Home

Selasa, 04 Agustus 2026

SILAT SYEH 12

 

Pencak Silat Kharomah Syeh 12

 



Pencak syeh cukup dikenal dikalangan dunia persilatan. Yang semula orang tidak mengetahui bagai mana berpencak silatpun dengan seketika dapat berubah menjadi seorang Pendekar yang bisa bahkan mahir dalam melenggak lenggokkan gerak silatnya.Tak ubahnya ilmu pencak silat batin, keilmuan yang satu ini juga memakai sarana hadiran/syeh ketika ingin menguasai pencak silat. Hanya saja ilmu ini belajar silatnya didalam mimpi.
Pada saat tidur kita akan bermimpi bertemu dengan seseorang yang melatih dan mengajarkan ilmu pencak silat hingga tamat. Dan ketika bangun tidur semua jurus jurus yang dipelajari dalam mimpi tetap teringat sehingga dengan mudah semua diulangi.
Sangat luar biasa, ketika melakukan jurus jurus yang didapat dari alam mimpi semua dilakukan dengan mudah, bahkan tubuh lebih ringan dan gerakan semakin gesit. Semua pukulan dan tendangan juga elakan terasa penuh dan berisi.

Adapun ilmu pencak silat syeh 12 sebagai beriut:

"Bisillahhirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum
Wahai sahabatku yang keduabelas
Tempat engkau ditubuhku
Tangan kanan 1.jibril 2.mikail
Tangan kiri 3. isrofil 4.ijroil
Kaki kanan 5. abubakar 6.Umar
Kaki kiri 7.Usman 8.Ali
Dada kanan 9. Kiraman
Dada kiri 10.Katibin
Leher 11. Akad
Tengkuk 12. Mukorrobin
Engkau tiada bisa lupa
Aku bisa
Mustajab diaku
Kabul diguru
Berkat lailahailallah
Berkat Muhammaddarrosululloh"


Caranya:

  1. Ambilair wudhu/air sembahyang dengan air bersih pada wktu maghrib.
  2. Dilanjutkan ambil wudhu dengan asap kemenyan.
  3. Setelah sholat maghrib maka bacalah ilmu pncak silat syeh 12 sebanyak 999x tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.
  4. Ketika akan tidur dimalam hari ditempat tidur membaca ilmu pencak silat syeh 12 sebanyak 13x dan tidak boleh berbicara lagi hingga terlelap.
  5. Kalau tersentak/terjaga maka ilmu dibaca kembali sebanyak 13x.
  6. Tidurnya harus sendiri dan semua barang yang mudah pecah atau senjata tajam yang berbahaya agar dijauhkan dari kamar.


Ritual diatas dilakukan selama 7 malam hingga 12 malam. Kalau keterima maka akan bermimipi diajarkan pencak silat didalam mimpi. Dan setiap melakukan pencak silat setelah diajarkan dalam mimpi akan memiliki kekuatan berlipat ganda dengan reflek yang luar biasa.

Kemudian ilmu silat yang diajarkan dialam mimpi boleh diajarkan kepada orang lain dengan nama silat yang diterima didalam mimpi.Makanya, barang siapa yang berhasil memiliki ilmu ini maka akan menjadi master silat yang pilih tanding.selain itu masih banyak lagi tuah luar biasa memiliki ilmu ini.misalnya dibidang pengobatan, ilmu supranatural dan sebagainya. sebab, kita akan terus mendapat banyak pelajaran ilmu silat dan ilmu supranatural dari alam mimpi.

 

 

BEGU GANJANG


Nun begu ( Begu ganjang )

 

Setiap daerah di Indonesia pastinya memiliki beragam cerita mistis. Salah satu cerita itu masih ditemui di Sumatera Utara (Sumut). Di sini, ada sosok misterius yang sebagian masyarakat masih mempercayainya.
Sosok itu bernama begu ganjang. Sosok ini masih hidup dalam kepercayaan sebagian masyarakat, khususnya di daerah-daerah pelosok Sumut. Keberadaan makhluk tak terlihat ini pun kerap dipertanyakan masyarakat.

Antropolog Sumut, Dr Irfan Simatupang menjelaskan soal sosok begu ganjang. Bermacam kepercayaan hidup di masyarakat khususnya masyarakat Batak terkait begu ganjang. Namun, semuanya mengarah pada sesuatu yang negatif.

Begu dalam budaya Batak adalah sejenis makhluk gaib yang awalnya berasal dari makhluk hidup atau lokasi tertentu. Manusia yang hidup, memiliki dua zat yakni fisik, jasad atau yang disebut pamatang dan ruh atau yang disebut tondi. Ketika manusia mati maka tondinya di percayai berubah menjadi begu.

Begu ini akan pergi menuju suatu tempat yang disebut parbeguan, yakni suatu tempat gaib di mana berkumpul begu-begu orang yang sudah mati sebelumnya. Ruh akan terpisah dari jasad.

"Jika laki-laki yang mati, tondinya akan tetap berada disekitar jasadnya sampai 11 hari, jika perempuan 9 hari tondinya masih tetap berada disekitar jasad. Hal ini juga memperkuat ungkapan batak yang menyebutkan bah lebih kuat jiwa laki - laki daripada perempuan," ungkap ketua Program Studi Antropologi, Fisip Universitas Sumatera Utara, (USU).

Hal itu juga yang menjadi alasan bagi sebagian masyarakat batak untuk menjaga kuburan orang yang baru dikebumikan. Begu- begu ini juga hidup sebagaimana kehidupan manusia layaknya, mereka juga memiliki strata. Begu dari orang yang meninggal semasa hidupnya baik, keturunannya tetap menghormatinya. Begunya bisa berubah menjadi Sumangot dan selanjutnya jadi Sahala.

"Makanya orang Batak dahulu sangat menghormati orangtuanya bahkan sampai lama sesudah meninggal. Tidak jarang diberikan makanan, dibangunkan rumahnya dan lain-lain layaknya manusia hidup," sebut Irfan.

Kemudian, Irfan mendefinisikan kata ganjang. Dia menyebut kata ganjang berarti panjang. Jadi, begu ganjang itu perawakannya tinggi besar, hitam dan wujudnya pun tak kelihatan. Jika lebih luas lagi, itu termasuk dalam ilmu gaib atau magic. Irfan juga menyebutkan begu ganjang, sejenis begu yang asal usulnya belum jelas didapatkan. Namun melihat dari fenomena kepercayaan sebagian masyarakat, begu ganjang ini merupakan sejenis makhluk gaib yang bisa dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia tertentu sebagaimana kepercayaan terhadap tuyul dalam masyarakat Jawa.

Dalam kajian antropologi religi, ada namanya black magic dan white magic. Black magic adalah kemampuan manusia mengendalikan kekuatan-kekuatan makhluk gaib (supra natural).Begu ganjang masuk kategori black magic. Sedangkan white magic manusia bersandar pada kekuatan gaib (supranatural) pada awalnya ada dalam pemikiran (kepercayaan) individu dari anggota masyarakat.

Kemudian kepercayaan tersebut disebarkan pada masyarakat lainnya dengan berbagai maksud atau tujuan, sehingga ada kalanya kepercayaan yang demikian menjadi kepercayaan kolektif. Begu ganjang sudah menjadi kepercayaan kolektif dari masyarakatnya, bisa menimbulkan masalah besar dalam kehidupan sosial masyarakat setempat maupun lingkungannya.

"Tidak jarang terjadi pengusiran bahkan sampai pada pembunuhan pada orang- orang yang dicurigai atau dituduhkan sebagai pemilik begu ganjang tersebut. Hal ini bisa berdampak sangat lama sampai pada keturunannya beberapa generasi," sebut Irfan.

Irfan yang merupakan alumni S3 dari Antropologi UI ini mengatakan bahwa ada teori batas akal dari JG Frazer di mana manusia pada mulanya akan menjawab masalah hidupnya dengan menggunakan akalnya. Ketika akalnya sudah tidak mampu memahami sampai pada batas akalnya, manusia akan mencari jawaban melalui supranatural. Supranatural itu liar karena non material. Tidak bisa dilihat, dan hanya dalam bayangan.

"Bayangan bisa muncul bermacam-macam. Kalau dalam bayangan tentang yang baik maka muncullah wujud-wujud yang baik seperti tentang Tuhan, tentang malaikat. Kalau dia pemikirannya negatif, maka muncullah wujud-wujud negatif misalnya setan, iblis, hantu, dalam budaya batak begu. Maka begu itu selalu muncul dalam bentuk yang negatif," ucap Irfan.

Irfan menyebut kepercayaan demikian sebenarnya milik individu. Akan tetapi adakalanya dimanfaatkan oleh individu menjadi sesuatu yang diterima menjadi pemikiran kolektif. "Nah yang berbahayanya, menantangnya di sini sebenarnya ketika kepercayaan, keyakinan individu ini disebarkan ke masyarakat sehingga menjadi kepercayaan kolektif. Ini yang berbahaya, misalnya begu ganjang. Kalau ditanya lagi apa itu begu ganjang akan bermacam-macam definisi orang. Karena dia nggak pernah melihat. Hanya ada di dalam bayangan atau cerita dari cerita tapi jelas begu konotasinya negatif," sebut Irfan.

Irfan melihat dalam kepercayaan sebagian masyarakat, begu ganjang ini bisa dipelihara. Dia sama dalam budaya lain, bisa memelihara jin dan tuyul. "Nah biasanya orang yang dipercaya memiliki ini dia harus ada, selalu muncul ada perilaku- perilaku yang berbeda dari orang kebiasaan attau ada situasi yang berbeda," ujar Irfan.
Irfan menyebut isu-isu yang menyebar di masyarakat menjadi kepercayaan kolektif ini yang berbahaya. Dari kepercayaan, keyakinan individu berubah menjadi kepercayaan kolektif dan ini didukung biasa dari fakta-fakta yang sebenarnya adakalanya fakta ini rasional cuma karena batasan kemampuan berpikir masyarakatnya, maka langsung kepada hal yang gaib.

Irfan lalu mencontohkan, ada satu kasus di suatu desa di Sumut. Desa ini sebenarnya karena sumber dayanya boleh dikatakan mencukupi, bagus. Cuma karena ada isu-isu seperti ini sehingga terjadi kecurigaan dan masyarakatnya jadi tidak nyaman. Ada yang dicurigai misalnya pemilik begu ganjang. Hal ini disebarkan oleh orang-orang tidak senang terhadap dia, sampai dia akhirnya terjadi pengusiran atau bahkan pembunuhan dan akhirnya masuk ke ranah hukum.

"Ranah hukum kan nggak melihat ini, lihatnya hukum positif yang bisa dihadirkan pembunuhannya. Maka dipenjara, nah orang yang diisukan yang membunuh ini menjadi dicap image negatif dari segi manapun. Yang membunuh dari segi hukum dia sudah negatif. Yang dicap ini sebagai pemilik begu ganjang sampai ke keluarganya dicap negatif. Nah ini yang menurut saya harus di netralisir," sebut Irfan.

Sejauh ini, Irfan belum dapat menyimpulkan mulanya begu ganjang berkembang. Namun, fenomena ini mencuat ketika muncul suatu permasalahan di masyarakat. "Saya Belum dapat itu ceritanya sejak kapan itu berkembang. Tapi fenomena yang saya lihat, hal-hal yang seperti ini akan muncul ketika terjadi suatu masalah. Misalnya muncul serangan wabah penyakit pada masyarakat tertentu. Akan muncul isu-isu seperti itu," ujar Irfan.

Senin, 08 Juni 2026

RATEB BEJALAN

 

RATEB BEJALAN

 


Tamiang masih memegang teguh adat istiadat yang ada, salah satunya adalah tradisi yang biasa dilakukan di penghujung bulan Safar atau yang dikenal dengan “Rabu Habih” yang berarti Hari Rabu terakhir di bulan Safar yang dilaksanakan oleh masyarakat Tamiang dengan tujuan untuk menghindari kejadian buruk, sial, nasib tidak baik yang dianggap sebagai bencana. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Rateb Berjalan. Menurut cerita datu nini (kakek nenek) di Tamiang, pada zaman dahulu nenek moyangnya masyarakat Tamiang pernah mengalami serangan wabah penyakit dan gagal panen di satu waktu, keadaan ini sangat berdampak buruh terhadap seluruh masyarakat, sehingga masyarakat pada saat itu berembuk untuk melaksanakan zikir sambil berjalan mengelilingi desa dengan membaca kalimat tauhid yang dianggap salah satu opsi terbaik sebagai usaha membersihkan kampung dari segala bencana dan marabahaya. Upaya ini dilakukan pada bulan safar yaitu bulan kedua dalam kalender hijriyah. Hal ini dikarenakan bulan safar dipercayai masyarakat setempat sebagai bulan yang “panas” sehingga rentan mengalami kejadian buruk atau dekat dengan kesialan. Sejak saat itu, Tradisi Rateb Berjalan dilakukan secara rutin untuk menghindarkan kampung dari berbagai penyakit, marabahaya atau hal-hal yang tidak dikehendaki melalui zikir dan doa untuk memohon kepada Sang Maha Kuasa atas segala makhluk-Nya. Ritual Rateb Berjalan terdiri atas beberapa tahapan. Tahapan tersebut dimulai dengan musyawarah yang diperuntukkan sebagai awal proses persiapan. Setelah mengadakan musyawarah maka kepala adat, pawang laut, serta panitia dan perangkat desa menyepakati dan menetapkan titik pusat lokasi penyelenggaraan ritual serta tempat pelaksanaan kendurinya. Sementara rute perjalanan dalam ritual ini harus mencapai batas kampung. Hal ini dimaksudkan untuk mengusir pengaruh jahat dari kampung. Ritual ini dilakukan selama 3 malam berturut-turut. Rateb Berjalan adalah ritual yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan cara membacakan zikir, tahmid dan kalimat-kalimat tauhid sambil berjalan pada malam hari setelah shalat isya secara bersama-sama di sepanjang jalan kampung. Rateb Berjalan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, perempuan tidak terlibat secara langsung dalam ritual ini. Saat pelaksanaan Rateb Berjalan, kampung harus dalam keadaan gelap dan senyap. Seluruh masyarakat diimbau untuk tidak menyalakan penerang apapun kecuali dalam bentuk obor. Suasana juga dikondisikan tenang hingga pelaksanaan ritual usai. Kaum perempuan biasanya secara mandiri bertugas sebagai penyedia konsumsi. Para ibu biasanya membuat panganan yang diletakkan di area depan rumah yang dilewati para peserta Rateb berjalan dan mudah dijangkau dengan cepat. Ada yang menggantungnya di pagar, ada pula yang sengaja menempatkan meja kecil di depan, dan sebagainya. Karena kendati disebut Rateb Berjalan, Gerakan berjalan dimaksud pada praktiknya ritmenya cukup cepat seperti berlari-lari kecil. Makna simbol yang tidak terekspresikan oleh kata-kata dapat diamati melalui perlengkapan ritual seperti bendera, cambuk, obor. Bendera atau dalam hal ini disebut panji-panji dibuat dari kain putih berlafadzhkan Laillahaillallah yang ditulis dengan menggunakan spidol oleh imam kampung. Cambuk dibuat dari lidi yang dililitkan menyerong dengan rumput tetemi, jenis rumput yang banyak tumbuh di Tamiang. Sedangkan obor adalah alat penerang sederhana yang dipakai untuk mengantarkan kelompuk orang menuju ke tempat tujuan yang bersih dan bebas dari penyakit dan marabahaya. Para peserta Rateb Berjalan adalah para sukarelawan, para warga laki-laki berbagai usia yang sehat fisik dan mentalnya untuk menjalani ritual dimaksud. Mereka diharuskan dalam keadaan bersih. Ritual dimulai usai shalat Isya berjamaah dimasjid lalu bergerak ke titik kumpul. Rateb dipimpin oleh seorang syeh yang berpakaian serba putih yang berarti simbol kesucian dan khalifah yang siap memimpin prajuritnya menghalau roh-roh jahat dari daerah yang dilindunginya. Perjalanan yang dianggap sebagai simbol jihad itu dilakukan dari ujung batas masuk kampung hingga ke ujung batas keluar kampung. Aktivitas ini merupakan simbol menyiram, menyapu dan bersih-bersih kampung yang media pembersihnya adalah doa, zikir, tahmid dan kalimat-kalimat tauhid yang dipercaya ditakuti oleh roh-roh dan makhluk-makhluk jahat, sehingga tatkala suara- suara itu terdengar semakin khidmat maka kejahatan itu pun akan kabur dari kampung tersebut. Setelah ritual usai para peserta berkumpul di titik kenduri yang telah disepakati untuk beristirahat bersama sembari mencicipi makanan yang telah diambil dari rumah-rumah warga yang dilewati di sepanjang rute perjalanan Rateb tadi. Setelah semua usai para peserta Rateb diingatkan kembali untuk pelaksanaan malam ke-2 dan ke-3 agar ritual terlaksana tuntas. Bila Rateb Berjalan dilaksanakan oleh beberapa kampung sekaligus maka setiap warga masing-masing kampung menunggu di gerbang batas masuk kampung. Rateb Berjalan berlangsung secara estafet di masing-masing kampung. Diawali oleh Kampung terjauh dari laut dan diakhiri oleh kampung terdekat dengan laut. Pengusiran roh jahat ini diarahkan untuk dibuang ke laut. Oleh sebab itu, akhir dari ritual ini disambut dengan upacara kenduri laut yang dipimpin oleh pawang laut. Kenduri Laut inilah yang menjadi penanda tuntasnya ritual Rateb Berjalan.

DENDANG LEBAH

 

DENDANG LEBAH

 


Dalam masyarakat Melayu Tamiang, mantra atau dikenal juga sebagai denden (berdenden/berdendang) adalah jenis pengucapan yang terdengar seperti puisi yang mengandung unsur sihir dan ditujukan untuk mempengaruhi atau mengontrol sesuatu hal untuk memenuhi keinginan penuturnya. Mantra merupakan pilihan kata-kata yang dibaca untuk melalukan sesuatu secara kebatinan. Dendang lebah adalah salah satu mantra yang terdapat dalam kebudayaan Melayu, khususnya etnis Melayu yang berada di Tamiang. Dendang lebah ini digunakan untuk mengambil madu lebah di pohon kayu Tualang. Ada 2 (dua) dendang yang terdapat dalam prosesi pengambilan madu pada masyarakat Melayu Tamiang, yaitu mantra untuk pohon kayu tualang dan mantra untuk mengambil madu. Keberadaan hutan alam bagi masyarakat Melayu Tamiang sangat penting. Sebagian dari mereka menggantungkan hidup dari hasil mengambil madu dari atas pohon Tualang. Pohon Tualang yaitu pohon yang tinggi besar dan tempat yang disenangi lebah hutan untuk bersarang dibandingkan dengan pohon-pohon yang lain. Di Tamiang pengambilan madu lebah dapat dilakukan setahun sekali, yaitu pada bulan april. Pengambilan madu dilakukan pada malam hari di saat bulan gelap. Prosesnya pun dilakukan menggunakan peralatan tradisional. Dengan syarat tidak boleh ada api dan tampak bayangan, mereka meyakini jika tampak bayangan maka pemanjat bisa jatuh. Peralatan yang dibutuhkan antara lain: 1. Timba/ ember berfungsi untuk menampung dan menurunkan madu. 2. Patin secukupnya (bambu yang telah diruncingkan ujungnya sebesar jari telunjuk panjangnya ± 10 cm di tancapkan di pohon tualang menyerupai anak tangga) berfungsi untuk tempat memijak kaki. 3. Tunam (batang sirih hutan yang diikat dan dibakar untuk mendapatkan bara api) berfungsi untuk mengusir lebah 4. Lampu kecil atau teplok berfungsi untuk penerangan di bawah. 5. Tali panjang berfungsi untuk mengikat timba yang berisi madu Proses mengambil madu lebah ini dipimpin oleh Pawang Tuhe (pawang tua/ kepala pawang) dan dibantu oleh juru panjat lainnya disebut juga pawang mude. Proses pengambilan madu lebah sebagai berikut: Denden lebah ini digunakan untuk mengambil madu lebah di pohon kayu Tualang. Ada 2 (dua) dendang yang terdapat dalam prosesi pengambilan madu pada masyarakat Melayu Tamiang, yaitu mantra untuk pohon kayu tualang dan mantra untuk mengambil madu. Keberadaan hutan alam bagi masyarakat Melayu Tamiang sangat penting.

 

 

Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat Memanen Madu

Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude

Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude

Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat Memanen Madu

Setiap penjuru daerah di Indonesia memiliki beragam tradisi yang unik dan sarat makna.

Di Aceh Tamiang, masyarakat sekitar telah mempertahankan tradisi memanen madu yang bernama Dendang Lebah. Tradisi ini dilakukan dengan mengucapkan mantra berisi rayuan dan bujukan atau perintah halus untuk "Penjaga Alam" saat memanen madu.

Melansir dari tulisan Nurmila Khaira berjudul "Dendang Lebah Dalam Tradisi Mengambil Madu di Tamiang", untuk memanen madu ini tidak bisa dilakukan sembarang orang.

Dibacakan Mantra

Sebelum dipanen, seorang Pawang Tuhe membacakan sebuah mantra yang menjadi simbol penghormatan manusia terhadap makhluk hidup. Setiap unsur alam yang diambil maka sebaiknya dilakukan dengan kerendahan hati tanpa sikap berlebihan.

Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude. Karena dianggap tabu, proses memanennya pun tanpa alat penerangan satupun.

Kemudian, proses pemantraan lainnya dilakukan saat Pawang Tuhe menancapkan Patin yang berfungsi sebagai alat pijak untuk Pawang Mude memanjat. Biasanya Patin ini akan ditancapkan sampai tinggi badan Pawang Tuhe lalu dilanjutkan oleh Pawang Mude.

Setelah mencapai ketinggian yang diinginkan, barulah Pawang Mude membacakan mantra kembali untuk proses pengambilan madu.

Cerita Rakyat

Dalam tradisi Dendang Lebah ini berkembang sebuah cerita rakyat yang sudah diwariskan turun-temurun. Setiap Dendang Lebah berisi sebuah rayuan kepada alam untuk mengambil madu. Dan jika menaiki Pohon Tualang untuk mengambil madu tidak boleh membawa besi dalam bentuk apapun.

Meski panen madu hanya dilakukan setahun sekali, tetapi masyarakat Tamiang percaya jika pengambilan madu tidak bisa dilakukan sembarang orang.

Ada sebuah legenda tentang Dendang Lebah, konon ada kisah asmara antara sang raja dengan seorang dayang. Pada suatu hari putri dan putra mahkota sedang berjalan di taman, lalu bertemu dengan lebah yang mengikuti mereka. Sontak, sang putri menginginkan madu.

Putra mahkota pun berusaha untuk mengambil madu dari atas Pohon Tualang. Namun, ketika di atas pohon, ia bertemu seekor madu berwujud dayang, lalu ia merayu lebah tersebut agar diizinkan untuk mengambil madu.

Ada juga versi lain dari cerita ini bahwa penunggu pohon itu adalah sosok tak kasat mata yang marah kepada putra mahkota karena memanjat pohon tualang dengan membawa senjata tajam yang terbuat dari besi.

 

UPACARA ADAT JAMBI

 

UPACARA ADAT JAMBI



Beberapa jenis dan bentuk upacara tradisional biasanya dilakukan pada saat-saat tertentu, misalnya pada waktu manusia memasuki suatu tingkatan atau tahapan di dalam daur (lingkaran) hidup, pada saat manusia akan memulai suatu kegiatan yang berkenaan dengan aktivitas hidup sehari-hari dan sebagainya. Waktu-waktu serupa itu dirasakan sebagai saat-saat yang "genting" atau berbahaya karena dianggap dapat menimbulkan malapetaka, membawa kesengsaraan dan penyakit kepada manusia.

Oleh sebab itu, meskipun hampir seluruh masyarakat Jambi telah memeluk agama Islam, namun pada saat ini banyak diantara mereka masih melakukan upacara-upacara tersebut yang dianggap sebagai sisa warisan kepercayaan nenek moyang. Beberapa upacara adat yang ada di Jambi adalah:

Upacara Lingkaran Hidup Manusia:
 Upacara-upacara ini dilakukan sejak seseorang dilahirkan sampai meninggal, dengan artian untuk memperingati saat-saat seseorang individu memasuki suatu tingkatan sepanjang hidupnya. Penyelenggaran upacara ini terutama pada masa kehamilan, kelahiran, dewasa, perkawinan, dan kematian.

Upacara Kelahiran: Saat umur kandungan seorang wanita menginjak 7 bulan, keluarganya secara resmi memberitahukan hal ini paling tidak pada 2 orang dukun yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Upacara pemberitahuan ini disebut dengan istilah Menuak/Nuak, yang maksudnya agar dukun siap memberi pertolongan jika tiba saatnya melahirkan. Dalam upacara ini masing-masing dukun diberi hantaran berupa nasi kunyit beserta laukpauknya.

Ketika wanita hamilan tersebut menghadapi saat kelahiran, para dukun yang sudah dipesan segera datang memberi pertolongan. Dukun wanita bertugas menyambut kelahiran anak, sedangkan dukun laki-laki yang berada di balik pembatas ruangan tempat melahirkan membacakan mantra agar anak dapat lahir dengan lancar dan lengkap serta ibunya dalam keadaan selamat. Untuk menghindari pengaruh jahat saat melahirkan, disediakan benda-benda yang dianggap mengandung unsur-unsur magis seperti buah kundur, jimat yang terbuat dari untaian jeringo bangle, pisau kecil dan lain-lain.

Saat bayi berumur 7 hari, diadakan upacara mandi ke sungai (mandi kayik) dipimpin oleh dukun yang menolong melahirkan. Dalam upacara tersebut sekaligus diadakan prosesi pemberian nama kepada anak. Kemudian setelah bayi berumur 40 hari dilakukan upacara memoton rambut untuk pertama kalinya yang dilakukan oleh para alim ulama dan Tua-tua tengganai. Selain itu diadakan pula upacara Basuh Tangan, acara tersebut diselenggarakan bersamaan saat sang ibu telah dalam keadaan bersih dan pulih kesehatannya pasca melahirkan. Tujuan dari upacara tersebut adalah sebagai permohonanan supaya sang anak dikaruniai sifat rajin, kuat, gemar bekerja, suka menolong, jujur, patuh, dan sifat-sifat baik lainnya.

Masa Dewasa:
 Setelah anak mencapai umur 6-10 tahun, khusus bagi anak laki-laki diadakan upacara khitanan (sunat), sedangkan bagi anak perempuan dilkukan upacara Batindik (melubangi telinga). Upacara pendewasaan tersebut biasanya dilakukan bersamaan dengan tradisi Khatam Quran sebagai bekal hidup dalam masa dewasa.

Upacara Perkawinan: Rangkaian upacara ini diawali dengan adat pergaulan anatara pemuda dan perempuan yang dikenal dengan itilah Berserambahan. Dalam acara ini mereka memperlihatkan keahlian berpantun yang disebut Seloka Muda, Setelah keduanya sepakat untuk menikah, maka berlaku tahap berikutnya:



  1. Berusik sirih bergurau pinang: Merupakan tahap menjajaki perasaan masing-masing pihak untuk mengetahui apakah hubungan dapat dilanjutkan dengan perkawinan.
  2. Duduk bertuik, tegak bertanyo: merupakan tahap untuk mengetahui keadaan gadis yang menyangkut silslah, budi pekerti, sopan santun pergaulan, serta kemungkinan persetujuan orangtuanya.
  3. Ikat buatan janji semayo: adalah musyawarah resmi keluarga kedua belah pihak untuk membicrakan waktu pertunangan dan perkawinan.
  4. Ulur antarserah terimo pusako: yaitu pihak laki-laki menepati janji dengan mengantarkan barang-barang ke rumah si gadis sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
  5. Sebagai inti dari suatu upacara pernikahan terjadi pada saat Sedekah Labuh, yang mana pada aat itu perkawinan diresmikan dengan akad nikah dan akad Kabul di hadapan seorang pemuka agama.


Upacara Kematian: Saat menghadapi masa kritis, manusia perlu melakukan suatu perbuatan untuk memperteguh iman dan menguatkan dirinya. Dalam hal ini, menurut kepercayaan setempat perlu diadakan upacara pengucapan mantra-mantra secara bersama-sama yang dipimpin oleh seorang dukun. Atau menurut agama Islam diwujudkan dalam bentuk pembacaan Bardah dan Surat Yasin oleh seorang pemuka agama. Begitu orang yang bersangkutan wafat, kembali dibacakan ayat-ayat suci oleh salah seorang keluarganya.

Keluarga yang terkena musibah wajib memberitahukan berita dukacita itu kepada kepala kaum kerabatnya (tua tengganai) dan Imam Masjid. Setelah itu jenazah dimandikan, dibalut kain kafan, dan disholatkan. Setelah itu jenazah bisa disemayamkan dan dipasang batu nian serta ditutup dengan pembacaan doa. Pada malam harinya diselenggarakan pengajian dan tahlil selama 3-7 malam oleh kerabat dan tetangga dekat orang yang meninggal. Pada hari ke-7 setelah kematian diadakan upacara Naik Tanah yaitu memperbaiki tanah perkuburan. Rangkaian upacara tersebut diakhiri dengan makan bersama (sedekah selamatan) untuk memperingati orang yang meninggal.

Disamping upacaraupacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup manusia, masyarakat Jambi juga mengenal beberapa upacara tradisional lainnya. Jenis upacara ini diselenggarakan berkenaan dengan aktivitas hidup mereka sehari-hari antara lain:

  • Mintak ahi ujan: adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam rangka untuk meminta hujan segera turun. Upacara ini mengandung unsur sinkretis antara kepercayaan nenek moyang dan agama Islam yang mana upacara ini ditujukan kepada dewa (mambang) yang mengatur hujan. Sedangkan dari segi agama ditandai dengan sembahyang secara agama Islam untuk meminta hujan.
  • Nugal Bejolo: yaitu upacara sehubungan dengan pekerjaan menanam padi, yang sangat penting artinya sebagai pengukuhan nilai-nilai budaya yang berlaku turun-temurun. Upacara ini juga menonjolkan aspek social lainnya, yakni memberi kesempatan bagi muda-mudi untuk bergaul lebih akrab.
  • Kumau: juga merupakan suatu upacara yang berkaitan dengan bidang pertanian. Upacara ini diselenggarakan saat penduduk hendak memulai kegiatan bersawah dan biasanya diselenggarakan setahun sekali pada musim hujan. Adapun tahap-tahap dalam upacara ini adalah: Ngapak Jambe (membuka lahan), nyiram, beneih padei, (menyiram benih padi yang akan ditanam dengan air bermantra), ngambau beneih (menabur benih padi di sawah) dan mamasang pupuh (memasang daun-daunan di tengah lading persemaian).
  • Ngayun luci: merupakan upacara yang juga berkaitan dengan pertanian. Tujuannya adalah untuk memohon keberhasilan panen.


Disamping itu masih ada beberapa upacara lainnya yang terutama berkenaan dengan aktivitas pertanian sebagai mata pencaharian pokok penduduk seperti: Nanak, ulu tahun, Beselang nuai dan turun ke sawah.

 

TATA PEMERINTAHAN

 

TATA PEMERINTAHAN:  KESULTANAN MELAYU JAMBI

 


1.    Lembaga tertinggi di zaman Kesultanan Jambi dinamakan:  RAPAT XII yang terdiri dari dua badan disebut Dewan Patih Dalam dan Dewan Patih Luar. Setiap bagian beranggorakan 6 (enam) orang Pangeran untuk Dewan Patih Luar dan Dewan Patih Dalam, jadi jumlahnya diistilahkan XII (dua belas). Kerapatan/ Dewan Patih Dalam dipimpin oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota), dan Kerapatan / Dewan Patih Luar dipimpin oleh Pangeran Tertua.

Di zaman dulu (masa kerajaan atau sebelum kesultanan) anggotanya selalu dipilih dari Suku Keraton dan Suku Perban di mana mereka adalah orang bangsawan dari keluarga raja / sultan. Kemudian sultan mengadakan perobahan yaitu mengambil juga oran gdari suku bangsawan rendah (Kedipan dan Kemas) dan malah dari orang biasa atau “orang kecil”.

Paripurna Kerapatan XII ini memiliki fungsi / keuasaan disebut:

a.       Kerapatan atas undangan Kepala Suku Keraton, akan membahas bidan Pemerintahan Kerajaan seperti Sidang Kabinet Terbatas sekarang. Maka anggota kedua Dewan waktu itu merupakan Menteri Kerajaan / Kesultanan

b.      Kerapatan sebagai Mahkamah Tertinggi untuk menyidangkan atau akan memutuskan suatu Hukum, dibuka oleh Pangeran Ratu.

c.       Tetapi Rapat XII ini tidak kuasa atau tidak berhak mengadili perkara-perkaran orang “Bangsa XII”, kecuali Raja Sultan langsung. Demikian menurut catatan Helfrich Residen Pertama Daerah Jambi

2.    Sultan kebiasaannya tidak banyak campur tangan dalam urusan pemerintahan, di mana ini dikendalikan oleh Pangeran Ratu yang didampingi Pangeran dari Bangsawan Perban dan Bangsawan Kadipan beserta Menteri. Bangsawan Kadipan adalah urusan Hankam, yang mana mereka ini dari keturunan Panglima atau Hulubalang Jawa (Tumenggung Kabur Dibukit).

Menteri adalah anggota-anggota rapat XII, atau Dewan Patih Dalam dan Patih Luar. Kesatuan lembaga ini disebut Dewan Kerajaan. Kesatuan Lembaga ini disebut Dewan Kerajaan dan ada yang menyebutnya dengan istilah “SIBO”, yang artinya sama dengan kabinet. Anggotanya juga merangkap sebagai anggota Pengadilan Tertinggi atau Mahkamah dalam mengadili perkara rakyat, baik bidang pelanggaran maupun kesehatan, yang sebelumnya dudu dipegang oleh “Peembahan” (jabatan sewaktu masih bentuk negara kerajaan).  

3.    Wewenang rutin Patih Dalam adalah mengenai urusan pemerintahan, pembangunan, pertahanan dan keamanan, ekonomi dan sosbud dalam federasi “Orang Kerajaan” atau yang disebut dengan “Bangsa XII”. Sedangkan wewenang Patih Luar menjalankan pemerintahan terhadap negeri-negeri, kampung-kamping dan rantau sepanjang sungai Batanghari. Kedua jabatan ini mempunyai tanggungjawab menyampaikan keputusan dari Rapat XII kepada Pangeran Ratu dan memberi dan ada yan gdua tahun sekali denganperintah kepada majelis (Patih Luar dan Patih Dalam).

Kepala-kepala Adat di dalam federasi Kesultanan Jambi ini, desa dan kampung dan sebagianya, memakai gelar berlainan seperti: Depati, Rio, Rio Depati, Rio Pamuncak, Temenggung, Kedemang, Lurah, Penghulu, Ngebi dan Mangku. Mereka ini menduduki/ menjalankan urusan langsung berbungan dengan rakyat. Sebuah gelar dari anggota tertua dari suku Keraton, menurut hukum disebut “SESUHUNAN” sebagai Kepala Adat terpenting, yang sama pada memerintahan kita sekarang sebagai Dewan Pertimbangan Agung. Sesuhunan memberi advis (pertimbangan) tentang pengangkatan para menteri, penggunaan kiasaan lama dan pemakaian (Undang-undang Negeri Jambi). Juga mempunyai hak untuk menegur memberi nasehat dan mencegah Sultan dalam melaksanakan tugasnya, apabila dilihatnya Sultan tidak lagi berdiri di atas garis hukum dan ia dapat menyanggah atau menolak suatu peraturan atau tindakan yang tidak sesuai dengan “Adat Bersendi Syarak – Syarak Bersendi Kitabullah”.

4.    Jenang adalah orang dari keluarga dalam keraton yang ditunjuk oleh Sultan sebagai Koordinator pemerintahan pada suatu Rantau tertentu dengan tugas ekonomi dan pengawasan adat. Melakukan “Serah Turun Jajah Naik”, yaitu memberi rakyat alat-alat tani, pakaian kerja, seperti parang, pisau, tajak, beliung, sulang, dasar kain belacu, kain biru dan juga kebutuhan hidup lainnya seperti garam. Indi dinamakan “Serah Turun”. Beberapa persentase dari hasil pekerjaan (penerima “Serah”) dibaktikankepada raja / sultan seperti padi, hasil hutan berupa damar, gerah balam, sundikan, dan lain-lain dalam setahun dengan perantaraan Jenang. Itu dinamakan “jajah”. Jajah berarti dalam dalam bahasa Jambi lama adalah “Pajak”.

Jajah untuk dana kerajaan yang menjadi beban rakyat ada dua macam. Pertama yang digariskan oleh adat dengan sbeutan “Serah Turun, Jajah Naik” dan yang kedua “Ke laut Berbungo Pasir, Ke daran Berbungo Kayu” dengan kata lain disebut “Pancung Alas”. Pancung berarti sesuatu yang dipotong seperti menebang kayu, memarang rotan, menakuk getah, mencungkil damar, dan lainnya. Sedangkan Alas berarti dasar (bodem), yaitu mengeruk pasir, menciduk batu, mengerai emas, mengmpang sungai, berkarang di danau, mengacau lebak lebung. Ringkasnya adalah jajah atau pajak hasil bumi dan air yang tidak bermusim. Pemasukan jajah ini setiap bulan disetor ekpada Jenang dalam resor (wilayah) dan kesuasaan masing-masing

5.    Wilayah atau negeri yang terletak di perbatasan dengan daerah tetangga, disebut “berajo” yang dikenakan wajib tugas dalam menjaga keutuhan daerah kerajaan dari perampasan atau infiltrasi asing. Kepada mereka ini tidak dikenakan jajah seperti juga ornag-orang Bangsa XII,yiatu:

a.       Orang Tungkal sebagai penjaga batas dengan Riau daratan dan dari laut

b.      Orang Batang Asai penjaga batas dengan Bengkulu atau Ulu Palembang

c.       Kerinci penjaga batas dengan daerah Minangkabau.

d.      Orang Kubu yang berdiam di bagian timur sungai Tembesi, dibentuk terdiri dari tiga kelompok dengan Pasirahnya masing-masing  sat8batas dengan Palembang.

Keterangan Lain:

Setiap warga dusun mempunyai hak untuk se bidang umo (ladang) luas 50 x 100 depa = lebih kurang 75 x 150 meter per keluarga, ini mempunyai “Hak Pakai”, di mana harta beratnya (tanaman keras) nanti tidak dibenarkan atau tidak dapat diperjualbelikan.

Pengakuan kepada seseorang untuk diterima sebagai warga dusun Batin itu, adalah sangat mudah syaratnya, yaitu apabila telah satu tahun berdiam ditempat itu dan patuh dengan adat-adat dusun atau batin di tempat dia berada. ...*

 

TASAUF

 

TASAUF

 


1. Kenapa ilmu tauhid dan tasawuf mau dihilangkan di zaman kolonial Belanda?

Kolonial Belanda khawatir Islam jadi sumber perlawanan.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda digerakkan oleh ulama dan santri. Misalnya, Perang Padri (Sumatra Barat), Perang Diponegoro (Jawa), hingga perlawanan di Aceh. Semua itu didasari semangat keagamaan, terutama dari ilmu tauhid (keyakinan akan keesaan Allah dan penolakan terhadap penjajahan) serta tasawuf (yang membangkitkan semangat jihad melalui tarekat-tarekat sufi).

Tauhid dianggap ideologi perlawanan.

Tauhid yang menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak ditaati, membuat umat Islam menolak tunduk pada kekuasaan kolonial. Itu berbahaya bagi Belanda.

Tasawuf jadi pengikat massa.

Tarekat-tarekat sufi waktu itu tidak hanya mengajarkan spiritualitas, tapi juga jadi jaringan sosial-politik. Dari sinilah muncul mobilisasi massa untuk melawan penjajah. Karena itu, Belanda berusaha melemahkan pengajaran tasawuf dan mempromosikan Islam yang “jinak” dan tidak politis.

2. Kenapa orang yang berangkat haji harus memakai gelar "Haji"?

Kebijakan administratif Belanda.

Belanda mewajibkan pencatatan dan pengawasan terhadap orang yang pulang haji. Mereka dianggap “potensial berbahaya” karena setelah menunaikan haji biasanya pulang dengan kesadaran politik, pengetahuan baru, dan semangat anti-penjajahan.

Haji = elite sosial baru.

Di masyarakat, gelar Haji otomatis memberi wibawa. Orang yang pulang haji biasanya dihormati, dijadikan pemimpin, dan didengar suaranya. Belanda ingin mengawasi dan mengontrol status itu, makanya setiap jamaah haji “diberi tanda resmi” dengan gelar Haji agar mudah dikenali.

Strategi kolonial: memisahkan yang “agama murni” dari yang “politik”.

Dengan memberi gelar Haji, Belanda seakan memberi pengakuan sosial—tapi sekaligus bisa mengidentifikasi siapa saja tokoh masyarakat yang bisa berpotensi melawan mereka.

Jadi, intinya:

Ilmu tauhid & tasawuf ditekan karena melahirkan keberanian dan semangat melawan penjajahan.

Gelar Haji diwajibkan supaya Belanda mudah mengawasi dan sekaligus memberi “stempel sosial” yang bisa dipakai untuk mengendalikan umat.

Pembuat

Kamila Hanafi

 

 

 

SESAJEN

Pernah ndak panjenengan ngeliat orang Jawa bikin acara Slametan, terus di situ ada tumpeng, kembang setaman, bubur merah putih (jenang abang putih), dan pastinya... bakar kemenyan atau dupa?

Bagi sebagian orang zaman now, atau yang belum paham, pasti langsung gampang nge-judge: "Wah, syirik nih! Musyrik! Ngasih makan setan! Manggil dedemit!"

Paijo dulu juga sempet mikir gitu, Lur. Kok kayaknya mistis banget, horor gitu lho. Tapi setelah dipikir-pikir sambil ngopi, masa iya sih leluhur Nusantara yang terkenal cerdas dan punya peradaban tinggi itu kerjaannya cuma ngasih makan hantu?

Ternyata oh ternyata, asline ndak gitu, Lur!

Leluhur kita itu punya kecerdasan tingkat tinggi. Mereka sadar kalau wejangan berupa "kata-kata" itu gampang dilupakan atau diselewengkan. Makanya, ajaran agama dan spiritualitas itu dibungkus pakai bahasa simbol alias sandi kosmis.

Jadi, sesajen atau ubarampe itu BUKAN MAKANAN BUAT SETAN, melainkan PROPOSAL DOA yang diwujudkan dalam bentuk kode sandi dalam suatu benda. Mari kita bedah sandi rahasianya:

Tumpeng

Kenapa bentuknya kerucut ke atas? Ini bukan pamer porsi nasi, Lur. Kerucut ke atas itu simbol Ketauhidan (Manunggaling Kawula Gusti). Mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di alam semesta ini, dari bawah yang lebar dan beragam, semuanya akan mengerucut kembali pada SATU titik, yaitu Gusti (Tuhan Yang Maha Esa).

Jenang Abang Putih (Bubur Merah Putih) Warna merah melambangkan ovum (sel telur) ibu, dan putih melambangkan sperma bapak. Ini adalah pengingat asal-usul kita (Sangkan Paraning Dumadi). Sebelum kita sombong menatap langit, kita disuruh ingat jalan lahir kita lewat perantara bapak dan ibu.

Bakar Kemenyan / Dupa

Nah, ini yang paling sering dituduh buat manggil kuntilanak! Padahal, zaman dulu belum ada diffuser aromaterapi yang dicolok listrik, Lur. Kemenyan itu aromaterapi alami! Baunya yang wangi bikin hati dan pikiran jadi tenang, hening, dan khusyuk saat berdoa. Asapnya yang membubung lurus ke atas adalah simbol dari doa dan harapan kita yang naik menuju Sang Pencipta.

Kembang Setaman

Bunga yang wangi itu harapan. Doa agar keluarga yang mengadakan slametan selalu wangi namanya, baik budi pekertinya, dan damai (slamet) hidupnya.

Luar biasa, tho?

Orang Jawa itu setiap bikin apa-apa tujuannya satu: mencari SLAMET (keselamatan, kedamaian, harmoni). Mereka ndak mau merusak keseimbangan alam raya (Memayu Hayuning Bawana).

Sayangnya, ilmu "sandi rahasia" sedalam dan seindah ini pelan-pelan mulai hilang. Banyak dari kita yang nyiapin tumpeng atau kembang, tapi sekadar ikut-ikutan repot di dapur tanpa tahu makna sakral di baliknya. Akhirnya ya gampang dituduh yang enggak-enggak.

Nah, semua rahasia yang bikin Paijo merinding takjub ini, kebetulan baru aja Paijo baca sampai tamat dari sebuah buku luar biasa, judulnya "Faham Keselamatan dalam Budaya Jawa" karyanya Pak Ign. Gatut Saksono & Djoko Dwiyanto.

Buku ini sukses besar "menelanjangi" semua mitos dan tradisi warisan leluhur kita. Secara garis besar, kalau panjenengan baca buku ini, panjenengan bakal diajak ngudhar:

Filosofi Sangkan Paraning Dumadi:

Dari mana manusia asalnya, dan apa sih sebenarnya misi rahasia kita turun ke bumi.

Kosmologi dan Mistik Kejawen: Memahami gimana orang Jawa memandang Gusti (Tuhan), alam nyata, dan tetangga-tetangga kita di alam gaib (tenang, ini ndak ngajarin klenik atau pesugihan!).

Rahasia Slametan:

Kenapa sih orang Jawa selalu pengen hidup "slamet" dan gimana mereka merajut harmoni dengan alam.

Detail Ritual Daur Hidup:

Membedah rahasia sesajen dari upacara ibu hamil (Mitoni), bayi lahir (Tedhak Siten), nikahan, sampai rentetan acara orang meninggal (40 harian sampai 1000 hari).

Ini sama sekali bukan buku primbon dukun, Lur. Ini murni buku kajian budaya, sejarah, dan filosofi yang ilmiah, disajikan dengan logis, dan dijamin bikin wawasan spiritual panjenengan makin jembar (luas).

Bagi dulur-dulur yang demen kajian sejarah, filsafat, atau minimal pengen ngerti apa sih maksudnya tradisi yang sering dilakukan Mbah-Mbah kita di kampung, buku ini bener-bener masterpiece yang wajib nangkring di rak sampeyan.

Daripada sampeyan terus-terusan nebak-nebak dan salah paham sama budaya sendiri, kebetulan Paijo masih punya sisa stok 5 buku (maklum, buku ini lumayan rare dan jarang banget nongol di toko buku biasa!).

Ada yang kepo dan pengen memahami sandi rahasia leluhur ini ? Boleh BELI di Paijo. Langsung inbox Paijo atau ketik aja "MAU BUKUNYA" di kolom komentar ya!

Rp 45.000 belum termasuk ongkir. Buku dijamin original. Baru, meski stok lawas .. Sisa stok cuma ada 5 buku.

Yuk, lestarikan budaya bukan cuma dengan dipraktikkan, tapi dengan dipahami maknanya. Biar kita ndak jadi generasi yang kagetan dan gampang nge-judge.

Selamat ngopi dan selamat beraktifitas, dulur-dulurku yang hebat!

.

.

 

 

SYARIAT

*. SYARIAT itu:

-Takut akan neraka menghendaki surga

-. Menghitung-hitung Pahala takut dengan Dosa

- Menjauhi yang haram menghendaki yang halal

-Sifatnya mencela yang hidup. Inilah sifat orang FIQIH/SYARIAT Zikirnya:LAILAHA ILALLAH.

*.TARIKAT itu:

- Sifatnya perjalanan mencari Tuhan

-Sifatnya tidak takut neraka dan tidak menghendaki syurga.

Pengamalannya: Mencari wali–wali yang sudah wafat atau para Nabi nabi Isinya: Merasa bertemu dengan Aulia-aulia .Sesudah mati orang orang tarikat ini tidak bisa mengangkat harkat dialam mati.Maka orang tarikat ini bertahan di ALAM BARZAH. Dzikirnya ALLAH ALLAH.

*.HAKIKAT itu:

-Orang orang hakikat tidak takut neraka dan tidak menghendaki syurga.

-Orang–orang hakikat ini mengetahui 7 sifat -Tuhan berlaku di jasad beliau.

-Beliau mengaku LAHAULAWALAKUWATTA.

-Dia lenyap di Alam zikir HUALLAH maka orang ini belum bisa menembus Alam ”AHMAD” dan lagi bisa gugur karena hakikatnya itu salah.Merasakan bahwa para Aulia-aulia mendatangi mereka terus,maka jatuhlah hakikatnya ke ALAM KUBUR.

*.MA'RIFAT itu:

:Perjalanan Ahklak Pengamalanya:

+Rahman Rahim.

+Memberi dengan ihklas.

+Sabar.

+Mau memberi dan tidak mau di beri (Menerima) Pengamalanya berlaku setiap hari,dan orang orang ini akan mengetahui ilmu: SYARIAT,TARIKAT,HAKIKAT. DZIKIRNYA LAILAHA ILALLLAH ANA atau Tidak Bersuara tidk berhuruf.

Mati nya orang Makrifat adalah puncak tertinggi dalam perjalanan Spiritual Tasawuf, bukan kematian fisik, melainkan "kematian" diri (fana) dari keakuan, hawa nafsu, dan keterikatan akan Duniawi untuk bersatu secara hakiki dengan Allah SWT, merasakan ke'Esa'an-Nya (Tauhid hakiki), serta mencapai kesadaran penuh bahwa "tidak ada yang wujud selain Dia" (La maujuda bihaqqin illa Allah).

Ini adalah kematian Spiritual di mana ruh kembali kepada Sang Maha Hidup, mencapai Maqom Tertinggi mengenal Tuhan secara langsung melalui cahaya batin.

Fana (Lenyap Diri): Lenyapnya kesadaran diri sebagai entitas terpisah, Lenyapnya Hawa Nafsu, dan lenyapnya perasaan sakit atau kelezatan duniawi.

Tauhid Hakiki: Kesadaran mendalam bahwa hanya Allah yang benar-benar ada (yg hakiki), sementara segala sesuatu yang lain adalah manifestasi atau bayangan-Nya.

Menyatu dengan Nurullah: Rahasia diri lenyap dalam Nur Muhammad, lalu lenyap dalam Nur Allah, merasakan ketenangan dan keesaan-Nya.

adapun Tingkatan Kematian dalam Tasawuf :

*Syariat (Kematian Fisik): Kematian biasa sesuai hukum alam, di mana tubuh hancur. Ini adalah awal dari perjalanan spiritual, namun bukan tujuan akhir.

*Tarekat (Kematian 'Nafsu'): Kematian terhadap keinginan duniawi dan hawa nafsu melalui amalan dan ibadah yang sungguh-sungguh. Tubuh mungkin masih ada, tapi 'diri' yang lama mulai luntur.

*Hakikat (Kematian 'Ego'): Kematian dari kesadaran diri sebagai entitas terpisah. Tubuh bisa utuh dan bercahaya karena kesatuan batin dengan Tuhan, rambut dan kuku bisa bertambah panjang sebagai tanda keabadian spiritual.

*Makrifat (Kematian 'Wujud'): Puncak pencapaian spiritual di mana wujud diri melebur sepenuhnya dalam Zat Allah (fana fillah). Tubuh fisik bisa lenyap, diangkat oleh malaikat, atau menjadi Wali Allah, karena yang ada hanya Allah.

Konteks "Mati" dalam Tasawuf:

Mati Hakiki (Fana): Adalah tujuan tasawuf, yaitu melenyapkan diri dari sifat-sifat kemanusiaan dan keakuan untuk mencapai kesadaran total akan Keberadaan Allah (Laa Maujuda Illa Allah).

Mati Makrifat (Tertinggi): Tubuh lenyap dalam kubur, kembali ke sisi Allah, menjadi Wali Allah, mencapai kesempurnaan Spiritual.

Ciri-ciri Orang yang Mencapai Mati Makrifat:

Tidak lagi terikat dunia dan Hawa Nafsu, tetapi tetap menjalankan syariat dengan sempurna

Melihat alam malakut (alam ruh) dan keindahan ciptaan Allah.

Merasakan ketenangan dan kelezatan spiritual yang murni, tidak lagi terpengaruh cobaan dunia.

Menyadari bahwa dirinya dan segala sesuatu adalah Allah semata.

Singkatnya: Mati makrifat adalah transformasi spiritual dari "aku" menjadi "Dia", sebuah keadaan di mana kesadaran manusia telah mencapai puncak keilmuan dan rasa dekat dengan Tuhan, seolah-olah telah mati dari kehidupan duniawi yang terbatas.”

di Dalam Tasawuf kita dianjurkan harus melatih dan menggembleng jiwa agar berevolusi semakin dewasa, matang dan tercerahkan. Ada tujuh tahapan jiwa yang harus dilalui untuk memperoleh Jiwa yang tercerahkan. Yaitu Jiwa Ammarah, Jiwa Lawwamah, Jiwa Mulhimah, Jiwa Muthmainnah, Jiwa Rodhiyah, Jiwa Mardhiyah dan Jiwa Kamilah.

1JIWA AMARAH:

Jika seseorang yang kondisi jiwanya adalah Jiwa Ammarah ketika disakiti dan dihina oleh orang lain, maka dia akan membalasnya dengan lebih kejam. Jika dia dihina satu kali, maka akan membalas menghinanya sepuluh kali. Jika dia dipukul satu kali, maka akan membalas memukul sepuluh kali dengan dendam kusumat.

Dendam kebenciannya sangat merasuki jiwanya, bahkan suka mendoakan dan melaknat agar kuwalat mati, hancur. Dengan begitu hatinya puas dan lega. Karena Jiwa Ammarah adalah sifat - sifat "Syetan" di dalam diri manusia.

2.JIWA LAWAMAH:

Sedangkan orang yang Jiwanya Lawwamah ketika disakiti dan dihina orang lain, maka dia akan untuk membalas dan melawannya juga tetapi tidak berlebihan seperti Jiwa Ammarah. Jika belum bisa membalas hatinya belum lega dan akan dendam terus sampai bisa membalasnya. Bahkan mendoakan celaka bagi orang yang menghinanya tersebut.

3.JIWA MULHIMAH:

Berbeda dengan Jiwa Mulhimah atau Sufiah, dia tidak kejam dan tidak dendam yang berlebihan tetapi dia membalasnya dengan omelan dan teguran kepada yang bersangkutan. Diapun berharap orang tersebut kualat atau kena adzab dari Allah agar tidak suka mendholimi orang lain.

4.JIWA MUTMAINAH:

Adapun Jiwa Muthmainnah ketika disakiti oleh orang lain, dia tidak membalasnya. Sering berguman apa salah dirinya sehingga disakiti dan dihina orang lain. Berusaha intropeksi dan mbenahi dirinya, dan sering menyeru kepada Tuhan, " Ya Allah mengapa nasibku selalu disakiti oleh orang lain, apa salahku...?!"

5.JIWA RDHIYAH:

Bagi orang yang Jiwanya Rodhiyah ketika disakiti oleh orang lain dia tidak membalas dendam dan tidak sakit hati serta tidak mengeluh kepada Allah. Justru dia mengevaluasi dirinya mungkin ada prilakunya yang masih belum baik kepada orang lain.

6.JIWA MARDIYAH:

Selanjutnya bagi Jiwa Mardhiyah bahwa antara cacian, hinaan dan pujian tidak mempengaruhi dirinya. Karena jiwa mereka selalu disibukkan dengan dzikir dan merasakan manisnya cinta kepada Allah. Rasa Cinta Kepada Allah membutakan dirinya kepada selain Allah. Telinganya tidak mendengar cacian dan hinaan, justru ingin membantu berbuat baik dan mendoakan yang baik krpada oranh yang menyakitinya.

7.JIWA KAMILAH:

Adapun Jiwa Kamilah adalah jiwa yang ketika dihina dan disakiti oleh orang lain, hatinya tidak sakit dan luka. Karena hatinya sudah fana' atau lebur kepada Tuhan. Hatinya seperti Samudera, diganggu, dihina dan dimaki atau diberi kotoran Justru menepi sendiri.

Bahkan mereka membalasnya dengan kebaikan kepada orang-orang yang menyakiti dan menghinanya. Itulah Akhlaknya para Rasul dan para Nabi, para Wali Allah dan orang-orang yang Sholeh.

Ketika Nabi Muhammad dakwah di Thaif beliau disambut dengan cacian dan dilempari batu akhirnya kepalanya berdarah, lalu mencari tempat yang aman. Malaikat Jibril datang dan memberi salam kepada Rasulullah SAW seraya berkata, ''Apa pun yang engkau perintahkan, akan kulaksanakan, kalau kamu mau, saya akan benturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapa pun yang tinggal di antara keduanya akan mati terhimpit. Jika tidak apa pun hukuman yang engkau perintahkan, saya siap melaksanakannya.''

Akan tetapi beliau menolaknya bahkan justru mendoakan, ''Allahumma ihdi qawmiy, fa innahum laa ya'lamun.'' (Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui (bahwa yang aku bawa ini benar)."

Allah SWT Berfirman :

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku". (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

 

 

"SILAT YANG SEBENAR"

Silat yg asli ini ada ciri2nya.

Walau macam manapun seseorang itu hendak menirunya,

Andai kata tidak bersanad,

Ia hanya akan jadi Silat kreatif, Silat Olahan, Silat Olahraga, Silat Self Defence dan lain2.

Silat ini pun,

Kalau org yg mengaji betul2 banyak diam,

Lama2 ilmu ini akan hilang.

Yg naik ialah "scammer2" yg buat macam2 klaim.

Tak mustahil satu ketika,

Kalau tiada usaha dari Guru2 Silat yg benar,

Anak cucu cicit kita akan belajar Silat yg tersimpang jalannya,

Silat yg tak sampai hujung jalannya.

Silat yg bawa pada kerosakan,

Bukan pada pembinaan insan.

Jangan pula terasa hati akan kata2 ambo.

Yg kreatif, yg olah, yg olahraga, yg beladiri, semua pun sedap juga mainannya.

Cuma, mahu tak mahu, kita kena jujur.

Yg utama kita jujur itu adalah untuk diri sendiri.

Keduanya, jujur pula pada murid2 yg dahaga dtg mahu menuntut ilmu.

Bagaimana mungkin utk kita bawa "Silat" kalau kita tak punya Guru.

Bagaimana mungkin seseorang boleh menjadi Guru Silat kalau tidak terlebih dahulu menjadi Murid.

Bagaimana mungkin nak menjadi Guru kalau tidak pernah merasa peritnya tikam terajang dalam gelanggang.

Bagaimana mungkin nak betulkan murid dalam sahsiah, kalau kita tak pernah berguru mengenal dgn Guru.

Siapa yg akan betulkan jalan kita?

Siapa yg akan tegur silap kita?

Kadang2, sikap tergesa-gesa hendak menjadi Guru, (walaupun kebaikannya ada sedikit utk penerusan generasi baru), tetapi ia merosakkan kita kalau, tanpa melalui Guru, tiada kesabaran dan tiada keikhlasan.

Yang menjadikan seseorang itu Guru,

Bukan yg kita tulis,

Bukan yg kita sebut,

Bukan yg kita claim.

Kalau itu caranya, berat yg diri kena tanggung.

Penat sangat nak berlakon ni,

Letih sungguh nak sembang.

Yg sebenarnya menjadikan seseorang itu Guru,

Ialah masaknya ilmu nya,

Murid2nya,

Sahabat2nya,

Masyarakat,

Dan yg utama, Guru yg dengannya kita menyusu.

Maaflah kalau apa yg ambo tulis ada yg salah faham, ada yg terasa.

Ambo rasa kasihan dan sedih,

Semangat dah ada tapi jalannya tak jumpa.

Ambo doakan moga berjumpa insyAllah,

Kerana ini juga pilihan DIA.

Tak ada nikmat yg boleh diungkap apabila ilmu Silat itu berjumpa.

Tak terkata akan tenteramnya "Ibu Gayong" itu.

Tanpa ia,

Silat hanya kulit.

Kita banyak bergaduh,

Banyak berebut,

Banyak serabut,

Banyak mengkritik,

Banyak menghina,

Sehingga banyak menjatuh.

Walhal kita perlu sama2 kembangkan Silat ini.

Kerja kembangkan silat bukan kerja seorang.

Kerja kita semua.

Dan hanya yg Silatnya benar, sanadnya betul,

Akan faham Silat yg mcm mana yg kita nak perturunkan pada murid2.

Jangan jadi ketam yg mengajar anak2nya berjalan.

Mitok maaf ko ambo deh.

Astaghfirullahal a'zim.

Panglima Hitam

Narapati Nantaboga

 

 

 

PERMAINAN TRADISIONAL

SEMBHOGH ELANG (TEMIANG)/SAMBER ELANG

Permainan masa kanak2 ini dulu sering dimainkan dikala ada acara hajatan pesta dikediaman disalah satu masyarakat kampung dan terkadang kami sering memainkannya dikala saat bulan ramadhan setelah selesai sholat tarawih bahkan yang lebih anehnya permainan ini akan dimainkan oleh anak2 disaat ada acara tahlilan malam ke 7 dan malam 40 hari di rumah duka orang yang meninggal, yang namanya anak2 diwaktu itu tidak mengerti kondisi waktu sehingga dimana ada acara keramaian disitulah muncul permainan anak2.

Permainan sembogh elang ini terdiri dari dua tim dengan masing2 tim terdiri dari 5 sampai 10 orang, satu tim di sebut dengan Elang dan yang satu Tim disebut istilahnya seperti ayam, jadi yang dibutuhkan dalam permainan ini adalah kekuatan berlari dan kekompakan tim.

Sebelum permainan dimulai akan dibuatkan sebuah lingkaran besar dihalaman salah satu rumah penduduk yang memiliki halaman yang cukup luas dan disepakati bersama batas2 lokasi tempat berlari.

Tim elang akan mengejar tim ayam dan mengkapnya satu persatu lalu dimasukan kedalam lingkaran yang sudah dibuatkan tadi, tim ayam yang tertangkap oleh tim elang akan dijaga oleh beberapa orang dari tim elang sedangkan sisa dari tim elang terus mengejar tim ayam yang belum tertangkap.

Tim ayam akan segera berupaya menyelamatkan timnya yang tertangkap dan terkurung didalam lingkaran dengan cara menyambar tim ayam yang tertangkap sedangkan tim elnag yang menjaga lingkaran tersebut terus berupaya agar tim ayam yang sudah tertangkap jangan sampai lepas.

Permainan ini sebenarnya sangat melelahkan, sebab permainannya terus berlari-lari, jika tim yang ayam yang sudah tertangkap lalu disambar oleh temannya tim ayam maka anggotanya tersebut harus bersiap-siap dan berusaha untuk keluar dari lingkaran tersebut dan berupaya agar jangan sampai tertangkap lagi oleh tim elang dengan cara berlari sekuat tenaga, NAMUN ADA JUGA TERKADANG TIM AYAM YANG SUDAH TERTANGKAP TERSEBUT DIA SUDAH MERASA KELELAHAN DAN DIA MERASA SUDAH NYAMAN BERADA DIDALAM LINGKARAN TIM ELANG SEHINGGA KETIKA TEMANNYA MENYAMBAR DIA ENGGAN UNTUK BERLARI LAGI DAN ENGGAN UNTUK KELUAR DARI JONA NYAMANNYA DIDALAM LINGKARAN TERSEBUT.

Jadi begitulah seterusnya Tim elang terus memburu tim ayam untuk ditangkap keseluruhannya, apa bila tim ayam sudah ketangkap keseluruhannya maka tim akan bergantian untuk menjadi tim elang dan tim ayam, betulah seterusnya permainan ini dimainkan sampai lelah baru berhenti.

Ternyata makna yang tersirat dari permainan tradisional ini adalah membangun kekompakan tim dan saling membantu teman yang sedang dalam kesulitan, ketika teman berada dalam lingkaran kesulitan maka teman yang lain berupaya mengulurkan tangannya untuk memberikan pertolongan kepada temannya yang berada dalam lingkaran kesulitan, pertolongan itu pun diberikan bukan berarti yang ditolong tersebut akan digendong sampai keluar dari lingkaran masalahnya namun diharuskan juga untuk saling berlari bersama karena si penolong tidak sanggup untuk menggendongnya artinya ada usaha kita sendiri juga untuk keluar dari masalah kita sendiri setelah ada sedikit bantuan dari teman kita.

Namun ada juga yang memang ketika ingin dibantu namun yang mau dibantu dia merasa sudah lelah sehingga dia merasa nyaman saja ketika berada dalam lingkarannya.

Sekian cerita permainan Sembogh Lang ini.

 

 

 

Tharikat Samaniyah

  Tharikat Samaniyah Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010 ...