddin  As – Samatra-i di Banda Aceh..

Belajar ke  Arabia

Abdurrauf berangkat ke negeri Arab pada  tahun 1052/1642 untuk melanjutkan pendidikannya. Selama di negeri  Arab  beliau belajar kepada 19  guru yang mengajarkannya tentang berbagai cabang disiplin ilmu dalam Islam dan 27 ulamanya lainnya yang ikut membimbingnya.

 Syekh Abdurrauf  belajar di sejumlah tempat yang tersebar di sepanjang jalan rute haji, dari Duha di wilayah teluk Persia, Yaman, Jeddah dan akhirnya Makkah dan Madinah.

. Pertemuannya dengan ulama-ulama hebat telah memberikan  inspirasi dan terbentuknya wawasan  sosio intelektualnya yang lebih luas. Sebagian besar ulama yang menjadi gurunya  di Makkah  termasuk dalam jaringan ulama yang hebat.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Makkah, ia melanjutkan perjalannya ke Madinah untuk menuntut ilmu di sana. Di kota ini,  dia berguru kepada Ahmad Al Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurani.

Syekh Abdurrauf juga menceritakan tentang pendidikannya sendiri pada bagian penutup kitab ‘Umdatul Muhtajin ila Suluki Maslakal Mufridin, yang saya alih aksarakan dari huruf Jawi-Jawoe ke aksara Latin tahun 1976 itu.  Beliau menjelaskan bahwa selama di negeri Arab ia menuntut ilmu pada lima belas orang ulama. Yaitu:

1.         Abdul Kadir Maurir di Mokha

2.         Imam Ali Thabari di Makkah

3.         Abdul Kadir Barkhali di Jeddah

4.         Abdul Wahid Khusyairi di ‘Ujail

5.         Ibrahim Abdullah Ja’man. Syekh Abdurrauf sangat lama belajar pada ulama ini, serta mendapat surat kesanggupan untuk menuntut ilmu pada  Ahmad Qusyasyi di Baitul Faqih ibnu ‘Ujail.

6.         Ahmad Janah di Baitul Faqih ibnu ‘Ujail

7.         Kadhi Ishak Muhammad Ja’man, ahli hadist di Zabid

8.         Muhammad Sati Bati di Zabid

9.         Abdurrahim di Zabid

10.       Siddiq Mazjaji di Zabid

11.       Abdullah Adani, qari dari Yaman, di Zabid

12.       Kadhi Muhammad di Luhaiyah

13.       Kadhi Umar Mahyiddin di Mawza

14.       Ahmad Qusyasyi di Madinah

15.       Burhanuddin Maula Ibrahim al Kurani di Madinah

 

 

Kembali Ke  Aceh

Selama sultan Iskandar Tsani memerintah, beliau menunjukan Nurudin Ar Raniry sebagai Mufti kerajaan Aceh.

 

Pengangkatan Nurudin Ar Raniri  sebagai Mufti Kerajaan Aceh menyebabkan terjadinya pergolakan antara pengikut aliran Wujudiyyah dengan pengikut Nurudin Ar Raniri sehingga terjadinya pemburuan pengikut Hamzah Fansuri dan pengikut Syamsuddin As Samatra-i  dan pembakaran kitab-kitab yang dikarang oleh dua ulama tersebut karena dianggap sebagai aliran sesat di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

 

Perlu saya tambahkan, menurut buku Daftar Katalog Kitab-Kitab di Dayah Tanoh Abee, Seulimuem, Aceh Besar, bahwa sebagian kitab  karya Syekh Hamzah Fansury dan Syekh Syamsuddin As-Sumatra-i (Syekh Syamsuddin Pasai) masih tersimpan di Pustaka Dayah Tanoh Abee itu.

Akibat tak punya jaringan ke sana, saya tak berkesempatan melacaknya!.

 

Pergolakan antara dua golongan tersebut terus berlanjut sampai pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675).

 

Di awal masa pemerintahan Sultanah telah terjadi pertukaran Mufti (Qadhi Malikul Adil) dari Syekh Ar Raniry  kepada Syekh Saiful Rijal, seorang ulama Wujudiah yang baru pulang ke Aceh.

 Melihat kondisi masyarakat yang makin hari semakin bingung dengan perdebatan tersebut, akhirnya Sultanah Safiyatuddin Syah memilih Saiful Rijal sebagai Mufti Kerajaan Aceh dan menyebabkan Ar Raniry  pulang ke negeri asalnya Gujarat,  India

 

 Pada saat itulah Syekh Abdurrauf  pulang ke Aceh setelah mengembara mencari ilmu ketanah Arab  selama 19 tahun. Beliau pulang ke Aceh sekitar tahun 1661 setelah mendapatkan Ijazah dari gurunya  Syaikh Ibrahim Al Kurani.

 

Setelah  selesai penyelidikan,  Sultanah  mengangkat  Syekh Abdurrauf  untuk menduduki jabatan Kadhi Malikul Adil atau Mufti yang bertanggung jawab atas  masalah-masalah keagamaan.

 

Jabatan tersebut dipangkunya berturut-turut pada masa pemerintahan para Ratu di Aceh (Ratu Safiatuddin, Ratu Naqiyatuddin, Ratu Zakiatuddin, dan Ratu Kamalat Syah). Pada hakikatnya pada saat pemerintahan tiga ratu yang terakhir di Aceh Syekh Abdurrauf merupakan orang yang memegang kendali pemerintahan.

 

Selama menjabat Kadhi Malikul Adil atau Mufti Kerajaan Aceh Darussalam, Syekh Abdurrauf telah menulis 22 judul kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

 

Tarikat Syattariah

Tarekat Syattariah pertama kali muncul di India pada abad ke-15 M. Nama Tarekat Syatariah dinisbahkan kepada seorang tokoh pendirinya yaitu Abdullah asy- Syattar.

Tarekat Syattariah disebarluaskan di kota Madinah dan Makkah oleh dua orang syekh yang sangat terkenal dikota Haramayn, yaitu  Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim Al Kurani. Sedangkan Tarekat Syattariah disebarkan ke Nusantara  oleh Syekh Abdurrauf.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Syekh Abdurrauf  merupakan seorang tokoh penengah antara pertentangan dua golongan, yaitu golongan Wujudiah pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatra-i  serta golongan Syuhudiah Nuruddin Ar Raniry.

Mengingat begitu ‘hausnya beliau terhadap ilmu pengetahuan” serta agungnya jasa, wibawa atau kharisma Syekh Abdurrauf atau Syiah Kuala semasa hidupnya, alangkah pantasnya beliau diberi gelar “Bapak Pendidikan Aceh” serta diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

 

 

Delegasi Syarif Makkah Datang Ke Aceh

Pada tahun 1096 H/1683M, Sultanah menerima suatu delegasi dari Syarif Makkah.. Kedatangan delegasi dari Mekkah disambut dengan gembira oleh sultanah Zakiyattudin Syah. Penduduk Kerajaan Aceh banyak memberikan hadiah-hadiah dan sedekah antara lain sebuah patung yang terbuat dari emas yang diambil dari reruntuhan istana dan Mesjid Baitur Rahman disebabkan oleh musibah kebakaran yang terjadi pada masa pemerintahan Sultanah Naqiyyatudin.

Tetapi ketika delegasi tersebut sampai ke kota Makkah terjadi pertikaian antara sesama putra-putra almarhum Syarif Barakat dalam pembagian hadiah-hadiah dari Kerajaan Aceh. Pertikaian dalam memperebutkan hadiah antara keluarga Syarif Barakat ditulis dengan rinci oleh Ahmad Dahlan ahli Sejarah dan ulama terkemuka di kota Makkah.

Kunjungan yang dilakukan oleh delegasi Makkah merupakan sebuah kehormatan bagi Sultanah. Kunjungan tersebut menjadi sebuah kesempatan bagi masyarakat Aceh untuk menanyakan tentang bagaimana hukumnya dalam Islam, apakah seorang wanita diperbolehkan menjadi sultan atau raja.

Delegasi Makkah juga tidak  memberikan jawaban langsung ketika mendapatkan pertanyaan tersebut dari masyarakat Aceh, tetapi mereka membawa permasalahan  tersebut ke sidang para ulama Haramayn. Jawaban dari sidang para ulama Haramayn baru sampai ke istana Aceh pada masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah (1098-1109 H/ 1688-1699). Ketika surat itu datang, Syekh Abdurrauf telah meninggal beberapa tahun sebelumnya (1693).

. Berdasarkan hasil fatwa tersebut maka diputuskan Sultanah Kamalat Syah diturunkan dari tahta dan digantikan oleh Umar bin Ibrahim dengan gelar Sultan  Badrul Alam Syarif Hasyim. Beliau yang kemudian mendirikan dinasti Arab Jamalullail di Aceh.

Minggu, 04 Mei 2025

Tarian Tamiang ( Pelintau )


                PELINTAU (Tarian) Sudah menjadi keharusan bahwa bagi setiap manusia harus menjaga diri dari segala bentuk gangguan, ancaman dan serangan yang datang mengganggunya. Begitu pula dengan "Peulitau" yang berlaku dalam masyarakat Aceh Timur. 

                Pada mulanya pelintau in dimaksudkan sebagai salah satu dari usaha kelompok masyarakat Aceh Timur untuk melindungi diri dari gangguan binatang buas atau makhluk ganas lainnya yang mengancam kehidupannya. 

                Dari pengalaman-pengalaman melindungi diri yang disebut dengan "pelintau" itulah kemudian diciptakan suatu permainan yang sedemikian rupa sebagai usaha melindungi diri dari segala gangguan yang mengancam kehidupannya. 

                Dalam perkembangan selanjutnya seni peulintau ini diperkuat lagi dengan nilai-nilai mistis, dimana anak- anak muda Tamiang melakukan pertapaan ke tempat-tempat yang dianggap suci memperdalam ilmu kebatinan untuk melindungi diri dari segala gangguan kehiupannya. Kepergian pemuda-pemuda Tamiang mencari tempat-tempat suci keluar dari daerahnya semakin menambah pengetahuan dan pengalam-pengalaman baru. 

                Sehingga kembalinya mereka ke kampung halaman, pengetahuan dan pengalaman baru yang didapat dalam pertapaan dikombinasikan dengan "Peulintau" di daerahnya. Dengan demikian kesenian "pelintau" ini semakin bervariasi sebagai suatu kesenian yang sangat digemari masyarakat Tamiang di Aceh Timur. Tetapi ketika agama Islam datang ke daerah Tamiang ini, segala bentuk kebatinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam disesuaikan dengan ajaran ini. 

                Sehingga seni peulintau sebagai suatu kesenian bela diri dalam masyarakat Tamiang Aceh Timur semakin digiatkan. Sebab tidak salah menurut ajaran Islam membela diri itu adalah suatu keharusan bagi umat Islam. 

                 Sebagai gambaran umum dari gerak-gerak seni peulitau ini dapat disebutkan, misalnya gerak Salam sembah, ini gerak permulaan ketika bermain, dilanjutkan gerak titik bentang, disusul gerak langkah tiga dan langkah empat, serta gerak Salam menyudah sebagai tanda selesai permainnan. Yang terakhir ialah gerak permintaan ma'af pada hadirin dan kepada teman-teman bermain serta pada guu yang mengajarkan.


 

Taraian Tamiang ( Rentak Tamiang )



                    Tarian ini merupakan tari kreasi baru untuk menggambarkan bagaimana kerukunan hidup multi etnis yang berada didalam wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. 

                    Sebagai pembuka tari adalah dengan irama Melayu sebagai simbolis warga asli yang selalu dalam geraknya gemulai tetapi tetap dinamis dan kemudian disusul dengan gerak- gerak tari Aceh kemudian berpindah ke tari yang berirama Tapanuli, berpindah lagi ke tari berirama Sunda, berpindah ke irama Minangkabau, dan ditutup dengan irama tepuk-tepuk tangan dari Tamiang. 

                    Namun demikian cirri khas dari tarian Melayu Tamiang yaitu tetap diiringi dengan musik dan pantun, dimana kata-kata pantun itu telah diolah sedemikian rupa sehingga bercampurnya kata- kata asli dengan kata-kata dalam bahasa Tamiang. 

                    Hal ini oleh pencetus ide dan penata tari untuk menggambarkan bagaimana keserasian dan keindahan hidup berdampingan secara damai walaupun berbeda suku. Tarian ini ditarikan oleh maksimum 12 orang penari dan diiringi oleh 2 atau 3 penyanyi, irama musik disesuaikan dengan irama dari masing-masing musik tradisional masing-masing suku.


 

Tarian Tamiang ( Sri Tamiang )


                SRI TAMIANG (Tarian) Tarian ini merupakan gerak-gerak tari yang diciptakan untuk mengikuti irama lagu Sri Tamiang. Tema tari merupakan gerak-gerak tari untuk menunjukan bagaimana lemah gemulainya dara-dara Tamiang dalam menari. 

                Kalau dalam gerak-gerak tari umumnya ditampilkan gerak gemulai dan dinamis, dalam tari kipas ini hanya ditampilkan gerak-gerak gemulai. 

                Tarian ini biasanya ditampilkan untuk memperindah dan menyemarakkan suatu pesta, terutama pada pesta perkawinan maupun dalam pesta-pesta lainnya. Dalam penampilannya penari dilengkapi dengan kipas berwarna-warna. 

                Gerak-gerak menggambarkan pula bagaimana cara dara-dara Tamiang dalam mengajuk calon kekasihnya yaitu dalam lambaian gemulai kipas dan penyembunyian wajah mereka kebalik kipas, sehingga tertampilkan wajah-wajah manis dan ceria, tapi penuh sopan santun. Tarian ini ditarikan oleh 8 penari berbusana Melayu yang telah dimodifikasi dan tetap diiringi oleh musik melayu yang bertema Sri Tamiang.

 

Tarian Tamiang ( Siti Payong )




                   Tarian ini untuk menggambarkan bagaimana keperibadian si anak dara Tamiang, berbaju kurong dan bersanggul (berkonde) melointang dan bila berjalan selalu menggunakan paying untuk melindungi diri dari teriknya matahari. 

                    Pada waktu-waktu tertentu fungsi paving ini dapat berubah merupakan pelengkap berbusana untuk menambah manisnya penampilan. Tarian ini ditarikan pada pesta-pesta diluar ruangan, baik dalam memeriahkan kedatangan tamu maupun dalam pesta-pesta adat. 

                    Oleh sebab itu ragam tari ini berubah dari payung yang masih tertutup, lalu dibuka dan ditarikan dengan lemah gemulai, kemudian diletakan dan penari melakukan gerak yang riang, kemudian berpayung kembali dan ditarikan oleh seorang penari yang melintasi teman-temannya dengan senyum dan dipadu dengan gerak lincah dan manis, kemudian ditutup dengan penghormatan kepada semua hadirin. Setiap ragam tari ini mengandung makna tersirat, demikianlah keperibadian anak dara Tamiang, dalam situasi bagaimanapun mereka tetap bermuka manis dan bergerak dengan gemulai dan riang namun penuh sopan santun.

 

 

Tarian Tamiang ( Nunjak Gemal )



                NUNJAK GEMAL (Tarian) Nunjak dalam bahasa lamiang berarti mengangkut berulang kali, sedangkan Gemal adalah ikatan mayang padi yaitu hasil pemotongan dengan ani-ani. Tarian ini menggambarkan aktifitas warga Tamiang yang hidupnya dari bertani tani padi. Ragam tari dimulai dari turun ke Blang menyemai benih, berupa keragam bertanam, menjaga padi dan diakhiri dengan mengangkut padi dari sawah ketempat pembersihan padi dari mayangnya menjadi bulir- bulir yang bernas. 

                Walaupun dalam kerja keras yang melelahkan dalam gerak tari ini digambarkan kelelahan dan kesungguhan dalam berusaha tetapi tetap ditampilkan wajah-wajah ceria mengingat hasil yang didapatkan kemudian. 

                Tarian ini pada awalnya ditarikan oleh anak-anak bujang dan dara-dara Tamiang, tetapi karena ada anjuran bahwa didalam tarian dari daerah Aceh tidak ditarikan oleh laki-laki saja atau perempuan saja. Tarian ini ditarikan oleh 8 atau 10 orang penari yang diiringi dengan irama yang berganti untuk melatar belakangi suasana indahnya sawah dan riangnya mendapatkan hasil yang baik. 

                Tari ini merupakan tari tradisional yang disana-sini diadakan perubahan disesuaikan dengan suasana penampilan yang dihajatkan oleh seni tari pada saat kini.


 

Tarian Tamiang ( Tari Ine )



            Tarian ini terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang. Disebut tari Inai karena tarian ini diadakan pada malam berinai, menjelang akad nikah. Tari ini masih digemari oleh masyarakat setempat, dan diperkirakan tari ini sudah ada jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Tata susunan tari dan tata gerak tarian ini sangat sederhana dimulai dengan salam sembah dengan cara penari duduk bersimbuh dan dengan gerak yang tertib member salam kepada penonton. 

            Selanjutnya dengan dengan gerak tari yakni gerak yang memperlihatkan kecekatan, penari dengan cara setengah berdiri/berjongkok membuat gerakan berpindah-pindah tempat, kedepan, kebelakang dan melingkar. Selain dengan cara berjongkok, juga merebahkan diri dan berguling-guling. Penari dilengkapi juga dengan membawa dua bawah piring ceper. 


    
       

 Didalam piring tersebut terdapat Inai yakni ramuan dedaunan, yang nantinya Inai ini diberikan kepada calon pengantin untuk dibubuhi Inai. Penari memperlihatkan kecekatannya dan kemahirannya membawa piring tersebut, yang walaupun berguling- guling, namun piring tetap berada dalam keseimbangan.

            Jadi gerak tarian ini selain memperlihatkan keterampilan yang mantap juga terlihat gerak indah dan gerak silat. Penari tarian ini hanya seorang saja, laki-laki usia dewasa. Tarian ini dapat diiringi dengan musik pengiring Rebana dan Gong, akan tetapi lebih sering tanpa iringan musik. Sebagai rithme, penari mengetik-ngetikan cincin yang ada pada ujung jari tangannya, pada piring tempat Inai tadi. Apabila seorang penari merasa lelah, si penari berhenti dengan cara member salam hormat dan digantikan oleh penari lainnya yang sudah dipersiapkan, dan tarian berlangsung sampai larut malam. Tari diadakan di depan pelaminan, sehingga sekaligus pelaminan berfungsi sebagai dekor. 

            Pakaian penari terdiri dari baju dan celana teluk belanga, kain samping yakni kain penutup pinggul dan Tengkulok.

 

Tarian Tamiang ( Elang Lekak )



                         LANG NGELEKAK (Tarian) Tari ini terdapat di Kuala Simpang, bersasl dari suku Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang. Tarian ini diangkat dari cerita rakyat Tamiang "Putri Pucuk Gelumpang", yang mengisahkan kehidupan seorang Raja yang bernasib kurang beruntung. Tukang tenung meramalkan bahwa apabila Raja beranak perempuan, kerajaan akan hancur. Karena itu, waktu sang Raja keluar kerajaan ia berpesan kepada permaisuri bahwa apabila anaknya kelak lahir seorang perempuan, anak tersebut harus dibunuh. Takdir Tuhan permaisuri bersalin, lahir seorang anak perempuan. 

                        Bertarunglah dalam hati si permaisuri rasa kasih saying kepada buah hatinya dan perintah Raja yang memerintahkan si bayi harus dibunuh. Permaisuri tidak sampai hati membunuh anaknya sendiri, karena itu si putripun ditempatkan di pucuk selatan pohon Gelumpang. 

                        Saat sang Raja pulang, permaisuri mengabarkan bahwa putrinya telah dibunuh. Akan tetapi dari hari kehari sang Raja melihat adanya tanda-tanda yang mencurigakan. Burung Elang melayang- layang di angkasa dan hinggap di atas pohon Gelumpang. Raja mengamati pohon tersebut dan terlihatlah oleh Raja si bayi ada di atasnya. Putripun di panah dan jatuh ke tanah. Akhirnya Raja menyesali diri, sebab dari bayangan dari wajah si bayi tergambar keberuntungan, bukan seperti yang diramalkan si tukang tenung. 


                Susunan tarinya sebagai berikut: 
                1. Minta Tabi (nuapi) yaitu salam hormat penari kepada penonton sebelum gerak tari dimulai. 
                2. Ngerding Anak merupakan gerak menina-bobokan anak dengan penuh kasih saying dipangkuan untuk kemudian diantar kepucuk pohon Gelumpang 

                3. Elang Ngelekak yaitu gerak tari yang menyerupai gerak burung elang. 
                4. Gerak kemarahan Raja dan gerak memanah.
                 5. Ratap bertuan indung, suatu gerak sedih meratapi kematian anak. 

            Penari terdiri dari pria dan wanita, berjumlah 10 orang, dengan fungsi masing-masing: seorang Raja, seorang permaisuri, seorang putrid dan 7 orang sebagai dayang-dayang pengasuh. 

Pakaian penari terdiri dari: Wanita baju kurung, celana panjang, kain sarung dan hiasan kepala bermotif bulu bersusun. 
Pria : tengkuluk, baju kecak musang, celana panjang (celana buluh), kain sarung (ija samping).


 

Tarian Tamiang (ayokh ulak )


            Tari ini berasal dari Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang. Latar belakang tari ini ialah kehidupan atau kepercayaan dari masyarakat tradisional yang masih mempercayai adanya kekuatan gaib yang harus dilawan dengan kekuatan gaib pula. 3 Untuk melawan kekuatan gaib tersebut, diadakan nyamu (sesajen) yang diantar ke sungai, kuala atau lautan. Datu (guru) yang dibantu para Sidanya menyiapkan bahan-bahan nyamu. 

            Setelah ramuan selesai, sesajenpun dibawa ketengah ruangan untuk diberi asap (dupa kemenyan) dan dimantrai oleh datuk dan para sida. Kemudian dengan gerak tari tertentu datu dan sida membawa lancang menuju sungai, kuala atau laut dan melepaskannya dengan iringan mantra. Setelah itu datu dan sida menantikan datangnya suatu firasat dari perjalanan lancang, apakah mereka mendapat keberuntungan atau sebaliknya. 

            Bila firasat yang datang berupa tantangan, maka perlu dipersiapkan kekuatan yang lebih tangguh lagi untuk. menghadapinya. Dari keadaan tersebut diatas, tidak heran apabila para pemuda Tamiang dibekali dasar-dasar pencak silat yang disebut pelintau, dan dikembangkan dalam bentuk tari disebut Mencak. Susunan Tari Aek Ulak sebagai berikut: 

            Mbawa Perasap yaitu Sida menggerakkan perasap (dupa kemenyan) kepada Datu untuk pelengkap mantra. Ngerajah yaitu Gerak-gerak membaca mantra derigan gerak silat (mencak) menjemput. Nurunkan Lancang yaitu Lancang membawanya ke tepi laut. Menanti Firasat yaitu Penari duduk semedi, seakan-akan menantikan bisikan gaib berupa keberuntungan atau sebaliknya. Oleh karena tari ini tergolong sebagai tari yang hampir punah, maka tata rakit dan tata gerak penari sukar digambarkan. 

            Penari tarian ini hanya laki-laki saja, usia remaja/dewasa, berjumlah 7 orang. Satu diantaranya berfungsi sebagai Datu, sedangkan yang lainnya berfungsi sebagai Sida. Pakaian tari terdiri dari: baju, celana warna hitam, dan memakai tengkuluk. Musik pengiring terdiri dari: biola (viol), gendang dan nyanyian. Peralatan lainnya adalah Dupa (perasap), dan lancang.


 

Tarian Tamiang ( Mancang Jermal )


                            MANCANG JERMAL (Tarian) Mancang berasal dari kata pancang yang berarti                         tonggak yang didirikan. Jadi Mancang adalah kata kerja dan pancang yang berarti mendirikan                  tonggak-tongggak. Sedangkan jermal adalah suatu jenis perlengkapan untuk menangkap ikan                 di laut. 

                            Tarian ini menggambarkan sisi kehidupan dari para warga Tamiang yang berada di                         pesisir atau di kuala yang bermata pencahariannya sebagai nelayan. Jermal secara                                     keseluruhan adalah alat penangkap ikan juga berfungsi sebagai tempat tinggal nelayan                             selama bekerja di laut. 

                            Oleh sebab itu tarian ini menggambarkan bagaimana suka-dukanya para nelayan                         tersebut dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarga mereka. Pekerjaan ini penuh                         resiko dalam menghadapi badai, gelombang dan kesemuanya ini digambarkan dalam gerak-                    gerak tari yang dinamis dan langkah dalam gerak yang kokoh. Tarian ini di iringi dengan lagu                  yang sayup-sayup sampai berirama deden. Jumlah penarinya biasanya terdiri dari 10 orang                     dan semuanya laki-laki dan berbusana pakaian kerja (celana setengah tiang, baju lengan                         puntong, dan berikat kepala).

                             Didalam menari akan terjadi saling berbalas pantun antara salah seorang yang                             berfungsi sebagai pawing dan beberapa orang sebagai anak buah, sebagai pelipur lara                             maupun sebagai penggembira dalam bekerja, tetapi dapat pula merupakan lafalan mantra.


 

Alat musik Tadisional Aceh Tamiang ( calempong )

 


                    Celempong adalah alat kesenian tradisional yang terdapat di daerah Kabupaten Tamiang. Alat ini terdiri dari beberapa potongan kayu dan cara memainkannya diletakkan diantara kedua kaki pemainnya. Celempong dimainkan oleh kaum wanita terutama gadis-gadis, tapi sekarang hanya orang tua (wanita) saja yang dapat memainkannnya dengan sempurna. Celempong juga digunakan sebagai iringan tari Inai. Diperkirakan Celempong ini telah berusia lebih dari 100 tahun berada di daerah Tamiang.


Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau

Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau Silat perisai menjadi Warisan Budaya Tak Benda {WBTB) asal Riau yang telah lolos di s...