Home

Senin, 08 Juni 2026

Besale siku anak dalam

 

Besale siku anak dalam

Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Mereka mayoritas hidup di Provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. 




Keberadaan Suku Anak Dalam semakin semakin lama semakin terancam kehidupannya. Hidup berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain sudah menjadi sebuah tradisi. Mereka  mengantungkan sepenuh hidupnya pada hutan, sementara hutan semakin lama semakin berkurang karena beralih fungsi menjadi hutan produksi. Kondisi seperti ini membuat mereka mulai turun ke kampung-kampung dan pusat kota.



Suku Anak Dalam mempunyai beragam tradisi. Salah satunya adalah upacara Basale. Upacara Basale diadakan agar para dewa, roh, serta mahluk halus (Jemalang) tidak mengganggu manusia. Upacara ini merupakan kegiatan pengobatan tradisional yang bertujuan untuk membersihkan atau mengusir roh jahat yang dianggap sebagai sumber penyakit dari jiwa si sakit.



Redab adalah salah satu alat musik yang digunakan dalam upacara, dimana masyarakat Suku Anak Dalam (Kubu) berpandangan jika alat ini dimainkan bersamaan dengan pembacaan mantra (sale) maka dapat menghilangkan pengaruh jahat dari arwah-arwah yang bermaksud mengganggu masyarakat.



Oleh karena itu mereka percaya bahwa Redab bukan hanya alat musik, tetapi juga alat komunikasi agar para dewa menerima do’a yang dibacakan oleh dukun (Malim), sehingga membantu proses penyembuhan yang sedang berlangsung. Hal tersebut menyiratkan bahwa peran instrumen redab sangatlah penting, bahkan menjadi salah satu syarat dalam upacara Besale.



Suku Anak Dalam meyakini bahwa penyakit yang diderita oleh sisakit merupakan kemurkaan dari dewa atau roh jahat oleh sebab itu perlu memohon ampunan agar penyakit yang diderita dapat disembuhkan. Cara yang dilakukan untuk memohon kesembuhan tersebut adalah dengan melakukan upaara Besale. Persiapan yang digunakan dalam upacara Besale sangat sarat dengan simbol-simbol.



Fachruddin (2005, hal.7) menjelaskan bahwa upacara Besale memiliki nyayian mantera (sale) sebanyak 33 buah yang terdiri dari 30 sale wajib dan 3 sale penutup. Sale tidak diperkenankan diucapkan kecuali pada saat upacara berlangsung.



Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, penulis memperoleh data dokumentasi persiapan upacara Besale Suku Anak Dalam, di sini akan dijelaskan peralatan-peralatan serta kegunaannya dalam upacara Besale tersebut. 



Ada pun data berikut ini telah diikutsertakan penulis bersama tim dalam lomba penulisan Artikel Ilmiah Tingkat Nasional oleh DIKTI dan lolos dalam jurnal ilmiah Tingkat Nasional 2010.

1. Balai-Balai

Balai adalah rumah yang diyakini oleh SAD sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Balai merupakan hal mutlak yang tidak bisa ditinggalkan dalam upacara Besale. Balai yang digunakan dalam upacara Besale banyak macamnya.



Adapun Balai yang digunakan dalam kegiatan Besale yang diobservasi oleh penulis terdiri dari dua macam. Balai ini terbuat dari kayu pohon asam payau yang dipaku dengan bambu untuk merekatkan satu sama lain dalam proses pembuatan balai. Balai di fungsikan sesuai namanya :

1. Balai pengasuh, digunakan untuk mengobati anak (budak), agar memiliki keseimbangan dalam menyayangi ayah atau ibu.

2. Balai angkat semang, digunakan untuk tempat bersemayamnya arwah nenek moyang, sewaktu upacara Besale berlangsung.

Balai yang telah siap akan di ikat dengan kulit kayu, dan kemudian di gantung dengan menggunakan kulit kayu di dalam rumah untuk dihias. Adapun penghias balai terdiri atas: Hiasan Jari lipan, terbuat dari daun kelapa yang berwarna hijau muda. Jari lipan ini dibuat dengan bentuk menyerupai jari lipan. Hiasan ini digunakan untuk menghiasi di sekeliling Balai

1) Daun selasih. Daun selasih ditancapkan pada atap Balai.

2) Bunga tangkul, yakni bunga berwarna merah dan kuning yang di gunakan untuk penghias balai pada bagian atap.

3) Payung – payung terbuat dari janur muda berwarna kuning untuk menghias balai. Jumlahnya cukup dua saja.

4) Bertih, adalah padi yang telah berumur 2 tahun, yang di masak dengan cara di sangrai kemudian digunakan untuk penghias balai.

5) Lilin Madu hutan, yakni terbuat dari madu hutan. Lilin madu digunakan untuk penerang sebagai lambing cahaya kehidupan. Lilin madu yang sudah dingin menjadi keras akan diiris kecil – kecil dan kemudian dipanaskan untuk dibuat lilin berbentuk silinder panjang.

6) Arang ayun, yakni alat yang berbunyi bergemerincing berbentuk bulat dengan warna hitam. Arang ayun terbuat dari tembaga. Ada dua jenis arang ayun, yaitu Arang Ayun yang berjumlah lima buah diletakkan di balai pengasuh, sedangkan yang berjumlah delapan buah di bawa menari oleh Sidi. Arang ayun berfungsi untuk merangsang semangat budak (anak kecil yang sakit).

7) Kain putih yang dililitkan pada balai angkat sembah.

8) Sumping tampung, berbentuk seperti baling-baling yang terbuat dari janur kelapa, dan di hiasi dengan bertih pada bagian ujungnya.



2. Redap (Gendang Melayu)

Redap adalah alat musik pukul, yang di mainkan dengan cara di tabuh pada saat pelaksanaan dalam upacara Besale. Redap ditabuh oleh Malim Pembantu atau biduan yang berjumlah ganjil. Redap terbuat dari bahan kulit hewan kambing. Alat ini digunakan untuk mengiringi tarian dan mantra dukun sale (Sidi) dalam upacara Besale. Suara redap diyakini mereka akan memanggil roh – roh leluhur.

 

3. Peralatan yang di bawa oleh Sidi dalam Upacara Besale

Dalam melaksanakan upacara Besale, Sidi menari mengelilingi balai-balai memakai sirih sembah di atas kepalanya dengan membawa peralatan-peralatan Besale sebanyak tiga kali keliling. Satu peralatan di gunakan untuk satu kali keliling. Peralatan-peralatan tersebut, yaitu:

1. Burung Padang, berbentuk cincin yang tersusun dari daun batang keduduk.

2. Burung Barau-barau, dibuat dari rumput yang di hiasi oleh bertih pada ujung-ujungnya.

3. Burung Ondan, terbuat dari janur berbentuk memanjang.

4. Burung Elang, terbuat dari janur, yang di anyam menyerupai tikar.

5. Burung Layang-layang, terbuat dari bahan rumbai atau bisa juga di gunakan daun kelapa yang masih muda. Burung ani terdiri atas 7 ekor, 5 ekor burung layang-layang biasa, dan 1 ekor burung Duo Senyawo.

6. Tudung putih sidi. Tudung ini diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Tudung ini dipakai oleh sidi dan tidak boleh dicuci.

7. Bunga pinang muda hijau. Bunga pinang ini berfungsi untuk memukul – mukul badan sang sidi guna mengusir roh jahat yang masuk kedalam jasad sidi pada saat upacara Besale berlangsung.

Semua jenis burung ini di isi dengan beras yang diyakini oleh mereka agar burung tersebut berada dalam keadaan kenyang pada saat upacara Besale berlangsung.



4. Makanan yang dipersiapkan pada Upacara Adat Besale

Dalam upacara Besale, seorang Inang mempunyai tugas untuk memasak makanan yang diperlukan untuk perlengkapan upacara Besale. Inang dipilih secara khusus oleh Sidi. Adapun  makanan yang dipersiapkan oleh inang tersebut antara lain:

1.  Caco, yaitu makanan yang diletakkan dalam takir berupa telur ayam kampung rebus, sahang, bawang merah dalam satu wadah takir.

2.  Juwadah, bubur putih yang terbuat dari tepung beras, yang di tambah santan kelapa.

3.  Bubur merah, yang terbuat dari gula merah dan tepung beras

4.  Serabi, terbuat dari tepung beras, tetapi memiliki rasa yang berbeda dari jiyadah

5.  Tepung gandum yang belum di adon (mentah)

Semua jenis makanan ini diletakkan di balai angkat sembah dan balai pengasuh. Ia di buat sesuai bahan yang disediakan. Sementara itu sebagian diletakkan di sebuah tempat makanan berbentuk persegi empat yang di namakan Terka Serobo.

Adapun isi dari Terka Serobo ini antara lain sebagai berikut:

1.  Minyak sudah sehari

2.  Ketumbar

3.  Daun Sirih dan Pinang

4.  Beras  bertih Jawo

5.  Rokok

6.  Daun Pandan

7.  Serabi

8.  Bunga Kertas

Semua isi ini diletakkan di dalam takir yang terbuat dari daun pisang. Tujuan pembuatan makanan ini adalah untuk memberi makan roh – roh syetan yang diyakini mereka akan memberi kesembuhan. Walau pada saat yang sama mereka pun yakin bahwa mereka meminta kepada Tuhan. Makanan ini hanya boleh dimakan setelah pelaksanaan upacara Besale selesai. Inti dari peralatan Besale adalah dari ujung rambut sampai ujung kaki, rohnya ada pada diri orang dan wujudnya ada di benda-benda tersebut.



5.  Alat yang Digunakan untuk si Sakit

Pada upacara Besale ini, si sakit yaitu seorang anak (budak), di letakkan di dalam ayunan yang di dalamnya terdapat saludang pinang (pinang yang masih muda).

 

Adapun alat yang digunakan untuk si sakit adalah sebagai berikut:

1. Jeruk nipis, jeruk ini digunakan untuk mencuci rambut anak yang sakit, guna membuang semua penyakit yang ada pada anak.

2.  Bambu muda, yang berfungsi untuk mengalirkan air untuk mencuci rambut si anak.

3.  Ayunan anak, dibuat dari kain selendang atau sarung yang berfungsi untuk duduk anak yang sakit.

Kepercayaan Suku Anak Dalam terhadap Dewa-dewa roh halus yang menguasai hidup tetap terpatri, kendati pun diantara mereka telah mengenal agama Islam. Mereka yakin bahwa setiap apa yang diperolehnya, baik dalam bentuk kebaikan, keburukan, keberhasilan maupun dalam bentuk musibah dan kegagalan bersumber dari para dewa. Sebagai wujud penghargaan dan persembahannya kepada para dewa dan roh, mereka melaksanakan upacara ritual sesuai dengan keperluan dan keinginan yang diharapkan. Salah satu bentuk upacara ritual yang sering dilaksanakan adalah upacara Besale ini (upacara pengobatan).

 

GEUDEU GEUDEU GULAT OF ACEH

 

GEUDEU GEUDEU GULAT OF ACEH

Geudeu-geudeu (atau disebut juga deudeu) adalah salah satu seni bela diri tradisional rakyat Pidie/Pidie Jaya. Seni bela diri ini seperti gulat yang dimainkan oleh kaum laki-laki. Satu tim terdiri dari 3 orang. Biasanya geudeu-geudeu ini dipertandingkan antar kampung, diadakan setiap selesai panen padi.

 


Sejarah Geudeu Geudeu

Kisah kelahiran geudeu-geudeu berawal dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Karena sangat berbahaya, olah raga keras ini tidak pernah memperebutkan juara, karena bisa berakibat fatal. Di Pidie dan Meureudu, dahulunya, ketika masa luah blang (pasca panen) atau saat bulan purnama, geudeu-geudeu kerap dipertandingkan. Pemuda berbadan kekar berbondong-bondong mengikutinya, meski tak ada hadiah selain badan yang lebam. Hadiahnya nyatanya sering tak berwujud, hanya sebuah kebanggaan belaka yang jadi pemuas bagi petarung yang menang. Adu fisik ini hanya sekedar 'pleh bren' alias mengendurkan otot-otot yang tegang melalui pertarungan. Kebanggaan lainnya, sering pula dianggap perkasa dan menjadi lirikan ujung mata para gadis kampung.

 

 

Seni beladiri

Sebagai seni beladiri, geudeu-geudeu merupakan olah raga keras, petarung geude-geude harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat, tahan pukul dan bantingan lawan. Selain itu petarung geudeu-geude juga dituntut kesabaran dan ketabahan.

Di sinilah emosi

 diolah. Bila emosi petarung tidak stabil, maka bisa berujung pada kematian.

Kesabaran para pemain diuji dengan berbagai lontaran kata-kata kasar dari para penonton. Karena itu pula, sepanjang sejarah pertarungan geudeu-geude, belum pernah terjadi pertarungan di luar arena. Artinya, sikap sportif para pemain sangat tinggi. Meski di arena mereka babak belur dan bonyok, tapi di luar arena itu dianggap sebagai sebuah kewajaran dan banyak dari petarung ini yang melanjutkan Duduk-duduk/minum kopi bersama selepas pertandingan.

Akhir tahun 1980-an, geudeu-geudeu masih sering dipertunjukkan di Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya pertarungan ini dibagi dalam dua katagori, yakni antar pribadi dan antar perwakilan kampung. Siapa pun boleh ikut, syaratnya berani dan mampu menahan pukulan serta hempasan lawan dan juga emosi tentunya.

 

Sistim permainan

Sistim pada permainan geudeu-geudeu, para petarung terlebih dahulu dibagi dalam dua kelompok besar. Petarung pertama tampil ke arena untuk menantang dua petarung lainnya dengan mengkacak-kacak sambil 'Keutrep Jaroe' membunyikan jari . Arena biasanya terbuat dari jerami yang berfungsi sebagai matras.

Petarung pertama yang menantang dua lawan disebut ureung tueng (penantang). Sedangkan petarung yang ditantang yang berjumlah dua orang tadi, disebut sebagai ureug pok (orang yang menerima tantangan). Ketika diserang, petarung pertama akan memukul dan menghempas dua petarung lain yang menyerangnya. Dan Khusus bagi ureung tueng boleh menggunakan gempalan tanganya untuk memukul dimana saja, kecuali dibawah pusar. Untuk ureung pok mereka hanya boleh membanting dan menghempas sambil mereka berpegangan tangan. jika pegangan tangan ureng pok ini terlepas atau salah satu dari mereka roboh akibat hantaman ureung tueng, maka mereka dianggap kalah.

Begitu juga dengan ureung tueng, apabila ureung pok sanggup menghempas atau membantingnya maka dia dianggap kalah.

 

Pada babak ke dua, posisi pemain dibalik. Posisi tueng akan beralih ke pok, begitu juga sebaliknya. Hal ini terus berlangsung dalam limit waktu tertentu (ronde). Sampai salah satu pihak menang.

 

Wasit

 

Lazimnya sebuah pertandingan, geudeu-geudeu juga dipimpin oleh beberapa orang wasit, yang disebut sebagai ureung seumeugla (juri pelerai) yang biasanya berjumlah empat atau lima orang. Para juri tersebut juga merupakan orang orang yang tangkas dan kuat, sehingga mampu melerai para petarung.

Biasanya yang menjadi ureung seumegla tersebut merupakan para mantan petarung geudeu-geudeu itu sendiri, yang memiliki pengalaman dan insting soal geudeu-geudeu.

Seorang wasit geudeu-geude bisa melihat apakah petarung itu memukul dengan sikap profesionalisme atau emosional. Karena antara professional dan emosional petarung itulah wasit berperan menentukan kapan sebuah pertarungan harus dihentikan.

 

Sabtu, 06 Juni 2026

Seni Pertunjukan Palebat

Seni Pertunjukan Palebat

Tari pelebat ini merupakan tari pedang yang mengambarkan semangat ketangkasan, kecekatan rayat Aceh Tenggara dalam mengahapi musuh dan mendidik mental kepahlawanan dalam mempertahankan Bangsa dan Negara. Kata “Pelebat” berasal dari kata “Khubat” yakni suatu perkelahian yang menunjukkan keperkasaan dan kelihaian seseorang menggunakan senjata berupa benda tajam seperti pisau Mekhemu atau pedang. Karena pedang hanya digunakan untuk melawan musuh, terutama saat peperangan, dalam kesenian Pelebat tidak dibenarkan menggunakan pedang sungguhan. Penggantinya berupa sebilah bambu yang sudah diraut.

Kesenian ini biasanya dipertunjukkan saat acara perkawinan, yaitu saat penjemputan mempelai laki-laki dari rumah mempelai perempuan. Kegiatan ini disebut dengan Nipengembunan. Kedua belah pihak akan mempersiapkan pemain andalannya dalam memperagakan Pelebat tersebut. Pelebat juga sering dihelat pada saat menjamu tamu-tamu kehormatan yang datang dari luar. Akan tetapi pelebat dewasa ini sudah sangat jarang dihelat, “entah apa sebabnya walaupun setiap tahunnya ada saja yang melaksanakan pernikahan tetapi jarang sekali masyarakat melaksanakannya.

Cara memainkan Pelebat, dijelaskan Mario mengutip beberapa sumber, dalam langkah ningcini, mata pemain mencari kelengahan lawan dengan gerak cepat melomcat dengan langkah menerkam, memukul lawan seirama dengan pemukulan canang yang ditabuh dengan posisi duduk dan berdiri. pemain menyepak, memukul dan menangkis. Peserta terbanyak melakukan pukulan dianggap menang begitu juga sebaliknya. Karena seru, penonton bersorak-sorai menyaksikan permainan ini

  

Tarian Asyik…

 



Kabupaten Kerinci yang berada di propinsi Jambi, terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Selain daerah yang sejuk, kabupaten Kerinci juga memiliki seni budaya yang unik dan menarik, salah satunya adalah seni tari.

 

Seni tari yang berkembang di daerah ini sebagian besar merupakan peninggalan tradisi pada zaman nenek moyang, yang tentunya masih berkembang sampai saat ini. Seni tari tersebut diantaranya: tari Rangguk, Sikapur Sirih, Asyek, Iyo-Iyo, Rentak Kudo dan masih banyak lagi. Di samping itu, terdapat juga tari kreasi baru yang berkembang di daerah ini. Hal ini dapat dilihat banyaknya seniman baru yang berkembang saat ini. Mereka berupaya mengembangkan dan melestarikan tari tradisi yang ada, dengan cara mengolah kembali ke dalam bentuk tari kreasi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, diantara tarian tersebut ada satu tarian yang sangat unik yaitu tari Asyek.

 

Masyarakat daerah Kerinci menyebutnya dengan tari Asyek, Asik atau Asaik. KataAsyek berasal dari kata asik. Jenis tari Asyek ini adalah salah satu tari tradisi yang dulunya digunakan sebagai tari dalam upacara yang berkaitan dengan pemujaan roh-roh nenek moyang dan memiliki unsur magis. Tari Asyek memiliki bermacam-macam jenisnya sesuai dengan tujuan upacara yang dilakukan. Jenis tari Asyek yang masih berkembang saat ini adalah tari Niti Naik Mahligai, Mahligai Kaco, Tolak Bala, Gagah Harimau, Mandi Taman, Mintak Lamat, Mandi malimau dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Tari Niti Naik Mahligai yang merupakan jenis tari Asyek berkembang di daerah kecamatan Gunung Kerinci tepatnya di desa Siulak Mukai Tengah. Tari Niti Naik Mahligai termasuk jenis tari tradisional yang mengutarakan “kehendak” dan bersifat magis. Menurut Eva Bram (2006) saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Naik Mahligai, menjelaskan bahwa tari Niti Naik Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan mahligaiadalah tahta atau istana. 

 

Tari Niti Naik mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adatbilan salih. Menurut Muchtar Hadis (2006) salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakanbilan salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki. Upacara penobatan bilan salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : (1) sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; (2) sarana komunikasi kepada masyarakat; (3) sarana penyembuhan; (4) sarana pengungkapan rasa syukur; dan (5) sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.

 

Namun, seiring dengan kemajuan zaman upacara ini ditinggalkan oleh masyarakat Kerinci. Hal ini disebabkan karena faktor ideologi, teknologi, letak geografis, sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat Kerinci yang berubah. Karena faktor-faktor tersebut maka, tari ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk penyajiannya. Seperti yang kita ketahui juga bahwa pada hakekatnya karya seni itu harus berkembang sejalan dengan arus perubahan zaman. Perubahan bentuk dan penyajian tari Niti Naik Mahligai di lakukan oleh masyarakat pendukung tari ini, mereka menata tari ini sedikit demi sedikit. Selanjutnya pada tahun 1999 bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci bidang kesenian menata kembali tari ini menjadi tari Niti Naik Mahligai yang berkembang saat ini.

 

Secara keseluruhan tari Niti Naik Mahligai, masih memiliki bentuk penyajian yang sederhana, seperti gerak, musik, pola lantai, property, tata rias dan tata busana. Kesederhanaan bentuk penyajian tari ini merupakan ciri khas yang dimiliki tari tradisional kerakyatan pada umumnya. Selain itu, tari ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung. 

 

Atraksi tersebut diantaranya:

1. Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca.

2. Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang pisang yang diatasnya diletakkan telur.

3. Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah di tata.

4. Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.

5. Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor.

6. Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas.

 

Menurut Eva Bram (2006) menjelaskan bahwa, keseluruhan atraksi tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri. Selain itu, sebelum melaksanakan pertunjukan para penari diwajibkan untuk melakukan ritual yaitu berupa persembahan terhadap nenek moyang. Agar mereka mendapat perlindungan dan diharapkan pertunjukan dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada saat pementasan mereka jarang yang mengalami cidera.

 

Di samping, atraksi yang unik, para penari tari Niti Naik Mahligai menggunakan kostum tari yang unik juga yaitu pakaian adat daerah Kabupaten Kerinci yang berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning pada dada. Sedangkan untuk hiasan kepalanya menggunakan kuluk atau sungkun yang berwarna hitam dan dihiasi dengan manik-manik dan bunga sebagai penghias. Para penari menggunakan kain sebagai bawahan yang biasa di sebut dengan tahhap, kain yang digunakan adalah kain songketyang berwarna merah. Tentunya kostum yang digukan semuanya memiliki makna simbolis.

 

Pada saat ini tari Niti Naik Mahligai telah mulai dikenali banyak masyarakat, bukan hanya saja masyarakat di daerah Kerinci saja namun masyarakat di luar kabupaten Kerinci pun sudah mulai mengenal tari ini. Hal ini ditunjukkan dengan penampilan pertunjukan tari Niti Naik Mahligai ke beberapa daerah seperti di Taman Mini Indonesia Indah dan di daerah lainnya. Sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan promosi produk wisata baik negeri maupun luar negeri tari Niti Naik Mahligai mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci. 

 

Seperi diadakan iven Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci yang menjadi agenda rutin daerah Kerinci. Sebagai peneliti dan penulis, penulis berharap banyak kepada masyarakat dan pemerintah untuk dapat mempertahankan, mengembangkan dan melestarikan seni tradisi yang kita miliki, sebagai warisan dari nenek moyang dan untuk anak cucu kita

 

 

 

Upacara Kenduri Sko

 


Upacara Kenduri Sko

 

Kenduri sko merupakan sebuah rangkaian acara adat pengukuhan gelar suku atau kepala adat. Upacara ini selalu diiringi dengan upacara kenduri pusaka yaitu upacara membersihkan benda pusaka peninggalan nenek moyang.

Suku Kerinci tidak hanya sebuah kelompok masyarakat yang mendiami wilayah kerinci tapi juga masyarakat tradisional yang hidup erat dengan adat istiadat dan budaya warisan leluhur.

Mereka masih mempertahankan kebudayaan warisan nenek moyang sampai saat ini. Walaupun mayoritas masyarakatnya telah memeluk agama Islam, masyarakat suku kerinci masih melakukan ritual-ritual adat seperti halnya nenek moyang mereka.

 

Upacara kenduri sko sendiri adalah sebuah rangkaian acara adat dalam menentukan kepala adat. Kata kenduri berarti selamatan dan sko bermakna perbuatan atau peraturan yang berlaku turun temurun.

Kata sko berasala dari kata saka yang bermakna keluarga atau nenek moyang dari pihak ibu. Dalam konteks adat sko bermakna pusaka yang berasal dari pihak ibu. Sko terdiri dari Sko tanah boleh di-ico (diolah,digarap,dimanfaat) dan Sko gelar boleh dipakai–sko gelar itu dihibahkan oleh ibu kepada mamak (saudara laki-laki dari pihak ibu) sebagai penerima mandat.

Masyarakat adat Kerinci mengenal sistem sko tiga takah. Sko tiga takah adalah bentuk struktur pelapisan sosial yang terdapat pada masyarakat Suku Kerinci. Sistem sko tiga takah itu diantaranya adalah Depati atau setingkat Depati, Permenti atau Ninik Mamak dan Tengganai atau anak jantan.

 

Depati dan Ninik Mamak adalah tingakatan tertinggi pada struktur lapisan sosial masyarakat Suku Kerinci. Kenduri Sko merupakan acara adat yang dilakukan untuk mengukuhkan gelar Sko pada Depati atau Ninik Mamak yang telah dipih oleh anak jantan yang memenuhi syarat.

Gelar Sko Mamak Kelebu merupakan gelar pusaka turun temurun yang disandang oleh kepala suku atau pemimpin adat. Pelaksanaan Kenduri Sko selalu diiringi dengan Kenduri Pusaka.

Pelaksanaan Upacara Kenduri Sko

Dalam rangkaian upacara ini semua benda pusaka peninggalan nenek moyang dikeluarkan dari tempat penyimpanannya untuk disucikan atau dibersihkan oleh para kepala adat yang telah dikukuhkan disaat Kenduri Sko dan disaksikan oleh seluruh masyarakat suku kerinci.

Proses pelaksanaan upacara Kenduri Sko ini terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan taha penutupan. Dalan tahap persiapan ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum acara dilaksanakan seperti perlengkapan-perlengkapan berupa tenda atau taruk berukuran besar yang didirikan diatas Tanah Mendapo (tempat berlangsungnya Upacara adat Kenduri Sko).

Umbul-umbul atau bendera warna-warni yang dipasang di sekitar tempat upacara, bendera merah putih berbentuk segitiga siku-siku berukuran besar (Karamtang) yang dipasang ditempat terbuka pada ketinggian mencapai 30 meter yang puncaknya digantunngkan Tanduk kerbau.

 

Bendera ini berfungsi sebagai undangan bagi masyarakat untuk datang mengahdiri upacara dan isyarat keberadaan Kenduri, pakaian adat, keris, dan tongkat yang dipakai oleh para Pemangku adat, pakaian adat para Dayang (Lita dan Kulok), pedang Hulubalang untuk keperluan Pencak Silat, sesajian (beras kuning, kemenyan, dan adonan sirih nan sekapur – rokok nan sebatang) dan gong, gendang dan rebana untuk keperluan kesenian daerah yang akan ditampilkan dalam rangkaian prosesi upacara.

Pelaksanaan Upacara biasanya dilakukan pada pukul 08.00. Pada waktu ini biasanya masyarakat kerinci sudah berkumpul di tanah Mendapo untuk menyaksikan beberapa rangkaian acara yaitu pertunjukan seni Pencak Silat yang merupakan seni bela diri dengan menggunakan dua mata pedang.

Tari Persembahan yang merupakan tari untuk menyerahkan sekapur sirih kepada para petinggi-petinggi daerah yang hadir dan juga menyerahkan sekapur sirih kepada calon Depati, Ngabi, Permanti dan Mangku yang akan dinobatkan menjadi pemangku adat yang baru.

Tarian asyeak yang merupakan tarian upacara yang berunsur magis karena ada bagian dimana penari mengalami kesurupan. Tari Massal yang merupakan tarian yang memebntuk konfigurasi keadaan geografis kerinci.

Tari Rangguk yang dilakukan untuk menerima kedatangan Depati (tokoh adat Kerinci), tamu dan para pembesar dari luar daerah. Kemudian beranjak ke acara penurunan pusaka (kenduri pusaka), prosesi ini dilakukan oleh para sesepuh adat.

 

Dalam prosesi ini pusaka-pusaka dari rumah Gedang dibawa ke Tanah Mendapo lalu dibersihkan di hadapan masyarakat yang menonton sambil menceritakan sejarah pusaka tersebut. Acara intinya adalah penobatan para pemangku adat.

Pada prosesi ini semua calon Depati , Ngabi dan Ninik Mamak dipanggil naik ke atas pentas secara bergantian lima orang sambil dipanggil namanya seraya menjatuhkan Gelar Sko pada para bangsawan tersebut.

Dalam prosesi ini juga dikenal juga acara pidato adat yang disebut deto talitai yang merupakan rangkaian pidato adat yang disampaikan dalam bahasa berirama. Deto Talitai berbentuk prosa berirama dan didalamnya terdapat pepatah petitih.

Pidato ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang menjabat Pemangku, Ninik Mamak, Depati atau setingkat depati. Setelah Deto Talitai diikuti dengan maklumat Sumpah Karangsetio yang merupakan peringatan keras pada pemimpin adat terpilih.

Dalam upacara ini para Depati dan Ninik Mamak terpilih memakai pakaian adat khusus yang memilki makna tertentu. Para Depati biasanya memakai seluk, kain sarung lurus dan pakaian berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning di dada sementara Ninik Mamak memakai Lita, kain sarung miring dan pakaian berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning di dada.

Warna-warna dalam pakaian tersebut mengandung makna khusus seperti misalnya warna hitam yang melambangkan rakyat banyak berarti kekuatan Depati dan Ninik Mamak dan warna kuning yang melambangkan kekuasaan berarti berundang berlembago, arinya Depati dan Ninik Mamak melaksanakan kekuasaan berdasarkan undang-undang dan lembago.

sumber : http://www.wacana.co/2012/08/upacara-kenduri-sko-suku-kerinci/

Cerita Lancang Kunin

 

Cerita Lancang Kunin

gambar Sinopsis Cerita Rakyat Riau Lancang Kuning

SINOPSIS LANCANG KUNING

Lancang kuning berasal dari kata “lancang” (perahu kebesaran kerajaan) dan "kuning” (warna kebesaran kerajaan). Lancang Kuning adalah nama perahu besar kerajaan yang digunakan sebagai kendaraan air oleh raja-raja Melayu Riau. Adapun legenda atau cerita rakyat Lancang Kuning ini diangkat dari nama itu, karena legenda ini menceritakan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan kerajaan.

Suatu hari, Datuk Laksamana pemimpin Bukit Batu Bengkalis di Riau, memanggil dua panglimanya, yaitu Panglima Umar dan Panglima Hasan menghadap ke istana untuk diberi tugas ke Tanjung Jati menumpas perompak atau lanun yang selalu mengganggu kawasan tersebut di Senggoro kawasan mana tempat mata pencarian nelayan Bukit Batu. Dengan ketaatannya, Panglima Umar langsung berangkat melaksanakan tugas ini, meskipun harus meninggalkan istrinya yang cantik bernama Zubaidah. Sementara itu Panglima Hasan tidak ikut berangkat melaksanakan tugas itu, karena ternyata berita adanya perompakan di Tanjung Jati itu hanyalah rekayasa siasat Panglima Hasan sendiri agar Panglima Umar jauh dari isterinya Zubaidah dan Datuk Laksamana.

Selama kepergian Panglima Umar, diam-diam Panglima Hasan berusaha merayu Zubaidah agar mengkhianati suaminya dan menjanjikan kehidupan lebih baik, namun Zubaidah bertahan dengan kesetiaan dan marwahnya. Situasi ini membuat hati Panglima Hasan semakin marah dan brutal. Panglima Hasan mencari akal menghabisi Zubaidah. Bertepatan ketika peluncuran Lancang Kuning Kerajaan ke air, tiba-tiba Lancang Kuning berhenti tidak bergerak sama sekali, maka Panglima Hasan memutuskan mengambil Zubaidah sebagai tumbal untuk galangan lancang. Dengan bergalangan tubuh Zubaidah, maka lancang tersebut berhasil diluncurkan ke laut dan Zubaidah pun mengakhiri hidupnya di bawah lancang.

Tak lama setelah kematian Zubaidah, Panglima Umar yang baru pulang dari Tanjung Jati mendapat fitnah yang dibuat oleh Panglima Hasan sendiri, bahwa Datuk Lasemana lah yang membunuh Zubaidah dengan menjadikan tubuh Zubaidah sebagai tumbal galangan lancang. Hasutan Panglima Hasan ini termakan oleh Panglima Umar dan membuat Panglima Umar menjadi kalap dan amat marah. Tanpa pikir panjang Panglima Umar menyerang Datuk Laksemana. Datuk Laksemana memberi sumpah kepada Panglima Umar, bahwa apabila Panglima Umar melewati Tanjung Jati, akan tenggelam bersama kapalnya.

Setelah itu barulah Panglima Umar sadar akan fitnah itu, pertikaian dengan Panglima Hasan pun terjadi, dan berakhir dengan kematian Panglima Hasan yang tragis di ujung keris Panglima Umar.

Panglima Umar pun pergi menjalankan kutukan dari Datuk Laksemana, berlayar ke perairan Tanjung Jati dan tenggelam. Sejak saat itu pulau Bengkalis dikenal daerah yang berkembang dibawah kepemimpinan Datuk Laksamana.

 

Dabus Seni Dari Kesultanan Indragiri

 

Dabus Seni Dari Kesultanan Indragiri - Warisan Budaya Tak Benda Riau



Dabus menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau asal Indragiri Hulu yang disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2016


Dabus - (Debus) Seni Tari Bersenjata Tajam Dari Kesultanan Indragiri
Dabus atau debus merupakan sebuah pertunjukan seni tarian yang biasanya menggunakan senjata tajam, dipadukan dengan nyanyi-nyanyian dalam bahasa Arab. Debus dalam bahasa Indonesia juga dikenal sebagai Dabus di Malaysia. Tarian Dabus di Riau bisa kita temukan di daerah Indragiri (Inhu dan Inhil) serta daerah Provinsi Kepulauan Riau. Debus Kesultanan Indragiri dibawa oleh Syeh Ali Al Idrus (bangsa Arab asal Hadratul Maut). Pada masa kerajaan Indragiri tersebut, Debus menjadi sarana media penyampaian dakwah Islam oleh masyarakat Arab pada daerah Indragiri. Pada awalnya, lirik-lirik lagu yang dinyanyikan pada pertunjukan Debus, murni merupakan puja-puji kebesaran Allah dengan menggunakan bahasa Arab dan tanpa menggunakan kekuatan magis. Namun seiring dengan perkembangan waktu, tradisi Dabus ini sendiri disesuaikan dengan tradisi tempatan, baik secara bahasa maupun kreativitas yang lain.

Untuk melestarikan tradisi tersebut, saat ini Dabus telah menjadi pertunjukan yang bisa kita saksikan pada acara-acara khalayak seperti pernikahan, khitan dan acara-acara kedaerahan lainnya di Indragiri.

Pertunjukan Dabus memiliki nilai kepahlawanan. Permainan ini menuntut pelakunya untuk memiliki ketangkasan, kecerdasan, keperwiraan dan keceriaan dalam bermain. Beberapa jenis senjata tajam yang biasa digunakan pada pertunjukan ini seperti anak debus, keris, pisau, belati, kapak, batu giling dan tali.

Dabus Indragiri berkembang di Desa Rantau Mepesai di Kecamatan Rengat, dan banyak dijumpai diberbagai daerah di Indonesia misalnya di Banten yang disebut Debus, di Aceh disebut Daboh, di Ambon disebut Dabus atau di Bugis disebut Dabus. Seni ini juga dikenal di daerah Kepulauan Riau maupun Perak Malaysia.

Pertunjukan Seni Dabus Indragiri
Pertunjukan seni Debus biasanya beranggotakan kisaran 22 orang, yang terdiri dari para penari Dabus maupun pemain musik Dabus. Diantara peserta, ada satu orang yang bertindak sebagai khalifah, tugasnya adalah menjaga keselamatan para pemain dari hal-hal yang berasal dari gangguan seperti makhluk halus. Sebelum pertunjukan ditampilkan, sang khalifah meresapkan air atau merenjiskan air ke seluruh tempat pementasan, para pemain, pemusik hingga anak dabus atau peralatan yang digunakan. Tujuan meresapkan air ini untuk melindungi para pemain dari gangguan makhluk halus atau keisengan orang yang menyaksikan untuk menguji kekebalan para pemain. Khalifah juga bertindak menyadarkan para pemain yang kesurupan tak sadarkan diri akibat menikam lengannya sendiri dengan senjata tajam.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, ada beberapa pantang larang sebelum pertunjukan debus tersebut ditampilkan, diantaranya adalah tempat dan badan para pemain hendak lah dalam keadaan yang bersih, seluruh tim permainan tidak boleh berkata-kata kotor, senjata anak dabus yang dipakai tidak boleh dilangkahi atau pun menyentuh tanah sebelum digunakan, orang luar yang bukan pemain dabus dilarang menyentuh peralatan yang digunakan.

Tarian Dabus diyakini dibawa oleh Said Ali Al Idrus yang datang dari Hadral Maut kawasan Arab Selatan yang menyiarkan agama Islam yang diutus Raja Aden sekitar abad 17. Kerajaan Indragiri berada di Kota Lama. Warisan kesenian dalam bentuk tarian ini menggunakan besi yang ditajamkan serupa Carum dan diberi giring-giring yang menimbulkan bunyi mengikut Rebana.

Tahapan Pertunjukan Dabus
Langkah pertama pada pertunjukan ini dimulai dengan keluarnya para pemain secara berpasangan baik itu laki-laki dengan perempuan, perempuan dengan perempuan, atau laki-laki dengan laki-laki, lalu kemudian para pemain ini memberi hormat pada para penonton. Gerak tarian yang dimainkan biasanya ada tiga jenis, yakni susunan sirehayam tanjak dan helang sawah. Biasanya sebuah pertunjukan akan dimulai dengan gerakan susunan sireh. Gerakan dimulai dengan melangkah tiga kali, lalu duduk dan membuat gerakan menyembah. Seorang penari akan memegang anak dabus sambil menari mengikut alunan musik. Seorang penari akan keluar untuk menari, lalu setelah selesai ia akan digantikan oleh penari lainnya, demikian seterusnya hingga tarian tamat.

Keunikan dari tarian dabus ini adalah apabila tarian sudah mulai rancak. Hal ini ditandai dengan para pemain yang mulai tak sadarkan diri akibat kesurupan makhluk halus. Pemain bisa menusukkan senjata tajam yang dibawanya ke lengan. Hampir mirip dengan pertunjukan kuda kepang di pulau Jawa, tetapi pertunjukan ini menggunakan benda tajam. Ada pula pemain yang melemparkan batu giling ke paha mereka. Dalam kondisi di bawah pengaruh makhluk harus, para pemain ini tidak merasakan sakit. Khalifah yang akan membantu mengeluarkan makhluk halus dari para pemain atau menyadarkannya. Biasanya meskipun tidak cidera, sedikit rasa sakit atau pegal-pegal juga akan dirasakan oleh para pemain.




Pertunjukan ini juga memiliki mantra yang diucapkan misalnya :

  •  

Besi tua besi muda
Besi datang daripada Allah
Hendak makan sifat Muhammad
Takut ditimpa si kalammullah
Hullillah haillallah
Nabi Muhammad pesuruh Allah
Ingat semuanya kepada Allah
Bukannya salah permainan ini
Turun temurun semula jadi
Luar dan dalam semuanya diisi


Dalam pertunjukan Dabus ini biasanya juga ada nyanyi-nyanyian yang diambil dari Hadi (Chorus) dalam bahasa Arab, kemudian dijawab dengan ‘jawab’ yang menggunakan bahasa Melayu. Contohnya sebagai berikut:
Jawab :
He Allah he Allah hoya Allah
Hodal hema le keyai maulai
He Allah he Allah la le mahbud
Sewa Allah


Hadi :
Bishahrin rabie
Qad bawa nuruhul a'la
Faya hab baz badru
Biza kal hema yujla


Jawab :
Mura disin, Allah mura disin
Kamala izin Allah muradin
Mura diya Allah mura diya
Kamala izin Allah muradin


Berbagai senjata yang digunakan :

  1. Anak Dabus (sejenis besi yang tajam)
  2. Pisau
  3. Parang
  4. Belati
  5. Kapak
  6. Batu Giling
  7. Tali


Pakaian Pertunjukan Dabus
Pakaian yang digunakan untuk pertunjukan Debus ini terbagi tiga, meliputi pakaian khalifah, pakaian penari dan pakaian pemain musik. Ketiganya biasanya menggunakan pakaian yang berbeda. Pakaian para penari biasanya menggunakan corak-corak kepahlawanan, dengan warna hitam yang menyimbolkan kekebalan para pahlawan. Celana panjang dipadukan dengan baju teluk belanga, sehelai selempang serta tanjak yang gagah. Ini pakaian untuk penari laki-laki, sementara untuk perempuan biasanya sejenis pakaian untuk srikandi, puteri perak. Pakaian baju kurung cekak musang. Untuk para pemusik biasanya menggunakan pakaian melayu sedondon yang dilengkapi dengan songkok.

Sementara untuk pakaian khalifah, biasanya menggunakan warna hitam dengan ikat kepala. Warna hitam menjadi symbol kekebalan dalam pertunjukan. Warna-warna ini merupakan warna asal dari sebuah pertunjukan Debus di masa lampau. Seiring dengan perkembangan waktu dan fungsi Debus yang hanya sebagai pertunjukan seremoni biasanya, baik para penari, pemain musik atau khalifah sudah banyak yang menggunakan warna-warna cerah dalam sebuah pertunjukan.

Jampi-Jampi dan Tepung Tawar
Dalam sebuah pertunjukan Debus, biasanya tidak terlepas dari penggunaan jampi-jampi dan tradisi tepung tawar. Sebelum pertunjukan dimulai, air yang direnjiskan pada seluruh tempat pertunjukan, peralatan dan para pemain adalah air tepung tawar yang biasanya juga dipadukan dengan kemenyan yang sudah dibakar. Aroma kemenyan ini memberi kesan magis tradisional pada pertunjukan seni dabus. Air tawar biasanya dibuat dari campuran aneka daun-daun pilihan, beras kunyit, bertih yang direndamkan ke dalam mangkok berisi air.

Ada juga dikenal air penawar bisa. Air ini digunakan untuk memulihkan para pemain yang hilang kesadaran akibat kerasukan makhluk halus pada saat pertunjukan. Air ini dibuat dari campuran umbut pisang, daun sirih, daun setawar serta batang sirih yang dimemarkan. Baik air tepung tawar maupun air penawar bisa, sebelum digunakan biasanya telah diberi jampi-jampi lebih dulu oleh khalifah yang memimpin pertunjukan.


[RiauMagz | Wisata Riau | Warisan Budaya Tak Benda Riau ]

 

Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau

 

Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau


Menumbai Madu Sialang merupakan kegiatan mengambil madu dari pohon sialang, yakni sejenis pohon tertentu yang tinggi dan besar, disenangi oleh lebah untuk tinggal dan menghasilkan madu. UU Hamidy (1983), menyebutkan ”menumbai” berasal dari kata “tumbai” atau “umbai”, yang artinya “turun” atau juga “menurunkan” dengan menggunakan tali dan bakul. Arti ini juga menggambarkan gerak menurunkan sarang lebah memakai timba bertali. Kegiatan menumbai ini dilakukan di malam hari, pada saat kondisi gelap gulita.

Sialang bukanlah nama sebuah pohon. Tetapi nama pohon apa saja yang bisa dihuni oleh lebah dalam menghasilkan madu. Jenis lebah yang bersarang tersebut adalah Apis dorsata binghami, yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Pohon yang dihuni oleh lebah ini lebarnya bisa mencapai dua kali pelukan orang dewasa, tinggi dan licin sehingga tidak sembarang orang bisa mengambil madu yang dihasilkan lebah di atasnya. Oleh karena itulah, tradisi menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak benda di tingkat nasional.

 

Temukan lebih banyak

SENI

Seni & Desain Visual

seni

Home / Kebudayaan / Pelalawan / Riau / Warisan Budaya Tak Benda

Menumbai Madu Sialang Pelalawan - Riau

By Riau Magazine  September 03, 2017



Salah satu Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau yang sudah diresmikan asal Pelalawan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015 adalah tradisi Menumbai Madu Sialang.


Mengenal Tradisi Menumbai Madu Sialang
Menumbai Madu Sialang merupakan kegiatan mengambil madu dari pohon sialang, yakni sejenis pohon tertentu yang tinggi dan besar, disenangi oleh lebah untuk tinggal dan menghasilkan madu. UU Hamidy (1983), menyebutkan ”menumbai” berasal dari kata “tumbai” atau “umbai”, yang artinya “turun” atau juga “menurunkan” dengan menggunakan tali dan bakul. Arti ini juga menggambarkan gerak menurunkan sarang lebah memakai timba bertali. Kegiatan menumbai ini dilakukan di malam hari, pada saat kondisi gelap gulita.

Sialang bukanlah nama sebuah pohon. Tetapi nama pohon apa saja yang bisa dihuni oleh lebah dalam menghasilkan madu. Jenis lebah yang bersarang tersebut adalah Apis dorsata binghami, yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Pohon yang dihuni oleh lebah ini lebarnya bisa mencapai dua kali pelukan orang dewasa, tinggi dan licin sehingga tidak sembarang orang bisa mengambil madu yang dihasilkan lebah di atasnya. Oleh karena itulah, tradisi menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak benda di tingkat nasional.


Kegiatan menumbai biasanya dipimpin oleh seseorang yang disebut Juragan Tuo, dibantu dengan beberapa Juru Panjat lainnya yang disebut dengan Juragan Mudo. Ada juga orang yang menyambut di bawah atau yang disebut Tukang Sambut. Juragan Tuo bertindak sebagai pimpinan kelompok yang bertanggung jawab terhadap keselamatan anggotanya dari berbagai resiko pengerjaan. Ancaman utama yang dihadapi para juragan mudo adalah gigitan lebah, ancaman binatang buas yang menghuni pohon hingga makhluk-makhluk ghaib yang ada di sekitar.

Inilah yang menjadi pertanggung jawaban Juragan Tuo. Jika diperlukan, ia bisa juga memanjat pohon membantu Juragan Mudo. Banyaknya jumlah Juragan Mudo yang diperlukan dalam setiap pengerjaan bergantung pada jumlah pohon yang akan dipanjat. Sebelum memulai menumbai, biasanya anggota kelompok membersihkan lebih dulu semak-semak di sekitar pohon. Membuat pondok untuk berjaga, lalu membuat tali berbentuk tangga untuk memanjat pohon. Pohon sialang sangat tinggi, bisa mencapai hingga 30-40 meter. Oleh sebab itulah keselamatan para pemanjat sangat penting diperhatikan.

Orang Petalangan yang merupakan suku asli yang bermukim di Pelalawan lah yang menjaga tradisi menumbai tersebut. Mereka hidup dari hasil ekonomi menumbai lebah, oleh karena itulah tradisi ini terus diajarkan turun temurun di masyarakat daerah tersebut. Untuk melakukan kegiatan menumbai madu, dilakukan beberapa serangkaian ritual adat dan kepercayaan masyarakat Petalangan.

Menumbai tidak bisa dikerjakan setiap saat. Biasanya dalam setahun hanya 2 hingga 3 kali saja bisa dilakukan untuk hasil yang maksimal. Sebab menurut orang Petalangan, lebah bersarang di pohon sialang hanya empat kali dalam setahun, yakni musim bunga jagung, musim bunga padi, selepas menuai, dan semasa menebang menebas ladang. Madu yang paling diminati dari keempat musim tersebut adalah madu di musim bunga padi, yakni madu berwarna putih.

Peralatan Menumbai Madu Sialang
Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk proses Menumbai Madu Sialang tersebut diantaranya adalah:

  1. Timba, timba atau timbo diberi tali dan dibawa naik oleh juragan muda ke atas pohon, dahulu timba ini terbuat dari kayu, namun saat ini sudah digunakan timba yang terbuat dari plastik. Timba ini nantinya diisi dengan sarah lebah yang diturunkan lalu disambut oleh tukang sambut, untuk selanjutnya dibawa ke ubo.
  2. Ubo merupakan tempat memeras lilin atau sarang lebah untuk mendapatkan madu.
  3. Tunam, merupakan sejenis obor yang dibuat dari kulit kayu untuk dipakai sebagai alat penerang di malam hari. Tunam ini dibawa oleh juragan muda ke atas sewaktu memanjat untuk menyapu kerumunan lebah yang ada di sarangnya. Sekaligus digunakan sebagai satu-satunya alat penerang selama proses berlangsung. Kerumunan lebah jatuh ke bawah mengikuti percikan api.


Tahapan Proses Menumbai
Beberapa tahapan berikut dilakukan orang Petalangan sebelum memulai tradisi menumbai lebah sialang:

 

  1. Pelangkahan, merupakan proses pembacaan mantera dalam hati dan menunggu reaksi batinnya setelah dibacakan mantera tersebut. Hal ini dilakukan sebelum berangkat menuju ke tempat pohon sialang, biasanya dilakukan pada petang hari, meskipun pengambilan madu dilakukan pada malam hari saat gelap gulita. Tradisi ini biasa dilakukan suku tradisional Melayu sebelum melakukan hal-hal yang beresiko.
  2. Menuo sialang, setelah sampai di lokasi pohon sialang, juragan tuo biasanya melakukan menuo sialang, yakni berdiri di depan pohon sialang untuk menuakan atau menghormati sialang. Ia membaca mantera dalam hati dengan tujuan meminta izin kepada roh-roh halus penunggu pohon sialang.
    Mantra :
    Bismilahirrohmanirrohim
    Assalamualaikum ibuku bumi, bapakku langit
    aku bemohon kepado nabi kayu
    nabi lilit
    nabi ake
    nabi lie
    nabi kayu
    nabi putih mogang kayu
    antu kayu samo kayu
    bukan aku yang punyo kayu
    Atuk Gu’u nan punyo kayu
    Kun! mohon kayu iko
    Kun! duo sialang kayu.

    Mbat menghembat ake gadung
    Mbat mai di ate tanggo
    Kalau iya sialang ini
    Lingkaran tedung dan nago
    Tetaplah juo di banie kayu
  3. Menepuk pohon, tanda bertamu merupakan langkah selanjutnya setelah menuo sialang yang dilakukan juragan tuo adalah dengan menepuk bagian pangkal pohon sebanyak tiga kali untuk memberi tanda kepada lebah bahwa ia sudah berada di halaman rumah lebah untuk bertamu. Yang diharapkan dari proses ini adalah lebab berdengung menandakan ia mengetahui kehadiran orang di bawahnya. Jika dengung tidak ada, maka proses ditunda.



 


Mantra :
Mengombang ke mano alu
Puting beliung samo tonga
Tabik aku dahan joambang
Aku nak lalu ke balai tonga

Balai Tonga balai duoeto
Tigo balai telendak bumi
Letak bandan poning kepalo
Menengok cantiknyo balai ini

  1. Pasu, cara melenakan lebah: sebelum para juragan mudo memanjat pohon, yang dilakukan selanjutnya adalah pasu. Yakni pembacaan mantera khusus yang ditujukan untuk menghipnotis lebah agar lebah terbang dan tidak menyengat.
    Mantra :
    Papat-papat tanah ibul
    Mai papat di tanah tombang
    Nonap-nonap Cik Dayangku tidou
    Juagan mudo di pangkal sialang
    (Cik Dayang yang dimaksud adalah lebah yang bersarang diatas pohon sialang).

    Popat-popat tanah mayang ibual
    Dipopat tanah tombang
    Nonap-nonap cik Dayang tidou
    Konai doa pasung terbang

    Pinjam tukual pinjam landean
    Tompat manukual kalakati
    Pinjam dusun pinjam laman
    Tompat main malam ini

    Apo kejadian lobah
    Lalat putih so’i majnun
    Apo kejadian songat
    Ja’um patah siti fatimah

    Lobah jangan dibagi moamuk
    Lobah jangan dibagi monyongat
    Songat engkau di aku
    Monyongat kataku
    Ba’u engkau monyongat
    Kini songat engkau di aku

    Aku tahu kejadian engkau
    Ampo padi kejadian engkau
    Nan bone tinggal di aku
    Nan ampo jatuh melayang
    Ke langit nan katujuh
    Awan gemawan
    Di situlah engkau
    Kemano aku su’u
    Ke situlah engkau po’i
    Engkau jangan menyulap kepada aku iko
    Engkau pulang ke asal engkau mulo jadi
    Aku pulang ke asalku mulo jadi
  2. Memanjat: pada saat memanjat tangga, para juragan mudo berhenti dan membacakan mantera khusus, lalu ia naik lagi. Sampai di dahan pertama, dibacakan lagi mantera khusus, ia lalu mengamati sarang-sarang lebah yang ada, membacakan mantera sambil mendekatkan obor pada sarang yang masih banyak lebahnya. Tidak semua sarang lebah yang ada berisi madu, dan terkadang juga lebah tak mau pergi dari sarangnya. Jika sudah didapati sarang lebah yang sarat madu, barulah di masukkan ke timba dan dibawa turun.
  3. Melepas pasu: setelah juragan mudo turun, selanjutnya dilakukan proses melepas pasu atau menyadarkan lebah yang dilakukan juragan tuo.
    Mantra :
    Temasu kayu di imbo
    Dibuat papan belarik
    Tubonsu jungan baibo-ibo
    Isuk kolam naik balik
    Amoramo si kumbang janti
    Duo ancak ketigo ancang
    Jangan lamo dayangku poi
    Duo bulan ketigo lah datang
    Antu kayu taogu-ogu
    Dahan panjang tenanti-nanti
    Menanti kau datang

 


Betapa sulit dan beresikonya menumbai madu, sehingga tak heran jika harga madu cukup mahal di pasaran. Tradisi ini harus terus dipelihara untuk bisa mendapatkan madu-madu alam dari daerah Riau sendiri.

Selain ancaman regenerasi seni budaya menumbai madu sialang ini, ada beberapa teknik modern dalam memanen madu sialang dan juga ekspansi lahan perkebunan sawit yang mengancam keberadaan pohon-pohon sialang yang ada saat ini.

Beberapa Pebatinan yang masih mempertahankan seni budaya adat tradisi menumbai ini misalnya Pebatinan Bunut yang memiliki kepungan (kumpulan) pohon sialang dari jenis Pohon Keruing yaitu Kepungan Sialang De Bakal, Sialang Tungkat Nago Seai, Sialang Tungkat Tembonsu, Sialang Kawan, Sialang Pulau Bose, Sialang Gumpal Bonang, Sialang Tengkorak, Sialang Pulau Panjang, Sialang Pulau Tujuh, Sialang Ombau Ulu.

TARI PIRING 12

 


SEJARAH TARI PIRING 12

Tari Piring Duabelas merupakan tari tradisional yang berkaitan dengan gawi adat masyarakat Lampung yang beradat Saibatin. Tari ini berasal dari Sekala Bekhak, kecamatan Belalau, Lampung Barat.

Awalnya orang orang dari Sekala Bekhak ini hijrah ke wilayah Kota Agung (Teluk Semaka) untuk mencari tempat baru dan membentuk sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Beniting.Disebut Kerajaan Beniting karena dulu di Sumatera terdapat banyak harimau, sedangkan raja di Kerajaan Beniting ini bisa berubah menjadi harimau.

Agar rakyat tidak keliru maka sang raja memiliki sebuah tanda yang ada di bagian pinggangnya yang biasa disebut babiti, maka raja tersebut disebut raja beniting.Setelah mendapat pengaruh para pedagang, Kerajaan Beniting berubah menjadi Kerajaan Semaka.Tari Piring 12 muncul saat Kerajaan Semaka dan dikembangkan menjadi empat macam tarian.
a.Tari Piring Biasa (Asli), dibawakan oleh bujang gadis (mulei mekhanai)
b.Tari Piring Buha (Buaya), dibawakan oleh mekhanai
c.Tari Piring Maju Ngekkes (Pengantin), dibawakan oleh mulei
d.Tari Piring Duabelas yang ditarikan oleh mulei/mekhanai

Kemudian Kerajaan Semaka bergeser lagi ke daerah pinggir pantai yang bernama Teluk Benawang.Agar lebih mudah untuk membayar upeti dalam proses perdagangan.

Lalu kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Benawang.
Benawang sendiri memiliki arti uang yang banyak dan bertebaran.Di Kerajaan Benawang inilah terciptanya 12 bandar.

Tari Piring Duabelas mempunyai dua warna berbeda yang membedakan antara pangeran dan masyarakat. Warna kuning biasanya digunakan di sebelah kanan,warna ini milik pangeran/ratu. Sedangkan warna putih biasannya dikenakan di sebelah kiri, warna ini milik masyarakat Saibatin/pemilik adat.

Tari piring adalah tarian sang ratu yang ditarikan dikala menyambut para ulu balak dari medan laga atau medan perang. Sang ratu memberikan suguhan kepada ulu balak berupa tarian sebagai ungakapan rasa gembira.
Sang ratu berasal dari Kerajaan Paksi Marga Benawa.
Tari piring diperkirakan mulai ditarikan sebelum agama islam masuk ke Indonesia.
Adapun disebut piring 12 sebab, paksi marga benawang mempunyai 12 bandar, dari setiap bandar mempunyai ulubalang - ulubalang dan setiap ulubalang pasti mempunyai pasukan perang.
Adapun nama-nama 12 bandar tersebut adalah :
1). Bandar Rajabasa (gunung subuwujo)
2). Bandar Sani (gunung subuwujo),
3). Bandar Narip (sekarang daerah nuropangko),
4). Bandar Talagening dibagi lagi menjadi 4 bandar lop
         Bandar Talagening,
         Bandar Maja,
         Bandar Muara,
         Bandar Kelunggu (Kota Agung),
5). Bandar Baturuga (Terahutimur),
6). Bandar Limau (kecamatan limau),
7). Bandar Putih,
8). Bandar Tulapayah.
Jadi mempunyai 4 bandar dalam dan 8 bandar luar.

Dua piring yang dibawa oleh sang ratu atau penari juga memiliki makna, yaitu melambangkan bahwa dalam segala sesuatu itu ada dua. Ada kalah ada menang, ada sedih ada senang.

Karena sekarang sudah tidak ada peperangan maka tari piring ditarikan saat acara panayuhan atau resepsi Sang Bujang & Sang Gadis. Tarian ini telah menjadi tradisi di kabupaten Tanggamus atau bisa dibilang tari pergaulan Masyarakat pesisir yang beradat saibatin.


Rabu, 06 Mei 2026

Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau





Silat Perisai Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau

Silat perisai menjadi Warisan Budaya Tak Benda {WBTB) asal Riau yang telah lolos di sidang penetapan WBTB oleh Tim Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2017.

Silat Perisai
Silat Perisai atau Silat Perisai Pedang adalah sebuah seni beladiri yang saat ini sering dipertunjukan sebagai seni pencak tradisional yang dapat dimainkan oleh sepasang atau beberapa pasang pemuda dan pemudi guna menyambut kedatangan tamu pejabat daerah pada sebuah upacara pembukaan semi tradisi seperti "Pekan Budaya Daerah, Pekan Olah Raga Tradisional, Upacara Balimau Kasai, Pembukaan MTQ dsb". Kelompok Silat Perisai ini tampil dengan diiringi musik Calempong Oguong yang dimainkan oleh 5 (lima) orang. Busana Pesilat berwarna hitam berikat kepala dengan properti sebilah pedang dan sebuah perisai. Pedang dan perisai terbuat dari kayu.


Silat Perisai Pedang Zaman Dahulu
Keberadaan Silat Perisai diimulai pada masa Wilayah Negeri Kampar dulunya sebelum kemerdekaan RI dimana wilayah tersebut pernah mempunyai sistem pemerintahan Andiko dimana yang berkuasa adalah Pucuk Adat yang disebut Ninik Mamak. Ninik Mamak menaungai masyarakat yang disebut Anak Kemenakan dan Urang Sumondo. Setiap kelompok Masyarakat yang terdiri dari Anak Kemanakan dan Urang Semondo disebut Pesukuan.


Setiap pasukuan memiliki dubalang/pendekar Silat Perisai. Pada masa itu yang berlaku hukum adat. Bila terjadi silang sengketa antara pasukuan misalnya tentang wilayat hutan tanah, menurut hukum adat sama-sama kuat mempunyai hak maka oleh lembaga Kerapatan Adat di Pucuk Adat diputuskan untuk menentukan siapa yang berhak dengan mengadu dua orang dubalang/pendekar dari dua suku yang bersengketa itu di gelanggang silat.

Dihari yang ditentukan dengan disaksikan oleh pemuka adat, halayak ramai, juga dua orang isteri dari kedua dubalang, dibukalah gelanggang pertarungan. Masing-masing dubalang memakai busana teluk belanga lengen pendek, kain sesamping dan ikat kepala, bersenjata sebilah pedang di tangan kanan dan sebuah perisai di tangan kiri. Dengan diberi aba-aba oleh dubalang pucuk adat pertarungan dimulai.

Bila salah seorang duabalang itu sudah terdesak dan tak mampu lagi bertahan sehingga mungkin akan terluka/terbunuh, isteri dubalang dimaksud akan masuk ke gelanggang (sebagai wasit) segera menghentikan pertarungan itu dengan sebuah isyarat yang menyatakan pada hadirin bahwa pendekar (suaminya) telah mengaku kalah. Dengan itu Pucuk Lembaga Adat akan mengumumkan pasukuan yang menang.

Seni beladiri ini ketika dinilai oleh para Tim Ahli Kemendikbud untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau masuk ke dalam kelompok : Seni Pertunjukan, termasuk seni visual, seni teater, seni suara, seni tari, seni musik, film. Saat ini Silat Perisai berada dalam kondisi "Masih Bertahan" dengan persebaran di Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Kajian akademis pernah dilakukan oleh Fikhen Tri Wulandari dalam bentuk thesis pada Universitas Pendidikan Indonesia yang berjudul "Sistem Pewarisan Silat Perisai di Riau”. Selain itu juga termaktub dalam Buku Antropologi Budaya Kampar yang ditulis oleh Sudirman Agus, S.Pd pada Program Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah, Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Seni Budaya, Kabupaten Kampar - Riau.

Salah satu kelompok yang terus mempertahankan warisan budaya ini adalah Komunitas Seni Pencak Silat Perisai di Desa Pulau Empat, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Guru atau Maestro Silat Perisai Kampar ini bernama Yusheri di Desa Pulau Empat dan Sudirman Agus di Bangkinang.

Silat Perisai di Riau
Dalam upaya mengembangkan Silat Perisai di Riau agar semakin banyak menghasilkan pesilat tangguh dan tidak menghilangkan warisan budaya berupa :

  1. Pendokumentasian.
  2. Menampilkan di berbagai kegiatan seni budaya dan olahraga.
  3. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni silat dari seluruh Provinsi Riau maupun nasional

 

 


Manfaat Silat Perisai
Selain untuk mempertahankan warisan budaya para leluhur, pesilat Perisai diajarkan dalam penggunaan senjata pedang dengan harapan mampu memahami karakteristik dari senjata pedang sehingga akan mengerti bagaimana cara menghadapi lawan yang menggunakan senjata-senjata tajam sejenis atau dengan senjata lainnya.

Seni Silat Perisai memiliki banyak manfaat bagi para pelakunya. Diantaranya mampu menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh karena juga seperti olahraga pada umumnya. Selain itu juga bisa meningkatkan rasa percaya diri dalam bergaul, memberikan nilai pelatihan terhadap ketahanan mental seseorang. Yang paling penting, seperti pencak silat pada umumnya, jenis Silat Perisai juga memberikan pengembangan kewaspadaan yang tinggi bagi siapa saja, sebab peluang kejahatan bisa terjadi dimana-mana. Waspada selalu dibutuhkan untuk menjaga keselamatan. Ada juga nilai pembinaan terhadap sportifitas dan jiwa pendekar. Membela kebaikan dan kebenaran merupakan tugas seorang pendekar. Selain itu semua, olahraga pencak silat perisai juga mampu menanamkan nilai kedisiplinan dan keuletan bagi para pemain. Disiplin yang lebih tinggi bukan hanya pada saat latihan atau bermain saja, namun juga perlu tertanam dalam setiap aspek kehidupan. Melatih diri agar lebih ulet dalam segala hal, termasuk mungkin saat berlatih yang cukup sulit dan membutuhkan ketekunan.

Dengan beberapa langkah pelestarian dan manfaat di atas, diharapkan keberadaan tradisi Silat Perisai Pedang Kampar akan bisa lebih baik, bersaing secara nasional dan mampu membawa nama Riau di tingkat internasional. Dengan ditetapkannya pencak Silat Perisai sebagai salah satu warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, maka pengembangan dari pencak silat ini diharapkan bisa lebih baik lagi. Dapat dikenalkan lebih massif dari tingkat anak-anak hingga remaja termasuk menyediakan para pendekar atau pelatih handal yang siap turun untuk mengajarkan warisan budaya ini.

Sumber : Dinas Kebudayaan Provinsi Riau

Video : Akun Youtube Sudirman Agus
Silat Perisai versi daerah Silek Parisai adalah silat tradisional daerah Kab. Kampar. Video ini dibuat tahun 2005 dengan guru silatnya SYAFI'I (Alm) semoga arwahnya berada tenang disisinya dan ilmu silat yang diajar pada muridnya menjadi amal jariah baginya.

 


RATEB BEJALAN

  RATEB BEJALAN   Tamiang masih memegang teguh adat istiadat yang ada, salah satunya adalah tradisi yang biasa dilakukan di penghujung b...